Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kebohongan Terbesar Sang Ksatria
Suara reporter dari siaran langsung di layar iPad itu terus menggema, membacakan rentetan pasal penipuan dan manipulasi pasar, menghancurkan sisa-sisa oksigen di dalam ruang rawat VVIP ini.
Bibiku yang masih terasa hangat oleh ciuman pertama kami kini bergetar hebat. Jantungku berdentum menyakitkan, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremasnya hingga hancur.
Aku menatap Bumi. Pria yang beberapa menit lalu menciumku dengan penuh hasrat itu kini mematung. Matanya yang gelap terpaku pada layar tablet di lantai. Gurat kebahagiaan di wajahnya tersapu bersih, digantikan oleh kepucatan yang mengerikan.
Draf kontrak itu bocor. Seluruh Indonesia kini tahu bahwa pernikahanku dibeli dengan harga dua miliar rupiah.
"T-tidak..." bisikku panik, menggelengkan kepala. Aku berlutut di lantai, memungut iPad yang layarnya retak itu. "Kita punya bukti bahwa kau tidak pernah menandatanganinya, Bumi! Kau menolaknya! Kita bisa menunjukkannya di pengadilan!"
"Media tidak peduli pada kebenaran di ruang sidang, Aruna," suara Bumi terdengar sangat parau dan kosong.
Pria itu bergerak lambat. Dengan gerakan yang membuat darahku berdesir ngeri, ia menarik paksa selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya. Darah segar seketika menetes ke atas seprai putih.
"Bumi! Apa yang kau lakukan?!" jeritku, bergegas menahan tangannya. "Kau masih butuh perawatan! Kepalamu—"
Bumi mengabaikan darah di tangannya. Ia menyingkap selimut dan turun dari ranjang medis itu. Tubuhnya yang besar sedikit terhuyung, namun ia memaksakan diri berdiri tegak dengan berpegangan pada tiang infus.
"Garda," panggil Bumi, mengabaikan kepanikanku. Suaranya berubah menjadi sangat dingin dan kalkulatif. "Bagaimana situasi di rumah Kemang?"
Garda menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rahang mantan prajurit itu mengeras. "Wartawan sudah mengepung gerbang depan safe house Kemang sejak sepuluh menit yang lalu, Tuan. Mereka mencari Hajah Fatimah. Berita tentang 'Keluarga Miskin yang Memeras CEO' sudah viral. Ibu Fatimah... beliau terkena serangan panik saat melihat berita di televisi. Tim medis darurat sedang menenangkannya."
Kalimat Garda seolah menjadi palu godam yang menghantam ulu hati Bumi.
Aku melihat bagaimana bahu tegap suamiku itu merosot selama sekian detik. Pertahanannya retak. Rendra tidak hanya menghancurkan namaku, bajingan itu menyeret ibunda Bumi—wanita suci yang tidak tahu apa-apa—ke dalam pusaran skandal paling kotor di negeri ini.
"Ibu..." bisik Bumi. Matanya memerah, menyiratkan kepedihan seorang anak yang gagal melindungi wanita yang melahirkannya.
"Kita akan menyewa firma hukum terbaik," ucapku cepat, suaraku bergetar oleh keputusasaan. Aku meraih lengan kemejanya. "Aku punya uang di offshore account (rekening luar negeri) yang kau amankan semalam! Kita bisa menyewa puluhan pengacara! Kita akan menuntut balik Rendra atas pencemaran nama baik, kita—"
"Tidak ada waktu untuk pengadilan, Aruna," potong Bumi. Suaranya pelan, namun getarannya menghentikan seluruh racauanku.
Bumi menoleh, menatap mataku dalam-dalam. Mata cokelatnya memancarkan kedalaman samudra yang sedang dilanda badai, namun anehnya, permukaan airnya terlihat sangat tenang.
Ia mengangkat tangannya yang bebas dari darah, membelai pipiku. Ibu jarinya mengusap sudut bibirku yang masih membengkak karena ciuman kami tadi.
"RUPSLB akan digelar besok pagi," ucapnya lembut. "Jika skandal ini tidak diredam malam ini juga, dewan direksi akan memecatmu dengan tidak hormat besok. Sahammu akan dibekukan oleh otoritas bursa. Uang di luar negerimu tidak akan bisa masuk ke Indonesia tanpa memicu penyelidikan pencucian uang. Kau akan kehilangan segalanya."
"Aku tidak peduli pada perusahaan itu!" teriakku, air mata kembali membanjiri wajahku. Aku meremas kemejanya erat-erat. "Tidakkah kau mengerti?! Aku hanya menginginkanmu! Persetan dengan Wiratmadja Tech!"
Bumi tersenyum tipis. Sebuah senyum yang paling menyayat hati yang pernah kulihat.
"Kau harus memedulikannya," bisik Bumi, mencondongkan wajahnya hingga kening kami bersentuhan. "Perusahaan itu adalah warisan suamimu yang pertama. Kau mengorbankan darah, air mata, dan tiga tahun masa mudamu untuk melindunginya. Dan aku... aku tidak akan pernah membiarkan pengorbananku sendiri sia-sia dengan melihatmu jatuh miskin dan dihina."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Apa maksudmu? Bumi, jangan bicara macam-macam..."
Bumi mengecup keningku cukup lama. Ciuman itu terasa sangat hangat, namun mengalirkan firasat buruk yang membekukan darahku.
Ia melepaskan pelukannya perlahan. Ia beralih menatap Garda.
"Siapkan mobil di lobi depan, Garda. Jangan gunakan jalur VIP belakang. Bawa mobil itu ke pintu utama," perintah Bumi dengan nada final.
Garda mendongak, matanya sedikit membelalak. "Tuan, pintu utama rumah sakit ini sudah dikepung puluhan wartawan dan tim penyidik dari kepolisian lokal. Jika Anda keluar lewat sana, Anda akan langsung ditangkap."
"Lakukan saja peritahku," potong Bumi tegas.
Garda terdiam. Ia menatap Bumi sejenak, sebuah pemahaman diam-diam melintas di antara kedua pria itu. Mata Garda berkaca-kaca, ia memberikan hormat militer yang sangat kaku, lalu berbalik keluar ruangan.
Kepanikanku mencapai puncaknya. "Bumi, apa yang mau kau lakukan?! Kau tidak bisa menyerahkan diri begitu saja! Kita bisa—"
"Aruna, dengarkan aku," Bumi mencengkeram kedua bahuku, menatapku dengan intensitas yang melumpuhkan sarafku. "Sebentar lagi, saat kita turun ke lobi, apa pun yang aku katakan... apa pun yang aku lakukan... kau harus diam. Berjanjilah padaku."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu—"
"BERJANJILAH, ARUNA!" bentaknya. Suaranya menggelegar di ruang rawat yang sunyi itu, membuat tubuhku tersentak kaku.
Itu adalah pertama kalinya ia membentakku. Wajahnya dipenuhi penderitaan yang tak terlukiskan.
"Kumohon..." suaranya melemah menjadi sebuah rintihan. "Berjanjilah padaku. Hanya dengan cara ini aku bisa melindungi Ibu, Sifa, dan... dirimu. Biarkan aku menyelesaikan tugasku."
Duniaku runtuh. Kata 'tugas' itu kembali diucapkannya, namun kali ini aku mengerti maknanya. Ia tidak sedang menghitung kontrak; ia sedang mengucap salam perpisahan.
Suara riuh gemuruh puluhan manusia dan kilatan cahaya lampu flash kamera yang membutakan mata menyambut kami begitu pintu lift terbuka di lobi utama rumah sakit.
Lobi yang biasanya tenang itu kini telah berubah menjadi lautan jurnalis, cameraman, dan beberapa petugas kepolisian berseragam yang telah bersiaga membawa surat penahanan.
Begitu mereka melihat kami keluar dari lift, gerombolan wartawan itu merangsek maju seperti kawanan hyena kelaparan. Barikade sekuriti rumah sakit nyaris jebol menahan mereka.
"Ibu Aruna! Benarkah pernikahan Anda hanya kontrak senilai dua miliar?!"
"Bapak Bumi! Apakah Anda memeras CEO Wiratmadja Tech?!"
"Ibu Aruna, apakah skandal ini untuk menutupi pembunuhan almarhum suami pertama Anda?!"
Rentetan pertanyaan berbisa itu berdengung di telingaku seperti ribuan lebah marah. Garda dan dua anak buahnya membentuk formasi di depanku, menahan mikrofon-mikrofon yang menyodok ke arah wajah kami.
Aku menunduk, tubuhku gemetar hebat. Jas kebesaran Bumi yang masih kusampirkan di bahuku tak lagi bisa melindungiku dari dinginnya tatapan menghakimi ratusan pasang mata ini.
Tiba-tiba, Bumi melangkah maju melewati Garda.
Ia berdiri paling depan, menghadap langsung ke lautan kamera. Pria dengan kemeja bersimbah darah dan perban di kepalanya itu mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, meminta perhatian.
Aura dominasinya begitu kuat hingga keributan jurnalis itu perlahan mereda, menyisakan keheningan yang penuh antisipasi.
"Selamat malam, rekan-rekan media," suara bariton Bumi membelah lobi rumah sakit, tenang, lantang, dan mematikan. "Saya Bumi Arkan. Dan saya berdiri di sini untuk mengklarifikasi dokumen kontrak yang baru saja beredar."
Jantungku berhenti berdetak. Jangan lakukan ini, Bumi. Kumohon...
Bumi menelan ludah. Ia menatap lurus ke arah deretan lensa kamera.
"Dokumen itu adalah asli," deklarasinya tanpa ragu.
Suara riuh keterkejutan kembali meledak di lobi. Kilatan flash kamera menyambar membabi buta. Aku menahan napas, merasa duniaku sedang dijatuhkan dari atas tebing.
"Tapi," Bumi kembali mengangkat suaranya, menenggelamkan keributan itu, "narasi yang beredar sepenuhnya salah."
Bumi mengambil jeda satu detik. Ia tidak menoleh ke arahku. Posturnya setegap baja.
"Ibu Aruna Wiratmadja tidak pernah berniat membeli suami. Beliau adalah korban," suara Bumi menggema dingin. "Saya adalah orang yang meretas sistem keamanan Wiratmadja Tech beberapa bulan yang lalu. Saya menemukan celah di jaringan perusahaannya."
Apa yang dia katakan?
Mataku membelalak lebar. Kengerian murni menyergap ulu hatiku.
"Saya memiliki hutang rumah sakit untuk adik saya sebesar dua miliar rupiah," lanjut Bumi, berbohong dengan sangat sempurna, sangat meyakinkan. "Saya menggunakan celah keamanan itu untuk memeras Ibu Aruna. Saya mengancam akan menghancurkan data perusahaannya jika beliau tidak membayarkan hutang saya. Dan mengetahui posisi beliau yang sedang ditekan oleh dewan direksi... saya memaksanya untuk menikahi saya agar saya bisa masuk ke dalam lingkaran eksekutif perusahaan."
"TIDAK!" jeritku, berniat berlari ke arahnya.
Namun sepasang tangan baja tiba-tiba menahan lenganku dari belakang. Garda mengunciku di tempat. Mantan prajurit itu menahan isakannya sendiri, memegangiku erat-erat agar aku tidak merusak skenario yang sedang dibangun oleh suamiku.
"Lepaskan aku, Garda! Lepaskan!" isakku meronta-ronta, menatap punggung Bumi dengan pandangan hancur lebur.
Bumi mengabaikan teriakanku. Ia terus menatap kamera, memberikan narasi paling mematikan yang akan menghancurkan hidupnya sendiri hingga tak bersisa.
"Ibu Aruna tidak pernah menandatangani kontrak itu karena beliau menolak tunduk pada pemerasan saya," lanjut Bumi dengan nada penuh penyesalan palsu. "Beliau terpaksa menjalankan pernikahan ini di bawah ancaman saya. Segala tuduhan manipulasi saham yang dialamatkan pada beliau adalah salah. Beliau adalah pemimpin yang bersih. Semua kejahatan siber, pemerasan, dan skandal pernikahan ini... sepenuhnya adalah tanggung jawab saya pribadi."
Ruangan itu sunyi senyap selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya meledak menjadi hiruk-pikuk yang sepuluh kali lipat lebih brutal dari sebelumnya.
Wartawan berebut merekam pengakuan itu. Polisi yang membawa surat perintah langsung menerobos barikade, berjalan cepat menghampiri Bumi.
Rencana Bumi begitu jenius sekaligus begitu kejam.
Dengan satu pengakuan palsu ini, ia mengubah statusku dari seorang tersangka konspirasi manipulasi saham, menjadi seorang korban pemerasan. Ia menyelamatkan perusahaanku. Ia menyelamatkan sahamku. Dan karena ia menanggung semua dosa sebagai otak kejahatan, tidak akan ada satu pun media yang berani menyeret nama ibunya yang taat agama ke dalam lumpur.
Bumi menyerap semua racun itu sendirian.
Dua orang perwira polisi berpakaian preman berdiri di depan Bumi. Mereka membacakan hak-hak tersangka, lalu menarik kedua tangan suamiku ke belakang.
KREK.
Bunyi besi dingin dari borgol yang mengunci pergelangan tangannya terdengar lebih memekakkan telinga daripada ledakan bom.
Aku berhenti meronta. Tubuhku kehilangan seluruh kekuatannya. Aku merosot jatuh berlutut ke lantai marmer lobi, ditahan oleh Garda. Air mata tumpah membasahi wajahku tanpa bisa dicegah.
Saat polisi mulai membimbingnya berjalan menuju pintu keluar, Bumi akhirnya menoleh ke arahku.
Di tengah kilatan ratusan lampu kamera, diiringi teriakan caci-maki wartawan yang menyebutnya penjahat dan pemeras, Bumi menatapku. Tidak ada senyum di wajahnya. Hanya ada tatapan memuja yang teramat dalam, dan sebuah pesan perpisahan yang tak terucap.
Bibirnya bergerak pelan tanpa mengeluarkan suara.
"Hiduplah dengan baik, Ratuku."
Pintu kaca otomatis rumah sakit terbuka. Suamiku didorong masuk ke dalam mobil tahanan kepolisian. Sirene meraung, membelah malam, membawanya pergi dari hidupku. Aku berlutut di tengah lobi, diiringi tatapan simpati dari publik yang kini mengiraku sebagai wanita malang korban pemerasan. Mereka mengira aku telah diselamatkan. Tapi mereka tidak tahu, bahwa malam ini... aku baru saja mati.
viral di tipi tipi kemarin🤔
btw keinget jaman masih suka jemput anak pulang sekolah.. kalo keburu kelasnya pulang cukup daster dipakein jaket sama kerudung 😄
ᴅɪ ᴅᴀʟᴀᴍ ʜᴀʟ ᴀᴘᴀᴘᴜɴ ᴋᴏᴍᴜɴɪᴋᴀsɪ ᴀᴅᴀʟᴀʜ ᴋᴜɴᴄɪ, ʙᴀɪᴋ ʀᴛ, ᴘᴇʀᴜsᴀʜᴀᴀɴ ᴀᴛᴀᴜ ᴀᴘᴀᴘᴜɴ, ᴋʀɴ ᴋɪᴛᴀ ʙᴜᴋᴀɴ ᴄᴇɴᴀʏᴀɴɢ ʏɢ ʙɪsᴀ ᴍᴇɴɢᴇᴛᴀʜᴜɪ ᴊʟɴ ᴘɪᴋɪʀᴀɴ ᴏʀʟᴀ, ɪᴛᴜʟᴀʜ ᴋɴᴘ ʙɴʏᴋ ᴘᴇʀᴄᴇʀᴀɪᴀɴ ᴊᴍɴ sᴋʀɴɢ ᴋʀɴ ᴋᴜʀᴀɴɢ ᴋᴏᴍᴜɴɪᴋᴀsɪ ᴊɢ ʏɢ ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ ᴍᴇᴍɪᴄᴜ sʟʜ ᴘʜᴍ 😔😔😭😭
jgn tamat duluan tapi 😄