Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Bunga Anggrek Tak Lagi Tersenyum
Emma dan Ethan Coen berjalan beriringan, melewati jalan di area rumah Anggrek Resident.
Mereka mulai akrab, terlihat sesekali bercanda.
"Kau sudah lama kenal pamanku?" tanya Ethan Coen.
"Belum lama ini, aku kenal Noah Jones baru saja." kata Emma.
"Oh, begitu, tapi kau langsung menerima ajakannya ke Anggrek Resident ini." kata Ethan. "Luar biasa."
Emma tersenyum, Ia menunduk malu-malu lalu berkata.
"Aku butuh uang buat lunasi hutang-hutang paman Broeri Goldman. Terpaksa Aku menerima tawaran Noah bekerja disini."
"Siapa paman Broeri Goldman?" kata Ethan Coen bertanya.
"Pamanku, adik kandung dari ibu ku." sahut Emma.
"Apa Ia tidak punya keluarga, sampai-sampai kau sendiri yang melunasi hutang-hutangnya. Tidakkah ini terlalu egois bagimu?" kata Ethan Coen.
"Selama ini, Aku tinggal dengan pamanku meski rumah yang kami tinggali adalah rumah peninggalan ibuku." kata Emma.
"Oh, begitu, jadinya pamanmu tidak mempunyai keluarga, maksudku seorang istri dan anak. Jika dia punya, alangkah baiknya mereka yang menanggung hutang-hutang itu." sahut Ethan Coen.
"Tidak, pamanku tidak punya siapa-siapa selain Aku. Hanya saja Ia tidak berterus terang padaku tentang hutang-hutang dia." kata Emma.
"Memang berat jika memiliki hati baik, kurasa kau bisa melarikan diri dari tanggungan ini. Tidak seharusnya kau menjadi tumpuan beban pamanmu, Emma." sahut Ethan Coen.
"Yah, Aku juga inginkan hal itu, tapi apalah dayaku. Aku tidak bisa menghindar lagi." kata Emma.
"Boleh Aku tahu berapa hutang-hutang pamanmu itu?" tanya Ethan Coen.
"Memangnya kamu mau membantuku melunasi hutang-hutang paman Broeri Goldman?" balas Emma.
Emma tertawa kecil, mendengar pertanyaan Ethan Coen.
"Setidaknya Aku bisa meringankan beban beratmu, Emma." sahut Ethan Coen.
Ia menatap serius ke arah Emma Taylor, tatapannya tegas menyiratkan kesungguhan hatinya.
"Aku serius menyampaikan keinginan ku ini, Emma Taylor." kata Ethan Coen.
Emma membalas tatapan Ethan Coen, dan mereka sama-sama terdiam lama.
"Aku ucapkan terimakasih, tapi aku tidak menginginkan nya. Biarkan Aku yang menebus hutang-hutang pamanku." sahut Emma.
"Emma..." bisik Ethan Coen ditelinga Emma. Lalu mendekat. "Kau bisa menjadi wanita ku. Karena Aku menyukai mu."
Emma tersentak kaget, tiba-tiba seluruh pancaindra nya menegang kaku sedangkan raut wajahnya membeku sebeku es.
"Kau tidak sedang bercanda kan, sebab Aku tidak suka lelucon." kata Emma.
"Tidak, Emma." sahut Ethan Coen. "Aku serius mengatakan hal ini padamu. Jujur padamu saat pertama kali Aku melihat mu, Aku langsung jatuh hati padamu."
Emma terdiam, Ia tahu yang dikatakan oleh Ethan Coen sungguh-sungguh jika di dengar dari nada ucapannya.
"Tapi... Aku tidak bisa menerima mu untuk saat ini..." kata Emma.
Ethan Coen menarik nafas, ia mendengus kecewa.
"Kenapa?" tanya Ethan Coen. "Apa alasanmu, kau sudah memiliki kekasih, Emma?"
"Bukan begitu, Aku tidak memiliki kekasih, hanya saja Aku memang tidak bisa menerimamu." sahut Emma.
Emma Taylor membuang muka, tampak ia sedang berpikir serius.
Angin ringan di area taman Anggrek Resident menerpa wajahnya yang cantik merona, namun kesegarannya tidak membuat Emma bernafas lega.
"Tapi kau bisa pikirkan lagi tawaranku ini, bisa lain waktu atau esok hari, lusa, sebulan atau kapanpun kau siap maka aku akan menunggumu, Emma." ucap Ethan Coen.
Emma memalingkan muka, ia menoleh pada Ethan Coen dan memandangnya serius.
"Tetap Aku tidak bisa menerima mu, Ethan Coen." sahutnya.
Ethan Coen serta merta tidak langsung menerima keputusan Emma Taylor, ia masih bersikukuh mendapatkan Emma sebagai wanitanya.
"Aku tidak peduli seberapa besar masalahmu, apapun yang kau alami dalam hidupmu, yang terpenting bagiku Aku menyukai mu, Emma."
"Ethan, kumohon padamu..." kata Emma memelas.
"Beri Aku satu kesempatan lagi. Dan Aku akan buktikan kesungguhan hatiku padamu." kejar Ethan Coen.
"Ethan, Aku tidak bisa." sahut Emma.
"Dengarkan Aku, Emma Taylor!" kata Ethan Coen. "Aku sangat-sangat menyukaimu. Dan Aku akan mengejar mu bagaimanapun caranya untuk mendapatkan hatimu."
Emma beringsut mundur, ia menjauh dari Ethan Coen lalu berbalik pergi. Ia buru-buru melangkahkan kakinya, meninggalkan Ethan Coen di belakangnya.
"Emma!" teriak Ethan Coen di keheningan suasana taman Anggrek Resident.
Emma tidak bereaksi, Ia terus lanjutkan langkah kakinya pergi.
"Emma Taylor!" kejar Ethan Coen.
Tetap saja Emma tidak peduli, Ia tidak lagi mendengarkan panggilan Ethan Coen padanya.
Emma terus melangkah menjauh, pergi dari Ethan Coen yang bersikukuh keras untuk mengejarnya.
"Tap! Tap! Tap!"
Terdengar suara langkah kaki menggema di sepanjang jalan area koridor sepi menuju ruangan lainnya.
Belokan pertama, Emma mempercepat langkah kakinya sedangkan Ethan Coen masih terus memburunya di belakang.
Suara Ethan Coen terdengar terus-menerus memanggil nama Emma Taylor. Dan Ia tidak memperdulikan harga dirinya.
"Emma Taylor!" panggil Ethan Coen.
Ethan Coen mengejar Emma yang berada di depannya.
"Tunggu, Emma!" ucapnya menggapai tangan Ethan Coen. "Dengarkan aku!"
Ethan Coen terus memaksa Emma Taylor namun Emma masih saja menghindarinya.
"Apa semua ini karena pamanku sehingga kamu menolak perasaanku padamu, Emma?" kejar Ethan.
Ethan Coen meraih pergelangan tangan Emma Taylor, mereka saling beradu pandang.
Emma terdiam, hanya menatap datar pada Ethan Coen di hadapannya sedangkan Ethan menggenggam erat tangannya.
"Jujurlah padaku, Emma." ucap Ethan Coen.
"Kenapa kamu berpikir bahwa Aku ada hubungan spesial dengannya, kami hanyalah rekan kerja, Ethan." kata Emma.
"Berterus teranglah padaku, Emma. Aku bisa menerimanya, dan nanti Aku bicarakan hal ini pada pamanku." kata Ethan Coen.
"Apa yang akan kamu bicarakan dengannya?" tanya Emma.
"Agar dia melepaskanmu dan membiarkan kita bersama." sahut Ethan.
"Kami sekedar terikat hubungan kerjasama pekerjaan, tidak lebih dari itu. Percayalah padaku." kata Emma meyakinkan.
"Ayolah, Emma..." ucap Ethan membujuk Emma. "Aku akan berusaha."
Emma menarik tangannya lalu mengangkat kedua tangannya ke dekat wajahnya, sambil berkata.
"Dengarkan aku, Ethan!" kata Emma.
"Apa?!" ucap Ethan.
"Aku tetap tidak bisa menerimamu, ada hal-hal lainnya yang tidak bisa Aku utarakan padamu." kata Emma.
"Apa yang tidak bisa kamu utarakan itu, Emma?" tanya Ethan.
"Jujur Aku terikat kontrak dengannya. Dan Aku tidak bisa menolaknya. Pekerjaan ini penting buatku. Dan Aku berhak bertahan hidup, Ethan." sahut Emma.
"Kontrak?" tanya Ethan. "Kontrak apa?"
"Aku tidak bisa katakan padamu mengenai kontrak antara Aku dengannya. Ini rahasia kami berdua, kuharap kamu mengerti ini, Ethan." sahut Emma.
Emma menatap serius Ethan Coen di hadapannya, hening terasa diantara keduanya.
"Mengertilah..." kata Emma.
Ethan tidak bereaksi, terdiam mematung, sembari menatap Emma.
"Maaf, Aku harus pergi. Sebab aku sedang mencari kamar untukku. Pelayan rumah tidak menemui ku bahkan Aku terpaksa berkeliaran sendirian di rumah ini." kata Emma.
Emma berpaling, lalu melangkah untuk pergi. Ethan masih terdiam, namun Ia segera menangkap pergelangan tangan Emma.
"Tap!"
"Tunggu, Emma!" ucapnya.
"Ya...?!" sahut Emma lalu menoleh ke Ethan Coen yang ada di sampingnya. "Apa?!"
"Biar Aku temani mencari kamar, di Anggrek Resident ini terdapat banyak kamar, kamu masih orang baru di sini, kupikir kamu akan kesulitan mencarinya." sahut Ethan.
Emma menatap lama Ethan Coen, mencari kesungguhan hati laki-laki berambut pirang itu lalu tersenyum tipis.
"Baiklah, Aku setuju saranmu. Dan Aku ucapkan rasa terimakasihku padamu karena mau menemaniku." sahut Emma lalu menganggukkan kepalanya.
"Mari ikut denganku!" kata Ethan lalu berjalan melewati Emma.
Emma terdiam, namun ia terlihat ragu-ragu untuk mengikuti ajakan Ethan Coen.
"Kamu tidak perlu takut, Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Percayalah padaku, Emma!" ucapnya sembari terus melangkah ke depan.
"Eh, I-iyya..." sahut Emma bergegas menyusul langkah Ethan Coen.
Ethan Coen berjalan di depan Emma Taylor, punggungnya tegap namun terlihat sepi.
Emma merasakan bahwa Ethan Coen sangat membutuhkan seseorang bersamanya. Namun Emma tidak bisa menerima perasaan Ethan terhadap dirinya, sebab ia terikat kontrak perjanjian dengan Noah Jones maka Emma tidak bisa menerima pria lainnya sampai batas kontrak selesai.