NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius / Tamat
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35 Kejutan

Gedung pencakar langit Carson Group pagi itu tampak lebih tegang dari biasanya. Puluhan aparat kepolisian berpakaian sipil dan keamanan sudah bersiaga di setiap sudut lobi, sementara di lantai teratas, ruang rapat utama telah diubah menjadi medan eksekusi.

Dante Carson duduk di kursi kebesaran di ujung meja oval panjang. Wajahnya sedingin es, tanpa emosi, sementara tangannya tertaut di atas meja. Di sisi kanannya, seorang wanita dengan masker hitam dan kacamata gelap, yang dikenal sebagai Detektif Ve, duduk tenang dengan laptop terbuka.

Pintu besar ruangan itu terbuka kasar. Eduardo Rodriguez masuk dengan langkah angkuh, diikuti oleh Bianca yang tampil glamor dengan gaun merah darah.

"Dante! Apa-apaan semua kegilaan ini? Pengacaraku bilang kau membekukan semua aset operasional Project Phoenix tanpa persetujuanku!" teriak Eduardo sembari menggebrak meja.

Bianca mendekati Dante, mencoba meraih lengan suaminya dengan wajah yang dibuat sedih.

"Sayang, apa yang terjadi? Ayah sangat marah. Kenapa kau membawa polisi ke gedung ini? Dan kenapa wanita ini masih ada di sini?" Bianca melirik sinis ke arah Detektif Ve.

Dante melepaskan tangan Bianca dengan gerakan yang sangat kasar, membuat wanita itu terhuyung.

"Duduk. Sebelum aku menyeret kalian dengan borgol."

"Dante!" pekik Bianca terkejut.

Dante memberikan isyarat pada Detektif Ve.

Detektif itu menekan satu tombol, dan layar raksasa di belakang Dante menyala. Video pertama yang muncul adalah rekaman rahasia Eduardo Rodriguez saat menyuap pejabat pelabuhan untuk menyelundupkan barang ilegal melalui jalur Carson Group.

Wajah Eduardo seketika pucat pasi. "Itu... itu rekayasa! Itu palsu!"

"Lanjut," perintah Dante pendek.

Layar berganti ke rekaman suara yang jauh lebih mengerikan. Suara Bianca yang sedang tertawa, memberikan instruksi pada seseorang untuk membakar mansion tujuh tahun lalu.

"Pastikan wanita itu tewas tanpa menyisakan abu sedikitpun."

Ruangan itu mendadak senyap, hanya menyisakan deru napas Bianca yang mulai memburu. Matanya melotot menatap layar.

"Dante... itu bukan aku... seseorang meniru suaraku!"

"Seseorang?" Dante berdiri, perlahan berjalan mengitari meja. "Berapa banyak seseorang yang harus kau bayar untuk menghancurkan hidupku, Bianca? Berapa banyak uang Carson Group yang kau curi untuk membiayai penggelapan pajak ayahmu?"

Eduardo gemetar hebat.

"Bagaimana... bagaimana kau mendapatkan data itu? Brankas itu terjaga dengan sistem paling aman di dunia!"

Dante berhenti tepat di belakang Detektif Ve. "Kalian meremehkan siapa yang kalian lawan. Kalian pikir kalian bisa menipu seorang pria yang sudah kehilangan segalanya selama tujuh tahun?"

Bianca menunjuk Detektif Ve dengan jari gemetar.

"Kau! Pasti kau yang mencurinya! Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau begitu terobsesi menghancurkan keluargaku?!" tuduh Bianca.

Dante menyeringai tipis,

sebuah seringai yang menjanjikan kehancuran.

"Kau ingin tahu siapa dia, Bianca?"

Detektif Ve perlahan berdiri. Tangannya bergerak ke belakang kepala, melepaskan kaitan maskernya. Kacamata hitamnya dilepas, memperlihatkan mata yang tajam dan dingin. Detektif itu melepaskan topeng kulit sintetis yang menutupi wajahnya.

Bianca memundurkan langkah hingga menabrak kursi. Suaranya tercekat di tenggorokan. "V–venus...?"

"Kejutan, Bianca," ucap Venus dengan suara yang kini tidak lagi disamarkan. "Aku tidak mati kan? Aku kembali untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku."

"Mustahil! Kau seharusnya sudah jadi abu!" raung Bianca dengan histeris.

"Sayangnya, Tuhan punya rencana lain," sahut Venus dingin. "Dan bukan hanya aku yang kembali. Kau ingat bocah yang kau temui beberapa waktu lalu? Bocah yang kau panggil anak pelayan itu?"

Dante mengambil alih pembicaraan. "Anak itu bernama Sean Carson. Putra kandungku. Darah dagingku yang selama ini kau coba singkirkan keberadaannya."

Bianca jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah menjadi tawa histeris yang gila.

"Jadi... anak itu... dia putramu? Hahaha! Jadi selama ini aku membiarkan benihmu tumbuh dan akan segera mewarisi kekayaanmu?!"

"Kau tidak hanya membiarkannya tumbuh. Kau memberinya alasan untuk menjadi jenius," sahut suara kecil terdengar dari arah pintu.

Sean masuk dengan setelan jas hitam kecil yang sangat rapi, didampingi oleh Leo. Bocah itu membawa sebuah tablet di tangannya. Ia menatap Bianca dengan tatapan yang sangat pedas.

"Halo, Nyonya Ular. Masih ingat aku?" tanya Sean santai. "Terima kasih sudah menyimpan semua rahasiamu di ruang sauna. Enkripsimu sangat mudah ditembus. Butuh waktu tiga menit bagiku untuk membocorkan semua data penggelapan uang keluargamu ke Interpol."

Eduardo Rodriguez terduduk lemas, menyadari bahwa kerajaan bisnis yang ia bangun dengan darah dan tipu daya kini runtuh dalam hitungan detik di tangan seorang wanita yang ia anggap mati dan seorang bocah berusia enam tahun.

"Dante, tolong... aku mencintaimu... aku melakukan ini karena aku ingin memilikimu seutuhnya!" Bianca merangkak, mencoba memeluk kaki Dante.

Dante mundur selangkah, menatap Bianca dengan jijik seolah melihat kotoran di sepatunya.

"Cintamu adalah racun. Kau tidak pernah mencintaiku, kau hanya mencintai kekuasaanku."

Dante menoleh ke arah petugas kemanan yang berdiri di pintu.

"Tangkap mereka. Pastikan mereka tidak mendapatkan jaminan. Aku ingin Eduardo membusuk di penjara, dan Bianca, pastikan dia mendapatkan sel yang paling dingin agar dia bisa merenungi api yang pernah dia nyalakan."

Mereka bergerak maju, memborgol Eduardo dan Bianca yang terus meronta dan berteriak histeris. Saat Bianca diseret melewati Venus, ia meludah dengan penuh kebencian.

"Kau tidak akan pernah bahagia, Venus! Aku akan kembali dan merebut semuanya!"

Venus hanya menatapnya dengan tenang. "Saat kau kembali, aku sudah berada di puncak yang tidak akan bisa kau capai lagi, Bianca."

Setelah ruangan itu kosong dan hanya menyisakan keheningan, Dante menghela napas panjang. Beban tujuh tahun seolah terangkat dari bahunya. Ia mendekati Venus, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya di depan semua dewan direksi yang masih terpaku.

"Sudah berakhir, Sayang," bisik Dante di rambut Venus.

Sean berdehem keras, membuat suasana romantis itu sedikit terganggu.

"Ehem. Belum berakhir sepenuhnya. Paman, maksudku, Papa. Kau masih harus menandatangani transfer aset yang sudah kau janjikan padaku sebagai imbalan peretasan tadi."

Dante tertawa, pertama kalinya ia tertawa dengan begitu lepas di gedung itu. Ia meraih Sean dan menggendongnya.

"Kau benar-benar tidak pernah mau rugi, ya?"

"Prinsip ekonomi, Pa. Tidak ada makan siang gratis," sahut Sean dengan gaya sombongnya.

Venus tersenyum lebar melihat dua pria dalam hidupnya itu. Kemewahan keluarga Rodriguez mungkin telah hancur, namun bagi Venus, kekayaan yang sebenarnya baru saja dimulai, sebuah keluarga yang utuh, tanpa rahasia, dan tanpa topeng.

"Ayo kita pulang," ajak Venus.

"Tunggu, Kak!" Leo mendekat dengan wajah masam, menyodorkan map berisi surat cerai yang sudah dibubuhi tanda tangan Bianca.

"Ada apa Leo?" tanya Dante.

"Mulai hari ini kau bebas, Kak. Dia menandatangani surat ini tepat sebelum datang kemari," jawab Leo.

Dante menerima map itu, lalu melirik Leo penuh selidik.

"Kau yang merayunya sampai dia menyerah?"

"Siapa lagi?" Leo mendengus sembari mengusap dahinya kasar. "Aku bahkan terpaksa menyerahkan keperawanan bibirku untuk mencium keningnya demi akting terakhir. Sangat menjijikkan, aku merasa butuh mandi air suci."

Dante dan Venus spontan tertawa terbahak-bahak, mengejek pengorbanan Leo yang menurut mereka sangat heroik sekaligus memalukan.

1
Rita Juwita
selalu seru thor.. /Good//Good/
Sri Rahayu
cerita yg bagus, ada serunya ada lucunya...akhir nya happy ending...skrg uda masuk cerita Sean Carson makasih Thorr😘😘😘
vita
suka ceritanya
🇧🇬
ga ada plok2 😭
🇧🇬: al tidak punya paijo 😭
total 2 replies
Itin
satu kata...

amazing 🤩
Sri Rahayu
wkwkwk...kirain uda blh nginep ya Dante...ternyata Venus dan Sean ttg melarang mu menginap 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Mei TResna Rahmatika
wahh happy end😍 gak sabar nunggu cerita leo thor tp plis jangan sama bianca
Dew666
💜💜💜💜
Opi Sofiyanti
leo mo di bikinin kamar jg kyk sean g kak????
kasian lho dia.... 😁😁😁
Senja: Nanti cari ide dl kak hehe
total 1 replies
Carini
bagus
Susi Sayadi
ada bonus chapter x kak😍😍😍
Tiara Bella
happy ending mksh ceritanya Thor menghibur sekali .../Kiss/
Senja: Sama2 kakk🙏
total 1 replies
Nice1808
wahhh tamat kak🤣🤭
Nice1808: 🤣🤣🤣blom baca kak biar bnyk bab nya dulu🤭
total 2 replies
TRI SRI SULANJARI
beneran tamak kak.......leo gimana......./Sob//Sob//Sob/
Senja: Itu dia memutuskan menjomblo kak😅
total 1 replies
tinie
woa tamat
Senja: hehehe iyaa
total 1 replies
Tiara Bella
akhirnya Dante sm venus mw menikah lg ya....
🇧🇬
yeye hepi ending ☃️
Nice1808
licik juga si dante pindah kamar biar bisa buat anak perempuan🤣🤭
tia
lanjut thor
Tiara Bella
apakah msh ada musuh .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!