Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Berganti.
Lalu, tanpa terlalu banyak pikir, ia mengangkat ponselnya sedikit. Mengarahkannya ke bawah. Klik. Foto. Kucing kecil itu tertangkap dalam layar—mengerut kecil di atas handuk, bulunya masih sedikit acak, tapi sudah jauh lebih kering.
Hana menatap hasil fotonya sebentar. Sudut bibirnya naik tipis. Ia masuk ke grup. Mengirim.
| /Ngirim gambar “Nemu tadi di depan rumah.”
Beberapa detik. Tidak ada balasan. Hana menghela napas kecil.
“Ya juga sih…” gumamnya. “Udah malam.”
Ia hampir menutup aplikasi— tapi notifikasi muncul dari Kenzo.
| Kenzo: “Itu dari mana?”
Hana sedikit mengangkat alis. Ia mengetik.
| “Depan rumah. Kehujanan.”
Beberapa detik.
| Kenzo: “Masih hidup?”
Hana langsung melirik ke bawah. Kucing itu masih tidur.
Napasnya pelan.
| “Masih.”
Balasan cepat.
| Kenzo: “Kecil banget.”
Hana tersenyum tipis.
| “Iya.”
Beberapa detik.
| Kenzo: “Jangan sampai mati di kamar kamu.”
Hana langsung mendecih pelan.
“…ih apaan sih,” gumamnya.
Ia mengetik agak cepat.
| “Enak aja. Udah aku keringin.”
Beberapa detik.
| Kenzo: “Ya bagus.”
| “Kasih makan?”
Hana melirik mangkuk kecil di samping. Kosong.
“Udah.”
Kenzo tidak langsung membalas. Lalu—
| Kenzo: “Jangan sampai dia kabur duluan.”
Hana berhenti. Menatap layar. Lalu melirik ke bawah lagi.
Kucing itu tetap diam. Tenang. Seolah tidak akan ke mana-mana.
“…nggak mungkin,” gumam Hana pelan.
Ia mengetik.
| “Nggak mungkin.”
Dikirim. Beberapa detik. Tidak ada balasan lagi. Hana menghela napas kecil. Lalu keluar dari chat. Ia membuka chat pribadi.
Hana sedikit menghembuskan napas. Ia mengunci ponselnya. Menaruhnya kembali di samping. Ia menyandarkan kepala ke dinding.
Menutup mata sebentar. Hening. Kali ini— tidak terlalu berat. Pikirannya masih bergerak. Tentang besok.
Tentang jam 4. Tentang rencana Arga yang belum jelas.
Dan tentang seseorang— yang mungkin masih melihat.
Ia membuka mata lagi. Menatap kucing itu.
“…jangan tiba-tiba hilang ya,” gumamnya pelan.
Kucing itu hanya bergerak sedikit. “Miew…”
Hana tersenyum tipis.
“Janji.”
Lampu dimatikan. Malam berlanjut.
Pagi datang tanpa suara. Tidak ada hujan. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, jatuh pelan ke lantai kamar.
Hana terbangun perlahan. Matanya mengerjap. Menyesuaikan.
Beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengingat di mana ia berhenti semalam. Lalu— ia menoleh ke samping. Tempat di mana kucing itu tadi tidur. Kosong. Hana mengernyit.
“Hah?”
Ia langsung duduk. Matanya menyapu lantai. Ke sudut kamar. Ke bawah meja. Tidak ada.
“Hei?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Hana berdiri cepat. Membuka sedikit pintu kamar. Melihat keluar. Sepi.
Ia kembali masuk. Menunduk, melihat ke bawah tempat tidur. Tidak ada. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Seriusan…?” gumamnya.
Ia berjalan ke meja. Melihat ke sekitar lagi. Tidak ada tanda-tanda. Hanya handuk yang sedikit berantakan.
Dan— mangkuk kecil. Kosong.
Hana berhenti. Menatap mangkuk itu. Ia ingat.
Tadi pagi—sebelum benar-benar bangun, ia sempat setengah sadar. Memberi susu lagi. Kucing itu minum. Pelan. Lalu ia… kembali tidur.
“Terus…” gumamnya pelan.
Hana menelan ludah. Matanya bergerak lagi. Ke jendela.
Tertutup. Ke pintu. Tadi malam tertutup.
“Nggak mungkin…”
Ia menghela napas pendek. Lalu duduk pelan di tepi tempat tidur. Tangannya jatuh ke samping. Kosong.
“Pergi ya,” gumamnya.
Ia menatap lantai. Beberapa detik. Lalu menghela napas panjang.
“Ya udah,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak marah. Tidak juga sedih berlebihan.
Lebih ke… menerima.
“Memang bukan buat di sini.”
Ia tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Setidaknya sempat hangat ya.”
Hana berdiri lagi. Berjalan ke meja. Mengambil ponselnya.
Layar menyala. Grup. Arga masih belum muncul. Kenzo sudah ada.
| Kenzo: “Bangun.”
| Kenzo: “Jangan telat.”
Hana menatap itu sebentar. Lalu mengetik.
| “Udah.”
Dikirim. Beberapa detik.
| Kenzo: “Kucingnya?”
Hana berhenti. Menatap layar. Lalu mengetik pelan.
| “Kabur.”
| Kenzo: “Serius?”
| “Iya.”
Beberapa detik.
| Kenzo: “Tadi malam yakin pintu ketutup?”
Hana mengerjap. Matanya langsung bergerak ke arah pintu kamar. Tertutup.
“Iya,” gumamnya pelan.
Ia mengetik. “Iya.”
Kenzo tidak langsung membalas. Beberapa detik.
Lalu—
| Kenzo: “Aneh.”
Hana menatap kata itu. Diam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Aneh?” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke sekitar kamar lagi. Kosong. Sunyi.
Terlalu biasa— sampai terasa tidak biasa. Beberapa detik kemudian, Arga akhirnya muncul.
| Arga: “Pagi.”
Hana langsung mengetik.
| “Pagi.”