Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.
Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.
Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.
Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKT 2: Chapter 35
Yan Jian kembali berkumpul bersama rekan-rekannya dari Provinsi Chang Yuan, sedangkan Feng Xian berlalu pergi entah kemana. Dan saat itu, Tetua Huo Li mengumumkan nama-nama yang lolos ke babak delapan besar kompetisi tahap kedua.
Di grup pertama ada Yan Jian dari Provinsi Chang Yuan, Wang Yuxiu dari Provinsi Teratai Api, Ma Yan dari Provinsi Sungai Api, Zhang Feng dari Provinsi Xuan Yuan, Qing Hua dari Provinsi Laut Selatan, Yao Zhetian dari Provinsi Teratai Api, Lu Dong dari Provinsi Api Perak, dan Chu Chen dari Ibu Kota kekaisaran.
Saat itu, kedelapan nama telah ditentukan. Yan Jian akan menghadapi Ma Yan, seorang praktisi Ranah Nirvana bintang enam dari Provinsi Sungai Api, sekaligus dari Aula Darah.
Wang Yuxiu mendapatkan Chu Chen sebagai lawannya. Yao Zhetian menghadapi Lu Dong, dan Qing Hua menghadapi Zhang Feng.
Tetua Huo Li pun menyatakan bahwa pertarungan pertama di grup pertama yaitu pertarungan Yan Jian melawan Ma Yan. Dan saat itu, Yan Jian pun memasuki arena pertarungan dengan langkah yang tenang. Di dalam arena, Ma Yan sudah menunggunya.
Setelah beberapa saat, Tetua Huo Li pun mengumumkan, "Pertarungan pertama babak delapan besar kompetisi tahap kedua, antara Yan Jian melawan Ma Yan, di mulai!"
Sorak-sorai para penonton bergemuruh dari tribun. Tetapi di arena pertarungan, Ma Yan memandang sinis terhadap Yan Jian, sebab Yan Jian adalah target utama dari mereka yang berasal dari Aula Darah.
Ma Yan menghentakkan sebelah kakinya di atas lantai tembok, Arena Pertarungan seketika berubah, Hujan Darah sudah tidak lagi layak disebut arena. Dinding batu bata yang pernah berdiri gagah kini retak-retak seperti kulit ular yang mengelupas. Lantai berpola naga kuno retak membentuk celah-celah hitam yang menelan cahaya. Langit di atas sana, yang tadinya biru cerah, kini berubah merah darah pekat, seolah Sungai Darah Ma Yan telah meracuni langit itu sendiri. Angin menderu ganas, bercampur petir yang menggelegar tanpa henti. Setiap hembusan angin membawa serpihan es yang tajam seperti pisau, dan setiap petir menyambar meninggalkan jejak kehampaan yang robek-robek.
Di tengah puing-puing itu, dua sosok berdiri saling berhadapan.
Yan Jian, pemuda berpakaian hitam keunguan dengan mata biru es, menyikapi sikap Ma Yan tanpa sedikit rasa takut, ia menggenggam pedang karat yang ujungnya memancarkan kabut dingin. Aura Permaisuri Es nya sudah mulai merembes keluar, rambutnya memutih seketika, seolah rambut es kristal. Di belakangnya, bayangan samar naga hitam melingkar, mata merahnya menyala seperti api ungu yang membekukan.
"Ho hoo... ternyata seorang praktisi dengan Jiwa Bela Diri ganda!" seru Ma Yan, dengan nada yang sinis.
Di seberangnya, Ma Yan menyeringai lebar. Tubuhnya ditutupi lapisan darah kental yang mengalir seperti sungai hidup. Matanya merah darah, lidahnya menjulur sedikit seperti ular. Tombak darahnya yang panjang meneteskan cairan racun ungu yang menggerogoti udara.
"Bisa-bisanya kau bertarung sebanding melawan Senior Wu, tapi bertemu denganku, adalah takdir sialmu, bocah lemah!" ejek Ma Yan sambil memutar tombaknya. Suaranya bercampur dengung seperti ribuan ular mendesis. "Darahku sudah mendidih sejak awal. Satu tusukan, dan kau akan jadi pupuk untuk roh ularku!" sambungnya, dengan nada yang sinis.
Yan Jian hanya tersenyum tipis. Lalu berkata, "Omong kosong! Terlalu banyak bicara!"
Tanpa aba-aba, Yan Jian menghilang. Suara petir menggelegar. Angin berputar membentuk tornado kecil di tempat Yan Jian berdiri tadi. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berada tepat di depan Ma Yan, pedangnya terhunus dari samping dengan kecepatan yang merobek udara, memperlihatkan ruang kehampaan.
Ma Yan tertawa keras. "Terlalu lambat!"
"Dinding Darah Tujuh Lapis!"
Tujuh lapisan dinding darah merah pekat muncul di depannya seperti perisai hidup. Pedang Yan Jian menghantam lapisan pertama, "Trang!" darah menyembur seperti air mancur, tapi lapisan kedua hingga ketujuh masih utuh. Getaran kekuatan membuat lantai batu bata di bawah kaki mereka retak lebih dalam. Celah kehampaan mulai terbuka, seperti mulut hitam yang lapar.
"Jenius terkuat Provinsi Chang Yuan hanya seperti ini saja! Kini giliranku!" Ma Yan meraung. "Tombak Darah!"
Tombak darahnya memanjang tiba-tiba menjadi sepuluh meter, ujungnya berubah menjadi kepala ular raksasa yang menganga. Tusukan itu datang seperti kilat merah. Yan Jian memutar tubuhnya di udara, angin dan petir membungkusnya seperti jubah.
"Lonceng Emas!"
Lonceng emas berdentang di Istana Kekaisaran Api Agung, Dentang lonceng emas yang nyaring menggema. Tubuh Yan Jian dikelilingi cahaya emas berbentuk lonceng raksasa. Tombak darah menghantam lonceng itu, "Krang!" getaran suara membuat dinding arena runtuh total. Batu bata beterbangan seperti hujan. Tapi lonceng emas hanya retak sedikit.
Ma Yan menyeringai lebih lebar. "Kau mengandalkan pertahanan murahan itu? Lihat ini!"
Dia menampar dadanya sendiri. Darah menyembur keluar membentuk sungai merah yang mengalir di udara.
"Sungai Darah!" ucap Ma Yan lagi, suaranya meraung seperti binatang buas.
Sungai darah itu meliuk-liuk seperti ular raksasa, menelan Yan Jian dari segala arah. Bau amis darah menusuk hidung. Setiap tetes darah mengandung racun yang bisa melarutkan tulang. Langit semakin merah gelap. Petir di atas sana semakin ganas, seolah marah melihat kekacauan ini.
Yan Jian menggertakkan gigi. Dingin abadi mulai menyebar dari tubuhnya.
"Api Dingin Abadi!"
Dari punggungnya, naga hitam raksasa muncul sepenuhnya. Sisiknya hitam pekat, mata ungu menyala. Api ungu yang dingin menyembur dari mulut naga itu, bukan api panas, melainkan api yang membekukan segalanya. Suhu arena langsung jatuh puluhan derajat. Es hitam ungu menyelimuti Sungai Darah Ma Yan, membekukannya setengah jalan. Tetesan darah yang tadinya cair kini menjadi kristal es yang rapuh.
"Apa ini?!" ucap Ma Yan dengan sangat terkejut. "Roh Bela Diri Ular Darah... keluar!"
Bayangan ular darah raksasa melilit tubuh Ma Yan. Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar, menyemburkan racun ungu tebal yang langsung menyerang naga hitam Yan Jian.
Keduanya bertabrakan di udara. "Boom!" ledakan energi membuat langit retak. Celah kehampaan semakin banyak, seperti kaca yang pecah. Potongan-potongan ruang hitam mengisap udara, menarik batu bata dan serpihan es ke dalamnya. Badai angin semakin kencang, petir menyambar tanpa henti di antara celah-celah itu.
Yan Jian mendarat di lantai yang sudah hancur total. "Kau memang sangat kuat, Ma Yan. Tapi, ingin mengalahkanku dengan kemampuan seperti itu... cih, mimpi!"
Yan Jian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Kabut es mengalir dari bilah pedang, membentuk pola salju abadi. "Pedang Nol Derajat!" ucap Yan Jian dengan nada yang sangat dingin.
Satu ayunan. Dunia seolah berhenti. Suhu turun hingga titik nol mutlak. Es eskrim, es yang begitu dingin hingga terasa seperti api membakar, menyapu ke arah Ma Yan. Segala sesuatu yang disentuh pedang itu membeku: udara, darah, bahkan racun ular. Ma Yan terpaksa mundur, Dinding Darah Tujuh Lapisnya retak satu per satu.
"Racun Ular!" Ma Yan meraung, menusukkan tombak racunnya ke tanah. Racun ungu menyebar seperti kabut, mencoba meracuni es Yan Jian. Tapi es itu terlalu dingin, racun membeku sebelum menyentuh tubuh Yan Jian.
Ma Yan tersenyum bengis. "Sial! Selain Senior Wu Hao... kau adalah orang pertama yang memaksaku bertarung hingga tahap seperti ini!"
"Roh Bela Diri Ular Darah, Bentuk Sejati!"
Ular darah raksasa sepenuhnya keluar. Tubuhnya sepanjang lima puluh meter, sisiknya terbuat dari darah kental yang mengalir. Mulutnya menganga, menelan seluruh Sungai Darah tadi ke dalam tubuhnya. Ular itu meluncur ke arah Yan Jian dengan kecepatan mengerikan, racun menetes dari taringnya.
Yan Jian menatap dingin. "Baiklah. Saatnya mengakhiri pertarungan ini!"
Di belakangnya, bayangan kedua roh bela diri muncul bersamaan: Naga Hitam dan Permaisuri Es yang cantik tapi mematikan. Permaisuri Es mengangkat tangannya, kepingan salju abadi turun dari langit yang sudah merah darah.
"Roh Bela Diri Permaisuri Es, Kekuatan Ruang Es!"
Pedang Nol Derajat Yan Jian bergetar. Ruang di sekitar ujung pedang robek. Celah kehampaan yang tadinya kecil kini membesar menjadi jurang hitam raksasa. Es eskrim bercampur kekuatan ruang, setiap potongan es yang dilemparkan Yan Jian bukan hanya membekukan, tapi juga memanggil kehampaan untuk melahap segalanya.
"Tombak Racun!" Ma Yan menusukkan tombaknya dengan sekuat tenaga.
Tapi Yan Jian sudah bergerak.
Menggunakan Langkah Petir Angin dan Pedang Nol Derajat!
Tubuhnya berubah menjadi bayangan petir dan angin. Dalam sekejap, dia muncul di atas kepala ular darah raksasa. Pedangnya terayun satu kali "Slash!"
Es ekstrim yang bercampur celah ruang menghantam tubuh ular itu. Ular darah meraung kesakitan. Setengah tubuhnya membeku menjadi es hitam ungu, setengah lagi tersedot ke dalam celah kehampaan. Darah menyembur ke segala arah, tapi langsung membeku menjadi kristal merah yang jatuh seperti hujan es darah.
Ma Yan memuntahkan darah. "Tidak mungkin... kekuatanku ...?!"
Dia masih mencoba bangkit, tombak racunnya terangkat lagi. "Aku belum kalah!" Ma Yan Meraung.
Yan Jian mendarat di depannya. Pedangnya sudah menyentuh leher Ma Yan. Dingin yang ekstrim membuat Ma Yan tak bisa bergerak. Di belakangnya, arena sudah benar-benar hancur, hanya puing-puing batu bata, celah kehampaan, dan badai es-petir yang masih mengamuk.
"Pertarungan ini sudah selesai!" kata Yan Jian pelan, suaranya dingin seperti angin musim dingin. "Darahmu memang kuat, tapi es abadiku lebih dingin dari kematian itu sendiri."
Ma Yan tersenyum lemah, darah menetes dari mulutnya. "Kau... dasar monster!"
Langit merah darah mulai pudar. Petir berhenti menggelegar. Tapi celah kehampaan masih menganga di atas langit arena, seolah mengingatkan bahwa pertarungan ini telah merobek ruang itu sendiri.
Yan Jian menarik pedangnya. "Kau masih hidup karena aku ingin kau melihat... betapa jauh perbedaan di antara kita. Tingkatan ranahmu boleh saja lebih tinggi, tapi aku tidak akan pernah kalah oleh orang-orang sepertimu, bahkan jika Wu Hao sendiri yang turun ke arena, aku pastikan aku akan membuatnya berlutut di hadapanku!'
Yan Jian berbalik, langkahnya ringan di antara puing-puing. Di belakangnya, Ma Yan ambruk ke tanah, tubuhnya setengah membeku, darahnya membeku menjadi patung es darah yang indah sekaligus mengerikan.
Angin masih berhembus. Es masih turun. Dan di langit yang mulai kembali biru, bayangan naga hitam dan Permaisuri Es masih melayang samar.