Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prosesi Awal
Udara subuh yang dingin masih menyelimuti kota saat lampu-lampu di presidential suite hotel tempat mereka menginap menyala terang benderang. Hari yang selama ini ditunggu-tunggu, kini telah tiba.
Aiena duduk tegak di depan meja rias yang dipenuhi oleh berbagai kuas, palet warna, dan botol-botol parfum mewah. Di cermin besar itu, ia melihat bayangannya sendiri—seorang wanita yang tampak sedikit pucat karena gugup, namun matanya memancarkan binar yang tak pernah ada sebelumnya.
Shane, yang sudah mengenakan kemeja putih bersih namun belum memakai jas tuxedonya, duduk di sebuah kursi tepat di samping Aiena. Ia menolak untuk menunggu di ruangan terpisah, bersikeras ingin menemani Aiena melewati jam-jam krusial ini.
“Jangan terlalu tegang, Na. Rileks aja,” ujar Shane lembut. Ia meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas bahu Aiena, memberikan pijatan lembut yang menenangkan.
“Aku takut, Shane. Takut jatuh atau tersandung waktu jalan ke altar nanti,” bisik Aiena.
MUA pilihan Shane mulai mengoleskan cairan primer ke wajahnya. Sementara Juwita menggarap kuku-kukunya.
Shane tertawa kecil, suara baritonnya terdengar sangat menenangkan di tengah kesunyian subuh. “Tenang aja, Sayang. Aku bakal gandeng kamu nanti.”
“Kamu nggak bosan nunggu aku disini? Persiapan pengantin pria jauh lebih simple, kan?” tanya Aiena, melirik Shane lewat pantulan cermin.
“Sama sekali nggak. Menontonmu berubah menjadi pengantin adalah pemandangan sekali seumur hidup,” balas Shane. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah Aiena hingga mereka saling menatap dalam di cermin.
Aiena merasakan matanya sedikit memanas. "Terima kasih karena nggak pernah menyerah sama aku, Shane. Bahkan saat aku masih bawa banyak luka dari masa lalu.”
Shane menggeleng pelan, ia mencium punggung tangan Aiena dengan penuh hormat, menghindari pipi Aiena agar tidak merusak riasan yang baru dimulai. “Aku yang akan bantu sembuhin luka itu. Sekarang, fokus sama hari ini. Sebentar lagi, kamu akan resmi jadi satu-satunya wanita yang memiliki seluruh hidupku.”
“Sudah, Pak Shane, Mbak Aiena nanti malah nangis, riasannya bisa berantakan!” tegur sang MUA sambil tertawa kecil, meski ia ikut merasa senang kemesraan keduanya.
Shane melepaskan tangan Aiena, memberikan ruang bagi para profesional untuk bekerja kembali. Ia kembali duduk di sampingnya, tetap disana, menemani dan mengamati.
***
Jantung Aiena berdegup dua kali lebih kencang ketika pintu kamar yang dijadikan lokasi temu manten akhirnya terbuka lebar. Aiena melangkah maju dengan gerakan lambat. Gaun putih besutan desainer ternama itu menyapu lantai dengan anggun. Rambut panjangnya yang biasa diurai kini disanggul rapi ke belakang, menyisakan hanya bagian poninya saja.
Di ambang pintu yang telah dihias dengan rangkaian bunga, Shane sudah berdiri menunggu. Ia tampak begitu berwibawa dalam balutan tuxedo putih yang sangat pas di tubuh tegapnya. Tidak ada lagi gurat lelah atau candaan jahil, wajahnya kini sangat serius, matanya terkunci sepenuhnya pada sosok Aiena yang sedang melangkah pelan ke arahnya.
Shane melangkah maju saat jarak mereka tinggal beberapa meter. Di tangannya, ia membawa sebuah buket bunga mawar merah yang sangat indah. Bunga-bunga itu tampak segar dengan kelopak yang melengkung sempurna. Warnanya kontras dengan gaun putih yang dikenakan Aiena.
Mereka akhirnya berdiri berhadapan. Shane menyerahkan buket bunga itu dengan gerakan yang sangat sopan, seolah sedang menyerahkan seluruh dunianya.
Aiena menerima bunga itu, jemarinya yang berhias nail art mutiara bersentuhan sejenak dengan tangan Shane. Aroma segar dari kelopak bunga mawar itu menyeruak, memberikan efek menenangkan di tengah kegugupannya.
Sambil tersenyum malu, tangan Aiena mengambil sebuah korsase—bunga kecil yang senada dengan buketnya—dari baki yang disiapkan di sisi jendela. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendekat ke arah Shane untuk menyematkan bunga itu di kerah kiri jas pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
“Tahan sebentar ya, jangan bergerak,” gumam Aiena. Ia sangat berhati-hati, memastikan jarum korsase itu tidak melukai kain jas mahal Shane atau menusuk kulitnya.
Jarak mereka yang sangat dekat membuat Aiena bisa merasakan deru napas Shane yang hangat di puncak kepalanya.
Shane tetap diam mematung, menatap wajah Aiena yang begitu fokus dari jarak dekat. Ia bisa melihat detail riasan mata Aiena yang sempurna dan bagaimana bibir gadis itu sedikit terbuka karena konsentrasi.
Shane meraih kedua tangan Aiena setelah korsase itu terpasang. Ia meremasnya lembut, seolah ingin menyalurkan seluruh keberaniannya. Ia memberikan lengannya untuk dilingkari oleh tangan Aiena. Mereka berbalik bersamaan, menghadap ke arah pintu kamar dimana keluarga sudah menunggu dengan senyum penuh restu.
Prosesi ini menjadi awal dari rangkaian acara penting yang akan berlangsung hari ini. Sebuah langkah awal menuju kehidupan baru yang telah mereka rencanakan.
***