Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Pagi di Toilet
Dinding marmer toilet eksekutif yang dingin dan kaku itu menjadi saksi bisu dari sebuah kegilaan yang melampaui batas profesionalisme. Di dalam ruangan sempit yang terkunci rapat, aroma parfum sensual Clarissa yang tajam beradu dengan aroma maskulin Erian yang kini dipicu oleh sisa-sisa adrenalin dan zat kimia dari malam sebelumnya. Erian tidak lagi tampak seperti eksekutif yang tenang; matanya gelap, rahangnya mengeras, dan gerakannya penuh dengan dominasi yang meledak-ledak.
Dengan gerakan yang kasar dan terburu-buru, Erian memelorotkan celana dalamnya sampai paha, membiarkan dirinya benar-benar siap untuk menaklukkan wanita yang selama ini menjadi rekan kerja paling tangguhnya. Tidak berhenti di situ, tangannya yang gemetar namun kuat meraih pinggiran kain tipis yang menghalangi, dan dengan sentakan yang penuh gairah, ia memelorotkan thong milik Clarissa, membiarkan keindahan tubuh wanita itu terpampang sepenuhnya di bawah lampu neon toilet yang putih pucat.
Clarissa, yang masih membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada closet, menarik napas panjang yang tersengal. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan suara desahan atau kata-kata tantangan, Erian bergerak lebih cepat. Dari belakang, kedua tangan Erian membungkam mulut Clarissa kuat-kuat, menekan bibir merah wanita itu dengan telapak tangannya yang lebar.
"Jangan menjerit!" perintah Erian dengan bisikan yang sangat rendah, dingin, dan penuh otoritas di telinga Clarissa.
Suara Erian terdengar seperti ancaman sekaligus janji akan kenikmatan yang menyiksa. Clarissa terbelalak, matanya yang tajam kini dipenuhi oleh campuran antara keterkejutan dan gairah yang liar. Ia bisa merasakan panas tubuh Erian yang menghimpit punggungnya, sebuah tekanan yang membuatnya merasa kecil namun sangat diinginkan.
Erian tidak terburu-buru. Meskipun darahnya mendidih, ia memilih untuk menyiksa Clarissa dengan ritme yang sangat terukur. Erian menekan dengan sangat lembut namun teramat dalam. Ia memulai penyatuan itu dengan presisi yang mematikan, hingga ujung kedalaman yang paling ujung. Gerakannya sangat pelan sekali, seolah ia ingin Clarissa merasakan setiap inci dari kehadirannya yang merobek batas-batas kesopanan di antara mereka.
Inci demi inci mulai menusuk, sebuah tekanan yang membuat otot-otot Clarissa menegang kaku. Erian kemudian menariknya lagi dan ditusuk lagi teramat dalam dengan sangat perlahan. Teknik yang lambat namun menghujam ini menciptakan sensasi yang luar biasa menyakitkan sekaligus memabukkan. Clarissa merasa seolah seluruh saraf di tubuhnya ditarik hingga ke titik putus. Di bawah bungkam tangan Erian, ia mencoba berteriak, namun yang keluar hanyalah suara erangan tertahan yang menyedihkan.
Rasa sakit yang datang dari tekanan yang begitu dalam dan perlahan itu mulai menguasai kesadaran Clarissa. Tubuhnya yang atletis meliuk-liuk, mencoba mencari ruang bernapas di tengah himpitan Erian. Karena mulutnya dibungkam rapat, Clarissa tidak punya cara lain untuk meluapkan sensasi yang meledak di dalam dirinya. Dalam sebuah refleks yang brutal, Clarissa merasakan kesakitan dan menggigit tangan Erian sangat keras.
Gigi Clarissa terbenam dalam ke daging telapak tangan Erian yang sedang membungkamnya. Rasa perih yang tajam seketika menjalar ke lengan Erian, namun pria itu tidak melepaskan bungkamannya. Justru, rasa sakit dari gigitan Clarissa seolah menjadi bahan bakar baru bagi gairahnya yang gelap. Erian mengerang tertahan, dahinya bersandar di punggung Clarissa yang licin oleh keringat dingin.
"Teruslah menggigit, Clarissa... tunjukkan betapa kamu menginginkan ini," gumam Erian dengan napas yang memburu di ceruk leher wanita itu.
Erian terus melanjutkan ritme penyiksaan yang nikmat itu. Ia tidak membiarkan Clarissa terbiasa; ia menarik diri hampir sepenuhnya, membiarkan Clarissa mendambakan sentuhannya kembali, lalu kembali menusuk teramat dalam dengan gerakan yang sangat lambat, memaksa setiap serat otot Clarissa untuk merasakan kehadirannya.
Di toilet itu, waktu seolah berhenti. Suara gesekan kulit dan deru napas yang tertahan menjadi satu-satunya melodi yang ada. Clarissa merasa dunianya berputar. Kekuatan Erian, cara pria itu mengontrol rasa sakit dan nikmatnya, benar-benar meruntuhkan egonya sebagai wanita karier yang dominan. Ia yang biasanya memegang kendali atas segalanya, kini bertekuk lutut di bawah kuasa Erian, terhimpit di antara dinding marmer dan gairah pria yang sudah hilang kendali.
Setiap kali Clarissa mencoba meronta, Erian justru semakin menekan tangannya di mulut wanita itu, memastikan bahwa tidak ada satu pun suara yang lolos keluar dari bilik toilet. Gigitan Clarissa di tangan Erian semakin kuat seiring dengan tekanan yang semakin dalam. Luka di punggung tangan Erian—bekas semalam dari Stefani—kini ditambah dengan luka baru di telapak tangannya dari Clarissa. Erian benar-benar sedang menandai dirinya dengan dosa dari dua wanita yang berbeda dalam waktu kurang dari dua belas jam.
Keringat bercucuran dari dahi Erian, menetes ke punggung Clarissa yang putih mulus. Ia bisa merasakan detak jantung Clarissa yang berpacu kencang, seirama dengan denyut nadinya sendiri. Ritme lambat yang ia mainkan perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih intens, namun tetap dengan kedalaman yang maksimal, membuat Clarissa terus-menerus berada di ambang batas kesadarannya.
"Kamu milikku pagi ini, Clarissa... tidak ada rapat, tidak ada kantor, hanya ada ini," bisik Erian lagi, suaranya kini terdengar lebih liar.
Clarissa memejamkan matanya rapat-rapat, air mata kecil merembes di sudut matanya—bukan karena sedih, tapi karena ledakan emosi dan fisik yang terlalu besar untuk ditampung. Rasa sakit dari penetrasi yang teramat dalam dan perlahan itu kini mulai berubah menjadi gelombang kenikmatan yang menyiksa. Ia terus menggigit tangan Erian, menyalurkan segala rasa frustrasi dan hasratnya lewat gigitan itu, hingga ia merasakan rasa besi dari darah yang mulai keluar dari tangan pria itu.
Di balik pintu toilet yang terkunci, dunia korporat tetap berjalan dengan kesibukannya. Karyawan berlalu-lalang, telepon berdering, dan keputusan-keputusan besar diambil. Namun di dalam sini, dua jiwa yang sedang tersesat dalam nafsu sedang melakukan pertempuran paling intim yang pernah ada. Erian tidak lagi peduli jika seseorang mendengar, tidak peduli jika karirnya hancur saat ini juga. Ia hanya ingin menuntaskan dahaga yang membakar jiwanya, sebuah dahaga yang ia tahu tidak akan pernah benar-benar terpuaskan.
Erian dan Clarissa kini terjebak dalam pusaran gairah yang ekstrem di toilet kantor. Rasa sakit dan kenikmatan menyatu dalam setiap gerakan yang lambat namun menghujam.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭