Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kejadian Absurd
Di tengah Nova dan yang lainnya sedang menikmati malam kemah di hutan spiritual, dari ujung tebing di atas tempat mereka berkemah, aura kegelapan menyelimuti sepasang mata merah menyala yang mengawasi Nova dan kelompoknya.
Tak ada yang menyadari itu, karena aura kegelapan itu samar dan nyaris tak bisa terdeteksi.
“Anak itu... ”
Wussss
Sosok itu menghilang, tak sedikitpun meninggalkan jejak apapun disana.
***
Esok nya sebelum matahari terbit, Nova sudah lebih dulu membereskan barang-barangnya dan menyampirkan tas kecilnya yang terlihat seperti tak terisi apapun.
Eveline yang baru saja terbangun sedikit tercengang, karena melihat Nova sudah duduk santai di atas sebuah batu.
“Nova, kapan kau membereskan barang-barangmu?” tanyanya.
Nova menoleh seraya tersenyum.
“Sudah ku rapikan, ayo sebaiknya kalian segera bersiap, aku merasakan beberapa dari kelompok lain sudah mulai bergerak,” ucapnya.
Eveline mengangguk, meskipun ia masih penasaran bagaimana Nova membereskan tendanya, bahkan jika di masukan ke dalam tas kecil Nova itu sangat tidak masuk akal.
Tak lama setelah itu yang lainnya terbangun, dan langsung merapikan tenda mereka. Tak menunggu lama, akhirnya mereka semua selesai dan tinggal menunggu instruksi dari Nova dan Ethan.
“Nova, kita akan mengambil jalur yang mana?” tanya Ethan.
Nova memperhatikan dua jalur yang berbeda di depannya, satu menuju ke arah tebing dan tentunya beresiko dan akan cepat sampai menuju puncak, jalur satunya melewati sebuah gua yang cukup lebar. Nova menebak bahwa jalur itu hanya memiliki sedikit sumber daya untuk di ambil.
“Kita ambil jalur tebing saja,” jawabnya.
Ethan hanya mengangguk saja, begitupun dengan yang lainnya. Mereka percaya jika Nova dapat di andalkan.
Namun, sebelum mereka semua bergerak, beberapa aura bergerak ke arah tempat mereka berdiri, satu persatu muncul kelompok berjubah hitam yang di pimpin oleh Amond.
“Manor Saladin,” bisik Ethan.
Nova mengangguk paham dan memindai kekuatan mereka yang hanya berada pada tingkat empat yang tertinggi, dan rata-rata mereka berada di tingkat tiga.
“Wahh... wahh... wahh...” Amond menepuk kedua tangannya sambil memperhatikan anggota dari Nova. “Sepertinya anggota baru kalian ini membawa keberuntungan untuk kalian rupanya,” ejeknya.
Hal itu membuat Darius hanya bisa menahan kesal, begitupun dengan yang lainnya.
“Apa mau mu, Amond!” sergah Calista.
Amond menoleh ke arahnya sambil tertawa lepas.
“Tentunya, hasil dari poin kalian dan... sumber daya yang kalian dapat, jika tidak...” ucapnya sengaja menjeda kalimat sambil menoleh ke arah salah satu anggotanya.
Anggotanya itu mengangguk, lalu bersiul seperti memberikan tanda.
Tak lama setelah itu, dua orang lainnya muncul dari balik hutan membawa Sherin yang mulutnya tertutup sebuah kain.
“Sherin!” teriak Calista dan yang lainnya.
Nova mengkerutkan keningnya, sejak kapan Sherin di tangkap oleh mereka, padahal dia terjaga semalaman dan tak merasakan sedikitpun jejak aura yang mendekat.
Ia baru teringat, sebelum semua orang terbangun Sherin meminta pergi ke arah hutan, beralasan untuk buang air kecil.
“Sial! Kenapa bisa aku tidak menyadarinya,” umpat Nova.
Amond hanya bisa menertawakan Nova dan yang lainnya sambil berkata.
“Bagaimana? Apa kita akan melakukan pertukaran yang adil?” ucap Amond dengan nada yang penuh dengan ejekan.
Aura Ethan dan yang lainnya langsung meningkat, begitupun kelompok dari Amond. Hanya Nova yang masih terlihat tenang.
“Sebaiknya kau lepaskan Sherin, jika tidak kau akan menyesal,” ucap Nova nyaris tanpa nada.
Amond langsung tertawa lepas begitupun dengan anggota kelompoknya, mereka tak menyangka akan mendengar kalimat itu dari pemuda yang bahkan tak bisa mereka lihat tingkat kekuatannya.
“Apa kau yaki...”
Hanya satu kedipan mata, Nova sudah berada di hadapan Amond, sambil mencengkram leher pemuda yang angkuh itu.
“Hhgggtt! L-lepaskan! a-aku!” ucapnya hampir tak bersuara.
Nova terus mencengkramnya dengan kuat, bahkan mengangkat tubuh Amond hingga beberapa senti terangkat ke udara.
“Lepaskan Sherin! Dan berikan sumber daya kalian, jika tidak... aku akan membunuh tuan muda kalian ini!” bentak Nova.
Anggota Amond langsung gemetar saat merasakan hawa membunuh yang begitu kuat, bahkan Ethan dan yang lainnya seketika panik, khawatir jika Nova benar-benar membunuh bocah itu.
“C-cepat berikan!” bentak Amond kepada anggotanya.
Sherin di lepaskan, dan salah satu anggota Saladin melemparkan satu tas berisi penuh dengan sumber daya. Nova langsung menyeringai sambil melemparkan Amond hingga menabrak sebuah pohon.
Braakkk...
Amond terbatuk, dan menatap ngeri ke arah Nova yang berdiri tak jauh darinya.
Sherin langsung berlari dan memeluk Calista serta Eve. Tak ada yang bergeming, ataupun berusaha memisahkan Nova dari Amond.
Nova melangkah lebih dekat lagi.
“Jika kau berani mengganggu kami, akan ku pastikan dantian mu hancur,” cukup untuk membuat Amond terdiam.
Setelah itu Nova berdiri dan menghampiri Ethan dan yang lainnya.
“Ayo pergi!” ucap Nova.
Sementara itu Amond di bantu berdiri oleh anggotanya, ia kesal sekaligus ketakutan saat merasakan kematiannya nyaris saja menghampiri.
“Akan ku pastikan anak itu menyesal!” umpatnya sambil menatap ke arah kelompok Nova yang sudah pergi menjauh.
***
Saat di jalur pendakian, Nova dan yang lainnya berhenti sejenak. Nova memindai ke arah jalur yang akan mereka lewati, begitupun yang lainnya.
Tak ada yang aneh saat mereka mulai melangkahkan kakinya, hingga saat mereka baru saja melakukan setengah perjalanan, Nova dan yang lainnya merasakan bebatuan yang mereka pijak bergetar hebat.
Hal itu membuat mereka semua mencari pegangan agar tidak terjatuh, dan membuat perjalanan mereka terhambat.
“Semuanya waspada!” ucap Nova sambil menatap teman-temannya tang ada di belakang.
Darius yang berada di paling belakang terus memperhatikan ke arah belakang, ia merasakan sesuatu seperti sedang mengikuti, mengendap dan bersembunyi saat Darius menoleh.
“Nova, apa kau merasakannya?” tanya Darius.
Nova menghentikan langkahnya dan mengangguk pelan.
“Biarkan saja, itu hanya mahluk spiritual tingkat rendah, kau sendiri saja bisa menghadapinya,” jawabnya sambil tertawa pelan.
Ekspresi Darius langsung berubah masam, membuat semua orang tertawa lepas. Dan benar saja, saat mereka sedang tertawa, seekor binatang menyerupai monyet dengan bulu berwarna silver melompat ke arah pundak Darius.
Hal itu membuat Darius terlonjak kaget dan berusaha melepaskan binatang itu, namun monyet itu terus menghindar, membuat Nova dan yang lainnya tertawa lepas.
“Bantu aku! Bukannya tertawa!” teriak Darius.
Tak lama monyet itu berhenti setelah menemukan sebungkus coklat dari kantong celana Darius, tapi monyet itu tetap bertengger di pundaknya sambil memakan coklat yang di dapatnya.
“Sudah biarkan saja, biar kau punya teman baru,” ucap Ethan sambil tertawa puas.
Sementara Darius hanya bisa menahan kesalnya sambil membiarkan monyet itu di pundaknya dan menunggunya pergi dengan sendirinya.