Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Lilis berjalan santai di antara rak-rak makanan, tangannya sesekali menyentuh kemasan cokelat namun kemudian meletakkannya kembali. Saat ia sedang asyik mencari cemilan yang pas, sebuah suara familiar tiba-tiba memecah keheningan.
"Eh, Mbak Elisa? Kesini juga?" sapa sebuah suara dari belakang.
Lilis menoleh dan mendapati Elham tengah berdiri sambil memegang keranjang belanjaan. Lilis menghela napas panjang dalam hati. Kenapa pria ini selalu ada di mana saja? batinnya merasa risih.
"Eh, iya, Pak. Mampir ke sini tadi," jawab Lilis singkat, berusaha tetap menjaga jarak.
Elham tersenyum lebar, tampak tidak terganggu dengan sikap dingin Lilis. "Jangan formal-formal gitu, Mbak. Ini di luar sekolah, santai saja."
Lilis memaksakan senyum tipis di wajahnya. "Nggak apa-apa, Pak. Lebih nyaman begini,"
Elham tidak memedulikan penolakan Lilis dan kembali bertanya dengan nada yang sok akrab, "Mau beli jajan juga ya?"
"Iya, Pak," jawab Lilis singkat, tangannya sibuk memilih biskuit di rak.
"Saya juga. Mau mampir rumah ponakan, sih. Minimarket ini yang paling dekat kalau saya ke sana. Jadi sudah sering mampir di sini," jelas Elham panjang lebar.
Lilis hanya mengangguk sopan. "Oh, begitu. Saya baru pertama kali ke sini, Pak."
"Oh ya? Kamu sama siapa ke sini?" tanya Elham lagi, matanya mulai menyapu sekitar seolah mencari seseorang.
Di sisi lain lorong, Arka yang tadinya sedang mengarahkan karyawannya, tidak sengaja melihat Lilis sedang berbicara dengan pria lain. Wajah Arka seketika berubah masam. Ia segera memotong pembicaraannya dengan karyawan.
"Lanjutkan dulu ya. Saya mau ke sana sebentar," ucapnya tegas.
Arka melangkah cepat dan langsung merangkul bahu Lilis dengan posesif di depan Elham. "Sayang, aku cariin, ternyata di sini," ucap Arka dengan nada yang sengaja dibuat mesra.
Lilis sedikit terkejut namun merasa lega Arka datang. "Sudah selesai, Mas? Tadi aku cari jajan," jawab Lilis.
Elham yang merasa diabaikan dan heran melihat interaksi itu, langsung menyela dengan nada sinis,
"Kamu kenal, Lis, sama dia?"
"Oh, saya Arka. Suaminya Lilis," ucap Arka menekankan kata suaminya. Ia menatap Elham lekat-lekat.
"Anda siapa ya? Tadi saya lihat akrab sekali dengan istri saya."
Elham tampak sedikit salah tingkah namun berusaha bersikap tenang. "Oh, saya Elham. Kebetulan kami rekan guru di sekolah."
"Ada yang mau dibicarakan lagi sama istri saya? Soalnya kami mau pulang."
"Oh... tidak ada lagi. Silakan," jawab Elham pendek, senyum sok akrabnya benar-benar lenyap.
Tanpa membalas ucapan Elham, Arka langsung menggandeng tangan Lilis dan menuntunnya keluar dari lorong minimarket dengan langkah terburu-buru.
"Mas, tunggu!" Lilis berusaha mengimbangi langkah suaminya yang lebar-lebar. Saat mereka sudah hampir sampai di depan pintu keluar, Lilis menarik pelan tangannya.
"Mas, aku belum ambil apa-apa, tadi katanya boleh ambil jajan," protes Lilis dengan raut wajah bingung sekaligus sebal karena rencananya belanja camilan gagal total.
"Emang belum ambil apa-apa?" tanya Arka balik, seolah baru tersadar akan reaksinya tadi.
"Belum, Mas. Tadi Mas buru-buru ajak pulang, jadinya aku nggak sempat ambil apa-apa," jawab Lilis sedikit cemberut.
Arka menghela napas panjang, lalu terkekeh pelan sembari mengacak rambut Lilis gemas. "Ya sudah, ayok masuk lagi. Maaf ya, Mas tadi emang kelepasan."
Mereka pun berbalik arah dan kembali masuk ke dalam minimarket. Lilis dengan semangat memilih beberapa camilan favoritnya, mulai dari cokelat, keripik, hingga biskuit, sementara Arka dengan setia mendorong keranjang belanjaan di sampingnya. Setelah merasa cukup, Lilis berhenti di depan rak susu.
"Sudah cukup?" tanya Arka.
"Udah, Mas. Udah banyak ini, sekalian buat stok di rumah," jawab Lilis sambil tersenyum puas melihat isi keranjang yang sudah penuh.
Mereka pun berjalan menuju kasir. Meskipun Arka adalah pemilik minimarket tersebut, ia tetap mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar seluruh belanjaan mereka. Bagi Arka, ini adalah bentuk profesionalitas yang harus ia tunjukkan di depan karyawannya, sekaligus cara agar Lilis tetap merasa nyaman sebagai pelanggan.
"Totalnya jadi segini ya, Pak," ujar kasir itu sambil memberikan struk belanja.
Arka menerima kembaliannya dengan tenang. "Iya, terima kasih," jawabnya singkat sebelum merangkul pinggang Lilis dan membimbingnya menuju mobil, meninggalkan minimarket dengan suasana hati yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
......................
Pagi itu, suasana kamar terasa sedikit berbeda. Biasanya, Arka bersiap-siap dengan tenang dan mandiri, tanpa pernah melibatkan Lilis dalam urusan pilihannya. Namun pagi ini, pria itu tampak lebih santai dan berulang kali meminta pendapat istrinya.
Arka berdiri di depan cermin besar, mematut penampilannya dengan setelan kemeja yang sudah ia kenakan.
"Dek, menurut kamu, kemeja biru tua ini lebih cocok pakai jam tangan yang tali kulit atau yang rantai besi?" tanya Arka sambil menunjuk dua jenis jam tangan di atas meja rias.
Lilis yang sedang melipat mukena di atas kasur sedikit tertegun. Ia terbiasa melihat Arka yang selalu tahu apa yang harus ia pakai tanpa perlu bertanya.
"Yang kulit aja, Mas. Lebih kelihatan elegan buat kerja," jawab Lilis pelan.
"Dek, kamu lihat di mana ininya?" tanya Arka sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang kosong, lalu menunjuk ke arah kotak aksesori.
"Mas cari penjepit dasinya dari tadi nggak ketemu, perasaan kemarin Mas taruh di sini."
Lilis yang sedang merapikan tempat tidur pun segera menghampiri. Ia membuka laci kecil di sudut meja rias dan menemukan benda yang dicari suaminya. "Ini, Mas? Tadi aku pindahin ke sini biar nggak kena air pas aku bersih-bersih meja," jawab Lilis sembari menyerahkan penjepit dasi itu.
Arka menerima benda itu dengan senyum lega. "Oh, pantesan Mas nggak lihat. Makasih ya, Sayang," ucapnya.
Alih-alih langsung memakainya sendiri, Arka justru berbalik menghadap Lilis dan menyodorkan penjepit dasi itu. "Bantu pasangin sekalian ya?"
Lilis tersenyum kecil melihat tingkah suaminya yang belakangan ini jadi lebih manja dan ingin selalu dilayani. Dengan telaten, ia memasangkan penjepit dasi itu di kemeja Arka, memastikan posisinya sudah pas dan rapi.
"Nah, sudah selesai," ujar Lilis setelah memastikan tidak ada yang miring.
Arka menatap pantulan dirinya di cermin, lalu beralih menatap Lilis melalui pantulan tersebut. "Tuh kan, kalau kamu yang bantu, hasilnya pasti jauh lebih rapi. Makanya, Mas jadi ketergantungan terus sama kamu,"
suka aja sama ceritanya.