NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesona Ratri

Desa Karang Jati yang biasanya sunyi oleh ketakutan-ketakutan ghaib yang mulai merayap, tiba-tiba berubah menjadi lautan keramaian. Pak Haji Mansur, salah satu orang terpandang sekaligus tuan tanah terkaya di wilayah itu, sedang menggelar hajatan besar-besaran untuk merayakan pernikahan anak bungsunya. Tak tanggung-tanggung, pesta itu direncanakan berlangsung selama tiga hari tiga malam dengan hiburan panggung orkes melayu dan pertunjukan wayang kulit yang mengundang tamu dari desa-desa sebelah hingga pelosok kabupaten.

Umbul-umbul berwarna-warni berkibar di sepanjang jalan utama. Aroma masakan dari dapur umum yang mengepulkan asap kawah menyatu dengan aroma parfum murah para pemuda desa yang sudah bersiap mencari jodoh. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah mobil sedan hitam mewah yang mengkilap perlahan memasuki area parkir khusus tamu undangan penting.

Pintu mobil terbuka, dan seketika itu juga, atmosfir di sekitar gerbang masuk hajatan seolah membeku.

Seorang wanita turun dengan keanggunan yang tidak manusiawi. Ratri datang memenuhi undangan itu. Ia mengenakan dress panjang berbahan beludru berwarna merah marun yang sangat gelap, hampir menyerupai warna darah kering. Model pakaiannya cukup berani untuk ukuran desa; dengan tali bahu yang tipis dan belahan di samping rok yang memperlihatkan sedikit jenjang kakinya yang putih porselen setiap kali ia melangkah dengan sepatu hak tingginya. Rambutnya disanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajahnya. Riasan wajahnya tampak flawless, soft natural, namun justru karena itulah kecantikannya memancar begitu kuat hingga terasa menindas.

Langkah kaki Ratri yang mantap di atas karpet merah membuat semua mata tertuju padanya. Percakapan di meja-meja prasmanan terhenti. Para pemuda yang sedang merokok di pinggir tenda menjatuhkan puntung rokok mereka tanpa sadar.

"Siapa itu? Tamu dari kota ya?" bisik seorang pemuda dengan mata melotot.

Warga desa, bahkan mereka yang dulu ikut melempari rumahnya dengan batu, tidak menyadari bahwa wanita di hadapan mereka adalah Ratri. Ratri yang dulu mereka hina sebagai wanita pembawa sial, yang mereka permalukan di depan umum, kini telah bertransformasi menjadi sosok yang begitu berkilauan sekaligus mengintimidasi. Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan atau kerutan penderitaan di wajahnya; yang ada hanyalah raut wajah tenang yang menyimpan misteri sedalam samudra.

Ratri berjalan perlahan menuju kursi undangan, aroma melati yang kental dan sangat harum mengikuti setiap gerakannya. Aroma itu seolah membius saraf siapa pun yang berada dalam radius beberapa meter darinya.

Segera saja, para lelaki hidung belang, duda-duda kaya dari desa sebelah, bahkan beberapa perangkat desa yang sudah beristri, mencoba mendekatinya. Mereka seolah kehilangan akal sehat, berebut ingin menyapa atau sekadar menawarkan minuman kepada wanita asing yang memesona ini.

"Selamat siang, Mbak. Sepertinya baru pertama kali lihat di sini? Dari keluarga mana kalau boleh tahu?" tanya seorang pria tambun yang dikenal sebagai tengkulak gabah sukses, sambil memamerkan gigi emasnya.

Ratri hanya menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang sangat singkat—senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan gerakan tangan yang halus namun tegas, ia menepis halus setiap upaya mereka untuk mengobrol lebih jauh. Keangkuhannya justru membuat para lelaki itu semakin penasaran dan gila. Mereka merasa tertantang untuk menaklukkan wanita yang terlihat begitu berkelas dan sulit digapai ini.

"Edan .... cantik sekali. Seperti bidadari turun dari kayangan," gumam seorang duda yang terus mengekor di belakang Ratri dengan tatapan lapar.

Namun, jika para lelaki itu terpikat, lain halnya dengan para ibu-ibu yang hadir. Di sudut tenda, gerombolan wanita desa mulai berbisik-bisik dengan nada sinis. Wajah mereka menunjukkan ketidaksukaan yang terang-terangan.

"Lihat itu pakaiannya, tidak tahu malu! Datang ke hajatan orang tapi dandanannya seperti mau ke diskotek," bisik salah seorang ibu sambil menyikut temannya.

"Benar! Lihat cara dia berjalan, sengaja sekali menggoda suami orang. Lihat itu Pak RT dan para bapak-bapak, matanya sampai tidak berkedip. Ini bisa jadi bencana kalau dia lama-lama di sini. Perempuan seperti itu biasanya hanya mencari mangsa," timpal yang lain dengan wajah penuh kedengkian.

Mereka merasa terancam. Kehadiran Ratri seolah-olah mengaburkan keberadaan mereka di mata suami mereka sendiri. Aura "predator" yang dipancarkan Ratri, meski diselimuti kecantikan, sangat dirasakan oleh naluri para wanita di sana. Mereka merasa bahwa hubungan rumah tangga mereka yang tenang akan segera dihantam badai besar selama wanita beludru merah itu masih berada di sekitar mereka.

Ratri duduk di salah satu kursi barisan depan, tempat yang disediakan bagi tamu-tamu istimewa. Ia sama sekali tidak menyentuh hidangan yang disajikan. Pandangannya lurus ke depan, ke arah panggung, namun sebenarnya ia sedang memindai seluruh orang yang ada di sana.

Di kejauhan, ia melihat Agus yang sedang sibuk melayani bos bos tuan tanah. Ia juga melihat Pak RT Hardo yang berdiri di pojok tenda, menatapnya dengan wajah yang pucat pasi namun tetap tak bisa menyembunyikan rasa penasaran di matanya.

Ratri tahu, pesta tiga malam ini adalah panggung yang sempurna. Di bawah kerlap-kerlip lampu panggung dan suara musik yang bising, ia akan mulai menabur benih-benih kehancuran baru. Setiap tatapan pria yang memujanya adalah energi bagi Suanggi-nya. Setiap rasa iri para wanita adalah racun yang akan ia perkuat.

Ia datang bukan untuk merayakan pernikahan. Ia datang untuk menunjukkan bahwa "sampah" yang mereka buang dulu kini telah kembali sebagai "ratu" yang akan menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang layak menderita.

Ketika salah seorang penyanyi panggung mulai melantunkan lagu dengan nada mendayu, Ratri memejamkan matanya sejenak. Di dalam kepalanya, ia tidak mendengar musik; ia mendengar teriakan Eko di rumah sakit, ia mendengar tangisan Ruminten, dan ia mendengar detak jantung ketakutan Pak RT Hardo.

"Tiga malam..." gumam Ratri pelan, nyaris tak terdengar. "Cukup untuk mengumpulkan nyawa-nyawa yang sudah terlalu lama berhutang padaku."

Malam pertama baru saja akan dimulai, dan di tengah kegembiraan pesta yang riuh, sebuah tirai kegelapan mulai diturunkan oleh tangan lembut sang wanita beludru merah, bersiap untuk membungkus Desa Karang Jati dalam pesta kematian yang tak akan terlupakan.

Sang Tuan Rumah melirik Ratri, dulu saat Ratri membeli tanah dia tidak sempat bertegur sapa dan berkenalan, melihat pesona Ratri yang begitu berkelas membuatnya ingin mencoba rasa wanita itu.Dia merasa kekayaan nya mampu menaklukkan wanita manapun termasuk wanita yang dia incar sekarang.

Ratri yang bertemu mata dengan Bos Tuan Tanah itu pun tersenyum manis, membuat laki-laki itu salah tingkah merasa mendapat lampu hijau untuk berhubungan lebih jauh.

1
Zainuri Zaira
rt gila bukanx mrngayomi masyarakat tp mlh buat orng sensara
Sita Ning Nong
ceritanya mudah di pahami, runtut, menarik...
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
Lis Lis
huuu uuuuu uuuu perasaan Q ko pendek bngt yaaaa😭😭😭😭
Sulas Lis
lajuuuuutttt kaaaaa
Mersy Loni
lanjut thor
FiaNasa
bukannya jadi panutan yg baik malah bobrok RT nya
Lis Lis
masih nyebut di detik detik terakhir
FiaNasa
habiskan sja orang² yg sudah memperkosamu Ratri
FiaNasa
hiiiiiiii....sampai separah itu si Karno akibat perbuatannya dulu
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!