Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Serangan Pertama
Pagi itu, suasana di kantor pusat Wicaksana Corp terlihat normal. Orang-orang bekerja seperti biasa. Layar komputer menyala. Telepon berdering. Rapat kecil berjalan di beberapa ruangan.
Namun di balik itu, ada sesuatu yang mulai bergerak. Di salah satu ruang rapat kecil, Zaka berdiri di ujung meja. Beberapa orang duduk menghadapnya. Wajah-wajah yang tidak asing. Manajer senior. Kepala divisi. Dan beberapa orang lama yang sudah bekerja sejak sebelum restrukturisasi.
Zaka menyilangkan tangan. “Kalian sudah dengar keputusannya.”
Salah satu pria di meja mengangguk. “Tentang posisi direktur utama…”
“Ya,” potong Zaka. Nada suaranya datar tapi ada tekanan di dalamnya. “Dan kalian juga tahu siapa yang mengambil alih.”
Pria lain berkata hati-hati, “Langit memang punya kapasitas…”
Zaka tertawa pendek. “Kapasitas?”
Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu. “Aku yang membangun tim ini.”
Tidak ada yang menyanggah.
“Dan sekarang,” lanjutnya pelan
“Semuanya diambil begitu saja.”
Seorang wanita di ujung meja membuka suara, “Kami tetap di posisi kami, Pak.”
Zaka tersenyum tipis. “Untuk sekarang… Pertanyaannya…” tatapannya tajam. “Kalian mau tetap di sisi siapa?”
Suasana langsung berubah. Tidak ada yang langsung menjawab. Namun keheningan itu sudah cukup memberi jawaban.
Di tempat lain, Pak Aksa duduk santai di sebuah lounge eksklusif. Gelas minuman dingin di tangannya. Ponsel di telinganya.
“Ya,” katanya ringan. “Kita mulai dari yang kecil saja.”
Suara di seberang menjawab sesuatu.
Aksa tersenyum. “Tidak perlu langsung besar. Cukup… ganggu ritmenya.”
Ia menatap keluar jendela. “Dan soal berita…” lanjutnya. “Angkat lagi isu lama itu.”
Pak Aksa mengangguk mendengarkan perkataan lawan bicaranya. “Ya betul
.. Yang tentang klaim asuransi yang tertunda itu. Tidak perlu terlalu jelas. Cukup dibuat seolah-olah itu kesalahan sistem.”
Aksa mematikan teleponnya. “Main pelan dulu,” gumamnya.
Siang itu, di ruang kerja Direktur Utama Wicaksana Insurance, Langit berdiri di depan meja. Map laporan terbuka di tangannya. Dua orang manajer berdiri di depannya dengan wajah tegang.
“Ulangi,” kata Langit tenang.
Salah satu dari mereka menelan ludah. “Proyek kerja sama dengan RS Harapan Medika… tertunda, Pak.”
“Kenapa?”
“Tim operasional mengatakan ada kesalahan data pada sistem klaim.”
Langit mengernyit sedikit. “Kesalahan seperti apa?”
“Beberapa data nasabah tidak sinkron. Jadi proses klaim tidak bisa dilanjutkan.”
Langit menutup map perlahan. “Berapa banyak?”
“Sekitar… tiga puluh persen dari total data.”
Langit menatap mereka berdua. “Dan kalian baru melaporkannya sekarang?”
Manajer itu terlihat gugup. “Kami baru menerima laporan lengkap pagi ini, Pak.”
Langit tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan ke arah jendela. Tangannya masuk ke saku celana. “Siapa yang bertanggung jawab atas sistem itu?”
“Divisi IT dan operasional, Pak.”
Langit mengangguk kecil. “Panggil mereka.”
“Iya, Pak.”
Kedua orang itu segera keluar. Langit masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap keluar. Tapi pikirannya jelas tidak di sana.
Beberapa jam kemudian, ruang rapat kembali terisi oleh tim IT, tim operasional. dan beberapa kepala divisi. Meilina duduk di sisi kanan Langit, terlihat tenang seperti biasa.
“Jelaskan,” kata Langit singkat.
Salah satu staf IT membuka laptopnya. “Kami menemukan ada perubahan data pada server utama. Namun log-nya tidak lengkap.”
Langit menoleh. “Tidak lengkap?”
“Seperti… ada bagian yang dihapus.”
Meilina mengangkat alis sedikit. “Dihapus?”
“Ya.”
Langit menyandarkan punggungnya ke kursi. “Siapa yang punya akses ke server itu?”
Beberapa nama disebutkan.
Langit mendengarkan tanpa memotong.
Setelah selesai, ia berkata, “Perbaiki dalam dua hari.”
Semua orang terlihat terkejut.
“Pak… dua hari terlalu–”
“Dua hari,” ulang Langit. Nada suaranya tetap tenang. Tapi tidak bisa dibantah.
“Dan satu lagi,” lanjutnya. “Mulai sekarang, semua akses ke sistem akan diaudit.”
Beberapa orang langsung saling pandang.
Meilina tersenyum tipis. “Keputusan yang cepat.”
Langit tidak menoleh. “Kita tidak punya waktu untuk lambat.”
Rapat berakhir tidak lama setelah itu. Satu per satu orang keluar. Tersisa Langit dan Meilina di dalam ruangan.
Meilina menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kamu langsung menekan dari awal.”
Langit menutup map di depannya. “Masalahnya sudah jelas.”
“Belum tentu,” balas Meilina ringan.
Langit akhirnya menoleh. “Maksudmu?”
Meilina menatapnya lurus. “Kesalahan sistem bisa terjadi.”
“Tidak sebesar ini.”
“Benar,” jawab Meilina.
Hening sejenak, lalu Meilina berkata pelan, “Atau… memang dibuat terjadi.”
Langit tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah sedikit lebih tajam. “Dan kamu langsung berpikir seperti itu?” tanyanya.
Meilina tersenyum tipis. “Aku hanya mempertimbangkan semua kemungkinan.”
Langit berdiri. “Kalau itu disengaja… berarti ada orang di dalam.”
Meilina tidak menyangkal. “Dan orang itu… Tidak bekerja sendirian.”
Langit tidak menjawab lagi. Namun ekspresinya sudah berubah.
Sore itu, berita mulai bermunculan di beberapa portal online.
“Keluhan Nasabah Wicaksana Insurance Meningkat”
“Gangguan Sistem Klaim Diduga Hambat Layanan”
Tidak besar. Tidak heboh. Tapi cukup untuk menarik perhatian.
Di ruangannya, Zaka membaca berita itu di ponselnya. Senyumnya perlahan muncul. “Baru mulai,” gumamnya.
Pintu terbuka tanpa diketuk. Pak Aksa masuk dengan santai. “Sudah lihat?”
Zaka mengangkat ponselnya sedikit. “Bagus.”
Pak Aksa duduk di kursi seberangnya. “Reaksi Langit?”
“Belum tahu,” jawab Zaka.
Pak Aksa tersenyum. “Dia pasti mulai curiga.”
Zaka menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Bagus. Biar dia sibuk memadamkan api.”
“Dan kita?” tanya Pak Aksa.
Zaka menatapnya. “Kita tambah api itu.”
Pak Aksa tertawa kecil. “Pelan-pelan.”
Zaka mengangguk. “Tentu… Ini baru serangan pertama.”
Malam itu, Langit masih berada di ruang kerjanya. Laporan-laporan terbuka di depannya. Beberapa halaman sudah ia tandai. Data. Angka. Waktu.
Semuanya ia cocokkan satu per satu. Tangannya berhenti di satu halaman. Matanya menyipit sedikit. Ia membuka laptop. Mengakses sistem internal.
Beberapa menit berlalu.
Lalu satu hal menjadi jelas. Perubahan data itu tidak acak. Polanya rapi. Terlalu rapi untuk disebut kesalahan.
Langit bersandar perlahan. Tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya dingin.
Ia menatap laporan itu lama. Lalu berkata pelan, hampir seperti gumaman. “Ini bukan kesalahan…. ini disengaja.”
Langit sadar sesuatu telah dimulai. Tapi kali ini Langit tidak akan tinggal diam.
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲