NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

—Inspired by a true story. Some feelings never really leave, they just become stories.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07 - Momen yang Tak Pernah Hilang

..."Beberapa tatapan lama tak pernah benar-benar hilang. Mereka tetap ada, menunggu detik yang tepat untuk membuat hati berdebar lagi."...

Happy Reading!

 

...----------------...

"Baiklah, sampai di sini saja pembelajaran kita hari ini. Semoga ilmunya bermanfaat untuk kalian semua, aamiin. Tugasnya nanti akan ibu kirim di Google Classroom, ya. Karena nanti akan ada tugas kelompok, ibu akan membuatkan kalian kelompok," suara guru terdengar ramah namun menandai akhir kelas online hari itu.

Shaira menatap layar ponselnya dengan malas. Gurunya masih menjelaskan beberapa hal tambahan, tapi matanya sudah melayang-layang ke langit-langit kamar, pikiran melayang ke hal-hal lain.

"Yah, tugas kelompok... padahal udah mendekati ujian semester dua..." gumam Shaira pelan, seolah mengeluh pada dirinya sendiri.

Guru menambahkan, "Untuk ketua kelas XI IPA 1, harap chat saya nanti ya. Saya akan kirimkan daftar nama kelompok beserta ketua kelompok masing-masing. Selain itu, setiap sebelum jam pelajaran Kimia, kalian wajib melakukan video call perkelompok untuk membaca tabel sistem periodik unsur, lalu bukti video call dikirim ke grup."

Shaira mengangguk setengah hati, menahan rasa malas yang menyelimuti. Ia membayangkan ribetnya urusan tugas kelompok-apalagi jika satu kelompoknya harus berhadapan dengan seseorang yang... ya, seseorang yang cukup membuat perasaannya campur aduk.

Begitu kelas berakhir, Shaira langsung keluar dari Google Meet dan buru-buru mandi. Ia kesiangan pagi itu, jadi sejak pagi belum sempat mandi. Baru saja selesai bersiap, ponselnya langsung berdering, notifikasi grup meledak.

Nara: gila lo satu kelompok

Keno: Shaira, lo jadi ketua kelompok!!

Shaira membuka grup kelas untuk mengecek daftar nama, dan matanya membesar:

Kelompok 5

Shaira Aluna Maheswari (ketua)

Fahri Anggara

Lisa Wulandari

Sintia Pramesti

Raven Adhikara Pratama

"HAH?!" Shaira nyaris jatuh dari kursi. Matanya berkedip berkali-kali, berusaha mencerna kenyataan: ia harus video call rutin tiap minggu dengan Raven.

"LOH... KOK BISA ADA NAMA RAVEN DISINI?!" gumamnya panik, tangan memegangi ponsel seolah kalau dilepas, dunia akan runtuh.

Celine langsung mengirim chat lagi, mengejek.

"hahaha siap-siap deh vidcall sama Raven tiap minggu, tanda-tanda balikan nih ciee"

Shaira menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu membalas chat Fahri, salah satu anggota kelompoknya.

Shaira: bikin grup nanti aja ya:)

Fahri: i know, sabar ya haha

Shaira tersenyum tipis. Fahri pastinya mengerti situasinya. Kedekatannya dengan Raven dulu memang sudah menjadi rahasia umum di kelas, tapi tetap saja... harus berada dalam satu kelompok lagi setelah sekian lama membuat hatinya berdebar tanpa alasan jelas.

...----------------...

Satu minggu berlalu. Hari ini giliran kelompoknya video call untuk membaca tabel sistem periodik unsur. Shaira sudah mandi, mengenakan seragam rapi, dan duduk di meja belajarnya. Matanya menatap layar laptop, jari-jarinya siap menekan tombol "Start Video Call".

Yang pertama muncul adalah Fahri dan Lisa, menyapa sambil tersenyum.

"Mana yang lain?" tanya Shaira, mencoba terdengar santai, meski hatinya berdebar kencang. Keduanya hanya menggeleng.

Tak lama kemudian, wajah Raven muncul di layar—pencahayaan kamarnya redup, membuat ekspresinya terlihat lebih tenang dari biasanya.

Shaira menelan ludah, berusaha menenangkan napas dan memalingkan wajah agar ekspresi gugupnya tidak terlalu terlihat.

"Sisa Sintia yang belum," gumam Shaira, mencoba terdengar biasa.

"Mana dia?" tanya Fahri.

"Coba chat dulu," Shaira memberi instruksi. Tak lama, Sintia muncul juga di layar. Anggota kelompok lengkap.

Lalu terdengar suara Raven, polos tapi menantang: "Baca Shaira, baca."

"Lo aja baca," balas Shaira dengan tenang, meski hatinya berdebar. Untung otaknya masih bisa diajak kerja sama meski jantungnya hampir tidak terkendali.

"Kan lo ketua-nya," balas Raven, nada santai tapi ada kilatan nakal. Yang lain hanya diam, menyimak interaksi yang baru saja muncul kembali setelah sekian lama tidak ada komunikasi langsung antara Shaira dan Raven.

Shaira menarik napas panjang dan akhirnya menjawab, "Gue juga gak tau kenapa bisa jadi ketua, mending lo aja baca."

"Gue juga gak tau gimana bacanya," balas Raven polos, membuat Shaira tersenyum tipis.

"Bukannya bokap lo guru?" sahut Shaira, setengah bercanda.

"Tapi anaknya bukan guru," balas Raven, membuat Shaira menahan tawa sambil cepat-cepat menundukkan kepala agar wajahnya tidak terlihat.

Sintia tiba-tiba bersuara, setengah bercanda dan menggoda.

"Raven, jangan becanda terus! Lanjut godain Shaira di chat aja gih," ujarnya sambil menahan tawa.

Yang lain ikut tertawa kecil, menahan geli melihat interaksi mereka.

Raven hanya tersenyum tipis, mengangkat bahu santai, lalu menatap Shaira. Pipinya Shaira otomatis panas, tapi di balik malu itu, ada rasa geli terselip-cara Raven membuat suasana ringan selalu berhasil membuat hatinya berdetak lebih cepat.

Lisa ikut nimbrung sambil menepuk meja, "Iya dong, Raven. Jangan bikin ketua kita salting, nanti dia gak fokus!"

Shaira menatap layar, tersenyum tipis, mencoba terdengar tenang, tapi hatinya tetap berdebar kencang setiap kali Raven menatapnya.

Saat membaca tabel, Raven tiba-tiba mencondong sedikit ke kamera dan berkata pelan, tapi terdengar jelas di speaker:

"Shaira... lo yakin bacanya bener?"

Shaira hampir tersedak teh yang ia teguk. "Iya... iya bener," jawabnya tergagap, berusaha terdengar yakin meski jantungnya makin kencang.

Fahri dan Lisa menahan tawa, menahan godaan kecil Raven yang selalu berhasil bikin Shaira panik tapi lucu.

Shaira menepuk meja sebentar, menarik napas panjang, dan mencoba menenangkan diri. Ia kembali fokus pada Sintia, Fahri, dan Lisa. Perlahan, mereka menyelesaikan tugas membaca tabel SPU dengan lancar. Meski jantungnya tetap berdebar setiap kali pandangan Raven tertangkap di layar, Shaira berhasil memimpin kelompok dengan tenang-setidaknya secara formal.

Begitu sesi berakhir, Shaira menutup video call dengan lega, tapi dadanya masih berdebar pelan. Setiap kali harus menghadapi Raven, meski hanya melalui layar, ada ketegangan kecil yang sulit ia abaikan. Ia menatap layar sebentar, tersenyum lembut, lalu membuka chat dengan Nara.

"selesai... tapi rasanya deg-degan banget haha," tulisnya.

Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. Nara membalas cepat, "haha gimana? Cerita dong!"

Shaira menarik napas panjang, menenangkan tangannya yang masih sedikit gemetar, lalu menatap secangkir teh hangat di samping laptop. Sabar dulu... pikirnya. Memimpin kelompok dengan Raven bukan hanya soal akademik, tapi juga tentang menghadapi perasaan yang belum sepenuhnya hilang, tersimpan rapi di balik denial.

Ia menaruh gelas berisi air di meja, duduk kembali, dan menatap keluar jendela sebentar. Cahaya sore menembus tirai, menandai siang yang masih hangat. Ruangannya sunyi, hanya terdengar suara kipas angin dan lembaran buku yang ia buka. Sesekali, ia membayangkan wajah Raven-tidak untuk berharap, tapi sekadar mengingat bahwa beberapa hal, meski rumit, bisa membuat hati berdebar.

Shaira tersenyum samar, menutup laptop, dan merapikan meja belajarnya. Matanya kembali menatap secangkir teh yang tersisa, menghirup aromanya sejenak.

Dalam kesederhanaan itu, ia menyadari sesuatu: ketegangan, canggung, atau perasaan yang tak sepenuhnya hilang, bukan selalu hal buruk. Kadang, itu hanya pengingat bahwa ia masih hidup, masih merasakan, dan masih bisa tersenyum pada hal-hal kecil.

Ia menulis sedikit catatan di buku hariannya tentang hari ini-video call, tawa Nara, godaan Raven-lalu merebahkan tubuh sebentar di sofa. Sesaat, ia menutup mata, membiarkan diri sendiri bernapas lega.

Siang itu, Shaira merasa tenang. Tidak sempurna, tidak bebas dari rasa canggung, tapi cukup. Cukup untuk menutup hari ini dengan damai, cukup untuk mengingat bahwa beberapa momen kecil-meski sederhana-bisa membawa kehangatan tanpa harus mengejar yang hilang.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa bisa duduk tenang tanpa terburu-buru, mengetahui bahwa besok akan datang dengan tantangan baru, tapi hatinya sudah sedikit lebih ringan.

Mungkin, beberapa perasaan tidak perlu diperjuangkan kembali—cukup diakui bahwa ia pernah ada, dan masih mampu membuat hati berdebar tanpa harus dimiliki lagi.

 

...----------------...

1
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Ayoo balikkan Shaira sm Ravenn🙏😀
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Mungkin .. iya🙏😭😭
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Ada sesuatu kah...😌/CoolGuy/
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Ga jauh itu😭

ntah klo ketemu bkl gmna😌
Dilo: canggung sih😔🤭
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Canggung bgt si klo ketemu🙏😭
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
WKWKWK

Ak ikut bakarr kenanganny jg yah😭🙏
Dilo: gass ayukkk/Sob/
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Camping bareng temen emg seseru itu😭

tenda miring ga masalah, yang penting kebersamaannya😌
Dilo: bener buangetttt♥️
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Punya temen kek Nara aja udh bahagia bgttt😌❤❤
Dilo
hahaha sabarr🤭
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Trueee🙏😓

Temen modelan sabila rsnya ingin ak getok 🙏😌
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
fine darimanaa😭

Ingin sekali ku tabok si Alden ini🙏😀

Dan..
Hanya livia yg benar-benar "teman" 🙏❤

Plotwist nya buat ak kaget😭
ga nyangka.. se-jht itu Alden/Panic/
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰: Wah.. trnyata critanya ada brdsrkan pengalaman kk nya ya🙏😓

Alden bener" buat ak emosi ka/Scream/
Ku kira sm Shaira dia serius.../Cry/
total 2 replies
Lilyyanaa
iyaa… betul banget lebih sakit karna temannya juga tau jadi dobel💔 sabar ya shaira
Lilyyanaa
kaget…. sumpah jahat sih ga nyangka bgtt
Dilo: /Chuckle/berhasil kan plot twist nyaaa
total 1 replies
Lilyyanaa
love bombing ih🥲
Lilyyanaa
beda yaa effortnya 😭😭😭
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Tiba" perhatian😌

Dan kayaknya skrg gantian ke Shaira..
Ngga perduli sm pesannya(Alden)
🙏😌
Stroberi 🍓
Dalem bgt kalimatnya
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Kira" knpa Alden ya?😭

Ak yg baca nya aja kek gregetan sm Alden🙏😌

Ngga dijelasin apa", dingin gtu ajaa sm Shaira😓
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰: HHAHAHA Siaappp🙏❤
total 2 replies
Lilyyanaa
bener buangett kalau mau mah gas gas ajah gabakal ngitung jarak seberapa wkwk aneh bgt alden
Dilo: iyakannn huhu, sabar ya bentar lg terjawab kok kenapa si alden/Chuckle/
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰
Dibuat terombang ambing sm Author nya nih🙏😌

Jdi ngerasa kalimat ini tuh memang benar deh :
" Masa lalu pemenangnya " 🙏😌

Dari ak sii, mungkin krna Shaira wktu lalu jawab confes(mungkin) si Alden kyk 'nggak(belum) mau sm dia, makanya skrg jdii ada jarak🙏😓

Bingung mendeskripsikan,
Pesan ak : Ravenn balik lgi ga lo!😭
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿVanaaꦿ яᷢ⃞🐰: /Ok//Applaud/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!