NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35: Jejak Masa Lalu yang Terbuka

Episode 35: Jejak Masa Lalu yang Terbuka

Suasana di lingkungan Adhitama Group perlahan berubah menjadi tegang namun tertutup. Kabar-kabar samar yang disebarkan Dinda tak lagi hanya berhenti di ruang istirahat atau lorong kantor; kini bisikan itu mulai merayap hingga ke telinga jajaran manajemen menengah, menciptakan keraguan halus yang sulit dihapus begitu saja. Bagi kebanyakan orang, hal itu hanya dianggap sebagai gosip biasa, namun bagi Dinda, ini adalah fondasi yang sedang ia bangun perlahan—agar saat ia akhirnya mengungkapkan apa yang ia miliki, hal itu akan terdengar bukan lagi sekadar dugaan, melainkan kebenaran yang telah lama disembunyikan.

Pagi itu, saat seluruh staf sibuk dengan tugas masing-masing, Dinda meluangkan waktunya di ruang arsip lama yang terletak di lantai paling bawah—ruangan yang jarang dimasuki orang karena berdebu dan penuh berkas-berkas yang dianggap sudah tidak lagi digunakan. Di sini, di antara tumpukan dokumen yang berbau tua dan kertas yang mulai menguning, Dinda mencari sesuatu yang telah ia dengar samar dari percakapannya dengan kenalan lama Arkan beberapa hari yang lalu: adanya berkas lama yang mencatat riwayat tugas dan penunjukan karyawan dari luar kantor pusat, termasuk catatan mengenai peristiwa dua tahun lalu di mana Arkan sempat ditugaskan ke daerah untuk menangani proyek khusus.

Dinda ingat betul apa yang dikatakan orang itu: “Kalau mau tahu asal mula semuanya, lihat saja catatan penugasan dan laporan kunjungan waktu itu. Ada nama yang tertulis bersebelahan, meski tidak dalam jabatan yang sama. Tapi berkasnya disimpan terpisah, seolah sengaja dipisahkan agar tidak mudah ditemukan.”

Kini, di hadapan tumpukan berkas yang berdebu itu, Dinda bekerja dengan penuh ketelitian yang tidak biasa. Ia memindahkan satu per satu kotak penyimpanan, membaca indeks yang tertulis di sampulnya, jari-jarinya menyapu debu yang menebal. Ia tahu, apa yang sedang ia cari bukanlah bukti tertulis pernikahan—karena ia yakin hal itu tidak akan ada di sini—melainkan jejak kebersamaan, catatan interaksi yang lebih sering dari yang seharusnya, atau keterangan yang menunjukkan bahwa hubungan mereka sudah ada jauh sebelum Nara resmi diterima bekerja di kantor pusat ini. Bagi Dinda, hal itu sudah cukup untuk menimbulkan tuduhan berat: bahwa penerimaan Nara bukan berdasarkan kemampuan semata, melainkan karena hubungan istimewa yang sudah terjalin sebelumnya, serta adanya pelanggaran aturan terkait hubungan pribadi di lingkungan kerja yang belum diungkapkan secara resmi.

Setelah hampir dua jam mencari, jari Dinda akhirnya berhenti pada sebuah kotak berlabel “Laporan Proyek Pengembangan Wilayah – Tahun Lalu”. Ia membukanya dengan hati-hati, dan di dalamnya, tersusun rapi berkas-berkas kunjungan kerja, daftar peserta rapat lapangan, serta catatan pertanggungjawaban kegiatan. Di halaman daftar nama tim pendukung, matanya terbelalak menemukan apa yang ia cari: nama lengkap Nara tercantum sebagai staf pendukung administrasi di lokasi proyek itu, sedangkan di bagian kepemimpinan tertulis nama Arkan sebagai penanggung jawab utama. Di halaman-halaman berikutnya, terlihat pula catatan pertemuan yang terjadwal hampir setiap hari, laporan yang ditandatangani keduanya secara bergantian, dan catatan komunikasi yang cukup intens antara kantor lapangan dengan kantor pusat—hal yang menurut penilaian Dinda melampaui batas hubungan kerja biasa.

Sebuah senyum licik terukir di bibirnya. Inilah apa yang ia butuhkan. Jejak ini membuktikan bahwa mereka sudah saling mengenal jauh sebelum Nara melamar pekerjaan di sini, dan fakta itu tidak pernah disebutkan saat proses penerimaan maupun saat pengangkatan jabatan. Bagi aturan perusahaan, hal itu adalah hal yang wajib diungkapkan—dan ketidaksampaian informasi itu bisa dianggap sebagai pelanggaran serius, terlebih lagi jika hal itu memengaruhi penilaian dan penempatan posisi.

Dinda menyusun kembali berkas itu, menyisakan salinan catatan penting yang telah ia foto dengan jelas, lalu menaruhnya kembali seolah tidak pernah tersentuh. Langkahnya keluar dari ruang arsip pagi itu terasa lebih ringan, dengan hati yang penuh rencana matang: ia akan membawa temuan ini ke hadapan Direktur Utama dalam pertemuan evaluasi mendatang—saat di mana Arkan juga akan hadir, dan hal itu akan terungkap di momen yang paling tepat untuk menjatuhkan kredibilitas mereka berdua sekaligus.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Nara sedang berusaha berkonsentrasi pada tumpukan laporan di hadapannya, meski pikirannya sulit tenang. Selama beberapa hari terakhir, ia merasakan perubahan sikap Dinda yang aneh: wanita itu tidak lagi menyebarkan gosip secara terang-terangan, tidak lagi mendekatinya untuk memancing pertengkaran, melainkan tampak sibuk sendiri dengan wajah yang sering kali menyiratkan kepuasan tersembunyi. Hal itu justru membuat Nara merasa lebih cemas daripada sebelumnya—ia tahu betul karakter Dinda; diam bukanlah tanda berhenti, melainkan tanda persiapan serangan yang lebih besar.

Saat jam istirahat tiba, Nara berjalan menuju kantin kantor. Di sana, ia mendengar percakapan samar antara dua orang staf yang sedang duduk di sudut ruangan.

“Kau tahu tidak? Katanya Dinda sedang mengumpulkan data lama, yang berhubungan dengan proyek di luar kota dulu,” ujar salah satu di antaranya berbisik. “Ada yang bilang, dia dapat informasi penting yang bisa mengubah segalanya.”

“Mengenai apa?” tanya kawannya penasaran.

“Belum jelas, tapi namamu disebut-sebut berkaitan dengan hal itu,” jawabnya pelan. “Dan yang lebih mengkhawatirkan, katanya hal itu akan disampaikan langsung ke Pak Direktur minggu depan.”

Jantung Nara berdegup kencang. Ia segera menghampiri mereka dengan tenang. “Maaf, apa yang kalian maksud dengan hal berkaitan dengan saya dan berkas lama?”

Kedua orang itu tampak terkejut, lalu saling pandang ragu. “Kami hanya mendengar kabar burung, Nara. Tapi sebaiknya kau berhati-hati. Dinda terlihat sangat yakin kali ini, seolah dia memegang bukti yang kuat.”

Nara berterima kasih, namun langkahnya kembali ke ruang kerja terasa berat. Ia segera mengirim pesan singkat kepada Arkan, berusaha menyampaikan apa yang baru saja ia dengar, meski tanpa bisa menjelaskan secara rinci. Tak lama kemudian, Arkan memanggilnya ke ruang kerjanya—tempat yang tertutup rapat, aman dari pendengaran orang lain.

“Kau mendengar hal yang sama dengan yang baru saja saya dapatkan,” ujar Arkan segera setelah pintu tertutup. Ia tampak serius, lebih tegang dari sebelumnya. “Saya mendapat kabar bahwa Dinda meminta izin khusus untuk menghadap Pak Direktur dalam rapat evaluasi minggu ini, dengan alasan membawa data penting terkait kepatuhan aturan perusahaan. Dan kabarnya, data itu berkaitan dengan riwayat penugasan dua tahun lalu.”

Wajah Nara sedikit pucat. “Dia mencari jejak masa itu, ya Mas?”

Arkan mengangguk pelan. “Kemungkinan besar. Saat itu kita memang bekerja bersama di lokasi proyek, dan nama kita tercatat dalam dokumen resmi. Saat kau diterima bekerja di sini setahun kemudian, hubungan kita belum berjalan seperti sekarang, dan saat itu pun belum ada aturan yang mewajibkan pelaporan pertemuan kerja di masa lalu. Tapi Dinda akan merangkai fakta itu seolah ada yang sengaja disembunyikan, seolah kau diterima karena pengaruh saya, dan seolah kita sudah memiliki hubungan terlarang sejak saat itu.”

“Tapi itu tidak benar,” potong Nara dengan nada cemas. “Saat itu kita hanya atasan dan bawahan yang bekerja demi tugas perusahaan. Hubungan pribadi baru terjalin jauh setelahnya, dan pernikahan kita pun sah serta sesuai agama dan hukum. Kenapa hal yang benar pun bisa terlihat salah jika dirangkai dengan cara yang keliru?”

“Itulah cara kerja fitnah, Nara,” jawab Arkan lembut namun tegas. “Mereka tidak perlu mengubah fakta, cukup mengubah urutan dan maknanya agar terlihat berbeda. Jejak kerja sama masa lalu akan ia jadikan bukti adanya hubungan istimewa yang disembunyikan, ketidaksampaian informasi akan ia sebut sebagai pelanggaran, dan kepercayaan yang diberikan kepadamu akan dituduhkan sebagai penyalahgunaan wewenang. Hal ini jauh lebih berbahaya dari tuduhan keuangan kemarin—karena serangannya langsung menyasar integritas saya sebagai pemimpin dan posisimu sebagai karyawan, bahkan status kita berdua.”

Nara duduk di kursi di hadapan Arkan, tangannya tanpa sadar memegang perutnya yang mulai terasa sedikit kaku karena tegang. “Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas? Jika kita diam, Dinda akan menyampaikan versi dia terlebih dahulu ke pimpinan tertinggi. Jika kita bicara duluan, seolah kita yang takut dan ingin mengatur penjelasan.”

Arkan berdiri, berjalan mendekati jendela yang menghadap ke pemandangan kota yang sibuk di bawah sana. Ia berpikir panjang, menimbang setiap kemungkinan dampak yang akan terjadi—baik bagi perusahaan, bagi nama baiknya, maupun bagi Nara dan anak yang sedang dikandungnya.

“Kita tidak akan mencegahnya berbicara,” ujar Arkan akhirnya dengan nada mantap. “Biarkan dia menyampaikan apa yang ia miliki. Tapi kita harus siap dengan penjelasan yang utuh, jelas, dan didukung bukti yang lengkap pula. Hal terpenting adalah: kita tidak perlu menyembunyikan kebenaran. Hubungan kerja kita di masa lalu adalah fakta, hubungan pribadi yang kemudian tumbuh dan berakhir di ikatan pernikahan juga fakta. Yang perlu diperjelas adalah perbedaan waktu, konteks, dan tidak adanya pelanggaran aturan yang disengaja.”

Ia berbalik menatap Nara. “Namun, ada hal lain yang harus kita pertimbangkan. Jika hal ini sampai ke hadapan Direktur Utama, kemungkinan besar rahasia pernikahan kita tidak bisa lagi disimpan. Baik Dinda yang mengungkapkannya, maupun kita yang menjelaskannya sendiri. Jika kita memilih menjelaskan secara jujur, kita bisa mengatur caranya agar tidak terkesan seperti pembelaan terpaksa. Tapi konsekuensinya: mulai saat itu, tidak ada lagi batas antara urusan pribadi dan pekerjaan. Semua orang akan tahu, dan penilaian terhadap kita berdua akan berubah sepenuhnya.”

Nara menarik napas panjang, merasakan beban yang makin berat di bahunya. Ia mengingat kembali alasan mengapa mereka memilih merahasiakan hal itu sejak awal: agar penilaian terhadap kerjanya murni berdasarkan kemampuan, agar tidak ada yang merasa ada yang istimewa, dan agar ia bisa bekerja dengan tenang tanpa tatapan yang membedakan. Namun kini, pilihan itu perlahan hilang digantikan oleh keadaan yang dipaksa oleh kebencian orang lain.

“Jika itulah harga yang harus dibayar agar kebenaran tidak terdistorsi, saya bersedia, Mas,” jawab Nara perlahan namun tegas. “Saya tidak ingin anak ini kelak mendengar bahwa ibunya pernah dianggap masuk lewat jalan yang tidak benar, atau ayahnya dianggap menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Lebih baik semuanya terang dan jelas, meski harus menghadapi pandangan dan pendapat orang-orang yang beragam.”

Sore itu hingga malam hari, di kediaman mereka, waktu dihabiskan untuk menata kembali semua catatan penting: urutan kejadian penugasan di masa lalu, pembagian tugas yang jelas dan terpisah, bukti bahwa penerimaan kerja Nara mengikuti prosedur rekrutmen biasa dengan penilaian dari tim independen, serta dokumen sah pernikahan yang telah disusun rapi. Arkan juga menyusun penjelasan mengenai aturan perusahaan yang berlaku saat itu—bahwa tidak ada larangan tegas bagi karyawan yang kemudian menjalin hubungan pribadi dengan mantan atasan selama tidak ada posisi bawahan langsung saat ikatan itu terbentuk, dan hal itu tidak memengaruhi keputusan kerja.

Di sela-sela persiapan itu, Arkan duduk di samping Nara yang sedang beristirahat sejenak. Ia menggenggam tangan istrinya dengan lembut.

“Saya tahu ini berat, Nara. Mengungkapkan hal ini bukan hanya berarti mengakhiri kerahasiaan kita, tapi juga membuka diri terhadap berbagai pandangan yang mungkin tidak menyenangkan. Tapi percayalah, kebenaran yang terang adalah perlindungan terbaik bagi kita semua, terutama bagi anak ini.”

Nara tersenyum tipis, meski matanya tampak lelah. “Saya tahu, Mas. Selama ini saya sering berpikir bahwa kerahasiaan adalah cara menjaga diri. Tapi ternyata, ketidakjelasanlah yang memberi ruang bagi kebohongan untuk tumbuh. Mulai minggu depan, semuanya akan berbeda. Kita tidak lagi berjuang di balik tirai yang samar, tapi di bawah cahaya yang jelas.”

Sementara itu, di kediaman Dinda, malam itu diisi dengan penyusunan berkas yang ia yakini akan menjadi kemenangan mutlak baginya. Ia merangkai catatan kunjungan, nama yang tercantum bersebelahan, serta kesimpulan yang disusun sedemikian rupa sehingga terlihat logis di mata orang yang tidak mengetahui konteks lengkapnya. Ia juga menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menjebak Arkan maupun Nara jika mereka berusaha membantah—hal yang ia yakini akan membuat posisi mereka makin sulit di hadapan pimpinan tertinggi.

Dalam pikiran Dinda, ia hanya melihat satu sisi: bahwa apa yang ia lakukan adalah menegakkan kebenaran dan aturan, meski sebenarnya didorong oleh rasa iri dan kecemburuan yang telah lama tersimpan. Ia tidak menyadari bahwa dalam upayanya mencari kesalahan orang lain, ia sendiri perlahan melanggar batas etika dan batasan privasi yang seharusnya dihormati. Ia juga belum menyadari bahwa bukti yang ia miliki adalah potongan fakta yang belum utuh—dan saat potongan lain dilengkapi, gambaran yang terbentuk akan sangat berbeda dari apa yang ia bayangkan.

Minggu yang ditunggu akhirnya tiba. Hari itu, gedung Adhitama Group terasa lebih hening dari biasanya, seolah seluruh penghuninya ikut merasakan ketegangan yang ada di ruang rapat utama lantai atas—tempat Direktur Utama akan menerima laporan khusus yang disiapkan Dinda. Arkan telah hadir sejak awal, duduk dengan tenang meski pikirannya penuh. Tak lama kemudian Nara juga masuk, berjalan tegak dengan map berisi penjelasan yang telah disiapkan bersama Arkan. Terakhir, Dinda masuk dengan langkah percaya diri, membawa berkas yang menjadi senjata utamanya.

Di dalam ruangan itu, di hadapan pemimpin tertinggi perusahaan, pertarungan antara potongan fakta dan kebenaran utuh akan segera dimulai. Dinda berpikir ia datang untuk mengungkap rahasia terbesar, namun ia tidak tahu bahwa apa yang sebenarnya akan terungkap bukanlah kesalahan yang ia duga, melainkan motif tersembunyi di balik segala usahanya selama ini—dan juga keindahan kisah yang selama ini berusaha ia rusak.

Bersambung ke Episode 36...

1
Rani Febrianti
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!