NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prosesi Awal

Udara subuh yang dingin masih menyelimuti kota saat lampu-lampu di presidential suite hotel tempat mereka menginap menyala terang benderang. Hari yang selama ini ditunggu-tunggu, kini telah tiba.

Aiena duduk tegak di depan meja rias yang dipenuhi oleh berbagai kuas, palet warna, dan botol-botol parfum mewah. Di cermin besar itu, ia melihat bayangannya sendiri—seorang wanita yang tampak sedikit pucat karena gugup, namun matanya memancarkan binar yang tak pernah ada sebelumnya.

Shane, yang sudah mengenakan kemeja putih bersih namun belum memakai jas tuxedonya, duduk di sebuah kursi tepat di samping Aiena. Ia menolak untuk menunggu di ruangan terpisah, bersikeras ingin menemani Aiena melewati jam-jam krusial ini.

“Jangan terlalu tegang, Na. Rileks aja,” ujar Shane lembut. Ia meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas bahu Aiena, memberikan pijatan lembut yang menenangkan.

“Aku takut, Shane. Takut jatuh atau tersandung waktu jalan ke altar nanti,” bisik Aiena.

MUA pilihan Shane mulai mengoleskan cairan primer ke wajahnya. Sementara Juwita menggarap kuku-kukunya.

Shane tertawa kecil, suara baritonnya terdengar sangat menenangkan di tengah kesunyian subuh. “Tenang aja, Sayang. Aku bakal gandeng kamu nanti.”

“Kamu nggak bosan nunggu aku disini? Persiapan pengantin pria jauh lebih simple, kan?” tanya Aiena, melirik Shane lewat pantulan cermin.

“Sama sekali nggak. Menontonmu berubah menjadi pengantin adalah pemandangan sekali seumur hidup,” balas Shane. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah Aiena hingga mereka saling menatap dalam di cermin.

Aiena merasakan matanya sedikit memanas. "Terima kasih karena nggak pernah menyerah sama aku, Shane. Bahkan saat aku masih bawa banyak luka dari masa lalu.”

Shane menggeleng pelan, ia mencium punggung tangan Aiena dengan penuh hormat, menghindari pipi Aiena agar tidak merusak riasan yang baru dimulai. “Aku yang akan bantu sembuhin luka itu. Sekarang, fokus sama hari ini. Sebentar lagi, kamu akan resmi jadi satu-satunya wanita yang memiliki seluruh hidupku.”

“Sudah, Pak Shane, Mbak Aiena nanti malah nangis, riasannya bisa berantakan!” tegur sang MUA sambil tertawa kecil, meski ia ikut merasa senang kemesraan keduanya.

Shane melepaskan tangan Aiena, memberikan ruang bagi para profesional untuk bekerja kembali. Ia kembali duduk di sampingnya, tetap disana, menemani dan mengamati.

***

Jantung Aiena berdegup dua kali lebih kencang ketika pintu kamar yang dijadikan lokasi temu manten akhirnya terbuka lebar. Aiena melangkah maju dengan gerakan lambat. Gaun putih besutan desainer ternama itu menyapu lantai dengan anggun. Rambut panjangnya yang biasa diurai kini disanggul rapi ke belakang, menyisakan hanya bagian poninya saja.

Di ambang pintu yang telah dihias dengan rangkaian bunga, Shane sudah berdiri menunggu. Ia tampak begitu berwibawa dalam balutan tuxedo putih yang sangat pas di tubuh tegapnya. Tidak ada lagi gurat lelah atau candaan jahil, wajahnya kini sangat serius, matanya terkunci sepenuhnya pada sosok Aiena yang sedang melangkah pelan ke arahnya.

Shane melangkah maju saat jarak mereka tinggal beberapa meter. Di tangannya, ia membawa sebuah buket bunga mawar merah yang sangat indah. Bunga-bunga itu tampak segar dengan kelopak yang melengkung sempurna. Warnanya kontras dengan gaun putih yang dikenakan Aiena.

Mereka akhirnya berdiri berhadapan. Shane menyerahkan buket bunga itu dengan gerakan yang sangat sopan, seolah sedang menyerahkan seluruh dunianya.

Aiena menerima bunga itu, jemarinya yang berhias nail art mutiara bersentuhan sejenak dengan tangan Shane. Aroma segar dari kelopak bunga mawar itu menyeruak, memberikan efek menenangkan di tengah kegugupannya.

Sambil tersenyum malu, tangan Aiena mengambil sebuah korsase—bunga kecil yang senada dengan buketnya—dari baki yang disiapkan di sisi jendela. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendekat ke arah Shane untuk menyematkan bunga itu di kerah kiri jas pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

“Tahan sebentar ya, jangan bergerak,” gumam Aiena. Ia sangat berhati-hati, memastikan jarum korsase itu tidak melukai kain jas mahal Shane atau menusuk kulitnya.

Jarak mereka yang sangat dekat membuat Aiena bisa merasakan deru napas Shane yang hangat di puncak kepalanya.

Shane tetap diam mematung, menatap wajah Aiena yang begitu fokus dari jarak dekat. Ia bisa melihat detail riasan mata Aiena yang sempurna dan bagaimana bibir gadis itu sedikit terbuka karena konsentrasi.

Shane meraih kedua tangan Aiena setelah korsase itu terpasang. Ia meremasnya lembut, seolah ingin menyalurkan seluruh keberaniannya. Ia memberikan lengannya untuk dilingkari oleh tangan Aiena. Mereka berbalik bersamaan, menghadap ke arah pintu kamar dimana keluarga sudah menunggu dengan senyum penuh restu.

Prosesi ini menjadi awal dari rangkaian acara penting yang akan berlangsung hari ini. Sebuah langkah awal menuju kehidupan baru yang telah mereka rencanakan.

***

1
Wid Sity
alasanmu gak masuk akal ya, Sean. Kalo habis dipel kan harunya ada tanda lantai licin
Quoari: Maksudnya di rumah. Tapi beda juga harusnya luka jatuh
total 1 replies
Wid Sity
ni orang kenapa sih. Tiap Aiena lihat Sean. Ada aja babak belur di tubuhnya
Quoari: Korban kdrt. Tapi pas di restoran aman
total 1 replies
Wid Sity
iya. Nasehatin orang yang bucin tu gak berguna. Buang2 energi, bikin emosi. Kita tidak bisa menolong orang yang tidak mau ditolong. Jadi ya udahlah, biarin aja
Quoari: Betul, percuma
total 1 replies
Wid Sity
sepertinya Shane tahu sesuatu tentang Sean dan Lina
Quoari: Sedikit banyak tau, sean temennya, bukan cuma rekan bisnis
total 1 replies
Wid Sity
uwee, sekarang udah manggil sayang🤭
Quoari: Iya kadang
total 1 replies
Wid Sity
daritadi gangguin papamu Mulu, cil. Papamu sibuk, kenapa gak main sama mamamu aja sih
Quoari: Bocil ngga paham, karna ngga ditegur juga sama mamanya
total 1 replies
Wid Sity
egois banget. Padahal Sean lagi repot banget. Lina malah diem aja, gak bantuin. Padahal posisinya Sean lagi bahas kerjaan
Quoari: Betul, semua Sean, mana Sean takut istri
total 1 replies
Wid Sity
betul. Di zaman sekarang sangat langka Nemu cowok seperti Shane
Quoari: Banyaknya yang seperti haze
total 1 replies
Wid Sity
sangat pengertian
Quoari: Beneran idaman yang ini
total 1 replies
Wid Sity
aw, sangat gentleman 😍
Wid Sity
Shane berasa tua ya, Aiena dipanggil mbak, Shane dipanggil pak
Quoari: 🤣🤣 iya ya. Tapi emang tuaan shane
total 1 replies
Wid Sity
kadang jodoh tu misteri dan tidak disangka sangka
Wid Sity
Aiena dipasang kacamata kuda, jadi lihatnya ke Haze Mulu
Quoari: Iya, gabileh lihat yang lain
total 1 replies
Wid Sity
lengket banget kayak magnet
Wid Sity
kok bisa mereka curi2 waktu tidur bersama? Itu kan study tour, ada banyak orang
Quoari: Bisa, karna nginep hotel. Bisa kerjasama ama temennya
total 1 replies
Wid Sity
waduh, padahal masih kecil, belum waktunya
Quoari: Udah punya ktp
total 1 replies
Wid Sity
kasihan banget jadi nyamuk, wkwkwk
Quoari: Gapapa dia kerja😄
total 1 replies
Wid Sity
gak sekalian nitip asbak Bali ni
Quoari: Yang itu ya 🤭
total 1 replies
Wid Sity
ternyata muka dua. Mentang2 Aiena udah jadi calon istrinya bos, malah jadi ramah
Quoari: Takut kl mau judes sama bosnya aiena
total 1 replies
Wid Sity
lepas dari sampah, akhirnya dapat berlian
Quoari: Betul, aiena beruntung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!