Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalinan Obrolan dan Getaran yang Berbeda
Aroma sedap dari hidangan iga bakar madu dan soto ayam yang dipesan Naufal perlahan memenuhi meja nomor tujuh. Di tengah kepulan uap makanan, suasana kaku yang sempat merayap di awal pertemuan berangsur - angsur mencair berkat keramahan alami Davika Ovwua Mwohan.
Gadis dengan pesona protagonis itu mendengarkan dengan penuh perhatian saat Naufal, dengan gaya bicaranya yang patah-patah karena gugup, kembali menceritakan betapa bersyukurnya ia atas bantuan kunci pas di pom bensin kemarin.
"Serius, Davika. Kalau waktu itu tidak ada kamu yang menderek motor saya, mungkin sampai malam saya masih terdampar di perbatasan kota sambil memeluk tangki bensin," ujar Naufal, mengundang tawa renyah dari Davika.
"Kebetulan saja saya sedang membawa peralatan lengkap di bagasi mobil, Mas Naufal. Senang bisa membantu," balas Davika rendah hati, melirik sekilas ke arah Gus Xavier yang duduk di sampingnya.
Gus Xavier al Buchori yang sejak tadi lebih banyak diam, sesekali menyesap teh hangatnya dengan keanggunan seorang bangsawan pesantren. Sepasang mata tajamnya yang teduh namun menyelidik tidak lepas dari mengamati interaksi tersebut. Namun, perhatian sang Gus sesekali beralih kepada Rebecca yang duduk dengan ketenangan mutlak di hadapannya.
Sebagai seorang pria yang peka terhadap sekitar, Gus Xavier bisa merasakan aura kedewasaan yang tidak biasa dari gadis belia bermata hijau itu. Terlebih lagi, indra penciumannya yang tajam menangkap aroma mawar hitam, bergamot, dan cendana yang menguar dari tunik oversized hitam milik Rebecca sebuah aroma yang sangat ortodoks, pekat, dan seolah membawa memori akan wewangian kitab-kitab tua berharga milik keluarga pesantren.
"Dek Rebecca," panggil Gus Xavier, suaranya yang berat dan berwibawa seketika memotong tawa kecil di meja. "Aroma yang kau gunakan... jika saya tidak salah menebak, apakah itu distilasi murni dengan campuran minyak atsiri mawar liar?"
Rebecca menoleh perlahan, membiarkan poni see-through nya sedikit bergeser memperlihatkan sorot mata hijau lembutnya yang langka. Wajah porselennya tidak menampakkan keterkejutan, hanya ada binar apresiasi yang tipis di belahan bibir ombrenya yang merah alami.
"Benar, Gus. Itu racikan buatan saya sendiri di rumah," jawab Rebecca jernih tanpa ragu.
Gus Xavier mengangguk-angguk perlahan, sebuah senyuman tipis terukir di wajah tampannya yang tegas. "Luar biasa. Hanya ada sedikit orang yang memiliki ketelatenan untuk mengekstrak aroma se-ortodoks ini. Sahabat saya di wilayah barat, Gus Adrian, juga merupakan seorang penikmat dan peneliti wewangian herbal kuno seperti ini. Jika beliau mencium aroma ini, saya yakin beliau akan sangat tertarik dengan bakatmu."
Mendengar nama Gus Adrian disebut secara spontan oleh Gus Xavier di kota yang berbeda ini, jantung Rebecca seketika melewatkan satu detakan. Ia tidak menyangka bahwa dunia para Gus ternyata sesempit itu, dan takdir seolah-olah sengaja melemparkan nama pria kaku tersebut ke mana pun kaki Rebecca melangkah.
Di sisi lain meja, Davika yang menyadari perubahan ekspresi mikro di mata hijau Rebecca hanya tersenyum penuh arti. Sebagai tokoh utama dari WHISPERS of the Heart, Davika seolah bisa membaca getaran takdir yang sedang berputar di sekitar Rebecca sebuah bisikan hati yang menandakan bahwa gadis porselen di hadapannya ini sedang ditarik masuk ke dalam pusaran cerita yang melibatkan seorang pelindung suci yang tak kalah hebat dari Gus Xavier yang ada di sampingnya saat ini.