Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak Ipar
Arla menangis sepanjang malam dan Abimana memeluknya sambil mengelus punggung Arla agar gadis itu menjadi lebih tenang. Akan tetapi kelembutan dan perhatian itu membuat Arla menjadi semakin merasa kecewa dan sedih. Bagaimana bisa seorang laki-laki asing yang baru beberapa saat bertemu dengannya jauh lebih perhatian dibandingkan dengan orang tuanya sendiri.
Arla menatap ke arah Abimana sambil bertanya.
"Apakah aku tidak berharga, sehingga orang-orang mengabaikanku tanpa memperdulikan perasaanku?"
Mendengar keluhan Arla, Abimana pun langsung mengerti. Seorang gadis muda yang berakhir di tempat pelelangan dan dijual seperti sebuah barang, jelas bahwa dia pasti telah lama merasakan kesepian dan juga merasa ditinggalkan. Hal tersebut membuat Abimana merasa sangat bersimpati.
"Bagaimana bisa kamu berpikir bahwa kamu tidak berharga. Aku telah membelimu dengan harga yang sangat mahal hingga hampir menguras semua isi tabunganku."
Mendengar hal tersebut Arla pun tertawa kecil. Benar juga dirinya setidaknya memiliki label harga yang tidak murah.
Mereka pun akhirnya tidur sambil berpelukan seolah saling menjaga satu sama lain dari semua marabahaya. Kepercayaan di antara keduanya telah terbangun begitu saja, hingga mereka tak memiliki sedikitpun penjagaan ketika mereka terlelap dalam gelapnya malam.
Setelah pagi menjelang sudah saatnya semua orang yang ada di rumah ini pergi untuk bekerja. Abimana dan keluarga besarnya sendiri merupakan keluarga yang anggotanya dominan bekerja di bidang kedokteran. Mereka telah dibentuk dengan disiplin waktu yang sangat baik, sehingga ketika pagi menjelang hampir semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan.
Kali ini meja makan lebih penuh dari sebelumnya karena hampir semua anggota keluarga telah berkumpul di rumah yang sama. Awalnya makan malam memang di agendakan untuk Abimana memperkenalkan calon istrinya. Akan tetapi dikarenakan banyak anggota keluarga serta para sepupu Abimana tak percaya bahwa laki-laki itu memiliki kekasih, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak datang dan enggan untuk membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi.
Akan tetapi saat mereka sedang asyik berada di luar rumah, para bibi dan paman mengirimkan mereka pesan bahwa Abimana benar-benar telah membawa pulang seorang gadis untuk diperkenalkan kepada nenek mereka.
Abimana sendiri merupakan cucu tertua di keluarga ini, sehingga ia telah diberikan beban yang begitu besar sebagai orang yang pertama menikah dan memiliki seorang anak. Hal tersebut membuat para sepupu Abimana merasa kasihan padanya, akan tetapi jauh di dalam lubuk hati mereka sebenarnya mereka senang Abimana didesak untuk menikah. Dengan begitu mereka terbebas dari tuntutan untuk mencari pasangan secepat mungkin.
Hanya saja kini Abimana benar-benar memiliki seorang kekasih, maka posisi mereka sebagai cucu yang lebih muda mulai terancam. Mungkin setelah Abimana, giliran mereka lah yang didesak untuk menikah. Meski begitu mereka benar-benar penasaran untuk melihat calon kakak ipar mereka.
"Wah hampir semua orang benar-benar pulang hari ini. Ini merupakan pertemuan keluarga yang paling lengkap, bahkan lebih lengkap dari pertemuan pada saat hari raya." ucap Danang
"Bagaimana tidak lengkap, saat aku piket kemarin Ibu langsung menelponku dan mengatakan bahwa kakak Abimana benar-benar membawa calon kakak iparku kali ini." ucap Jay menimpali.
"Jangan menyebutnya kakak ipar, dia bahkan baru berumur 18 tahun sekarang dan baru mendapatkan KTP. Gadis semuda itu seharusnya pergi berkuliah sekarang, tapi Abimana justru mengatakan bahwa mereka akan segera menikah dan mengatakan bahwa dia sudah menyukai gadis itu sejak gadis itu masih SMP."
Mendengar pernyataan neneknya, Danang Jay dan lainnya langsung menganga karena kaget. Mereka tak pernah menyangka bahwa kakak mereka belum juga memperkenalkan pacarnya bukan karena dia tidak punya pacar, tapi karena pacarnya masih belum cukup umur untuk diperkenalkan dan dibawa pulang.
"Wah ini benar-benar di luar ekspektasiku. Padahal selama ini aku berpikir bahwa kakak Abi mungkin seorang gay."
Setelah mendengar ucapan cucunya, Wanda langsung menampar punggungnya dengan keras. Ia benar-benar marah pada Danang karena selama ini berita tentang Abimana sebagai penyuka sesama jenis itu berasal darinya.
"Semua ini karena kamu, kalau saja kamu tidak pernah mengatakan pada nenek bahwa Abimana merupakan seorang penyuka sesama jenis, mungkin aku tidak akan pernah mendesaknya untuk menikah dengan begitu ngotot."
Danang yang mendapatkan sebuah tamparan langsung protes dan tidak terima.
"Itu kan Karena nenek yang menyuruhku menyelidiki, jadi tentu saja aku akan melaporkan hasil penyelidikanku pada nenek se aktual mungkin. Lagi pula bukankah ini juga merupakan kabar gembira mengingat ternyata kakak Abimana bukanlah seseorang yang menyukai sesama jenis."
"Ya bukan penyuka sesama jenis, tapi seorang child grooming."
"Akan sangat bagus jika Abimana putus darinya, atau setidaknya menunda pernikahan sampai Arla sudah dianggap cukup dewasa untuk mengambil keputusan untuk menikah." ucap Bibi Indah bijak.
Semuanya pun mengangguk setuju. Umur 18 tahun masih terlalu muda, dia baru tamat SMA dan seharusnya melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Jadi akan sangat bagus jika mereka menikah setidaknya setelah Arla menamatkan kuliahnya.
Akan tetapi setelah lama berdiskusi mereka akhirnya menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan, dan yang menjadi topik hangat pada pagi hari ini belum juga terlihat di meja makan. Hal tersebut membuat Wanda merasa heran dan dia akhirnya melihat ke arah cucunya yang lainnya yaitu danang dan Jay.
"Ngomong-ngomong ke mana kakakmu, kenapa dia belum juga datang untuk sarapan bersama kita?"
Mendengar hal itu Danang pun mengingat kembali ketika ia melewati kamar kakaknya. Kamar itu biasanya sedikit terang dengan cahaya lampu karena kakaknya terbiasa bangun dini hari untuk membaca buku atau sekedar berolahraga. Tapi pagi ini ia tidak melihat lampu di kamar kakaknya menyala sedikitpun. Hal tersebut membuat Danang merasa bahwa mungkin kakaknya masih berada di kamar dan belum bangun juga.
"Sepertinya masih di kamar, aku akan pergi membangunkannya."
Danang pun bangun dan berjalan menuju kamar kakaknya. Akan tetapi tak berselang lama laki-laki muda itu berlari kembali ke ruang makan dengan wajah yang kaget dan nafas yang terengah-engah. Jelas bahwa dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
"Nek..."
"Ada apa, jangan membuatku takut."
"Kakak Abimana dan pacarnya tidur di kamar yang sama."
Wanda yang mendengar hal itu langsung merasa kaget, ia tidak menyangka cucunya akan seberani itu melakukan hal tidak senonoh di hari pertama sejak memperkenalkan pacarnya ke rumah.
"Mereka mungkin hanya..."
"Mereka berpelukan."
Mendengar kalimat itu Wanda dapat menyimpulkan bahwa Abimana dan Arla tidak sekedar berbaring di tempat tidur yang sama, tapi keduanya melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Melihat betapa beraninya Abimana melakukan hal tersebut pada hari pertama kedatangan Arla ke rumah ini, ia dapat membayangkan seberapa berani cucunya itu jika berada di luar rumah. Sepertinya menunda pernikahan adalah ide yang buruk, bagaimana kalau cicitnya lahir di luar pernikahan. Itu akan merugikan pihak perempuan dan cicitnya sendiri, ia harus menikahkan Abimana dan Arla secepat mungkin.
"Sepertinya pernikahan memang harus dilakukan secepat mungkin." ucapnya sambil menghela nafas pasrah.