NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia / CEO
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Zirah yang Tertinggal di Depan Pintu

​Kamera-kamera itu menyambar seperti kilat badai yang siap menenggelamkanku. Puluhan mikrofon disodorkan ke arah kami, menciptakan barikade yang seolah tak tertembus di lobi utama gedung Wiratmadja Tech.

​"Apakah benar Anda diancam akan dibunuh jika tidak menikahi Ibu Aruna?!"

​Pertanyaan salah seorang jurnalis itu menggema, liar dan tak beretika. Aku mengencangkan rahang, bersiap untuk mengeluarkan suara paling mengintimidasi yang kumiliki untuk mengusir mereka. Namun, sebelum satu suku kata pun lolos dari bibirku, Bumi sudah mengambil alih kendali.

​Dia berdiri tegak di depanku, menghalangi tubuhku dari sorotan kamera yang agresif. Setelan jas bespoke hitam yang tadi pagi disiapkan Sarah melekat sempurna di tubuh tegapnya, menyamarkan identitas aslinya sebagai pemuda sederhana pemburu uang lembur.

​Bumi tidak menghindar. Dia menatap langsung ke arah lensa kamera jurnalis yang baru saja melontarkan pertanyaan provokatif tersebut. Matanya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Yang ada hanyalah ketenangan setajam silet.

​"Pertanyaan Anda," suara Bumi mengalun rendah namun bergema di seluruh penjuru lobi, menghentikan kasak-kusuk puluhan wartawan seketika, "bukan hanya sebuah fitnah yang keji, tapi juga sebuah penghinaan terhadap institusi pernikahan dan agama saya."

​Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi shutter kamera yang melambat.

​Bumi mengangkat tangan kanannya, dengan lembut namun pasti meraih jemariku. Dia menggenggam tanganku di hadapan puluhan pasang mata, mengunci jari-jari kami. Kehangatan kulitnya menembus sarung tangan sutra tipis yang kukenakan, mengirimkan desiran aneh yang membuat napasku tertahan.

​"Saya, Bumi Arkan, menikahi Aruna Wiratmadja karena Allah, dalam keadaan sadar, tanpa paksaan dari pihak mana pun," lanjut Bumi, setiap artikulasinya menghunjam udara pagi yang dingin. "Tuduhan bahwa istri saya adalah seorang pembunuh yang menyandera karyawannya adalah kebohongan yang sengaja diciptakan untuk memanipulasi pasar saham hari ini. Dan bagi siapa pun media yang berani menaikkan narasi itu tanpa bukti... tim kuasa hukum kami tidak akan segan untuk menyeret Anda ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik berlapis."

​Dunia seakan berhenti berputar. Kata 'istri saya' yang keluar dari mulutnya terasa seperti mantra sihir yang melumpuhkan semua ketakutanku. Dia tidak sedang berakting. Dia sedang melindungi kehormatanku dengan nyawanya.

​"Jalan," bisik Bumi pelan, hanya agar bisa kudengar.

​Dia membimbingku membelah lautan wartawan yang mendadak membukakan jalan, terhipnotis oleh aura otoritas yang dipancarkan oleh seorang pria yang bahkan dua hari lalu tidak memiliki akses ke lobi VIP ini.

​Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) itu berlangsung persis seperti dugaanku: sebuah arena eksekusi.

​Lukman duduk di ujung meja oval dengan senyum pongah yang membuatku muak. Saat aku masuk bersama Bumi, kasak-kusuk para dewan direksi berdengung seperti sarang lebah.

​"Aruna," sapa Lukman, berpura-pura prihatin. "Sayang sekali kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini. Berita di luar sana sangat merusak citra perusahaan. Sebagai dewan, kami terpaksa—"

​"Menjatuhkan hak veto karena saya melanggar Klausul Moral?!" potongku tajam, menarik kursi dan duduk dengan postur menantang. Bumi berdiri diam di belakang kursiku, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursiku, seolah menjadi dinding tak kasatmata yang melindungiku dari serangan.

​"Ini bukan hanya soal Klausul Moral," desis salah satu direktur senior, Pak Haris. "Ini soal tuduhan pembunuhan dan pernikahan paksa, Aruna! Saham kita terjun bebas!"

​Aku melirik Bumi. Dia mengangguk pelan.

​"Silakan periksa layar di depan Anda, Tuan-Tuan," kataku tenang.

​Bumi, dengan kecepatan dan efisiensi seorang jenius IT, menyambungkan tabletnya ke proyektor utama. Dalam hitungan detik, layar raksasa di ruang rapat itu tidak menampilkan grafik saham yang anjlok, melainkan sebuah diagram pelacakan IP (Internet Protocol).

​"Apa-apaan ini?!" Lukman mulai terlihat panik.

​"Itu adalah rekam jejak digital," suara Bumi memecah ketegangan, dingin dan profesional. "Tuduhan yang tersebar di media pagi ini berasal dari sebuah akun anonim. Namun, dengan sedikit analisis trace-route, saya berhasil melacak dari mana paket data pertama itu dikirimkan."

​Bumi menekan satu tombol. Sebuah alamat muncul di layar, diiringi nama perusahaan cangkang.

​"Alamat IP tersebut terdaftar pada server pribadi di sebuah vila di kawasan Sentul. Vila yang, secara kebetulan, terdaftar atas nama istri dari Bapak Lukman Wiratmadja, Dan jika ada di antara Anda yang masih termakan fitnah bahwa istri saya menyuap saya," tambah Bumi dengan suara menggelegar, "silakan cek catatan pernikahan kami. Mahar pernikahan kami hanya dua ratus ribu rupiah. Uang dari dompet saya sendiri, yang saya berikan dengan penuh keikhlasan. Tidak ada paksaan korporat dalam akad kami."

​Wajah Lukman pias seketika. Seluruh pasang mata di ruangan itu beralih menatapnya dengan penuh kecurigaan.

​"Jejak digital tidak pernah tidur, Pak Lukman," tambahku, memberikan pukulan terakhir. "Anda menuduh saya memanipulasi pernikahan, padahal Anda yang mensabotase perusahaan ini demi ambisi pribadi. Jika rapat ini terus dilanjutkan dengan agenda pencopotan saya, maka saya akan membawa bukti peretasan dan fitnah ini ke Bareskrim Polri hari ini juga. Pilihan ada di tangan Anda."

​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat. Rencana Lukman hancur berkeping-keping. Klausul moral telah kupenuhi dengan surat nikah yang sah, dan fitnahnya telah kami patahkan dengan bukti digital.

​Untuk pertama kalinya sejak kematian Adrian, aku bisa bernapas lega di ruangan ini. Dan itu semua berkat pria yang berdiri dengan tenang di belakangku. Pria yang jasnya mungkin lebih mahal dari gajinya setahun, namun nyalinya jauh melampaui seluruh kekayaan di ruangan ini.

​Adrenalin itu perlahan menguap saat pintu penthouse mewa ku di lantai lima puluh tertutup rapat.

​Bunyi klik dari kunci otomatis terasa seperti garis pemisah antara realita kejam di luar sana, dan realita canggung yang kini harus kami hadapi di dalam sini.

​Aku melepaskan sepatu hak tinggiku, membiarkan telapak kakiku menyentuh karpet wol tebal. Rasa lelah yang luar biasa menghantam seluruh sendiku. Dua hari tanpa tidur yang layak, krisis Sifa, dan peperangan di kantor benar-benar menguras kewarasanku.

​Aku menoleh ke arah Bumi. Dia masih berdiri di dekat pintu, tampak sangat canggung. Setelan mahalnya tampak mulai menyiksanya. Dia melonggarkan dasinya dengan hela napas panjang, menatap sekeliling apartemenku yang luas, dingin, dan kaku. Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman hias. Hanya ada perabotan monokrom, lukisan abstrak, dan jendela kaca raksasa yang menampilkan Jakarta dari atas awan.

​Sangat berbeda dengan rumah kecil ibunya yang hangat dan penuh cinta.

​"Ini... tempatku," gumamku kaku, tiba-tiba merasa harus menjelaskan kekosongan ruangan ini. "Atau, maksudku... tempat kita sekarang."

​Bumi menatapku. Tatapan tajam dan protektif yang tadi ia tunjukkan di kantor kini menghilang, digantikan oleh kesopanan seorang pria yang sedang menjaga jarak. "Tempat yang indah, Aruna. Tapi terlalu luas untuk satu orang."

​Kata-katanya menusuk tepat di bagian hatiku yang paling sepi. Aku membuang muka, berpura-pura sibuk melepaskan jam tanganku. "Kau bisa memilih kamar mana pun. Ada tiga kamar tamu di lorong sebelah kanan. Kamar utamaku ada di sebelah kiri."

​"Saya tidur di sofa saja," jawabnya cepat.

​Aku mengerutkan kening, berbalik menatapnya. "Bumi, ini bukan sinetron murahan. Sofaku memang mahal, tapi kau tidak akan bisa tidur nyenyak. Kau sudah bekerja sangat keras hari ini. Pakailah kamar tamu yang paling ujung. Ada kamar mandi dalamnya."

​Bumi tampak ragu, tangannya meremas ujung dasi yang sudah ia lepas. "Aruna, saya... saya takut kehadiran saya di sini justru membuat Anda tidak nyaman. Sesuai perjanjian kita, saya tidak akan melanggar batasan Anda."

​Ada dorongan aneh di dadaku untuk melangkah maju, untuk menyentuh lengannya dan mengatakan bahwa dia bukan ancaman bagiku. Namun, logika menahanku. Kami adalah orang asing yang disatukan oleh keputusasaan.

​Aku menatapnya dalam. "Bumi, kau baru saja berdiri di depan puluhan kamera, mempertaruhkan namamu, bahkan meretas paman suamiku demi melindungiku. Mengapa sekarang kau bertingkah seolah kau takut padaku?"

​Bumi menundukkan pandangannya. "Saya tidak takut pada Anda. Saya takut pada diri saya sendiri. Di luar sana, saya adalah perisai Anda. Tapi di dalam sini, saat hanya ada kita berdua... status itu berubah. Anda bukan sekadar atasan yang saya lindungi. Anda adalah istri yang sah secara agama."

​Napas tertahan di kerongkonganku. Cara dia mengucapkan kata istri dengan penuh penghormatan itu membuatku merasa... telanjang. Bukan dalam artian fisik, tapi jiwaku. Selama ini pria-pria di sekitarku memandangku karena posisiku atau lekuk tubuhku. Tapi Bumi memandangku melalui kacamata tanggung jawab spiritual yang begitu berat.

​Tanpa sadar, tanganku bergerak melepaskan kancing teratas blazer yang kukenakan, merasa tiba-tiba kegerahan.

​Melihat gerakanku, Bumi seketika membuang muka sepenuhnya ke arah jendela. Rahangnya mengeras.

​"Maaf," gumamnya cepat. "Aruna... bolehkah saya bertanya sesuatu?"

​"Ya?" Aku menghentikan tanganku, tiba-tiba merasa sangat sadar akan tubuhku sendiri.

​"Di mana arah kiblat?" tanyanya pelan. "Matahari sudah hampir terbenam, dan saya belum menunaikan salat Asar."

​Pertanyaan sederhana itu menghantamku lebih keras daripada tuduhan Lukman di ruang rapat tadi. Aku terdiam. Mulutku sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

​Arah kiblat!.

​Aku tinggal di apartemen ini selama tiga tahun, dan aku tidak tahu ke mana arah kiblat.

​Rasa malu yang pekat menjalar dari tengkuk hingga ke wajahku. Duniaku dipenuhi oleh analisis grafik saham, pergerakan kurs dolar, dan ekspansi perusahaan. Aku lupa kapan terakhir kali aku menggelar sajadah. Aku lupa bagaimana rasanya menundukkan kepala di hadapan sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.

​"Aku... aku tidak tahu," jawabku akhirnya, suaraku nyaris seperti bisikan yang menyedihkan. Posisiku sebagai CEO yang tahu segalanya tiba-tiba terasa sangat tidak berguna.

​Bumi tidak menatapku dengan tatapan menghakimi. Dia hanya mengangguk pelan. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah aplikasi, dan memutar tubuhnya perlahan hingga menghadap ke sudut ruangan di dekat rak buku.

​"Ke arah sana," gumamnya pelan. "Apakah saya boleh meminjam sedikit ruang di sudut itu?"

​"Tentu," kataku cepat, hampir panik. "Biar aku panggilkan housekeeping untuk membersihkan karpetnya, atau—"

​"Tidak perlu, Aruna. Lantai yang bersih sudah cukup bagi Tuhan," potongnya lembut.

​Aku menyingkir ke dapur, mengawasi dari kejauhan dengan dada yang bergemuruh. Aku melihat Bumi menggelar sajadah tipis yang selalu ia bawa di dalam tas kerjanya. Dia mengangkat kedua tangannya. "Allahu Akbar."

​Suaranya sangat pelan, sangat damai.

​Aku bersandar pada meja pantry marmerku yang dingin. Tanganku gemetar memegang gelas air putih. Aku membeli seorang suami untuk menyelamatkan perusahaanku. Tapi rasanya, aku justru membawa sebuah cermin raksasa ke dalam hidupku—sebuah cermin yang memantulkan betapa miskinnya jiwaku di balik segala kemewahan ini.

​Air mata yang tidak kuundang tiba-tiba menetes dari pelupuk mataku. Aku segera menghapusnya dengan kasar. Jangan menangis, Aruna. Kau tidak boleh terlihat lemah.

​Setelah selesai berdoa, Bumi melipat sajadahnya. Dia tampak jauh lebih tenang sekarang, seolah beban pekerjaannya sudah luruh bersama air wudu.

​Dia berjalan mendekat ke arah dapur. Matanya menangkap mataku yang sedikit memerah, tapi dengan kebijaksanaan yang luar biasa, dia tidak mengomentarinya.

​"Saya akan ke rumah sakit malam ini untuk menemani Ibu menjaga Sifa. Anda tidak perlu ikut, beristirahatlah. Anda terlihat sangat pucat," ucapnya, nadanya kini lebih rileks.

​Aku mengangguk pelan. "Kabari aku jika terjadi sesuatu."

​Bumi mengambil tas ransel kusamnya—satu-satunya barang bawaannya yang ia bawa ke apartemen ini. Namun, sebelum ia melangkah menuju pintu, ia mengeluarkan laptopnya.

​"Ada satu hal lagi, Aruna," ekspresi Bumi kembali menjadi serius. Insting programmer-nya kembali mengambil alih. "Sejak saya menyambungkan perangkat saya ke jaringan Wi-Fi pribadi apartemen Anda lima menit yang lalu, sistem pelacak otomatis saya mendeteksi sebuah anomali."

​Aku mengerutkan kening. "Anomali apa? Jaringan di apartemen ini dienkripsi oleh tim sekuriti kita."

​Bumi berjalan mendekat, membuka layar laptopnya dan menunjukkan rentetan kode hijau yang bergerak cepat. "Enkripsi itu berguna untuk mencegah serangan dari luar. Tapi tidak berguna jika penyusupnya ada di dalam."

​"Maksudmu... seseorang meretas kita lagi?" tanyaku, jantungku kembali berpacu.

​Bumi menggeleng lambat. Matanya menyusuri setiap sudut langit-langit apartemenku, ke arah pendingin ruangan, lalu ke arah detektor asap di atas meja kerjaku.

​"Bukan peretasan dari jarak jauh," bisik Bumi, suaranya kini dipenuhi kewaspadaan yang membuat bulu kudukku meremang. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku, agar suaranya tidak menggema di ruangan itu.

​"Ada transmisi data aktif berupa audio dan visual yang sedang dikirimkan dari dalam apartemen ini ke server eksternal secara real-time."

​Aku menahan napas. "Apa... apa artinya itu?"

​Mata Bumi menatapku dengan kilat tajam yang mengerikan. "Artinya, Aruna... selama ini ada kamera tersembunyi dan alat penyadap di dalam rumah Anda sendiri. Dan seseorang sedang mendengarkan pembicaraan kita sejak kita masuk."

​Duniaku runtuh untuk kedua kalinya hari ini.

​Jika Lukman atau siapa pun telah menyadap apartemenku... maka mereka tahu. Mereka tahu bahwa pernikahan ini diawali oleh kontrak dua miliar rupiah. Dan yang lebih parah, siapa yang memiliki akses ke apartemen pribadiku selain aku dan... mendiang suamiku, Adrian?

​____________________________________________

Bumi memberikan isyarat agar Aruna diam. Ia berjalan mengendap-endap mengikuti sinyal dari laptopnya, menuju sebuah lukisan besar hadiah ulang tahun dari mendiang Adrian yang tergantung di ruang tamu. Saat Bumi menyingkirkan lukisan itu, Aruna menutup mulutnya untuk menahan jeritan. Di balik lukisan itu, terdapat sebuah pemancar kecil dengan lampu merah yang berkedip pelan. Lampu itu masih aktif. Pertanyaannya, siapa yang menaruhnya di sana?

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴀᴀᴀᴀᴀᴀᴀᴀ ᴍᴇᴡᴇᴋ ᴀǫ ᴛʜᴏʀ 😭😭😭😭😘😘😘
Ayu
sampai kapan mau disembunyikan /Scowl/
Ayu
hmm ..konflik rumah tangga, lekas baikan deh ya
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ ᴋᴇᴛᴀʜᴜᴀɴ 😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴜᴅᴀʜ ᴅɪʙɪʟᴀɴɢɪɴ ᴋᴀɴ ᴋᴀsɪʜ ᴛᴀᴜ ᴀᴊᴀ 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴀʀᴜɴᴀ ᴅᴀɴ ʙᴜᴍɪ ᴀᴍᴀᴛ sᴀɴɢᴀᴛ sᴀʟɪɴɢ ᴍᴇɴᴄɪɴᴛᴀɪ, ᴅᴀɴ ᴄɪɴᴛᴀɴʏᴀ sᴀᴍᴀ2 ʙᴇsᴀʀ ᴊᴀᴅɪ ᴘᴇɴɢᴏʀʙᴀɴᴀɴ ᴛᴇʀᴀsᴀ ʟᴇʙɪʜ ʀɪɴɢᴀɴ 😭😭😭
sitanggang
muter2 kek gangsing alurnya🤣
Misterios_Man: maklum lah pemula ga seperti Kaka yang pakar, mohon ajarin dong suhu buat karya supaya ga muter muter 🙏
total 1 replies
Ayu
Semangat Aruna 💪
ciwizay
wiradmaja tect ini perusahaan peninggala suaminya yang dibangun bersama aruna atau warisan bapaknya aruna thor.
kenapa nama aruna binti baskara wiradmaja.itu menunjukkan itu warisan bapaknya.bukan peninggalan suaminya .pdahal awal bab bilangya aruna mertahankan perusahaan peninggalan suaminya.
Misterios_Man: sebenarnya emang perusahaan peninggalan suaminya cuma pake nama keluarga aruna, karena mau di hibahkan sepenuhnya ke aruna kak.
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴋɴᴘ ʜʀs ᴅɪʀᴀʜᴀsɪᴀᴋᴀɴ ᴋᴀɴ ʙɪᴋɪɴ ɴʏᴀ ʙᴇʀᴅᴜᴀ 🤔🤔🤔

ᴀʀᴜɴᴀ ɢᴋ ʙᴇʟᴀᴊᴀʀ ᴅʀ ᴋᴇsʟsʜᴀɴ sʙʟᴍ ɴʏᴀ 😭😭
ciwizay
hadeeeh setiap kali aruna bernanapas lega pasti rendra selangkah lebih maju membalas, kayak kompetisi begitu teruuus.
ciwizay
masih penasaran apa yang di inginkan rendra dari aruna,cinta aruna atau hartanya aruna
ciwizay
sarah berani mengumpankan anaknya sebagai sandra agar aruna dan bumi celaka,berarti sarah perempuan yang mengerikan
ciwizay
sumpah tegang pool
ciwizay
aruna tidak punya saudara kah,siapa wali aruna apa wali hakim.apakah ini merujuk" janda bisa menikah tanpa wali" seperti kisah janda yang
viral di tipi tipi kemarin🤔
ciwizay
bumi keren sekali bisa membungkam mulit siluk man
ciwizay
awal ceriitanya menarik sekali semoga bagus terus tiap bab nya
Ayu
Hadeehh sekalinya ke Pasar malah kena bom atom 🤭
btw keinget jaman masih suka jemput anak pulang sekolah.. kalo keburu kelasnya pulang cukup daster dipakein jaket sama kerudung 😄
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴋᴇsᴀʟᴀʜᴘᴀʜᴀᴍᴀɴ..... 🤔🤔🤔

ᴅɪ ᴅᴀʟᴀᴍ ʜᴀʟ ᴀᴘᴀᴘᴜɴ ᴋᴏᴍᴜɴɪᴋᴀsɪ ᴀᴅᴀʟᴀʜ ᴋᴜɴᴄɪ, ʙᴀɪᴋ ʀᴛ, ᴘᴇʀᴜsᴀʜᴀᴀɴ ᴀᴛᴀᴜ ᴀᴘᴀᴘᴜɴ, ᴋʀɴ ᴋɪᴛᴀ ʙᴜᴋᴀɴ ᴄᴇɴᴀʏᴀɴɢ ʏɢ ʙɪsᴀ ᴍᴇɴɢᴇᴛᴀʜᴜɪ ᴊʟɴ ᴘɪᴋɪʀᴀɴ ᴏʀʟᴀ, ɪᴛᴜʟᴀʜ ᴋɴᴘ ʙɴʏᴋ ᴘᴇʀᴄᴇʀᴀɪᴀɴ ᴊᴍɴ sᴋʀɴɢ ᴋʀɴ ᴋᴜʀᴀɴɢ ᴋᴏᴍᴜɴɪᴋᴀsɪ ᴊɢ ʏɢ ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ ᴍᴇᴍɪᴄᴜ sʟʜ ᴘʜᴍ 😔😔😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ʟᴀɴᴊᴜᴛ ᴛʜᴏʀ 😘😘😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!