Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Bos Kamsah datang!"
Suara teriakan seorang laki-laki menggema hingga ke dalam rumah gubuk itu. Semua orang tertawa sumringah, merasa sudah menang dari Rania. Sang kakak hendak merampas uang di tangannya, tapi secepat kilat Rania menyembunyikannya di dalam pakaian dalam yang ia kenakan.
Pemuda itu terkesima saat Rania membusungkan dadanya dengan wajah menantang.
"Kau!" Ia menuding tanpa dapat berkata apa-apa. Mengepalkan tangan kesal mendapat ejekan dari Rania.
Sang ibu menarik tangannya cepat untuk menemui laki-laki yang akan mengambil Rania.
"Aku harus bisa melarikan diri dari kota ini. Tapi, aku tidak tahu ini di mana dan sejauh apa dari kota Anggrek. Pesisir pantai ini benar-benar membuatku bingung. Kenapa aku harus berada di tubuh gadis lemah ini?" gumam Rania melihat-lihat sekeliling rumah, mencari celah untuk melarikan diri di saat semua orang sibuk dengan lelaki besar itu.
Ia melihat sebuah gorden yang menjadi pembatas ruang antara bagian depan rumah dan bagian belakangnya. Rania berjalan mendekat, membuka tirai tersebut. Pintu belakang yang menjorok ke pantai. Mungkin jika ia menemukan perahu dan berlayar dengan benda itu, ia akan tiba di kota Anggrek.
Tanpa berpikir panjang, di saat suara tawa menggelegak di luar rumah, ia melangkah pasti keluar dari rumah tersebut. Deburan ombak menghantam karang seolah-olah menyambutnya dengan meriah saat Rania tiba di dekat pintu.
"Aku yakin bisa keluar dari tempat ini dan menemukan anakku," gumamnya lagi sembari menggenggam erat gagang pintu yang terbuat dari kayu.
Rania membukanya dengan lebar, angin laut yang kencang berhembus menerpa wajahnya. Ia tersenyum, memejamkan mata menghirup udara kebebasan. Namun, betapa terkejutnya ia ketika membuka mata lagi. Dua orang laki-laki bertubuh besar, berdiri tak jauh darinya. Keduanya melipat tangan di perut, tersenyum tipis seolah-olah sedang mengejek Rania.
Wanita itu menghela napas panjang, tak banyak bicara. Melangkah dengan tenang berpura-pura tak tahu bahwa kedua laki-laki itu adalah orang-orang suruhan bos Kamsah untuk menghadangnya.
"Mau ke mana kau, gadis kecil?" tegur salah satu dari mereka ketika Rania melewati tempat mereka berdiri.
Ia menoleh, menatap dingin keduanya. Tatapan itu membuat mereka mengernyit dan menurunkan tangannya waspada.
"Aku sarankan kalian tidak menghalangi jalanku jika tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Rania memberi peringatan kepada mereka berdua.
Ia berpaling menatap laut dan kembali melanjutkan langkahnya. Di sana, terikat sebuah perahu dengan pemiliknya yang akan pergi melaut. Langkah Rania semakin cepat, tapi tanpa terduga kedua laki-laki itu kembali menghadangnya.
Ck!
Rania berdecak, memutar bola mata malas.
"Kau bisa pergi jika bisa melewati kami," kata mereka dengan pasti.
Rania mengusap darah kering di bibir, meyakinkan diri bahwa dia bisa melawan mereka berdua. Tubuh lemah dan penuh luka ini membuatnya tak leluasa bergerak, tapi jika hanya melawan mereka berdua Rania tentu masih sanggup.
"Kalian yang memintanya." Ia berdesis seraya melangkah pelan mendekati mereka.
"Tangkap gadis itu! Jangan sampai melarikan diri!"
Keduanya pun melangkah, saling mendekat mengikis jarak yang membentang di antara mereka.
Bugh!
Satu pukulan Rania mendarat di wajah salah satu dari mereka saat keduanya hendak menarik tangannya.
"Kurang ajar!"
Mereka geram, menerjang udara melawan Rania dengan kekerasan. Gadis itu tidak diam saja, tubuhnya bergerak miring menghindari pukulan. Kemudian, mengepalkan tangan melayangkan tinju ke perut laki-laki itu.
Bugh!
Satu kali.
Bugh!
Dua kali, lutut Rania yang mendarat di sana. Laki-laki itu jatuh tersungkur sembari memegangi perutnya yang terasa dihantam batu besar. Lalu ....
Bugh!
Rania menginjak punggungnya dengan kuat.
Argh!
Dia tak sadarkan diri. Rania menoleh pada yang lain, bogem mentahnya meninggalkan jejak kebiruan di wajah penjahat itu. Ia melangkah, tak ada ketakutan di wajahnya.
Penjahat itu geram melihat rekannya yang sudah terkapar dengan tubuh telungkup. Ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya. Menyerang Rania tepat ke arah perut.
Sekali lagi, Rania berhasil menghindari serangan tersebut meski perutnya sedikit tergores karena tubuh semakin lemah. Ia mencekal tangan penjahat yang memegang pisau itu dan menekannya ke bawah.
Argh!
Tulang tangannya patah, pisau terjatuh ke atas pasir. Rania menggunakan sikutnya untuk menghantam punggung penjahat itu. Dia jatuh tersungkur mencium pasir pantai menyusul temannya. Tanpa ragu, Rania menginjak punggungnya sekali lagi.
Argh!
Dia tak berdaya meski tak sampai pingsan seperti temannya. Rania segera berlari menuju pantai, mengayuh langkah dengan cepat saat melihat sang nelayan telah berhasil mendorong perahunya ke laut. Dengan napas tersengal dan rasa nyeri yang semakin hebat, Rania terus menyeret kakinya.
"Tunggu! Jangan pergi!"
Rania melambaikan tangan, berlari sembari menahan rasa sakit di seluruh tubuh. Terutama di bagian perut yang tergores pisau tadi. Ia tak menduga rombongan keluarganya serta boss Kamsah telah berhasil menyusul.
"Rania! Beraninya kau melarikan diri!" sengit ayahnya dengan geram.
Apakah Rania berhasil melarikan diri?
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄