NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Hanya Efisensi

"Saya hanya mau bayar kontrakan tuan. Gimana kalo saya dibayar didepan, setelah itu saya kerjakan semuanya," tawar Lala dan langsung membuat Ben tersenyum miring.

"Saya juga lapar, boleh minta makan? Saya akan cuci piring kok," lanjutnya dengan wajah meringis.

Ben tetap berada di posisinya, mengurung Lala di antara dinding kaca dan tubuhnya yang kokoh. Senyum miring itu tersungging, bukan karena ia geli, melainkan karena ia melihat betapa absurdnya situasi ini.

Di luar sana, ia baru saja meruntuhkan konspirasi keluarga yang melibatkan penculikan dan pengkhianatan tingkat tinggi, namun di sini, ia justru sedang didebatkan oleh seorang desainer yang hanya memikirkan uang sewa kontrakan dan piring kotor.

​"Dibayar di depan?" Ben tertawa pendek, suaranya kering dan tanpa rasa humor. Ia menarik tangannya dari dinding, menatap Lala dari atas ke bawah seolah sedang menilai harga sebuah barang lelang. "Anda tidak berada dalam posisi untuk bernegosiasi, Lala. Anda berada dalam posisi untuk bertahan hidup."

​Ben berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya, lalu mengambil sebuah black card dari laci dan melemparkannya ke atas meja marmer dengan bunyi klotak yang tajam.

​"Makanlah. Pesan apa pun yang kamu inginkan melalui layanan concierge gedung ini. Gunakan kartu itu," ucap Ben dingin. "Tapi jangan pernah bermimpi tentang bayaran di depan. Kamu akan dibayar jika dan hanya jika Tuan Frederick menyetujui desainmu."

​Ia kembali duduk, memutar kursinya agar menghadap ke arah jendela, membelakangi Lala. "Dan soal cuci piring? Jangan konyol. Jika saya melihatmu menyentuh barang pecah belah di apartemen ini, saya akan memotong bayaranmu sampai 100 persen."

​Lala terpaku menatap kartu hitam di atas meja, lalu menatap punggung tegap pria itu.

​"Satu jam, Lala," desak Ben tanpa menoleh.

"Satu jam untuk detail lounge itu. Jika setelah satu jam kamu belum menyelesaikan bagian plafon dan pencahayaan yang berantakan itu, saya tidak akan peduli lagi apakah kamu lapar, punya kontrakan, atau tidur di jalanan. Kamu bukan lagi masalah saya."

​Lala mendengus pelan, meraih kartu itu dengan gerakan yang sedikit lebih berani.

Sombong sekali, batinnya, meski ia harus mengakui bahwa perutnya yang keroncongan membuatnya tidak punya pilihan lain.

​"Anda benar-benar tidak punya hati, ya?" gumam Lala, sengaja mengeraskan suaranya.

​Ben tidak bereaksi, namun bahunya sedikit menegang. "Hati tidak pernah membantu saya menyelesaikan tugas, Lala. Efisiensi, itulah yang membuat saya tetap hidup."

​Lala melangkah menuju meja kerja, menatap tabletnya, lalu tiba-tiba terdiam. Ia menatap Ben, lalu menatap kartu hitam itu lagi. "Tuan Ben?"

​"Apa lagi?" sahut Ben, masih menatap pemandangan kota di luar jendela.

​"Saya lapar sekali. Saya tidak tahu cara memesan makanan mewah. Bagaimana kalau... Anda saja yang memesankannya untuk saya? Sekalian, saya ingin tahu apa yang biasanya dimakan seorang robot yang tidak punya hati."

​Kali ini, Ben berbalik. Tatapan matanya yang abu-abu kembali mengunci Lala. Untuk pertama kalinya, ada kilatan emosi yang tidak bisa didefinisikan di mata itu—mungkin rasa kesal, mungkin juga... sedikit keterkejutan karena keberanian gadis itu.

​Ben berdiri, berjalan mendekati Lala, dan mengambil tablet dari tangan gadis itu. "Minggir. Saya akan memesankan mu sesuatu yang bisa membuat mulutmu diam setidaknya selama satu jam."

​Saat jemari mereka tidak sengaja bersentuhan di permukaan tablet, Lala merasakan sengatan listrik yang aneh—bukan karena kartu hitam itu, tapi karena tatapan Ben yang mendadak terasa jauh lebih intens daripada sebelumnya. Dan Ben, yang biasanya selalu bisa mengontrol situasi, justru merasakan irama detak jantungnya sendiri sedikit terganggu oleh keberadaan "bencana" yang berdiri tepat di depannya ini.

"Saya sudah pesan makanannya, akan datang dalam 15 menit. Tapi kamu harus mandi. Kamu tahu? Kamu nampak seperti zombi! Dan itu sangat mengganggu kenyamanan tempat ini!"

Ben menunjuk ke arah pintu bercat abu-abu di ujung lorong apartemen dengan dagunya. Gerakannya patah-patah, seolah-olah keberadaan Lala di ruang tamu yang steril itu adalah noda tinta di atas kertas putih bersih yang sangat ia jaga.

"Kamar mandi tamu ada di sebelah sana," lanjut Ben, suaranya tajam seperti pisau bedah. "Di dalamnya ada jubah mandi bersih. Saya tidak peduli pakaian apa yang kamu gunakan nanti, tapi pastikan setelah 15 menit, kamu keluar dengan keadaan yang tidak membuat saya ingin memanggil tim dekontaminasi."

Lala mengerjapkan mata, masih agak linglung dengan perubahan situasi yang secepat kilat ini. "Anda... Anda mengusir saya ke kamar mandi?"

"Saya sedang memerintah," koreksi Ben dengan penekanan pada setiap suku kata. Ia kembali duduk di kursinya, namun kali ini ia tidak membelakangi Lala. Ia memperhatikan setiap pergerakan gadis itu dengan waspada, seolah takut jika Lala akan menyenggol lampu kristal atau menumpahkan sesuatu yang berharga.

"15 menit, Lala. Jika kamu belum keluar saat makanan datang, saya akan membuang jatah makan mu ke tempat sampah."

Lala mendengus—sebuah suara yang terdengar sangat tidak sopan bagi pria seperti Ben—lalu menyambar jubah mandi yang ditunjuk Ben. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang dibuat-buat seolah ia sedang berjalan di catwalk, sebuah upaya terakhir untuk menunjukkan harga diri di tengah kekalahan telak oleh rasa lapar dan kelelahan.

Brak!

Pintu kamar mandi tertutup sedikit terlalu keras.

Ben menghela napas panjang, memijat batang hidungnya yang terasa pening. Suara pintu yang dibanting itu seperti ledakan kecil di ketenangan apartemennya. Ia menatap pantulan dirinya di layar tablet yang gelap.

Apa yang sedang kulakukan? pikirnya.

Ia baru saja menyelamatkan nyawa istri majikannya, melumpuhkan kartel kecil, dan sekarang ia justru sedang mengurus seorang desainer yang butuh mandi dan makan siang.

Ben Arganza yang biasanya tidak pernah meleset satu detik pun dari jadwal, merasa dunianya sedang disabotase oleh seorang gadis yang bahkan tidak bisa menjaga kebersihan diri sendiri.

Namun, saat ia mendengar suara air mulai mengalir dari balik pintu kamar mandi, Ben mendapati dirinya tidak bisa kembali fokus pada data keamanan. Ia justru menatap pintu kamar mandi itu dengan gelisah.

"15 menit," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Hanya 15 menit. Setelah itu, dia harus bekerja. Tidak ada lagi drama, tidak ada lagi kekacauan."

Ia mematikan monitor CCTV, mengabaikan laporan dari tim keamanan, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Ben membiarkan fokusnya terpecah. Ia menunggu. Bukan karena ia peduli pada Lala, ia meyakinkan dirinya sendiri, tapi karena ia ingin memastikan "proyek" itu tidak rusak lebih jauh lagi.

Hanya efisiensi, bisiknya dalam hati, meskipun detak jantungnya sendiri terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.

***

Like dan komen dong 😁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!