Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bos Besar Bertitah
"Angkat teleponnya, Frans. Garis merah menyala."
Suara Riana memecah keheningan ruang rapat Divisi Keuangan yang mendadak beku bak kuburan. Jari telunjuk perempuan itu menunjuk ke arah pesawat telepon khusus di tengah meja bundar yang lampu indikatornya berkedip-kedip merah.
Semua pria berjas mahal di ruangan itu menahan napas. Telepon garis merah hanya digunakan oleh satu orang di seluruh gedung raksasa ini. Bos Besar Aegis Corp. Sang CEO.
Frans menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai merembes dari pori-pori lehernya, merusak kerah kemeja mahalnya. Tangan kanannya yang gemetar perlahan meraih gagang telepon itu dan menekan tombol pelantang suara agar semua orang bisa mendengar.
"Halo, Bos," sapa Frans dengan suara serak, jauh dari nada sombong dan angkuh yang dia tunjukkan beberapa menit lalu.
"Gue dengar lo lagi bikin masalah di lantai lima belas, Frans."
Suara berat, dingin, dan penuh dominasi itu menggema dari pelantang suara. Riana mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Itu suara yang sama persis dengan suara terakhir yang dia dengar sebelum mobil Velocenya meledak berkeping-keping enam bulan lalu. Suara pengkhianat yang telah membunuhnya.
Namun, wajah Riana di atas meja tetap datar tanpa ekspresi. Kacamata tebalnya menyembunyikan kilat amarah yang menyala-nyala di matanya.
"Bukan begitu, Bos," Frans buru-buru membela diri. Matanya melotot tajam ke arah Riana. "Anak baru di HRD ini menahan semua dana operasional lapangan kita. Dia minta stempel resmi buat uang pelicin pelabuhan. Bos tahu sendiri kan, preman dermaga mana punya kuitansi resmi? Kalau dana ini macet, barang kita..."
"Tutup mulut lo, Frans!" bentakan CEO memotong kalimat itu dengan sangat keras, membuat beberapa pria di meja rapat berjengit kaget. "Lo pikir gue bayar lo mahal-mahal buat jadi bodoh? Perusahaan ini lagi persiapan masuk bursa saham bulan depan! Tim audit negara lagi pantau kita dua puluh empat jam. Kalau agen pajak ngendus uang haram gara-gara kuitansi bodong tulisan tangan lo itu, aset triliunan gue bisa dibekukan hari ini juga!"
Frans pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat. "T-tapi Bos..."
"Dengar baik-baik, kalian semua," ancam CEO dari seberang telepon, nadanya turun menjadi sangat rendah dan mematikan. "Gue yang kasih wewenang penuh ke Manajer HRD baru itu buat beresin semua sampah administrasi kalian. Mulai detik ini, apa pun yang Riana minta, kalian turuti. Kalau ada satu saja dari kalian yang berani merusak proses audit ini, gue sendiri yang akan kuliti kalian hidup-hidup dan gue buang sisa daging kalian ke laut. Paham lo semua?!"
"Paham, Bos! Kami paham!" jawab Frans dan anak buahnya serempak, panik luar biasa.
Sambungan telepon terputus dengan bunyi klik yang kasar.
Suasana kembali hening. Riana dengan sangat tenang mematikan proyektor, mencabut kabel dari tabletnya, lalu memasukkan perangkat kerja itu kembali ke dalam tas jinjingnya. Dia berdiri merapikan rok kerjanya, menatap selusin serigala berjas yang kini menunduk pucat seperti anak anjing ketakutan.
"Gue tunggu revisi kuitansinya di meja gue dalam waktu satu jam," ucap Riana memecah kesunyian, nadanya datar tapi sangat menusuk. "Gunakan formulir biru untuk tunjangan lapangan, dan lampirkan bukti transfer elektronik yang sah. Kalau masih pakai tulisan tangan dari buku bon murahan, gue robek di depan muka lo."
Tanpa menunggu jawaban, Riana membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah elegan. Suara ketukan sepatu hak tingginya menggema di lorong, meninggalkan Frans yang meremas rambut klimisnya karena frustrasi tingkat dewa.
Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Pemandangan di ruang HRD lantai lima belas sungguh di luar nalar.
Frans, sang Direktur Keuangan yang biasanya ditakuti banyak orang, kini berdiri kaku di depan meja kerja Riana. Dia memegang pulpen dengan tangan sedikit gemetar, persis seperti anak magang yang sedang disidang oleh dosen pembimbing galak.
Riana duduk bersandar di kursinya, membaca tumpukan kertas revisi yang diserahkan Frans. Mata Riana memicing di balik lensa kacamata tebalnya.
"Pak Frans," panggil Riana tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
"Ya, Bu Riana?" sahut Frans cepat. Nadanya terpaksa sopan karena ancaman CEO masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Ini salah ketik," Riana menunjuk satu baris angka dengan ujung pulpennya. "Total nominal di kolom atas dan bawah selisih dua ratus ribu rupiah. Sesuai standar akuntansi perusahaan, gue tidak bisa menerima dokumen yang tidak seimbang (balance). Bawa kembali ke ruangan lo, revisi, cetak ulang, dan antre lagi di sini."
Wajah Frans memerah menahan malu dan amarah yang meledak-ledak. "Selisih dua ratus ribu doang? Lo tinggal coret dan ganti pakai pulpen, Riana! Anggaran ini totalnya delapan ratus juta!"
"Ini Aegis Corp, Pak Frans, bukan warung kelontong," potong Riana tanpa ampun. "Coretan tangan di dokumen keuangan adalah bukti manipulasi angka di mata auditor pajak. Cetak ulang. Sekarang."
Riana mendorong dokumen itu ke pinggir meja. Frans mengertakkan gigi kuat-kuat, mengambil kertas itu dengan kasar, dan berbalik pergi dengan langkah menghentak. Mafia kelas atas itu baru saja ditundukkan oleh hal paling menyebalkan di dunia: revisi dokumen.
Lampu lorong lantai lima belas padam serentak. Sistem otomatis gedung baru saja mengubah mode pencahayaan menjadi mode hemat energi.
Suasana kantor yang tadinya bising kini berubah sunyi senyap, dingin, dan kosong. Hanya lampu-lampu darurat berwarna merah di sudut langit-langit yang memberikan sedikit penerangan remang-remang.
Jarum jam digital di atas pintu lift menunjuk angka dua belas malam pas.
Sosok tinggi tegap bergerak tanpa suara sedikit pun melintasi lorong gelap. Jace mengenakan seragam petugas kebersihannya, tapi langkah kakinya sama sekali tidak terlihat seperti orang biasa. Dia bergerak cepat, menyisir dinding dengan kewaspadaan tingkat tinggi layaknya seorang predator malam.
Target utamanya ada di ujung lorong sana. Ruang arsip HRD.
Di dalam sana terdapat terminal komputer yang terhubung langsung ke server utama Aegis Corp. Jace sangat membutuhkan cetak biru logistik perusahaan ini untuk meruntuhkan kerajaan bisnis kotor bos Aegis.
Jace berhenti tepat di depan pintu besi ruang arsip. Matanya menatap panel kunci elektronik yang menyala biru. Dia tersenyum miring, mengeluarkan sebuah perangkat retas kecil seukuran kotak korek api dari saku celananya. Kabel kecil dicolokkan ke panel tersebut. Jari-jari Jace menari cepat di atas layar sentuh perangkatnya. Baris-baris kode hijau mengalir deras.
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh detik.
Klik.
Suara kunci mekanis terbuka terdengar sangat pelan. Lampu panel berubah menjadi hijau. Jace menarik napas pelan, mengantisipasi gelapnya ruang arsip yang penuh rak kertas. Dia mendorong pintu besi itu ke dalam secara perlahan-lahan agar engselnya tidak berbunyi.
Pintu terbuka lebar. Jace baru saja mengangkat satu kaki untuk melangkah masuk.
BAM!
Cahaya lampu neon di dalam ruangan itu mendadak menyala terang benderang secara serentak. Silau yang luar biasa tajam langsung menghantam mata Jace, membuatnya refleks mengangkat tangan untuk menutupi wajah.
Di tengah ruangan yang dikelilingi rak-rak dokumen menjulang tinggi, seorang perempuan sedang duduk santai di atas tumpukan kardus kertas. Kacamata tebalnya memantulkan cahaya lampu dengan tajam.
Riana memegang segelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap panas. Dia menatap lurus ke arah Jace yang tertangkap basah di ambang pintu.
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪