Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Malam Pertama Bisikan dari Lubang Tungku
Suasana di dapur Kedai Mie Alung makin mencekam. Della duduk bersila di atas lantai ubin yang dingin, tangan kanannya menggenggam Kunci Emas, sementara mata kirinya tertutup rapat oleh kain kafan hitam.
"Del, pokoknya jangan dilepas. Inget kata Koh Alung, ini tes kebatinan loe," bisik Geri sambil berdiri siaga di depan Della.
Sasha yang duduk di meja dapur tiba-tiba menegang. "Del... HP gue bunyi. Ada telepon dari nyokap loe."
Della tersentak. "Jangan diangkat, Sha! Mama kan lagi di Bandung urusan keluarga, nggak mungkin nelpon jam segini!"
Sasha gemetar, tapi layarnya menyala terang di tengah kegelapan dapur. Disana tertulis: "Mama Della Calling...". Karena panik, Sasha nggak sengaja mencet tombol loudspeaker.
"Della... Néng... ini Mama, Del... Mama udah di depan kedai Koh Alung. Kok gelap banget? Bukain pintunya, sayang... Mama kedinginan..."
Suara itu persis banget sama suara Mama Della. Lembut, tapi ada nada cemas yang bikin hati Della mencelos. Della nyaris berdiri, tangannya refleks mau ngebuka ikatan kain di matanya karena panik mikirin Mamanya yang (katanya) ada di luar.
"Jangan, Del! Itu tipuan!" Koh Alung membentak. "Mama kamu aman di Bandung. Itu mah 'penunggu' Cikidang yang niru suara!"
Tiba-tiba, dari dalam lubang tungku besar tempat merebus mie, terdengar suara gesekan logam.
Sreeek... sreeek...
Bukannya asap, kali ini keluar cairan hitam kental yang baunya kayak oli mesin kadaluarsa. Dari cairan itu, muncul sesosok wanita yang pake baju persis kayak yang dipake Mama Della di foto profil WhatsApp-nya. Tapi, pas sosok itu nengok, wajahnya rata. Nggak ada mata, nggak ada hidung, cuma ada lubang kecil di bagian mulut yang terus-terusan ngeluarin suara rekaman telepon tadi.
"Bukain pintunya, Del... Mama kedinginan..."
Sosok itu merangkak keluar dari tungku dengan gerakan patah-patahan. Tangannya yang pucat dan licin karena oli mencoba meraih kaki Della.
"PERGI! JANGAN DEKETIN TEMEN GUE!" Geri langsung ngehantem tungku itu pake kunci pipanya. TANG! Percikan api muncul, dan sosok muka rata itu menjerit melengking sebelum akhirnya mencair jadi genangan oli di lantai.
BRAAAKKK!
Belum sempat napas lega, jendela dapur hancur. Sosok Pria Berbaju Pangsi yang badannya gede banget loncat masuk. Dia nggak bawa golok kali ini, tapi mawa rantai motor karatan yang ujungnya ada gir tajem.
"Geri! Jaga Della! Ini bagian urang!" Koh Alung maju, dia mengambil pisau pemotong daging yang sudah ditempelin jimat kertas merah.
Duel pecah di dapur yang sempit. Geri ikut membantu, dia make sisa-sisa keberaniannya buat nangkis rantai si Pangsi. "Sha! Siram pake air garam!" teriak Geri.
Sasha dengan tangan gemetar siram segelas air garam ke arah si Pangsi. Pas kena kulitnya, muncul suara mendesis kayak daging dipanggang. Si Pangsi ngerang kesakitan, tapi dia tetep maksa nangkep Della.
Della yang matanya ditutup ngerasa hawa dingin yang luar biasa di belakang punggungnya. Dia ngerasa ada jari-jari kecil yang ngeraba-raba ikatan kain kafan di kepalanya.
"Buka, Della... liat Papa kamu... Papa kamu lagi disiksa di dalam spion..." Bisikan itu lembut tapi bikin merinding, suara Bibi Mei yang asli.
Della ngerasa kain di matanya mulai melonggar. Ada kuku-kuku tajam yang nyelip di balik kain itu, mau nyongkel mata kirinya secara paksa.
"Gue nggak akan buka! Lunas! Sudah lunas!" Della teriak sambil memegang Kunci Emas kuat-kuat sampai tangannya berdarah karena neken pinggiran kunci yang tajam.
Tiba-tiba, suara raungan "Si Creamy" di luar kedai makin kenceng. Motor itu kayak lagi di gebuk-gebukin sama sesuatu yang gede. Della bisa denger suara bodi motor kesayangannya itu pecah.
KRAAAKK!
"Del, jangan kepancing! Si Creamy cuma wadah, nyawa lo lebih penting!" Geri teriak sambil nahan hantaman rantai si Pangsi yang makin brutal.
Della nangis di balik kain hitamnya. Dia denger suara Papa nya yang koma di ruang tengah tadi tiba-tiba ketawa cekikikan. Suara ketawa yang bukan suara manusia.
Malam pertama baru berjalan setengahnya.
Di luar kedai, langit Sukabumi bukannya makin terang nunggu subuh, malah makin gelap ketutup kabut item yang dibawa dari Karang Hawu.
Della terus mendekap Kunci Emas di dadanya. Dadanya sesak, napasnya tersengal-sengal karena hawa dingin yang makin menekan. Di balik kain kafan hitam yang menutup mata kirinya, Della merasa dunianya berguncang. Suara tawa cekikikan dari arah ruang tengah tempat ayahnya, Koh Adnan, dibaringkan makin melengking, berubah menjadi suara parau yang menyerupai gesekan logam karatan.
"Ger... Papa, Ger! Papa kenapa?!" Della berteriak tanpa berani membuka mata.
Geri melirik ke arah pintu penghubung dapur. Wajahnya yang penuh peluh mendadak pias. "Del, jangan nengok! Fokus aja! Koh Alung lagi nahan di sana!"
Si Pria Berbaju Pangsi itu makin beringas. Rantai motor di tangannya diayunkan secara membabi buta, menghancurkan rak-rak berisi botol kecap dan saus. Bau kedai kini campur aduk antara aroma amis dan cuka yang tumpah.
TANG!
Geri berhasil menangkis gir tajam di ujung rantai menggunakan kunci pipanya, tapi tenaga si Pangsi terlalu besar. Geri terpental, bahunya menghantam meja kayu dengan keras.
"Geri!" Sasha menjerit. Dia melihat si Pangsi mulai melangkah mendekati Della yang masih bersila.
Koh Alung, dengan gerakan yang masih gesit meski sudah tua, menusukkan pisau pemotong dagingnya ke arah punggung si Pangsi. "Sia teh geus maot, balik deui ka asal! (Kamu itu sudah mati, balik lagi ke asal!)" teriak Koh Alung.
Sasha yang sedang ketakutan di atas meja tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang menarik-narik ujung celana jeansnya. Dia memberanikan diri melirik ke kolong meja.
Dari kegelapan kolong meja, muncul sebuah kepala tanpa badan yang kulitnya sudah keriput seperti jeruk purut. Kepala itu menggelinding keluar, lalu berhenti tepat di bawah kaki Sasha. Matanya yang kuning menatap Sasha, sementara mulutnya yang lebar terbuka lebar, memperlihatkan puluhan gigi manusia yang ditanam secara acak.
"Pinjem kakinya, Néng... buat jalan... penat..."
"AAAAAA! GERIIII!" Sasha menendang kepala itu sekuat tenaga sampai terpental ke arah dinding. Kepala itu pecah, tapi bukan mengeluarkan darah, melainkan mengeluarkan ratusan kecoa hitam yang langsung merayap cepat ke arah Della.
Della merasakan ribuan kaki kecil kecoa mulai merayap naik ke kakinya, menyusup ke balik jaket varsity-nya. Rasa gatal dan geli yang luar biasa membuatnya ingin sekali mengibaskan tubuhnya dan membuka mata.
"Della... buka sedikit aja... cuma mata kiri kamu yang bisa mengusir serangga ini..." Suara Bibi Mei terdengar sangat intim, seolah-olah dia sedang memeluk Della dari belakang.
Kain kafan hitam di mata Della terasa ditarik oleh kuku-kuku kecil. Della bisa merasakan ujung kain itu sudah terangkat, menyisakan sedikit celah cahaya.
"Nggak! Pergi kamu, Bi!" Della merapal doa-doa yang pernah diajarkan almarhum kakeknya.
Tiba-tiba, suara deru mesin Si Creamy di luar kedai berhenti. Hening sejenak, lalu terdengar suara benturan keras di pintu depan.
BRAAAK! BRAAAK!
"Koh! Garis beras merahnya pecah!" Geri berteriak panik saat melihat beras merah yang ditabur Koh Alung mulai berhamburan tertiup angin gaib yang masuk lewat jendela yang hancur.
Dari celah pintu depan, muncul kabut hitam yang sangat pekat. Kabut itu membawa suara-suara tangisan dari masa lalu Sukabumi suara orang-orang yang hilang dalam perjanjian tumbal keluarga-keluarga kaya di sana.
Koh Alung terengah-engah, bajunya robek terkena sabetan rantai si Pangsi. "Geri, bawa Della ke lantai dua! Di sini udah nggak aman! Si Pangsi mawa balad (si Pangsi bawa pasukan)!"
Geri langsung menyambar tangan Della. "Ayo, Del! Pegang pundak gue, jangan lepas! Sha, ikut di belakang!"
Saat mereka menaiki tangga kayu yang berderit, Della merasakan sebuah tangan dingin mencengkram pergelangan kakinya dari sela-sela anak tangga. Cengkramannya sangat kuat sampai meninggalkan bekas biru kehitaman.
"Moal bisa lumpat... (Nggak akan bisa lari...)"
Della menahan sakitnya tanpa mengeluarkan suara. Dia tahu, kalau dia berteriak dan kehilangan fokus, mata kirinya akan menjadi milik mereka selamanya.
Di puncak tangga, dia sempat mendengar suara Koh Alung yang berteriak di bawah, diikuti suara dentuman benda berat yang jatuh.
Malam pertama di Kedai Koh Alung baru saja memasuki puncaknya.
Dan di luar sana, langit Sukabumi seolah menangis, menurunkan hujan yang baunya seperti karat besi.