––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(7) Rumah Semut
Haikal terdiam saat melihat kondisi rumah Ailena yang benar-benar kecil menurut pemikiran nya.
Rumah yang berukuran 4x4, dengan teras yang kecil dan dapur serta kamar mandi yang berada di belakang membuat Haikal makin gelisah dengan keadaan itu.
"Kenapa? Kok berdiri disitu doang? Nggak jadi masuk? Yaudah pulang sana" tanya Ailena membuat Haikal tersadar dan segera melepas sepatu nya dan masuk ke dalam rumah Ailena.
"Ini.. Rumah istri ku?" tanya Haikal sembari melihat ke sekitar dan mendongak ke atas melihat bagian plafon yang sudah terkoyak.
Ailena mengangguk sebagai jawaban, ia tak merasa malu untuk menunjukkan rumah yang di beli nya dengan uang tabungan seadanya saat ia baru datang ke ibukota.
"Kayak rumah semut" gumam Haikal masih dapat di dengar Ailena. Tapi Ailena memilih untuk diam tak menanggapi.
Selama Ardian berkunjung dulu, tak pernah ia mendengar komentar yang membuat hati nya terasa sakit karena rumah nya yang kecil, tapi kali ini suami dadakan nya itu tiba-tiba dengan enteng nya berkomentar walau dengan suara pelan.
"Istri ku betah?" tanya Haikal, Ailena masih merasa tak nyaman dengan panggilan Haikal yang seakan mengingatkan status nya.
"Kalau nggak betah, nggak mungkin hampir 3 tahun ini aku tinggal disini sendiri" jawab Ailena sembari membuka pintu kamar nya.
"Mantan istri ku sering ke--"
"Bisa tidak berhenti memanggil ku istri? Kuping ku terasa panas mendengar nya" sentak Ailena yang sudah tak tahan.
Haikal mengerjap lalu menggeleng pelan dengan wajah santai nya. "Suami mu ini suka panggilan baru ini, istri ku" sahut Haikal dengan nada santai.
"Ck! Terserah" Ailena memilih pergi masuk ke dalam kamar dan membiarkan pintu kamar terbuka.
Haikal tampak memperhatikan kamar ukuran 2x3 milik Ailena yang hanya terisi kasur tipis di tambah lemari kecil dan tas yang seperti nya isi nya pakaian sehari-hari Ailena.
"Ah akhirnya aku menemukan kasur" seru Haikal sembari berjongkok dan siap merebahkan diri nya.
Haikal terdiam saat seperti tak merasakan telah meniduri kasur, ia segera bangkit dengan setengah duduk.
Ailena memperhatikan tingkah Haikal pun paham. "Kasur nya memang tipis, itu barang yang ku bawa dari kampung, jadi wajar jika sudah usang dan tak ada empuk nya lagi" jelas Ailena membuat Haikal menoleh.
Entah kenapa melihat kondisi istri nya yang di bawah kata berkecukupan itu membuat Haikal terenyuh dan merasa sedih.
"Istri ku kalau suami mu ini ajak pindah rumah, mau tidak?" tanya Haikal sembari duduk di samping Ailena yang sibuk memasukkan buku mata pelajaran yang akan dia bawa besok hari.
"Pindah rumah?" Ailena mengulang ucapan Haikal yang membuat Ailena berpikir keras.
Haikal mengangguk. "Kita sudah jadi suami istri, jadi kalau istri ku berkenan untuk pindah ke rumah suami mu ini"
Ailena menggeleng pelan, ia ragu untuk menjawab. "Kau saja yang kembali ke rumah mu sendiri, aku mau disini" tolak Ailena, dia benar-benar tak tega meninggalkan semua pengorbanan nya selama bertahun-tahun ini.
Haikal berdecak pelan. "Aku menikahi mu itu untuk membuat rumah ku ramai, masa aku pulang sendiri lagi" ucap Haikal membuat Ailena melirik nya sekilas.
Haikal menepuk kening nya sedikit keras membuat Ailena tersentak dan menatap Haikal.
"Aku lupa, kita belum kenalan secara langsung ya.. Kalau begitu, suami mu ini nama nya Haikal, Haikal Keandro. Tampan kan nama ku? Seperti orang nya" Haikal terus mengoceh dan sedikit memuji diri nya sendiri.
Ailena menanggapi dengan memutar bola mata jengah.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️