NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Cafe itu masih buka ketika Yusallia sampai.

Lampu di bagian depannya menyala lembut, tidak terlalu terang, namun cukup untuk membuat kaca besar di sisi bangunan itu memantulkan bayangan jalan yang mulai sepi. Jam sudah cukup malam. Deretan kendaraan di depan tidak sebanyak biasanya. Hanya beberapa mobil terparkir dengan jarak yang renggang, dan satu motor yang berdiri miring dekat trotoar. Dari luar, tempat itu terlihat tenang. Tidak benar-benar kosong, tapi cukup sunyi untuk menampung percakapan yang tidak ingin didengar terlalu banyak orang.

Yusallia mematikan mesin mobilnya, tapi tidak langsung turun.

Tangannya masih berada di setir.

Diam.

Lampu dashboard menyinari wajahnya dengan cahaya redup kehijauan. Ponselnya tergeletak di kursi sebelah, layar gelap, namun keberadaan benda kecil itu terasa terlalu berat malam itu. Udara di dalam mobil sedikit pengap. Entah karena AC yang baru saja ia matikan, atau karena napasnya sendiri terasa tidak stabil sejak tadi.

Ia menatap ke arah pintu cafe.

Bryan sudah ada di sana.

Bahkan dari jarak sejauh itu, Yusallia bisa mengenalinya dengan mudah.

Ia duduk di meja dekat jendela, membelakangi sebagian ruangan, dengan bahu sedikit condong ke depan dan ponsel di tangan. Bryan mengenakan kemeja gelap yang sederhana, lengan digulung sampai siku seperti kebiasaannya saat tidak ingin terlihat terlalu formal. Di hadapannya sudah ada satu gelas air putih yang hampir tidak disentuh. Kepalanya sesekali menoleh ke arah pintu, lalu kembali ke layar ponselnya, lalu ke pintu lagi.

Ia sedang menunggu.

Benar-benar menunggu.

Yusallia menelan pelan.

Seketika dadanya terasa lebih penuh.

Ia tidak tahu apakah itu membuat segalanya lebih mudah atau justru lebih sulit.

Karena melihat seseorang benar-benar datang untuk dirinya, di saat ia bahkan belum mengucapkan satu kata pun tentang apa yang sedang terjadi, membuat semua ini terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Ia mengembuskan napas panjang.

Lalu meraih tas kecilnya.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu mobil, jemarinya sempat berhenti.

Masih ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin mundur.

Pulang.

Masuk kamar.

Tidur.

Dan pura-pura besok semuanya akan terasa lebih ringan.

Namun ia tahu itu tidak akan terjadi.

Ketakutan tidak akan hilang hanya karena didiamkan semalaman lagi.

Akhirnya, ia membuka pintu mobil dan turun.

Udara malam menyambut kulitnya dengan lembut. Tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia benar-benar sudah sampai. Langkahnya menuju pintu cafe terasa lambat. Bukan karena ragu untuk masuk, tapi karena tubuhnya seperti berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa beberapa menit lagi, ia akan mengucapkan sesuatu yang akan mengubah arah banyak hal.

Begitu pintu kaca terbuka, suara lonceng kecil di atasnya berdenting pelan.

Bryan langsung mengangkat kepala.

Reaksinya cepat. Terlalu cepat untuk disebut kebetulan.

Matanya langsung menemukan Yusallia.

Dan dalam satu detik, ekspresinya berubah.

Dari tegang.

Menjadi lega.

Lalu perlahan berubah lagi menjadi sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Khawatir.

Bryan berdiri hampir bersamaan saat Yusallia menutup pintu di belakangnya.

Ia tidak langsung bicara.

Hanya menatap Yusallia beberapa detik, cukup lama untuk membuat Yusallia sadar bahwa malam itu dirinya memang terlihat berbeda.

Mungkin terlalu pucat.

Mungkin terlalu diam.

Mungkin terlalu rapuh untuk seseorang yang biasanya datang dengan ekspresi tenang, bahkan saat sedang kelelahan.

“Yusa,” suara Bryan keluar pelan, lebih rendah dari biasanya.

Yusallia mencoba tersenyum kecil.

Namun senyum itu bahkan tidak terasa sampai ke matanya.

“Sorry… bikin lo keluar malam-malam.”

Bryan langsung menggeleng.

“Jangan minta maaf dulu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi nada suaranya tidak main-main.

Ia menarik kursi di depannya pelan. “Duduk dulu.”

Yusallia mengangguk kecil.

Tasnya ia letakkan di samping kaki kursi, lalu ia duduk dengan hati-hati. Bryan baru kembali duduk setelah memastikan Yusallia benar-benar sudah berada di tempatnya.

Beberapa detik pertama terasa sunyi.

Bukan sunyi yang nyaman.

Bukan juga sunyi yang canggung.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama tahu bahwa malam ini tidak akan berjalan seperti pertemuan mereka biasanya.

Pelayan datang menghampiri dengan langkah pelan, mungkin karena sudah cukup malam dan suasana ruangan tidak terlalu ramai.

“Mau pesan apa, Kak?” tanyanya sopan.

Yusallia sempat menoleh, seperti baru ingat bahwa mereka berada di tempat umum yang normal, di tengah rutinitas orang-orang lain yang tidak tahu apa-apa tentang beban yang sedang menekan dadanya.

“Teh hangat aja,” jawabnya pelan.

Pelayan itu mengangguk lalu pergi.

Bryan masih menatapnya.

Tidak menekan.

Tidak mendesak.

Tapi jelas memperhatikan lebih serius dari biasanya.

Setelah beberapa detik, ia berkata pelan, “Lo kelihatan pucat.”

Yusallia mengalihkan pandangannya ke meja.

“Kurang tidur.”

Bryan tidak langsung menanggapi.

Ia sudah cukup lama mengenal Yusallia untuk tahu kapan jawaban itu benar, dan kapan jawaban itu hanya lapisan paling luar dari sesuatu yang jauh lebih besar.

“Lo juga keliatan capek,” lanjutnya.

Yusallia mengangguk kecil.

Bryan menatap wajahnya lagi.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu, ada perubahan jelas di nada suaranya.

Lebih serius.

Lebih hati-hati.

“Ada apa, Yusa?”

Pertanyaan itu datang tanpa hiasan.

Tanpa bercanda.

Tanpa jalan memutar.

Yusallia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

Ia menunduk.

Jari-jarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Bryan mengikuti gerakan itu dengan tatapan diam. Ia melihat tangan Yusallia yang sedikit menegang, bahu yang tampak kaku, dan cara napasnya terdengar sedikit lebih lambat dari biasa.

Bryan menarik napas pelan.

Ia tidak bertanya lagi.

Tidak buru-buru mengisi hening itu.

Dan justru karena itulah Yusallia merasa semakin sulit menahan semuanya.

Pelayan datang meletakkan teh hangat di depannya.

Uap tipis naik dari permukaannya. Yusallia menatap cangkir itu beberapa detik, seolah benda kecil itu bisa memberinya waktu lebih lama untuk menata kata-kata.

Namun waktu tidak benar-benar membantu.

Karena setelah pelayan pergi dan meja itu kembali hanya diisi oleh mereka berdua, keheningan terasa semakin berat.

Bryan akhirnya meletakkan kedua tangannya di atas meja. Tidak terlalu dekat ke arah Yusallia, tapi cukup untuk memberi kesan bahwa ia hadir sepenuhnya.

“Lo bikin gue khawatir dari telepon tadi.”

Suara itu sangat tenang.

Sangat lembut.

“Dan sekarang, gue makin khawatir.”

Yusallia menelan pelan.

Matanya masih tertuju ke teh hangat di depannya.

“Gue…” suaranya keluar kecil, lalu hilang lagi.

Bryan menunggu.

Yusallia mengembuskan napas pelan, lalu mencoba lagi.

“Gue enggak tahu harus mulai dari mana.”

Bryan langsung menjawab, “Mulai aja dari yang paling bisa lo ucapin.”

Kalimat itu membuat Yusallia mengangkat pandangannya perlahan.

Bryan menatapnya lurus.

Tidak ada penilaian di sana.

Tidak ada tuntutan.

Hanya kekhawatiran yang semakin jelas.

Dan entah kenapa, justru itu yang hampir membuat pertahanannya runtuh.

Ia buru-buru menurunkan pandangan lagi.

Tangannya meraih cangkir teh, bukan karena ingin minum, tapi hanya butuh sesuatu untuk dipegang.

Hangatnya menempel di telapak tangan, namun tidak cukup untuk membuat tubuhnya benar-benar tenang.

“Gue takut.”

Kalimat itu keluar lebih jelas kali ini.

Bryan langsung diam.

Bukan karena terkejut, tapi karena ia tahu sekarang mereka benar-benar sudah masuk ke inti pembicaraan.

“Takut soal apa?” tanyanya, pelan.

Yusallia memejamkan mata sebentar.

Lalu membukanya lagi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap Bryan lebih lama.

Matanya terlihat lelah.

Lebih dari sekadar kurang tidur.

Lebih seperti seseorang yang sudah menahan terlalu banyak hal sendirian.

“Gue…” suaranya bergetar sangat tipis. “Gue hamil.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Sangat sederhana.

Sangat pendek.

Tapi begitu lepas, seluruh ruangan terasa seperti berhenti satu detik.

Bryan tidak langsung bergerak.

Tatapannya membeku sesaat.

Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kekhawatiran mendadak kosong, seperti butuh waktu untuk mengejar makna dari dua kata yang baru saja ia dengar.

“Hamil?”

Suara Bryan pelan.

Nyaris seperti refleks.

Yusallia mengangguk.

Gerakan kecil itu terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat.

Bryan menatapnya lekat-lekat.

Tidak berkedip selama beberapa detik.

Matanya turun ke tangan Yusallia yang masih memegang cangkir, lalu kembali ke wajahnya.

Warna wajah Bryan berubah sedikit.

Bukan marah.

Bukan juga panik.

Lebih seperti seseorang yang tiba-tiba menerima kenyataan yang terlalu besar tanpa persiapan.

“Yusa…” Ia berhenti. Menelan pelan. “Lo yakin?”

Pertanyaan itu keluar otomatis.

Sebagai harapan.

Sebagai penyangkalan kecil.

Sebagai cara paling manusiawi untuk menolak sesuatu yang datang terlalu mendadak.

Yusallia mengangguk lagi.

“Kemarin gue udah test.”

Bryan terdiam.

“Lebih dari satu?”

“Iya.”

“Dan…?”

“Semuanya positif.”

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Bryan menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi, seolah tubuhnya sendiri butuh ruang untuk memproses semuanya. Tangannya terangkat sebentar ke wajah, menekan pelan batang hidungnya, lalu jatuh lagi ke meja.

Ia tidak langsung bicara.

Dan Yusallia, yang sedari tadi berusaha menahan dirinya sendiri, justru merasa dadanya semakin sesak karena diam itu.

“Gue tahu ini mendadak,” katanya cepat, seolah perlu segera mengisi ruang kosong di antara mereka. “Gue juga enggak—gue juga enggak siap…”

Bryan langsung mengangkat kepala.

“Hey.”

Suaranya lebih tegas sekarang, meskipun tetap lembut.

“Jangan minta maaf.”

Yusallia terdiam.

Bryan menatapnya lama.

Kemudian, untuk pertama kalinya malam itu, kekhawatiran di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.

Protektif.

Terluka.

Dan sangat serius.

“Siapa?”

Pertanyaan itu keluar pelan.

Sangat pelan.

Namun terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin dihindari.

Jantung Yusallia berdetak lebih cepat.

Ia tahu pertanyaan itu akan datang.

Ia hanya tidak menyangka bahwa mendengarnya langsung dari mulut Bryan akan terasa seberat ini.

Bryan melihat perubahan kecil di wajahnya.

Dan itu saja sudah cukup membuat ekspresinya menegang.

“Yusa,” katanya lagi, lebih rendah kali ini. “Siapa?”

Yusallia menunduk.

Jari-jarinya kembali menggenggam cangkir lebih erat.

Hangatnya mulai memudar.

Sama seperti ketenangan kecil yang sempat ia rasakan ketika baru masuk tadi.

Ruangan itu tidak berubah.

Pelayan masih bergerak di kejauhan.

Beberapa pengunjung lain masih duduk dengan urusan mereka sendiri.

Musik pelan masih mengalun dari speaker di sudut ruangan.

Namun di meja mereka, suasana telah berubah total.

Bryan tidak lagi sekadar khawatir.

Ia benar-benar mulai takut pada jawaban yang akan ia dengar.

Dan Yusallia tahu, setelah ini, semuanya memang tidak akan pernah terdengar sama lagi.

1
@RearthaZ
pokoknya akan ada kejadian yang buat mereka akhirnya harus menikah
@RearthaZ
oke, kak
@RearthaZ
siapp, terima kasih yaa kak senior
@RearthaZ
terima kasih yaa udah mau baca cerita ku
@RearthaZ
okee, terima kasih yaa udah mau baca
@RearthaZ
iya, kayak red string Theory gitu
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!