Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Sebelumnya Vania tidak pernah membayangkan akan kembali mengulang kejadian pada malam lima tahun lalu bersama seorang Sandi Admodjo, pria yang banyak digandrungi oleh kaum hawa karena ketampanan serta kemapanannya.
Di sepanjang perjalanan kembali ke rumah isi kepala Vania dipenuhi dengan pikiran tentang semua perkataan serta tindakannya pada Sandi. Di mana ia dengan tidak tahu malunya meminta haknya sebagai seorang istri.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu buat makan malam?." Tanya Sandi yang kini tengah mengemudi.
"Langsung pulang saja. Aku tidak lapar." Jawaban Vania tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, baru saja mengatakan dirinya tidak merasa lapar namun perutnya mengeluarkan suara.
Sandi nampak mengulum senyum mendengar perut Vania keroncongan. Tanpa meminta persetujuan lagi dari Vania, Sandi mampir ke sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat ini.
"Kita makan dulu!."
Vania pun akhirnya mengangguk setuju, karena faktanya cacing di dalam perutnya sudah berdemo ingin diberi makan.
Setelah menempati salah satu meja di restoran tersebut, pandangan Vania justru mengarah ke meja lainnya. Meja yang letaknya di sudut ruangan. Melihat meja tersebut sontak mengembalikan ingatan Vania pada salah satu kejadian pada lima tahun lalu, di mana ia menangis sampai sesenggukan di meja itu setelah mengetahui ternyata ia tengah mengandung.
Seandainya Sandi tahu bagaimana bingungnya Vania saat itu, saat pertama kali mengetahui bahwa ternyata ia tengah mengandung benih pria itu. Awalnya Vania berniat menyampaikan tentang kehamilannya pada Sandi. Akan tetapi, secara tidak sengaja Vania mendengar percakapan diantara dua orang pegawai Admodjo Group yang membahas tentang nahasnya nasib wanita yang pernah mengaku tidur dengan seorang Sandi Admodjo. Obrolan kedua pegawai tersebut di saat Vania mendatangi Admodjo Group terdengar begitu menakutkan, hingga akhirnya Vania pun memutuskan untuk melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri. Ya, seorang diri, karena setelah ketahuan hamil Vania di usir dari rumah oleh ibu kandungnya sendiri. Ia dianggap sebagai aib dalam keluarga. Jujur, hingga detik ini Vania belum kepikiran untuk mengatakan yang sebenarnya tentang Sesil pada Sandi.
"Ada apa?." Sandi lantas bertanya saat melihat Vania hanya diam saja, seperti sedang melamun.
"Bukan apa-apa, mas." kelit Vania.
"Kamu mau makan apa?."
"Apa saja, yang penting masih bisa di makan."
Sandi menatap pada Vania. Cukup lama pria itu menelisik wajah cantik istrinya dengan tatapan dalam.
"Kita ke sini mau makan atau hanya mau duduk-duduk saja?." Kalimat Vania sekaligus menarik kesadaran Sandi dari lamunannya.
"Maaf." Tutur Sandi sebelum melambaikan tangan ke arah pelayan guna membuat pesanan.
Dua puluh menit setelah membuat pesanan, pelayan kembali untuk menghidangkan pesanan di meja.
"Untuk apa memesan makanan sebanyak ini?." Saking banyaknya menu yang dipesan oleh Sandi, Vania sampai bingung sendiri.
"Makan yang banyak, kamu pasti kehilangan banyak tenaga karena kegiatan kita di apartemen tadi."
Deg
Apa karena tidak memiliki perasaan apapun kepadanya hingga Sandi bisa dengan entengnya membahas tentang percintaan mereka?.
"Kau tidak boleh menyalahkan mas Sandi, Vania! Lagipula semua itu terjadi karena kaulah yang menggodanya. Mas Sandi adalah pria normal, maka wajar berhas-rat meskipun tidak cinta." Batin Vania.
"Makanlah! Setelah itu kita pulang, Sesil pasti sudah menanti di rumah." Kata Sandi.
Vania menganggukkan kepala.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah selesai makan dan kini hendak kembali ke mobil.
"Kau duluan saja, sepertinya ponselku ketinggalan di mobil!." Kata Seorang wanita dengan penampilan modisnya pada sahabatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di dalam ya."
"Okey." Gadis itu berbalik arah hendak kembali ke mobil guna mengambil ponselnya yang ketinggalan. Baru beberapa langkah, pandangannya tak sengaja menangkap keberadaan saudari tirinya tengah berjalan bersama seorang pria menuju salah satu mobil yang terparkir satu deretan dengan mobilnya.
"Bukannya itu Vania?." Wanita itu menajamkan penglihatannya. "Benar, itu Vania."
"Dari dulu sampai sekarang kamu nggak pernah berubah Vania, tetap saja murahan." Gumam wanita bernama Natalie. Wanita itu menyungging senyum. "Kayaknya seru kalau sampai mamah tahu bagaimana kelakuan anak kandungnya di luar sana." Buru-buru Nathalie mengambil ponselnya di mobil, hendak mengambil gambar Vania yang tengah bersama seorang pria. Akan tetapi, Vania keburu masuk ke mobil hingga Nathalie tak dapat merealisasikan keinginannya.
"Sia-lan, dia sudah masuk ke mobil." Gerutu wanita itu.
"Btw, aku jadi penasaran pada sosok pria yang tadi bersama Vania." Melihat dari penampilan Sandi, Natalie yakin pria itu bukan orang sembarangan. "Rupanya dia pandai juga mencari tipikal pria yang akan dijadikan mangsa."
Teringat pada sahabatnya yang menunggunya di dalam, Natalie lantas berlalu.
*
"Mamah....papah..." Rupanya kepulangan Sandi dan Vania telah dinantikan sejak tadi oleh Sesil. Bocah itu berlari ke arah mobil Sandi.
"Sayang..." Vania yang lebih dulu turun dari mobil, membawa tubuh putrinya ke dalam gendongannya.
"Mamah dan papah kenapa pulangnya malam?." Tanya bocah itu.
"Tadi mamah dan papah lagi ada urusan penting, sayang." Sandi mendahului Vania menjawab pertanyaan Sesil.
Vania melirik sekilas pada Sandi.
"Oh." Bocah itu membulatkan bibirnya.
"Sini, Sesil biar papah yang gendong, mamah capek soalnya." Lagi-lagi, Vania melirik pada suaminya itu.
"Mamah habis kerja lembur ya?." Biasanya jika pulang malam begini pasti karena ibunya terpaksa harus lembur, makanya Sesil sampai berpikir demikian.
Vania hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan putrinya.
"Iy_iya sayang." Mau tak mau Vania mengiyakan pertanyaan putrinya. Karena tak mungkin juga ia berterus terang, jika kenyataannya ia menghabiskan waktu seharian di apartemen bersama Sandi.
Sandi sontak saja melebarkan senyum menyaksikan wajah gugup Vania.
Dengan menggendong Sesil, Sandi berjalan masuk ke dalam rumah, begitu pula dengan Vania.
"Lain kali jangan membuat menantu mamah lembur sampai jam segini! Jangan suka semena-mena pada istri sendiri, Sandi." Ibu menatap galak pada putranya.
"Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan makanya pulangnya malam, mah." Balas Sandi yang kini berdiri tak jauh dari ibunya.
"Memangnya pegawai di hotel hanya Vania doang." Walaupun sebagai pimpinan hotel Sandi berhak memerintahkan pegawainya untuk bekerja lembur, namun untuk Vania sebuah pengecualian bagi ibu.
Sandi menoleh sejenak pada Vania, lalu menjawab. "Masalahnya, hanya Vania yang bisa melakukan pekerjaan itu, pegawai yang lain nggak bisa, mah." Jawaban Sandi berhasil memancing kerutan halus di dahi ibu.
Deg.
Tubuh Vania langsung panas dingin mendengar jawaban Sandi.
"Memangnya pekerjaan apa sih, sampai nggak bisa dikerjakan sama pegawai kamu yang lain?." Kelihatannya ibu penasaran sekaligus bingung.
"Mengecek pembaharuan untuk beberapa fasilitas hotel. Selama ini hanya Vania yang melakukan pekerjaan itu, mah." Untuk pertama kalinya Vania terpaksa harus berdusta pada ibu mertuanya.
"Oh begitu rupanya. Tapi lain kali jangan hingga larut malam begini, mamah nggak mau sampai menantu mamah jatuh sakit karena terlalu memforsir tenaga." Kelihatannya ibu percaya begitu saja dengan ucapan Vania.
Sandi nampak mengulum senyum melihat wajah panik Vania.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku....!!🙏🙏😘😘🥰🥰
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆