Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: SANGKAR EMAS DAN RASA ASING
Pintu gerbang besi tinggi menjulang yang dioperasikan dengan kendali otomatis itu terbuka perlahan, menyambut kedatangan mobil Toyota Alphard hitam yang ditumpangi oleh Dafa dan keluarga kecil Nazya. Mobil mewah itu melaju mulus membelah jalanan pekarangan yang luas, dikelilingi oleh rerumputan hijau yang tertata rapi serta pohon-pohon peneduh yang asri. Di ujung jalan setapak, berdiri megah sebuah rumah bergaya modern tropis dengan dominasi dinding kaca dan marmer putih.
Dari dalam mobil, Nazya menatap bangunan megah itu melalui jendela dengan tatapan yang sarat akan kecemasan. Alih-alih merasa kagum atau beruntung karena kini berstatus sebagai istri dari pemilik rumah seindah istana ini, dada Nazya justru terasa semakin sesak. Baginya, rumah mewah ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang sangat besar. Sangkar yang akan mengurung kebebasannya, menjauhkannya dari dunia luar, dan menjadi saksi bisu atas segala nasib buruk yang mungkin akan menimpanya di masa depan.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan teras utama. Pak Joko dengan sigap turun dan membukakan pintu geser otomatis. Dafa keluar terlebih dahulu, merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu berbalik untuk kembali mengangkat tubuh Nazya. Dengan gerakan yang kini terasa lebih familier namun tetap penuh kehati-hatian, Dafa menggendong Nazya keluar dari mobil dan mendudukkannya di atas kursi roda yang sudah disiapkan oleh pelayan rumah di tepi teras.
"Pak Handoko, silakan masuk. Pelayan saya akan membawa tas-tas Anda ke kamar tamu di sebelah kamar Nazya," ucap Dafa ramah pada mertuanya.
"Ah, iya... terima kasih banyak, Dafa," jawab Pak Handoko dengan nada sungkan, matanya sesekali memandangi kemegahan rumah menantunya dengan rasa takjub sekaligus haru.
Dafa mulai mendorong kursi roda Nazya memasuki bagian dalam rumah. Lantai marmer yang mengilat memantulkan bayangan mereka dengan sempurna. Rumah itu begitu sepi, hanya ada beberapa pelayan yang berdiri membungkuk hormat saat mereka lewat. Dafa mengarahkan kursi roda itu menuju koridor lantai bawah, tepat ke arah sebuah kamar tidur berukuran luas yang sengaja disiapkan tanpa undakan tangga sedikit pun.
Begitu pintu kamar dibuka, Nazya bisa melihat sebuah ranjang king size yang nyaman, televisi besar, kamar mandi khusus yang sudah dimodifikasi agar ramah untuk pengguna kursi roda, serta jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang.
"Ini kamarmu, Nazya. Mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini. Semua kebutuhanmu sudah disiapkan," kata Dafa sambil memarkir kursi roda itu di dekat tempat tidur. "Aku sengaja memilih kamar di lantai bawah agar kamu tidak kesulitan. Sementara kamarku sendiri berada di lantai dua. Jika kamu butuh sesuatu malam-malam, ada tombol darurat di samping ranjang yang terhubung langsung ke pelayan dan kamarku."
Nazya hanya menunduk dalam, menatap gips di kakinya yang terasa berat. "Terima kasih, Tuan..." bisiknya sangat lirih.
Dafa menghela napas pendek mendengar panggilan itu. "Panggil aku Dafa, Nazya. Kita sudah menikah." Namun, melihat Nazya yang tetap diam mematung ketakutan, Dafa memilih untuk tidak memaksanya. "Istirahatlah dulu. Nanti malam, kita akan makan malam bersama di ruang makan."
Setelah Dafa keluar dan menutup pintu, Nazya langsung mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Kamar ini terlalu mewah, terlalu luas untuknya yang terbiasa tinggal di rumah petak sempit. Namun, ada satu hal yang sedikit melegakan hatinya: Dafa tidur di lantai dua. Itu artinya, setidaknya untuk malam ini, ia tidak perlu berbagi ranjang dengan pria asing yang memiliki aura dominan itu. Ketakutannya bahwa Dafa akan langsung menuntut hak asasi sebagai suami malam ini perlahan memudar, meski tidak sepenuhnya hilang.
Malam harinya, jam dinding besar di ruang makan telah menunjukkan pukul tujuh malam. Aroma masakan sup ayam herbal, daging sapi lada hitam, dan berbagai hidangan lezat lainnya menguar memenuhi ruangan, menggugah selera siapa pun yang menciumnya. Di atas meja makan panjang berbahan kayu jati mewah, hidangan-hidangan itu telah tersusun rapi.
Nazya sudah duduk di salah satu kursi makan setelah dibantu oleh pelayan dan ayahnya. Di sampingnya, Pak Handoko duduk dengan canggung, merasa tidak enak berada di lingkungan yang begitu berkelas. Di ujung meja, Dafa duduk dengan tenang. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, membuatnya tampak sedikit lebih santai namun tetap tidak mengurangi wibawanya.
"Pak Handoko, Nazya, silakan dinikmati makanannya. Jangan sungkan," ucap Dafa memulai, seraya mengambil piringnya sendiri.
Pak Handoko tersenyum dan mulai mengambil nasi serta lauk pauk secukupnya. Namun, pandangan Dafa mendadak terkunci pada Nazya. Wanita muda itu hanya duduk kaku di atas kursi rodanya. Kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan, di bawah meja, meremas kain gamisnya sendiri. Piring di hadapan Nazya masih kosong bersih. Jangankan mengambil sendok, menyentuh tepi meja pun tampaknya Nazya tidak berani. Sepasang matanya hanya menatap kosong ke arah mangkuk sup di tengah meja.
Dafa teringat akan lembaran file PDF yang dikirimkan oleh Mikael kemarin pagi.
“Pasien sering kali dibiarkan kelaparan oleh mantan suaminya jika dianggap tidak becus melayani. Mantan suaminya selalu menuntut untuk dilayani terlebih dahulu, dan jika pasien berani menyentuh makanan sebelum suaminya selesai atau tanpa izin, mantan suaminya tidak segan untuk menampar atau melempar piring ke arah pasien...”
Potongan kalimat investigasi itu mendadak berputar di kepala Dafa, membuat dadanya berdenyut perih berbaur dengan amarah yang tertahan. Dafa mencengkeram garpunya dengan kuat hingga buku jarinya memutih, mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak di depan istri dan mertuanya. Pria bajingan itu benar-benar telah merusak insting dasar bertahan hidup wanita di hadapannya ini.
Dafa meletakkan kembali alat makannya dengan perlahan, tidak ingin membuat suara dentingan yang bisa mengejutkan Nazya. Ia meraih mangkuk kecil, lalu menyendokkan nasi hangat, sepotong daging sapi yang empuk, serta kuah sup ayam herbal ke dalam piring kosong di hadapan Nazya.
Nazya tersentak kecil saat melihat piringnya tiba-tiba terisi. Ia mendongak takut-takut, menatap Dafa dengan tubuh yang mendadak gemetar halus.
"Makan, Nazya. Di rumah ini, tidak ada aturan siapa yang harus makan duluan," ucap Dafa. Suaranya terdengar sangat lembut namun sarat akan ketegasan yang menenangkan. "Ini piringmu, dan semua makanan di meja ini adalah milikmu juga. Mulai sekarang, kamu tidak perlu menunggu siapa pun untuk makan. Jika kamu lapar, langsung makan. Mengerti?"
Nazya menelan ludahnya yang terasa berpasir. Kata-kata Dafa terdengar begitu asing di telinganya. Mantan suaminya dulu akan membentaknya jika ia berani menatap makanan saat sang suami belum selesai makan. Merasa diawasi oleh sepasang mata elang Dafa, Nazya dengan tangan yang masih gemetar perlahan mengangkat sendoknya. Ia menyuapkan sedikit nasi ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan sangat pelan dan kaku.
Melihat Nazya akhirnya mau makan, barulah Dafa kembali melanjutkan makannya. Suasana makan malam itu kembali berjalan dalam keheningan, namun kali ini, ada ketegangan yang perlahan mencair di sudut hati Nazya. Pria ini... ternyata tidak sekasar yang ia bayangkan. Namun, Nazya tetap mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak lengah. Topeng manis seorang pria bisa bertahan beberapa minggu sebelum akhirnya watak aslinya keluar.
Setelah makan malam selesai dan Pak Handoko sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat, Dafa menawarkan diri untuk mendorong kursi roda Nazya kembali ke kamarnya sendiri. Para pelayan sengaja dilarang membantu karena Dafa ingin membangun kedekatan fisik yang aman dengan istrinya.
Dafa mendorong kursi roda itu memasuki kamar tidur Nazya. Setelah memarkirnya di samping ranjang, Dafa tidak langsung pergi. Ia berjalan menuju lemari kecil, mengambil botol obat pereda nyeri dan segelas air putih yang sudah disiapkan oleh perawat tadi sore.
Dafa berlutut di samping kursi roda Nazya, menyerahkan obat dan gelas tersebut. "Minum obatmu dulu sebelum tidur. Dokter bilang ini untuk meredakan nyeri pasca-operasi di kakimu malam nanti."
Nazya menerima obat dan gelas itu dengan patuh. Setelah meminumnya hingga tandas, ia mengembalikan gelas kosong itu pada Dafa. "Terima kasih... Mas Dafa," ucap Nazya. Kalimat panggilannya berubah dari 'Tuan' menjadi 'Mas' karena dorongan dari dalam hatinya yang merasa sedikit tersentuh oleh perhatian kecil pria itu sejak sore tadi.
Mendengar panggilan 'Mas Dafa' keluar dari bibir pucat istrinya, jantung Dafa berdesir aneh. Ada rasa kepuasan dan kebahagiaan yang membuncah di dadanya, sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan uang ratusan miliar miliknya.
Dafa meletakkan gelas kosong itu di atas meja nakas, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Nazya. "Nazya, besok pagi-pagi sekali aku harus pergi ke kantor karena ada rapat pemegang saham yang tidak bisa kutunda. Aku mungkin akan pulang larut malam."
Nazya mengangguk pelan, merasa sedikit lega karena itu artinya ia akan memiliki waktu seharian penuh tanpa perlu berhadapan dengan aura dominan Dafa.
Namun, kalimat Dafa berikutnya seketika membuat jantung Nazya kembali mencelos jatuh ke dasar perutnya.
"Tapi sebelum aku pergi besok pagi, ibuku—Mami Kinanti—akan datang ke sini sejak subuh. Beliau bilang ingin menemanimu seharian penuh dan membantumu beradaptasi di rumah ini selama aku bekerja," lanjut Dafa dengan senyum tipis.
Tubuh Nazya mendadak kaku. Ibu mertuanya yang kaya raya itu akan datang dan mengawasinya seharian penuh tanpa ada Dafa di rumah? Ketakutan baru langsung menyergap pikiran Nazya. Bagaimana jika kebaikan ibu mertuanya kemarin hanya pura-pura di depan Dafa saja? Bagaimana jika besok, saat Dafa pergi bekerja, ibu mertuanya akan mulai menghina statusnya sebagai janda miskin yang cacat dan hanya menjadi beban bagi putra kesayangannya? Nazya meremas selimutnya kembali, bersiap menghadapi neraka baru yang mungkin akan dimulai besok pagi.