Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut ditolak
Tidak terasa sudah satu minggu Rinjani di desa dan perlahan-lahan dia melupakan rasa sakit atas pengkhianatan Irham. Meski begitu dia masih sering diganggu oleh mantan kekasihnya perihal apartemen yang dia ambil alih dan meminta untuk kembali bersama.
Berkali-kali Rinjani mengambil napas panjang usai olahraga pagi di depan rumah neneknya. Dia tidak lagi menyetel musik kencang, apalagi berpakaian terbuka seperti hari pertama.
Bukan karena mendengarkan teguran Ikhram, melainkan menjaga nama baik neneknya yang sangat dihormati dan dihargai di desa tersebut. Terlebih hampir 50% persen dari penduduk kampung bekerja pada sang nenek.
Helaan napas kembali terdengar melihat pemanggil. Dia langsung mengarahkan kamera depan.
"Bagaimana liburannya di kampung Nak?"
"Aman banget, nggak ada yang desak kapan Jani menikah. Hidup Jani tenang di sini," jawab Rinjani disertai sindirannya pada sang ayah.
"Waktumu sisa 1 minggu lagi."
"Ayah!" ucap Rinjani dengan nada rengekan, bahkan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
Pria yang sejak tadi memperhatikan di dalam kamarnya tersenyum. Tidak kuasa menahan kegemasan Rinjani yang sedang merengut.
"Ikhram, sarapan dulu Nak."
"Iye Bu."
Ikhram meletakkan gitar di atas ranjang dan menemui ibunya di meja makan. Meski tinggal di kampung Ikhram tidak begitu ketinggalan zaman. Apalagi orang tuanya cukup berada dan bisa menyekolahkannya di kota.
"Gantikan dulu ibu jaga toko."
"Mauki kemana lagi na hari minggu ini Bu." Ikhram terdengar mengeluh.
"Mau pergi belanja apa lagi. Ada memang mau nu pergi?"
"Iye."
"Tutupmi pale dulu toko."
Ikhram tersenyum, ibunya memang bukan tipe pemaksa jika menyangkut dirinya. Sebenarnya dia tidak punya rencana hari ini, tapi tinggal di rumah adalah impiannya. Apalagi duduk di dekat jendela kamar bersama gitar.
"Tidak peka sekali kita tawwa Bu," celetuk pak Irwan. Kepala desa sekaligus ayah dari Ikhram.
"Apa sede kita Yah."
"Itu anakmu ada odo-odonya."
"Siapa issede?"
"Cucunya hj Ira."
"Sembaranna ayah." Telinga Ikhram langsung memerah.
Dia melarikan diri dari rumah usai sarapan karena tidak ingin mendengar ejekan ayahnya lagi. Dan saat dia tiba di ambang pintu, orang yang membuat jantungnya berdetak tidak normal, berdiri di depan pagar dan tersenyum paksa padanya.
"Ikhram," panggil Rinjani sambil memetik bunga asoka di dekat pagar.
"Masuk dulu," ucap Ikhram sembari menghampiri Rinjani.
"Nggak deh." Mengeleng cepat. "Hari ini ada kesibukan nggak?"
"Nggak."
"Temani saya ke makassar." Rinjani memejamkam matanya.
Sudah lama nenek Ira menyarankan dirinya meminta tolong pada Ikhram jika ingin membeli perlengkapan kantor sesuai keinginannya. Hanya saja dia selalu menunda-nunda karena mementingkan harga diri. Tapi hari ini dia bertekad menurunkan harga dirinya demi kelancaran pekerjaan.
"Boleh, sana siap-siap."
"Serius?" Mata Rinjani membola. Ternyata segampang itu tapi dia terlalu lama mengulur waktu.
Sepeninggalan Rinjani, Ikhram mengepalkan tangannya dan bersorak yes dalam hati.
Ikhram memasuki rumah dengan senyuman, melewati ibu dan ayahnya yang tampak bingung. Memilih baju yang pas dan tampak tampan.
"Bukan maki itu anak-anak Nak sampai cinta-cintaan begitu. Kalau seriuski sama cucunya hj Ira, biar ibu sama ayah lamar," ucap ibu Tika yang ikut masuk ke kamar putranya.
"Jangki terlalu buru-buru Bu, bagaimana kalau na tolakka Rinjani?"
"Siapa issede berani tolakki Ikhram. Tidak nutauna ji itu Nak, banyak sekali cewek mau sama kau."
"Tapi bukan Jani."
Ikhram mencium pipi ibunya sebelum menyambar kunci mobil.
Sesaat Ikhram lupa bernapas setelah Rinjani duduk di sampingnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, apalagi melihat Rinjani tersenyum.
"Ayo, tunggu apa lagi?"
"Oh iya." Ikhram mulai melajukan mobilnya di jalan bebatuan.
Perbaikan jalan masih dalam proses setelah di urus oleh ayahnya. Terlebih ayahnya baru beberapa bulan menjabat jadi kepala desa.
"Tujuannya ke makassar apa?"
"Sampai lupa cerita tujuannya." Rinjani menyengir. "Mau beli peralatan kantor, kata nenek kamu tahu banyak tempat."
"Kantor buat apa?"
"Desain Grafis."
"Katanya cuma liburan, kok buat kantor?"
Dan akhirnya Ikhram menyesali ucapannya sebab mendapat tatapan horor dari Rinjani.
.
.
.
Banyak yang nggak ngerti sama bahasanya ya? Pengan ngasih artinya tapi takut dikira manipulasi jumblah kata.
Menurut kalian enaknya dibahas di mana? Grup Noveltoon tau Instagram?
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,