NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Tarian Besi Tanpa Darah dan Terungkapnya Sang Anomali

Hembusan angin gletser bersuhu minus seratus derajat seketika terasa seperti udara musim panas saat berbenturan dengan ketegangan di depan Gerbang Baja Hitam Bintang. Ancaman dingin Ajil tidak membuat Komandan Borin gentar, melainkan membakar sumbu amarah ras Dwarf yang terkenal sangat keras kepala dan menjunjung tinggi harga diri melebihi nyawa mereka sendiri.

Wajah Borin di balik helm mekaniknya memerah padam. Urat-urat di lehernya menonjol hingga nyaris pecah. Menyerah tanpa perlawanan di depan gerbang Gunung Tempa Abadi adalah aib yang akan dicatat dalam sejarah klannya selama ribuan tahun.

"Kau pikir sihir petir kecilmu itu bisa menakuti Pasukan Palu Besi, Manusia?!" raung Borin, mengangkat palu perangnya tinggi-tinggi. Kristal lava di zirah Magitek-nya menyala merah terang, mendidihkan udara di sekitarnya. "Untuk kebanggaan Benua Utara! HANCURKAN MEREKA! JANGAN SISAKAN TULANGNYA!"

Puluhan moncong meriam sihir Magitek dari para prajurit Dwarf berdengung serempak. Cahaya merah pekat berkumpul di ujung laras mereka.

Di belakang Ajil, Rino dan Richard langsung memasang kuda-kuda rendah. Zirah mereka beresonansi dengan mana tingkat tinggi. Erina telah merentangkan busurnya secara maksimal, membidik tepat ke arah reaktor kristal di punggung Borin.

"Pemimpin! Izinkan aku membekukan darah mereka semua!" seru Richard, tombaknya telah menciptakan badai es kecil di sekitarnya.

Namun, di tengah hujan peluru energi yang siap meledak, suara bariton Ajil terdengar begitu datar dan mutlak, tanpa sedikit pun nada panik.

"Jangan ada yang membunuh mereka," perintah Ajil dingin, matanya tak berkedip menatap rentetan tembakan meriam yang melesat ke arahnya. "Lumpuhkan zirah mereka. Jika kalian membunuh satu saja penjaga gerbang ini, kita akan direpotkan oleh birokrasi dan pasukan balas dendam saat kita berada di dalam gunung. Aku tidak punya waktu untuk bermain perang wilayah."

Mendengar perintah itu, Rino dan Richard justru tersenyum lebar. Tidak membunuh berarti mereka harus menahan kekuatan mereka, sebuah ujian presisi yang sempurna untuk menguji tubuh baru mereka yang telah mencapai level 130-an.

"Sesuai perintah Anda, Tuan!" Rino tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat kontras di tengah medan pertempuran. Raksasa merah itu melesat maju, mengabaikan tembakan energi yang menghantam zirahnya tanpa meninggalkan bekas.

BUM! BUM! BUM!

Tembakan meriam sihir Dwarf menghantam Setelan Malam Abadi Ajil dan hancur menjadi percikan cahaya kemerahan tanpa bisa membuat pria itu mundur satu milimeter pun.

Pertempuran pun pecah. Namun, ini bukanlah sebuah pembantaian seperti di Lembah Kematian Berdarah. Ini adalah sebuah tarian dominasi mutlak yang dirancang untuk mempermalukan musuh tanpa mencabut nyawa mereka.

Rino menerjang ke tengah formasi prajurit Dwarf. Alih-alih menebas dengan mata pedang apinya, ia memutar gagang Pedang Lebar Tulang Naga-nya dan menggunakan sisi datar bilahnya layaknya tongkat pemukul.

CLANK! BUK! Rino menghantam sisi helm mekanik seorang Dwarf hingga prajurit itu berputar tiga kali di udara sebelum jatuh pingsan ke atas salju, zirah Magitek-nya penyok ke dalam namun nyawanya tetap utuh.

"Maaf, Paman Pendek! Kami sedang terburu-buru!" seru Rino sambil tertawa, kembali menangkis sabetan kapak gergaji mesin dari dua Dwarf lainnya. Ia melangkah ringan, menikmati keseimbangan mana apinya yang kini mengalir tanpa batas.

Di sisi lain, Richard meluncur di atas salju layaknya peselancar es. Ujung tombaknya tidak diarahkan ke tubuh musuh. Setiap kali seorang Dwarf mencoba menembaknya, Richard menusukkan tombaknya tepat ke persendian lutut dan siku zirah mekanik mereka. Sihir es mutlaknya seketika membekukan roda gigi dan kristal penggerak di dalam zirah tersebut.

KREK... KREK... TRAS!

Satu per satu prajurit Dwarf membeku di tempat, terperangkap di dalam cangkang logam mereka sendiri tanpa bisa menggerakkan satu jari pun, mengumpat kasar dari balik helm mereka.

Erina melayang beberapa meter di udara. Panah angin sucinya tidak diarahkan ke jantung. Dengan akurasi seorang High Elf Level 220, ia menembakkan panah-panah yang setipis jarum, menembus tepat ke kabel penyalur energi di laras meriam musuh.

Pft! Pft! Pft! Puluhan meriam meledak kecil dari dalam, memuntahkan asap hitam dan mogok total.

"Kalian terlalu kasar," cibir Erina dari udara, melihat Rino yang baru saja melempar seorang Dwarf ke tumpukan salju. "Gunakan sedikit keanggunan, Manusia. Kita sedang mendidik serangga, bukan membajak sawah."

Sementara ketiga pengikutnya bersenang-senang menguji batas kekuatan mereka, Ajil berjalan dengan santai membelah medan pertempuran. Ia tidak mencabut pedangnya. Kedua tangannya bahkan masih berada di dalam saku trench coat-nya.

Setiap kali seorang prajurit Dwarf mencoba menyerangnya dari jarak dekat dengan kapak atau palu, Ajil hanya memiringkan bahunya atau melangkah satu inci ke samping. Gerakannya sangat minimalis, namun presisi God-Tier miliknya membuat seluruh serangan musuh hanya memotong angin kosong. Jika ada musuh yang terlalu dekat, Ajil hanya perlu memancarkan riak kecil dari Aura Gravitasi Jiwa-nya, membuat musuh itu tersungkur jatuh tertelungkup ke tanah karena berat zirahnya dilipatgandakan secara tiba-tiba.

Satu menit... dua menit... tiga menit berlalu.

Bagi kelompok Algojo Dimensi, ini adalah sesi pemanasan ringan di pagi hari. Namun bagi pasukan patroli elit Dwarf, lima menit ini terasa seperti kutukan neraka yang paling memalukan dalam sejarah klan mereka.

Mereka adalah prajurit kebanggaan Gunung Tempa Abadi, mengenakan zirah Magitek mutakhir yang diklaim bisa menahan amukan naga. Namun mereka dipermainkan layaknya sekumpulan anak kecil yang mencoba memukul bayangan. Tidak ada satu tetes darah pun yang tumpah, namun separuh dari pasukan Borin telah lumpuh, pingsan, atau terjebak dalam balok es.

Komandan Borin bernapas dengan susah payah. Keringat membasahi janggut putihnya. Ia melihat pasukannya dipecundangi tanpa ampun. Harga dirinya hancur berkeping-keping.

"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN PENGHINAAN INI!" raung Borin dengan mata merah menyala. Keputusasaan telah mengambil alih kewarasannya.

Ia menekan sebuah tombol merah terlarang di dada zirahnya—Overload Core Protocol.

Kristal lava di punggung Borin seketika retak, memancarkan cahaya merah yang menyilaukan dan hawa panas yang melelehkan salju dalam radius lima puluh meter. Zirahnya mendengung dengan suara melengking yang menyakitkan telinga. Ia mengorbankan inti zirahnya untuk satu serangan bunuh diri yang memiliki daya hancur setara ledakan meteorit.

"Mati kau bersamaku, Manusia!" Borin melompat setinggi belasan meter ke udara. Palu perangnya menyerap seluruh energi overload itu, memancarkan kilatan petir merah dan lahar cair. Ia menukik lurus ke arah Ajil.

Melihat hal itu, tawa Rino dan Richard seketika berhenti. Erina menahan napasnya. Serangan bunuh diri dari entitas Level 160 tidak bisa diremehkan bahkan oleh mereka.

Namun, wajah Ajil tetap sedingin balok es. Sang Algojo menatap Borin yang sedang jatuh ke arahnya seperti meteor merah. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya lebih lama lagi untuk drama konyol ini. Sudah saatnya ia menunjukkan letak rantai makanan yang sebenarnya.

Ajil menarik tangan kanannya dari dalam saku.

"Keangkuhan yang memaksamu untuk menghancurkan dirimu sendiri bukanlah sebuah keberanian," ucap Ajil pelan, suaranya tenggelam oleh deru palu Borin yang membelah udara. "Itu adalah kebodohan."

Ajil tidak menghindar. Ia tidak memanggil Pedang Petir Hijau Abadi.

Seketika, Ajil melepaskan segel mana murni di dalam tubuhnya. Aura Gravitasi Jiwa yang sangat pekat—berwarna hijau gelap yang mematikan—meledak keluar dari pori-pori kulitnya seperti badai tsunami. Aura hijau itu tidak berdiri sendiri. Bersamaan dengan itu, kilatan Tinju Petir Ungu yang liar dan menghancurkan merambat menyelimuti aura hijau tersebut.

BLAAAAAARRRRRR!!!

Kombinasi antara warna hijau pekat yang melambangkan gravitasi penghancur dan petir ungu yang melambangkan hukuman dewa, meledak menjadi pilar energi raksasa yang menembus langit kelabu Benua Utara. Salju dalam radius satu kilometer menguap seketika menjadi ruang hampa. Suara dengungan mana yang begitu absolut membuat udara di sekitarnya melengkung.

Begitu palu Borin yang sedang overload menyentuh batas aura hijau-ungu milik Ajil, palu itu berhenti total di udara.

Tidak ada ledakan dari palu tersebut. Gravitasi jiwa Ajil meremukkan energi overload itu ke dalam, memadamkan kristal lava Borin dalam seperseribu detik. Tekanan dari aura Ajil begitu mengerikan hingga Borin, yang masih melayang di udara, terhempas ke bawah dan jatuh tertelungkup ke atas es yang telah mencair menjadi batu keras, tak mampu menggerakkan satu otot pun karena tubuhnya ditekan oleh bobot gravitasi yang setara dengan dasar samudra.

Sisa pasukan Dwarf yang masih berdiri langsung jatuh berlutut, wajah mereka menempel ke tanah, muntah darah karena tak sanggup menahan tekanan spiritual Level 250 yang dilepaskan sang Algojo. Rino, Richard, dan Erina harus berlindung di belakang Ajil agar tidak ikut terhempas oleh tekanan auranya sendiri.

Keheningan mutlak kembali menyelimuti kaki Gunung Tempa Abadi, hanya disela oleh suara derak petir ungu yang masih meliuk-liuk liar di sekitar tubuh Ajil yang menjulang tinggi, dikelilingi oleh pendaran aura hijau pekatnya.

Di tengah keputusasaan pasukan Dwarf yang terkapar, seorang Wakil Komandan bernama Thorek—seorang Dwarf veteran dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya—berusaha keras memiringkan kepalanya dari atas tanah. Napasnya tersengal-sengal menahan beban gravitasi.

Mata Thorek yang tersisa satu terbelalak lebar saat ia menatap pilar aura hijau yang dililit oleh petir ungu di sekeliling pria berjaket hitam itu. Jantung sang veteran berdetak dengan ritme yang gila. Ingatannya kembali terlempar pada sebuah rapat darurat rahasia di Balai Tahta Raja Dwarf seminggu yang lalu.

Sang Raja Dwarf yang buta namun memiliki mata batin, pernah mengeluarkan sebuah ramalan yang turun dari langit.

"Bila saatnya tiba... langit akan terbelah oleh kedatangan seseorang dari dimensi yang tak bernama. Ia tidak akan membawa panji kerajaan mana pun. Ia mengenakan jubah segelap malam. Dan ketahuilah... saat bumi berguncang oleh aura jiwanya yang berwarna hijau pekat, dan langit menangis oleh sambaran petir berwarna ungu murni... jangan pernah kalian mengangkat kapak padanya. Karena ia adalah Sang Anomali. Utusan mutlak dari Dewi Lumira yang datang untuk mengadili dunia ini."

Thorek menelan ludah. Keringat dinginnya membeku di wajahnya. Ciri-cirinya sangat cocok secara absolut! Tidak ada satupun penyihir atau ksatria di dunia ini yang memiliki perpaduan elemen gravitasi jiwa hijau dan petir abadi berwarna ungu selain entitas yang diramalkan itu!

Menyadari bahwa komandannya baru saja mencoba membunuh utusan sang Dewi, kepanikan mutlak melanda jiwa Thorek. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya dan berteriak sekuat tenaga, memecah keheningan maut tersebut.

"HENTIKAN! SEMUANYA LETAKKAN SENJATA! JANGAN ADA YANG BERGERAK!" raung Thorek dengan suara parau dan putus asa.

Thorek memaksa tubuhnya yang ditekan gravitasi untuk merangkak maju, lalu berlutut dengan dua kaki di hadapan Ajil. Ia membuang senjatanya jauh-jauh, lalu menempelkan dahinya ke tanah berbatu yang dingin, posisi penghormatan paling merendahkan dalam tradisi ras Dwarf.

"K-Ku mohon ampunan Anda... Sang Anomali dari dimensi seberang!" seru Thorek dengan suara bergetar, air mata ketakutan dan penyesalan mengalir di wajahnya. "K-Kami buta! Kami tidak menyadari bahwa Anda adalah Utusan Dewi Lumira yang diramalkan oleh Raja kami! Aura hijau dan petir ungu itu... t-tolong, ampuni kelancangan Komandan Borin dan pasukan kami! Kami hanyalah anjing penjaga yang bodoh!"

Mendengar teriakan Thorek, Borin yang masih terkapar di tanah membelalakkan matanya. Amarahnya seketika luntur, digantikan oleh horor yang melumpuhkan akal sehatnya. Ia baru saja mencoba melakukan serangan bunuh diri terhadap utusan dewi pencipta dunia ini. Sisa prajurit Dwarf yang lain semakin membenamkan wajah mereka ke tanah, tak berani bernapas.

Erina, Rino, dan Richard saling bertukar pandang di belakang Ajil. Mereka tidak menyangka bahwa reputasi atau ramalan tentang pemimpin mereka telah mencapai benua terisolasi ini.

Ajil berdiri di tengah badai petir ungunya. Wajahnya tidak menunjukkan rasa terkejut, tidak pula rasa bangga atas penghormatan mendadak tersebut. Ia menatap Thorek yang bersujud gemetar di bawah kakinya dengan sorot mata yang sekosong jurang neraka.

Perlahan, Ajil menarik kembali Aura Gravitasi Jiwa-nya.

Warna hijau pekat itu tersedot kembali ke dalam tubuhnya, dan petir ungu itu memudar menjadi percikan kecil sebelum menghilang sepenuhnya. Tekanan yang menghimpit dada puluhan prajurit Dwarf itu seketika terangkat, membuat mereka bisa kembali menghirup oksigen dengan rakus, meski tak ada satu pun yang berani mengangkat kepala mereka.

Ajil memasukkan kembali tangan kanannya ke dalam saku trench coat-nya.

"Rasa hormat yang dituntut melalui laras senjata hanyalah ilusi dari sebuah ketakutan," ucap Ajil dengan suara bariton yang berat dan tenang, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Ia melangkah melewati tubuh Borin yang terkapar tak berdaya. "Jika kalian mengira cangkang besi dan gunung yang tertutup ini bisa melindungi kelemahan kalian, maka kalian belum pernah melihat kiamat yang sesungguhnya."

Ajil berhenti tepat di depan Thorek yang masih bersujud.

"Aku tidak butuh penyambutan, dan aku tidak peduli dengan ramalan rajamu," lanjut Ajil dingin, menatap lurus ke arah gerbang raksasa di depannya. "Aku hanya butuh pintu itu terbuka. Sekarang."

Thorek buru-buru mengangkat kepalanya yang masih gemetar. "B-Baik, Tuan Utusan! Segera!" Ia berbalik ke arah pos jaga dan berteriak dengan panik kepada sisa prajurit di dalam. "BUKA GERBANGNYA! BUKA GERBANG BINTANG SEKARANG JUGA!"

Suara roda gigi raksasa berukuran sebesar rumah berderit keras di dalam dinding gunung. Rantai-rantai baja yang tebalnya setara tubuh manusia ditarik oleh sihir kristal lava. Perlahan namun pasti, Gerbang Baja Hitam Bintang setinggi lima puluh meter itu terbuka membelah dua, mengeluarkan embusan udara panas dan suara dentingan palu tempa yang memekakkan telinga dari dalam perut Gunung Tempa Abadi.

Jalan menuju ibu kota bawah tanah ras Dwarf kini terbentang luas di hadapan kelompok Algojo Dimensi.

Rino menyarungkan pedangnya, terkekeh pelan di belakang Ajil. "Yah, itu adalah lima menit pemanasan yang cukup menyenangkan. Bagaimana menurutmu, Rich?"

Richard tersenyum tipis, membersihkan es dari tombaknya. "Sangat efisien. Setidaknya kita tidak perlu mengetuk pintu dengan susah payah."

Erina mendengus angkuh, berjalan anggun menyejajarkan posisinya di sisi Ajil. "Mereka hanya tahu cara berlutut setelah wajah mereka diinjak. Mari kita lihat apakah raja mereka memiliki sopan santun yang lebih baik, Pemimpin."

Ajil tidak menanggapi celotehan pengikutnya. Wajahnya yang sedingin es abadi kembali menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh pada puluhan prajurit yang masih bersujud memuja di sisi jalan, Sang Algojo melangkah masuk menembus gerbang baja tersebut.

Langkah pertama di dalam Gunung Tempa Abadi telah diambil. Panasnya tungku peleburan magma dan intrik politik bangsa kurcaci kuno telah menanti. Dan di suatu tempat di kedalaman gunung ini, Prasasti Dimensi kedua beresonansi, memanggil nama pria yang siap menghancurkan apapun yang menghalangi jalan pulangnya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!