Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Keinginan untuk bertahan hidup sering kali lahir dari titik paling sunyi di dalam batin manusia.
Bagi Kyna rasa sakit yang membakar dadanya perlahan bertransformasi menjadi sebuah kekuatan baru yang membersihkan sisa sisa kenaifannya selama lima tahun ini.
Belajar bahasa asing yang semula ia lakukan hanya untuk mengalihkan pikiran dari dinginnya sikap Julian kini menjelma menjadi sebuah sekoci penyelamat yang akan membawanya pergi jauh dari pulau kesedihan ini.
Ia tahu bahwa ia harus melewati hari esok dengan kepala dingin karena ujian tersebut adalah satu satunya gerbang menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.
Malam itu di dalam kamar hotel yang sepi Kyna memaksakan dirinya untuk mengunyah makanan ringan dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah semalaman bergadang meratapi nasib.
Saat fajar menyingsing dan ponselnya diaktifkan layar datar itu seketika dibanjiri oleh puluhan panggilan tak terjawab dan pesan berantai dari Julian.
Tanpa sudi membaca satu bait pun Kyna segera mematikan kembali perangkat tersebut demi menjaga ketenangan batinnya menjelang ujian.
Jarak hotel yang hanya selempar batu dari pusat tes membuatnya mampu melangkah dengan tenang menembus udara pagi yang bersih.
Ketika waktu ujian berakhir Kyna berjalan keluar dari ruangan dengan jantung yang berdebar kencang namun kali ini getaran itu lahir dari rasa lega yang membuncah.
Seluruh materi tes mulai dari sesi percakapan hingga menulis mampu ia selesaikan dengan sangat lancar seolah semesta sedang membuka jalan bagi pelariannya.
Kyna berjalan menyusuri trotoar dengan kepala tertunduk sibuk mengingat kembali setiap jawaban yang ia goreskan di atas kertas ujian hingga sepasang sepatu kulit bersemir mengkilap mendadak berhenti tepat di hadapannya menghalangi langkah kakinya.
Kyna yang tidak sempat mengerem gerakannya langsung membentur dada bidang pria itu yang tak lain adalah Julian.
Julian mencengkeram bahu Kyna dengan tatapan mata yang menyiratkan amarah yang tertahan di balik nada suaranya yang sengaja dilembutkan saat menanyakan alasan istrinya tidak pulang ke rumah.
Tabrakan itu membuat tas Kyna terjatuh ke lantai marmer menampilkan ujung pulpen khusus ujian yang menyembul keluar dari resleting yang terbuka setengah.
Dengan kepanikan yang menjalar hingga ke ujung jemari Kyna segera menepis tangan Julian dan berjongkok untuk menyembunyikan alat tulis tersebut sebelum suaminya menyadari bahwa ia baru saja mengikuti tes kemampuan bahasa asing.
Keangkuhan Julian terlihat jelas saat ia menuntut Kyna untuk menyerahkan ponselnya yang beruntung sedang dalam keadaan mati sehingga rahasia tentang surat elektronik dari universitas luar negeri itu masih tersimpan rapat.
Melihat Kyna yang hanya membisu Julian menghela napas panjang dan melontarkan kalimat yang menganggap seluruh luka batin istrinya semalam hanyalah sebuah masalah sepele dari seorang wanita yang kurang pengertian.
Kalimat itu seketika menyulut sisa sisa kesabaran Kyna yang telah habis membuat perempuan itu balik mempertanyakan apakah ia harus memuji tindakan William yang menghinanya semalam agar bisa dianggap sebagai istri yang baik.
Julian tampak canggung namun dengan cepat mengalihkan kesalahan dengan meminta Kyna tidak memasukkan ucapan orang lain ke dalam hati sebuah pembelaan egois yang membuat Kyna langsung menuding bahwa Julian justru ikut tertawa dan berpelukan dengan Elara di dalam ruangan tersebut.
Mendengar nama Elara disebut ekspresi Julian mendadak berubah menjadi sangat serius dan dingin mengeras layaknya batu karang yang mendefinisikan bahwa nama wanita itu adalah ladang ranjau yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.
Julian menarik tubuh Kyna ke dalam pelukannya secara paksa sembari berbisik meminta maaf atas nada suaranya yang tinggi namun ia tetap membela Elara sebagai sosok sahabat tidak bersalah yang harus dijaga reputasinya dari tuduhan miring.
Kyna hanya mampu mendengarkan pembelaan tersebut dengan sebuah senyuman getir yang tersembunyi di balik dadanya yang sesak sebelum akhirnya setuju saat Julian mengajaknya untuk makan siang bersama di sebuah restoran terdekat.
Di dalam rumah makan yang mewah itu Kyna sempat merasakan dorongan naluriah untuk menyembunyikan langkah timpangnya di balik punggung tegap Julian demi menghindari tatapan menghakimi dari para pengunjung.
Namun sebuah kesadaran baru mendadak melintasi benaknya bahwa ia tidak perlu lagi memedulikan pandangan dunia karena dalam waktu dekat ia tidak akan lagi menjadi bagian dari kehidupan pria di hadapannya ini.
Saat pelayan menghidangkan seluruh menu yang dipesan Julian Kyna hanya mampu menatap deretan masakan serba pedas itu dengan kekosongan yang teramat dalam.
Julian bahkan tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun pernikahan mereka Kyna sama sekali tidak bisa mengonsumsi makanan pedas dan semua hidangan di rumah selalu disesuaikan demi menyenangkan selera lidah sang suami.
Julian tersenyum tipis sembari menawarkan diri untuk menemani Kyna berbelanja seharian dan mengajak pulang ke rumah orang tua mereka untuk makan malam bersama seolah menganggap semua keretakan di antara mereka bisa dihapus dengan sekeranjang barang mewah.
Kyna meletakkan alat makannya tanpa menyentuh hidangan tersebut sedikit pun lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata suaminya yang tampak begitu tenang tanpa dosa.
Di bawah meja jemari Kyna mencengkeram erat selembar kertas bermaterai yang sudah ia tandatangani sejak malam sebelumnya sebuah dokumen yang akan mengakhiri seluruh sandiwara pernikahan mereka yang hampa.
...***...
Kyna menarik napas dalam dalam siap meluncurkan kalimat perceraian yang sudah ia pendam di ujung lidah namun sebelum ia sempat membuka suara pintu restoran mendadak terbuka lebar memperlihatkan sosok Sani yang datang dengan napas terengah engah dan wajah yang pucat pasi.
Asisten rumah tangga itu mengabaikan tatapan tajam Julian dan langsung berlari ke arah meja mereka sambil membawa sebuah kotak penyimpanan tua yang terbuat dari besi berkarat.
Sani meletakkan kotak itu di depan Kyna dengan tangan yang gemetar hebat sembari membisikkan bahwa ia baru saja menemukan benda tersebut tersembunyi di balik dinding ruang kerja Julian sebuah kotak yang berisi seluruh surat medis asli milik Kyna dari malam kecelakaan lima tahun lalu beserta sebuah rekaman suara yang membuktikan bahwa Julian tahu persis siapa dalang sebenarnya yang membuat kaki Kyna menjadi pincang secara permanen.