Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu
***
Entah sejak kapan Tania tertidur hingga suara ketukan pintu membuat mata nya perlahan terbuka.
Dengan mata yang masih terasa berat, Tania terpaksa harus beranjak dari ranjang nya.
"Mas Raka belum pulang juga ternyata." Gumam nya saat menyadari suami nya tidak ada di ranjang.
"Apa yang diluar Mas Raka ya? Ya ampun, aku sampai ketiduran tadi." Sesal nya, tanpa menunggu lama lagi Tania bergegas menarik gagang pintu dengan cepat.
Krek....
"Mas, Mas baru pulang?" Tanya Tania begitu melihat ternyata memang suaminya yang sedari tadi mengetok pintu kamar .
"Ya ampun Mas, maaf banget ya, tadi aku sampai ketiduran, nggak nyadar sama sekali kalau Mas sudah pulang." Ucapnya lagi merasa bersalah sudah membuat Raka menunggu lama di luar kamar.
"Mas baru aja nyampai kok sayang, seharus nya Mas yang harus minta maaf sama kamu, karena sudah mengganggu tidur kamu." Balas Raka sembari mengusap kepala istrinya dengan lembut, dan langsung masuk kamar.
Tania mengunci pintu terlebih dahulu setelah itu ikut menyusul suaminya.
"Mas mandi dulu ya, gerah." Raka menyambar handuk dan segera berlalu ke kamar mandi dengan cepat.
"Iya Mas, kalau gitu aku ke dapur sebentar ya, mau minum, atau Mas mau minum air hangat ? Biar sekalian Tania siapkan." Tanya nya sebelum Raka benar-benar sampai ke kamar mandi.
"Gak usah sayang, Mas sudah minum banyak tadi di pabrik." Balas Raka dari dalam kamar mandi.
****
"Loh, kamu....Kok kamu masih disini?" Kaget Tania saat melihat Bella yang juga sedang berada didapur.
"Aku nginap disini Mbak," Jawab nya datar, sembari meletakkan gelas bekas ia minum tadi.
"Terus ngapain tengah malam begini kamu masih didapur?" Tanya Tania sembari menelisik pakaian yang dipakai Bella.
Gadis itu terlihat begitu berani dengan hanya memakai gaun tidur yang begitu terbuka.
"Ya, aku haus lah Mbak, mau minum, gerah sekali rasanya di sini."
Tania mengambil botol minum, lalu mengisi air dengan penuh lalu membawa nya ke kamar.
"Eh, Mbak mau kemana?"
Tania yang sudah berjalan beberapa langkah terpaksa berbalik ke arah Bella.
"Mau ke kamar lah, memang mau kemana lagi? Ini kan sudah malam Bella." Balas Tania malas.
"Sebentar deh, ada yang mau aku tanyakan sama Mbak."
"Nanya apa?" Jawab Tania dengan malas.
"Heum, apa Mbak tau dimana kamar nya Mas Raka?" Tanya Bella sedikit berbisik pada Tania.
Deg
Berani sekali gadis itu....
Mata Tania seketika melebar dengan sempurna mendengar pertanyaan aneh gadis itu.
"Dek, kok lama sih?" Belum sempat Tania membalas, Raka sudah muncul di ambang pintu dapur.
Pria itu terlihat sudah segar dengan rambut yang terlihat masih sedikit basah, Raka terdiam sejenak saat mata nya tidak sengaja beradu dengan tatapan mata Bella.
"Mas Raka......." Seru Bella dengan mata berbinar senang, gadis itu hendak mendekati Raka.
Menyadari ada wanita lain, apalagi Raka sempat melihat pakaian yang dipakai Bella begitu terbuka. Secara refleks Raka buru-buru memalingkan wajah nya.
"Sayang, yuk ke kamar." Raka mengabaikan Bella, seolah-olah Bella tidak ada sama sekali di sana. Ia menarik lembut tangan istrinya.
"Kalau bertamu ke rumah orang, berpakaian lah yang sopan." Peringat Raka tegas.
Tania sedikit terkejut, tidak menyangka suaminya akan berkata demikian sama Bella.
Tanpa sadar bibir nya mengulas sedikit senyum.
Bella menggerutu kesal melihat Raka menggandeng tangan Tania bahkan mengabaikan dirinya.
"Nyebelin....Kenapa Mas Raka malah pegang-pegang tangan wanita itu sih, memang nya dia itu siapa di sini, bukan kah dia hanya pembantu, lalu..... Kenapa__?" Pikiran nya mulai menerka.
"Ah, nggak mungkin." Bella membuang jauh-jauh pemikiran nya, dia masih berharap hati Raka masih padanya.
Dia tau tidak mungkin Raka semudah itu melupakan dirinya.
Apalagi Raka dulu begitu mencintai dia, begitulah pikir Bella.
"Kita lihat aja besok Mas, apa kamu masih bisa menghindar lagi? Aku yakin, kamu pasti nggak akan tahan kalau lama-lama jauh dari aku." Gumam Bella dengan percaya diri seulas senyum muncul di bibir nya.
Didalam kamar...
"Mas, Bella itu siapa sih?" Tanya Tania penasaran sembari terus memperhatikan suami nya yang tiba-tiba jadi berubah banyak diam. Bahkan raut wajah nya terlihat begitu dingin.
"Bukan siapa-siapa, udah yuk, kita tidur. Mas ngantuk banget." Ujarnya sembari menarik selimut dan tidur membelakangi Tania.
Tania menghela nafas pelan, hati nya sedikit nyeri melihat sikap suami nya yang tiba-tiba berubah acuh, entah kenapa, apakah karena Bella tadi.
"Siapa sebenarnya Bella? Kenapa sikap Mas Raka tiba-tiba berubah setelah tadi bertemu dengan Bella?" Batin Tania resah.
Tania menatap punggung lebar suami nya yang sudah tertidur lelap.
"Mas, aku harap Mas tidak merahasiakan apapun sama aku." Gumam nya pelan, lalu ikut berbaring disamping suaminya.
Pagi nya, saat Tania terbangun ternyata Raka sudah tidak ada ditempat tidur.
Mata nya bergerak mencari suami nya yang entah sudah pergi kemana sepagi ini, tidak seperti biasanya Raka bangun lebih awal dari Tania.
Sebelum keluar, Tania membersihkan tubuh nya terlebih dahulu, lalu melaksanakan sholat subuh dua rakaat.
"Aku tau kamu masih cinta kan sama aku Mas."
Deg...
Tania yang hendak pergi ke dapur tiba-tiba tidak sengaja menangkap suara seorang perempuan dari arah belakang rumah dekat dapur.
"Ayolah Mas, aku jauh-jauh pulang dari luar negeri kesini hanya demi kamu. Oke, aku ngaku salah karena sudah sempat meninggalkan kamu dulu. Tapi, itu semua karena aku terpaksa Mas, aku tau kamu kecewa, aku tau kamu sakit hati sama aku, aku minta maaf untuk itu. Tapi sekarang aku sudah kembali Mas, aku kembali untuk kamu."
Tubuh Tania mematung begitu matanya menangkap sosok yang begitu dia kenal sedang berdiri tegap dengan seorang wanita. Wanita yang semalam sempat membuat resah hati nya.
Tania meremas dada nya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Ternyata ini sebab nya sikap kamu semalam mendadak berubah Mas? Tapi kenapa? Apa kamu masih ada perasaan sama Bella Mas?" Batin Tania merasa sakit, membayangkan saja sudah membuat nya begitu sakit.
Tania berusaha kuat, dia menghapus air matanya perlahan, lalu mulai menyibukkan diri nya berperang dengan alat dapur.
Tania membuang jauh-jauh pikiran buruk yang terus berkeliaran dikepala nya. Dia tidak mau salah menuduh suaminya.
"Dek, ka-kamu sudah bangun? Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Raka gugup begitu melihat Tania sudah berkutat didapur.
Raut wajah nya terlihat sedikit menegang.
Tania yang sedang memasak segera menoleh mendengar suara bariton suaminya. Tania memasang wajah setenang mungkin, dia tidak mau suaminya curiga dan tau kalau dia tadi sempat mendengar percakapan mereka.
"Iya Mas, tadi aku cari kamu, tapi nggak ada. Kamu, dari mana aja."
Bukan nya menjawab, Raka malah diam.
"Mas___
"Bella?" Belum sempat Raka menjawab, Bella juga ikut muncul dari arah yang sama dengan Raka, membuat lelaki itu kembali menegang.
Raut wajah Bella terlihat cemberut, tidak ada senyum sama sekali.
"Kamu dari mana Bella? Kok bisa kebetulan berbarengan gitu sama Mas Raka?" Tanya Tania pura-pura tidak tau.
Raka kembali terlihat gugup.
"Dek, kamu masak apa? Mas lapar sekali rasanya, perut Mas sudah keroncongan ini." Raka menarik kursi mencoba mengalihkan pertanyaan istrinya.
Tania mencoba tetap tersenyum, hatinya kembali sakit melihat suaminya yang terkesan menghindar untuk menutupi hubungan mereka.
"Kenapa kamu harus menutupi semua dari aku Mas." Batin Tania kecewa.