Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menceritakan (2)
Ini adalah pertama kalinya Judika menangis di hadapan ketujuh kakaknya. Anak yang selalu berlagak kuat, bersikap cuek seolah tidak ada yang bisa menyakiti dirinya, kini hancur lebur di depan mata mereka. Beban berat yang ia pikul sendirian selama ini akhirnya terasa sedikit ringan.
Tamma yang tidak tahan melihat pemandangan itu langsung melesat dari tempat duduknya, duduk tepat di samping Judika dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Sungguh, aku tidak tahan melihat orang menangis di depanku. Sudahlah, Judika... lupakan semua itu, ya?" Tamma menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan emosi yang hampir membuatnya ikut menangis juga.
Namun kata-kata itu justru membuat tangis Judika semakin pecah. Dia menundukkan kepala ke atas meja. Isak tangisnya terdengar jelas memenuhi ruangan. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam. Hati mereka terasa perih melihat anak yang mereka sayangi jatuh sedalam ini.
Ini adalah tangis yang sudah dipendamnya sejak dia berpisah dengan ibu dan kakaknya. Tangis yang menumpuk sejak dia mengerti arti rasa sakit, arti ditinggalkan, dan arti dikhianati.
Selama ini Judika selalu berusaha terlihat kuat, menjadi anak yang mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun.
Namun kali ini, Judika benar-benar lemah. Bahkan saat bersama ayahnya, dia tidak pernah menangis sehebat ini. Mendengar perkataan Arjuna yang menyatakan bahwa dia berbeda, bahwa dia diterima apa adanya membuatnya merasa bahwa selama ini usahanya tidak sia-sia.
Selama ini Judika selalu menjaga jarak dengan orang lain, takut terikat emosi, karena dia sudah tahu betapa sakitnya saat harus berpisah atau ditinggalkan.
Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Judika pernah punya sahabat terbaik, namun anak itu menjauh begitu saja saat mengetahui ayahnya adalah seorang pemabuk.
Sekali lagi Judika dikhianati. Tapi di sini, dengan mereka... mereka bahkan tidak mempedulikan fakta bahwa dia adalah adik dari musuh terbesar klub musik ini.
"Te-terima kasih, kak." Judika berucap terbata-bata di sela isakan tangis.
Setelah beberapa saat, perlahan tapi pasti emosinya mulai mereda. Judika mengusap sisa air mata di wajahnya, menarik napas panjang, lalu kembali berbicara dengan suara yang masih sedikit parau.
"Sebenarnya, kami pindah ke kota ini karena ayah ingin mencari ibu dan kakakku. Selama ini aku selalu bilang kalau ibuku sudah meninggal. Padahal jujur saja, aku sendiri tidak pernah yakin apakah dia benar-benar sudah tiada atau tidak. Maaf kalau aku sudah membohongi kalian selama ini."
Judika berhenti sejenak, menelan ludah untuk melembapkan tenggorokan yang terasa kering, lalu melanjutkan ceritanya yang belum pernah diceritakan pada siapa pun.
"Dulu ayahku adalah orang yang paling baik sedunia. Lembut, penyayang, dan selalu memberikan segalanya untuk keluarga. Tapi entah kenapa, sifatnya berubah drastis. Dia menjadi sangat keras, mudah marah, dan setiap kali aku membuat kesalahan kecil di sekolah, tangannya akan melayang memukulku. Aku ingat sekali, perubahan itu terjadi tepat beberapa bulan sebelum ibu dan kakakku pergi meninggalkan kami. Aku rasa mereka tidak tahan melihat sifat ayah yang sudah tak bisa dikendalikan lagi"
"Jadi mereka memilih pergi. Sejak hari itu, aku menjadi tempat pelampiasan kemarahan ayah. Setiap dia punya masalah, apapun itu, aku yang jadi sasaran."
Judika berhenti, matanya menatap kosong ke depan, seolah melihat kembali kenangan kelam itu.
"Sampai suatu hari, aku pingsan di tengah pelajaran karena sudah beberapa hari tidak makan dengan layak. Aku dibawa ke UKS, dan ayah dipanggil datang. Dokter yang merawatku saat itu adalah orang yang sangat baik, lembut sekali, persis seperti kak Juna."
"Awalnya dia hanya bertanya kenapa tubuhku lemah dan tidak ada asupan gizi yang cukup. Tapi saat dia melihat memar demi memar yang menutupi tubuhku, ekspresinya berubah. Dia bertanya pada ayah, dan ayah menjawab dengan santai, bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun."
"Dan tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba dokter itu bangkit, lalu dia meninju ayah sampai terjungkal jatuh dari kursinya."
Semua orang tertegun, mata mereka membelalak tak percaya mendengar bagian ini.
"Dia berteriak pada ayah, 'Ayah macam apa kau ini?! Seharusnya kau bersyukur masih punya anak yang sehat dan ada di sisimu! Kalau dia mati, siapa lagi yang mau tinggal bersama ayah tidak becus seperti kau?! Kau tau apa keadaan tubuh anakmu ini?! Tulang rusuknya sudah remuk separuhnya, memarnya menutupi hampir seluruh tubuh. Sekali saja kau lukai dia lagi, aku akan pastikan nyawanya melayang dan kau akan hidup sendirian selamanya!'"
Judika menarik napas panjang, suaranya mulai stabil kembali.
"Sejak saat itu, ayah langsung hancur. Dia jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu dan memeluk erat aku seolah takut aku akan lenyap begitu saja. Mungkin itu saat dia sadar, dan itulah penyesalan terbesar dalam hidupnya. Berkat bantuan dokter itu juga, ayah akhirnya bisa bangkit kembali, mendapatkan pekerjaan baru, dan perlahan kembali menjadi orang yang aku kenal dulu."
"Sampai suatu hari, ibu mengirim surat ke rumah, disertai nomor telepon. Ayah langsung menelepon, bertanya di mana mereka berada, tapi ibu tidak mau memberitahu sedikit pun. Tapi dari keterangan tukang pos, ayah tahu kalau surat itu dikirim dari kota ini. Karena itulah dia memutuskan untuk pindah kemari."
"Jadi begitulah ceritanya. Aku benar-benar tidak menyangka kau pernah melewati hal seberat itu," ucap Narhan perlahan. Suaranya penuh rasa iba.
"Padahal setiap kali kita bertemu ayahmu, dia selalu terlihat ramah, sopan, dan sangat menyenangkan. Aku bahkan sering bilang, dia adalah contoh ayah idaman bagi semua orang," tambah Tamma sambil menggelengkan kepala.
Judika mengangguk pelan. "Iya, aku juga berpikir begitu. Walaupun dulu dia menyakitiku, aku tahu jauh di dalam hatinya dia sangat menyayangiku. Dia hanya khilaf, terjebak dalam masalah yang membuatnya hilang kendali."
"Ahaa! Tumben sekali kau berkata benar hari ini, Judika!" Jericko langsung menyela, kembali dengan sifat aslinya.
"Kau mau kaki sebelahmu juga terkilir, kak?!" balas Judika cepat, senyum tipis akhirnya tergambar di wajahnya.
"Sudah-sudah. Kapan kalian bisa berhenti bertengkar begini? Capek aku lihatnya," potong Arjuna sambil menggelengkan kepala, lalu mengalihkan topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, kalau begitu apa rencanamu selanjutnya? Bukankah sekarang kau sudah bertemu dengan kakakmu, Chandra. Kau bisa tanya alamatnya, atau minta dia bawa bertemu ibumu. Tujuan ayahmu tercapai, kan?"
Judika menatap Arjuna, seolah mendengar pertanyaan paling aneh sedunia.
"Bukankah kau pindah ke sini karena ayahmu ingin mencari mereka?" tanya Arjuna bingung.
"Aku bilang kami pindah ke sini karena ayah ingin mencari mereka, kak." nada bicara Judika perlahan berubah. Ada dingin yang menyelinap masuk ke dalam suaranya. "Itu keinginan ayahku, bukan keinginanku."
"J-jadi kamu tidak mau mencari mereka sama sekali?" Hendy bertanya hati-hati.
Tiba-tiba aura di sekeliling Judika berubah