Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Setelah kepergian Celine dan Nathaniel, rumah kembali seperti semula—tenang, luas, dan… sepi. Tapi kali ini, kesunyian itu tidak terasa kosong.
Ada sesuatu yang tertinggal.
Ketegangan.
Aku berdiri cukup lama di ruang tamu setelah pintu tertutup. Pandanganku jatuh pada amplop undangan yang masih tergeletak di meja.
Elegan.
Mewah.
Seperti mereka.
Namun entah kenapa, aku tidak ingin menyentuhnya.
“Ambil.”
Suara Adrian memecah lamunanku.
Aku menoleh. Ia sudah sedikit memutar kursi rodanya, posisinya kini menghadap jendela, tapi matanya sekilas melirik ke arah meja.
Aku ragu sejenak, lalu melangkah mendekat dan mengambil amplop itu.
Tanganku terasa sedikit berat saat membukanya.
Di dalamnya, kartu undangan dengan desain berwarna emas dan putih terlipat rapi. Nama mereka tertulis jelas.
Celine Pratama.
Nathaniel Santoso.
Aku menatapnya beberapa detik.
Pernikahan yang terlihat sempurna.
Keluarga yang seimbang.
Kehidupan yang… “layak”.
Tanpa sadar, aku tersenyum tipis.
“Cantik,” gumamku pelan.
“Biasa saja.”
Aku menoleh ke arah Adrian.
Ia tidak melihatku.
Namun jawabannya… cepat.
Aku menutup undangan itu perlahan.
“Tempatnya hotel besar,” kataku. “Dan… sepertinya memang acara yang sangat formal.”
“Iya.”
Jawabannya singkat.
Aku menggenggam undangan itu pelan.
“Orang-orang seperti mereka… pasti akan banyak,” lanjutku.
“Kamu takut?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Aku terdiam.
Lalu menggeleng pelan.
“Bukan takut…” kataku pelan. “Hanya… tidak terbiasa.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Adrian berkata,
“Bagus.”
Aku sedikit bingung. “Bagus?”
Ia akhirnya menoleh ke arahku.
“Kalau kamu takut, kamu akan ragu,” katanya tenang. “Kalau kamu hanya tidak terbiasa… kamu bisa belajar.”
Aku terdiam.
Kata-katanya sederhana.
Tapi terasa… menguatkan.
Aku menunduk sedikit.
“Iya…”
Beberapa detik hening.
Lalu aku memberanikan diri bertanya,
“Kenapa… kamu tetap mau datang?”
Ia menatapku sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Karena mereka ingin aku tidak datang.”
Aku sedikit terkejut.
Ia melanjutkan,
“Dan aku tidak suka mengikuti keinginan orang yang meremehkanku.”
Ada ketegasan di suaranya.
Tidak keras.
Tapi jelas.
Aku menatapnya lebih lama.
“Kalau begitu…” kataku pelan, “aku juga akan ikut.”
Ia mengangkat alis tipis.
“Kamu tidak harus.”
“Aku tahu.”
Aku menggenggam undangan itu sedikit lebih erat.
“Tapi aku ingin.”
Sunyi.
Tatapan Adrian tidak berpindah dariku.
Beberapa detik yang terasa lama.
Lalu ia berkata,
“…Baik.”
Satu kata.
Tapi cukup.
—
Malam semakin larut.
Aku sudah berada di kamar, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap undangan itu lagi.
Pikiranku tidak tenang.
Bukan karena pesta.
Bukan karena orang-orang di sana.
Tapi karena…
Celine.
Dan cara dia menatapku tadi.
Seolah…
Ia sedang menunggu sesuatu.
Menunggu aku gagal.
Atau mungkin…
Ia sudah merencanakannya.
Aku menghela napas pelan, lalu meletakkan undangan itu di meja.
“Aku tidak boleh lemah lagi…” bisikku.
Kata-katanya dulu masih teringat jelas.
“Kamu lemah.”
Aku menggenggam tanganku.
Kali ini…
Aku tidak ingin seperti itu lagi.
Tok.
Tok.
Ketukan di pintu membuatku tersentak.
Aku langsung berdiri.
“Iya?”
“Ini saya.”
Suara pelayan.
Aku membuka pintu sedikit.
“Ada apa?”
“Nyonya, Tuan meminta Anda ke ruang kerja.”
Sekarang?
Aku sedikit bingung, tapi mengangguk.
“Iya, aku datang.”
—
Aku berjalan ke ruang kerja dengan langkah pelan.
Jantungku sedikit berdebar.
Entah kenapa, setiap kali dipanggil seperti ini, selalu ada perasaan… tegang.
Aku mengetuk pintu.
“Masuk.”
Aku masuk perlahan.
Adrian sudah ada di dalam, seperti biasa—di belakang meja, laptop terbuka di depannya.
Namun kali ini, ada beberapa dokumen di sampingnya.
Ia menutup laptop saat aku mendekat.
“Duduk.”
Aku duduk di kursi di depannya.
Ia mengambil satu map dari meja, lalu mendorongnya ke arahku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Buka.”
Aku membuka map itu perlahan.
Di dalamnya… beberapa lembar kertas.
Profil.
Foto.
Dan data.
Aku mengerutkan kening.
“Ini…?”
“Orang-orang yang akan datang ke acara itu.”
Aku terdiam.
Ia melanjutkan,
“Tidak semuanya penting. Tapi beberapa… perlu kamu kenal.”
Aku menatapnya.
Sedikit tidak percaya.
“Kamu… menyiapkan ini untukku?”
“Iya.”
Jawabannya datar.
Seolah itu hal biasa.
Padahal… tidak.
Sama sekali tidak.
Aku melihat kembali kertas-kertas itu.
Nama-nama besar.
Keluarga kaya.
Pengusaha.
Sosialita.
Dunia yang… sangat jauh dariku.
“Kamu tidak perlu menghafal semuanya,” katanya. “Cukup tahu siapa yang harus dihindari… dan siapa yang tidak perlu kamu layani.”
Aku mengangkat pandanganku.
“Aku tidak perlu… melayani?”
Ia menatapku lurus.
“Kamu bukan pelayan.”
Kalimat itu…
Langsung membuatku diam.
Seolah sesuatu di dalam diriku… tersentuh.
Ia melanjutkan,
“Kalau ada yang merendahkanmu… abaikan.”
Aku menggenggam kertas itu pelan.
“Dan kalau mereka tidak berhenti?” tanyaku pelan.
Sunyi sejenak.
Lalu Adrian berkata—
“Panggil aku.”
Singkat.
Tegas.
Aku menatapnya lama.
Tidak tahu harus berkata apa.
Untuk pertama kalinya…
Aku merasa benar-benar…
dilindungi.
Aku menunduk sedikit.
“Iya…”
Beberapa detik hening.
Lalu Adrian berkata lagi,
“Besok kita ke butik.”
Aku mengangkat kepala.
“Butik?”
“Kamu butuh gaun.”
Aku langsung panik sedikit.
“Tidak perlu yang mahal—”
“Aku tidak bilang mahal,” potongnya tenang. “Aku bilang pantas.”
Aku terdiam.
Tidak bisa membalas.
Ia menatapku sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Dan satu hal lagi.”
Aku menunggu.
“Jangan merendahkan dirimu sendiri di depan mereka.”
Dadaku terasa hangat.
Sekaligus berat.
Aku mengangguk pelan.
“Iya…”
—
Saat aku keluar dari ruang kerja, langkahku terasa lebih ringan.
Bukan karena masalahnya hilang.
Tapi karena…
Aku tidak lagi menghadapinya sendirian.
Aku kembali ke kamar, duduk di tempat tidur.
Mataku menatap undangan itu sekali lagi.
Kali ini…
berbeda.
Bukan sebagai tamu yang tidak diinginkan.
Bukan sebagai seseorang yang akan dipermalukan.
Tapi sebagai…
istri dari seseorang yang tidak akan membiarkanku jatuh.
Aku menarik napas dalam.
Lalu tersenyum kecil.
“Baiklah…”
Pesta itu mungkin bukan tempatku.
Dunia itu mungkin bukan milikku.
Tapi kali ini—
Aku tidak akan mundur.
Di sisi lain kota, malam belum benar-benar tenang.
Lampu kamar Celine masih menyala terang. Gaun-gaun pesta tergantung rapi di sisi ruangan, beberapa kotak perhiasan terbuka di atas meja rias. Semua tampak sempurna—seperti pernikahan yang sedang ia siapkan.
Namun wajahnya… tidak sepenuhnya tenang.
Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Tangannya memegang ponsel, tapi pikirannya masih teringat satu hal—
Tatapanku.
Cara aku tidak lagi menunduk.
Cara aku menjawabnya… tanpa ragu.
Celine mengerutkan kening, lalu mengangkat ponselnya ke telinga.
Panggilan tersambung.
Beberapa detik hanya suara hening.
Lalu—
“Akhirnya.”
Suara di seberang terdengar pelan.
Lembut.
Tapi… mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.
Celine sedikit menegakkan tubuh.
“Kamu sudah dengar?” tanyanya langsung.
“Tentu saja,” jawab suara itu santai. “Aku selalu tahu apa yang terjadi… terutama yang berkaitan dengannya.”
Nada suaranya ringan.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa… tidak biasa.
Celine berjalan pelan ke arah jendela, menatap keluar.
“Aku tidak suka ini,” katanya. “Dia berubah.”
“Berubah?” suara itu terdengar seperti tersenyum tipis. “Atau kamu yang baru menyadarinya?”
Celine langsung menghela napas kesal.
“Jangan mulai,” katanya dingin. “Aku tahu seperti apa dia.”
“Hm… adik yang selalu diam, selalu menurut, dan tidak pernah berani menatapmu?”
Celine terdiam sesaat.
Lalu menjawab pelan,
“Iya.”
“Dan sekarang?”
Bayangan itu kembali muncul di pikirannya.
Cara aku menatapnya.
Cara aku menjawab tanpa takut.
Tangannya mengepal sedikit.
“…Dia menatapku,” katanya pelan. “Langsung. Seolah… tidak takut lagi.”
Sunyi sejenak di ujung telepon.
Lalu—
“Itu berarti dia mulai belajar.”
Celine mengerutkan kening.
“Belajar apa?”
“Belajar bahwa dia tidak harus berada di bawahmu.”
Kalimat itu membuat ekspresi Celine berubah.
Tidak suka.
“Aku tidak percaya,” katanya cepat. “Adikku yang lugu itu bisa apa?”
Nada suaranya merendahkan.
Seolah semua ini tidak masuk akal.
Di seberang, suara itu tertawa pelan.
Halus.
Namun terasa… dingin.
“Semua orang bisa berubah,” katanya. “Terutama kalau mereka akhirnya punya alasan untuk berdiri.”
Celine menyilangkan tangan.
“Alasan?” ulangnya.
“Ya,” jawabnya santai. “Dan sepertinya sekarang… dia punya.”
Celine tidak menjawab.
Namun wajahnya mulai serius.
“Lupakan itu dulu,” katanya akhirnya. “Aku tidak peduli dia berubah atau tidak. Aku hanya tidak ingin dia merusak acara pernikahanku.”
Nah.
Akhirnya sampai pada inti.
Suara di seberang langsung merespon,
“Pernikahan, ya…”
Nada suaranya terdengar… tertarik.
Celine berjalan kembali ke meja rias, duduk perlahan.
“Itu harus sempurna,” katanya. “Tidak boleh ada hal yang mengganggu.”
“Termasuk dia.”
“Terutama dia.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu—
“Baiklah,” suara itu berubah sedikit lebih serius. “Kalau begitu… kita atur semuanya di sana.”
Celine mengangkat alis.
“Kita?”
“Tentu,” jawabnya santai. “Kamu tidak berpikir aku akan melewatkan kesempatan seperti ini, kan?”
Celine tersenyum tipis.
Akhirnya.
Ia tidak sendiri.
“Jadi?” tanyanya. “Apa rencanamu?”
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu berkata pelan—
“Kita tidak akan menjatuhkannya secara langsung.”
Celine sedikit bingung.
“Kenapa?”
“Karena terlalu jelas,” jawabnya. “Dan itu membosankan.”
Celine mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Kita buat dia… menjatuhkan dirinya sendiri.”
Sunyi.
Kalimat itu terasa sederhana.
Tapi… berbahaya.
Celine perlahan tersenyum.
Mulai mengerti arah pikirannya.
“Di acara pernikahanku?” tanyanya.
“Tempat yang sempurna,” jawab suara itu. “Semua mata akan tertuju pada kalian. Setiap gerakan… setiap kesalahan… akan terlihat.”
Celine menyilangkan kaki, semakin tertarik.
“Dia tidak terbiasa dengan dunia seperti itu,” katanya.
“Tepat.”
“Jadi aku harus apa?”
“Kamu tetap seperti biasanya.”
“Maksudnya?”
“Jadi kakak yang baik,” jawabnya santai.
Celine langsung tertawa kecil.
“Kedengarannya menyenangkan.”
“Semakin kamu terlihat sempurna,” lanjutnya, “semakin kontras dia di sampingmu.”
Celine menatap cermin di depannya.
Membayangkan itu.
Dirinya—sempurna.
Aku—berdiri di sampingnya.
Perbedaan itu… akan terlihat jelas.
“Dan kalau dia tidak jatuh?” tanya Celine.
Sunyi sejenak.
Lalu suara itu menjawab—
“Aku akan memastikan dia jatuh.”
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih tajam.
Tanpa ragu.
Celine terdiam sesaat.
Ada sesuatu dalam nada itu… yang membuatnya sedikit merinding.
Namun ia menepisnya.
“Baik,” katanya. “Aku akan memainkan peranku.”
“Bagus.”
Celine tersenyum tipis.
Namun sebelum menutup telepon, ia berkata lagi—
“Tapi tetap saja… aku tidak percaya dia bisa berubah sejauh itu.”
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu menjawab pelan—
“Kalau begitu… pernikahanmu akan jadi tempat yang menarik untuk membuktikannya.”
Klik.
Panggilan terputus.
Celine menatap layar ponselnya beberapa detik.
Lalu menurunkannya perlahan.
Ia berdiri, kembali menatap bayangannya di cermin.
Senyumnya perlahan muncul.
Anggun.
Percaya diri.
Tapi di balik itu—
Ada sesuatu yang lebih gelap.
“Adikku yang lugu itu…” bisiknya pelan.
Matanya menyipit sedikit.
“Kita lihat… seberapa jauh kamu bisa bertahan.”
Dan tanpa kusadari—
Bukan hanya pesta yang menungguku.
Tapi… panggung besar,
di mana seseorang sudah menyiapkan jebakan untukku.