Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
“Jadi… itu bukan mimpi biasa,” gumam Juan pelan, suaranya nyaris tertelan keheningan kamar.
Bayangan sosok misterius berwujud Teteh Ayu itu kembali berputar di benaknya seperti film pendek. Cara bicaranya yang tertata, tatapannya yang seolah sanggup menembus tempurung kepalanya, serta penjelasan logis yang mustahil dikarang oleh imajinasinya sendiri.
Ia ingat dengan sangat jelas setiap rincian kata yang disampaikan, tentang bagaimana liontin itu akan berevolusi, tentang kekuatan yang akan terus mengalir, dan tentang sebuah syarat mutlak yang tidak bisa ia tawar.
Tujuh janda.
Juan memejamkan mata sejenak, membiarkan kegelapan di balik kelopak matanya membantunya fokus.
Ia mulai menghitung dalam hati, mencoba memetakan apa yang sudah ia lalui.
Dua.
Ya, sejauh ini ia sadar bahwa dirinya baru melalui pengalaman bercinta dengan dua orang janda. Itu artinya, perjalanan ini masih panjang.
Masih ada lima janda lagi yang harus ia temui agar liontin sakti yang menggantung di lehernya itu berevolusi sepenuhnya dan memberikan kekuatan baru yang lebih dahsyat, persis seperti yang dijanjikan oleh ruh di dalam mimpinya.
Pertanyaan besar langsung muncul dan berdenyut di benaknya.
“Lima janda lagi… harus ke mana aku mencari mereka? Dan mau tidak mereka bercinta denganku... ”
Juan bangkit dari tempat tidur, merasakan derit dipan kayu yang sudah tua. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan kakinya menyentuh lantai tanah yang terasa dingin.
Tangannya mengusap wajah berkali-kali, mencoba menyusun serpihan pikiran yang masih berantakan. Hidupnya kini jelas tidak lagi berada di jalur yang sama.
Dulu, hari-harinya hanya diisi dengan perjuangan untuk sekadar makan, menahan perihnya hinaan, dan menerima kenyataan pahit sebagai pria miskin yang selalu dipandang sebelah mata.
Namun sekarang, segala sesuatunya telah bergeser.
Ia kini memiliki uang di saku.
Ia memiliki kekuatan fisik yang tak masuk akal. Sebuah liontin sakti yang energinya bisa bangkit dan meledak jika dia bercinta dengan para janda. Asik bukan wkwk.
Dan kini, ia memiliki sebuah tujuan yang sangat jelas, meski bagi orang lain mungkin terdengar tidak masuk akal dan nyeleneh.
Juan berdiri, melangkah keluar kamar menuju sumur di belakang rumah. Ia menimba air, lalu membasuh wajahnya kuat-kuat.
Air dingin itu seolah menusuk pori-porinya, menyadarkannya sepenuhnya dari sisa-sisa kantuk.
Ketika ia menunduk dan menatap pantulan wajahnya di permukaan air ember yang jernih, ia melihat sosok yang secara fisik masih sama, namun jiwanya terasa berbeda.
Tatapannya kini lebih tajam dan penuh selidik.
Garis rahangnya terasa lebih tegas, mencerminkan kerasnya hidup yang sudah ia lalui.
Dan di balik bola matanya, kini terpancar sebuah keyakinan yang sebelumnya tidak pernah ada, sebuah api yang baru saja tersulut.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih luwes untuk bergerak, pikiran Juan kembali tertuju pada petunjuk lain yang dibisikkan dalam mimpinya.
Air terjun.
Lubuk terdalam.
Peti mutiara.
Jantungnya berdegup lebih kencang, memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh. Ia ingat dengan sangat jelas bagaimana sosok dalam mimpinya itu menjelaskan lokasi tersebut dengan sangat detail.
Sebuah air terjun di tengah hutan yang rimbun, jauh dari pemukiman warga desa, dan jarang sekali didatangi karena jalurnya yang ekstrem dan sulit ditembus.
Juan tahu persis tempat yang dimaksud.
Sejak ia masih kecil, ia sering mendengar selentingan cerita dari orang-orang tua di desa tentang air terjun tersebut.
Konon, airnya sangat dingin dan dasarnya sangat dalam. Arusnya kuat di bawah permukaan, dan banyak yang mengatakan tempat itu menyimpan bahaya bagi siapa pun yang sombong.
Itulah sebabnya hampir tidak ada warga yang berani mendekat ke sana, apalagi sampai berniat menyelam ke dalam lubuknya.
Namun, Juan mengambil keputusan tanpa ada keraguan sedikit pun.
Ia harus pergi ke sana.
Hari itu juga, sebelum matahari meninggi.
Ia menyiapkan perlengkapan seadanya, pakaian ganti, handuk, dan sedikit bekal. Tak ada waktu untuk bersantai. Ia perlu membuktikan bahwa apa yang ia lihat dalam tidurnya adalah kebenaran mutlak.
Langkah kaki Juan membelah semak-semak hutan. Semakin dalam ia masuk, semakin rapat kanopi pepohonan menutup langit, menciptakan suasana remang yang lembap.
Udara di sini terasa berbeda, lebih padat dan menyimpan sunyi yang mengintimidasi. Suara ranting kering yang patah di bawah kakinya beradu dengan nyanyian serangga hutan.
Keringat mulai mengalir di pelipis, namun Juan tak melambat. Hingga akhirnya, suara gemuruh rendah mulai menggetarkan udara.
Byurr!
Pemandangan itu terbentang di depannya. Air terjun megah yang jatuh dari ketinggian, menghantam permukaan kolam alami hingga menciptakan uap air yang berkabut. Lubuk di bawahnya terlihat sangat gelap, permukaannya tenang namun menyimpan misteri yang dalam.
Juan berdiri di tepi batu besar, mengatur napasnya agar stabil. Ia teringat janji sosok itu: "Kau tidak akan tenggelam."
Tanpa membuang waktu, Juan melepas baju dan melompat.
Splash!
Rasa dingin yang menusuk langsung menyergap kulitnya, membuat otot-ototnya menegang sejenak. Namun, ia tak berhenti. Juan mengambil napas dalam-dalam lalu menenggelamkan diri.
Semakin dalam ia menyelam, semakin kuat tekanan air yang menghimpit telinga dan dadanya. Cahaya matahari memudar, digantikan oleh kegelapan biru yang pekat.
Anehnya, ia merasa paru-parunya jauh lebih tangguh. Ia bisa bergerak dengan kelincahan yang tak masuk akal di bawah tekanan air sebesar itu.
Ia terus menyisir dasar lubuk. Hingga akhirnya, di antara celah bebatuan yang berlumut, matanya menangkap sebuah benda berbentuk kotak.
Sebuah peti kayu berwarna biru tua.
Juan berenang mendekat, meraih pinggiran peti itu. Berat sekali. Namun, dengan kekuatan barunya, ia menarik peti itu ke pelukannya dan menendang air sekuat tenaga menuju permukaan.
Hah!
Juan muncul ke permukaan, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tubuhnya menggigil hebat karena suhu air yang ekstrim, namun adrenalinnya melonjak tinggi. Ia segera menyeret peti itu ke daratan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Juan mencongkel tutup peti yang sudah mulai lapuk namun masih kokoh tersebut.
Begitu tutupnya terbuka, matanya terbelalak.
Di dalamnya, tumpukan mutiara beraneka ukuran berkilau lembut, memantulkan cahaya redup dari balik celah pepohonan. Kilauannya begitu murni, begitu mahal. Juan tertegun sejenak, hanya suara deru air terjun yang mengisi kesunyian di sekitarnya.
"Itu nyata..." bisiknya, hampir tak terdengar.
Ini bukan ilusi. Bukan tipu daya pikiran yang putus asa. Peti ini adalah bukti nyata bahwa takdirnya telah berubah total.
Segera ia tutup kembali peti itu. Ia tak ingin ada mata-mata liar di hutan ini melihat harta karunnya. Dengan tenaga yang tersisa, ia memanggul peti itu. Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan meskipun bebannya bertambah.
Juan melangkah meninggalkan air terjun tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di matanya, hutan yang tadinya menyeramkan kini tampak seperti gerbang menuju kejayaan.
Satu hal yang pasti, hidup Juan yang menyedihkan sudah berakhir hari ini.