“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 35
“Astagfirullah, kalian berzina?!” Suara keras Bu Sartini membuat Adam terjingkat seketika. “Di depan cucuku pula!” imbuhnya.
Nadya buru-buru terduduk sambil menepuk pelan paha Adam, begitupun Rizal dengan sedikit malas beranjak dari kasur. Laki-laki itu mengusak rambutnya kasar, lalu menghela napas dalam.
“Berzina apa sih, Ma? Kami cuma ngobrol sambil memperhatikan Adam tidur,” kilah Rizal. “Lagipula, mana mungkin kami berzina dengan pintu terbuka begitu?”
Tatapan Bu Sartini berpindah-pindah, sebelum tertumbuk pada laptop Nadya yang masih menyala. “Nonton sinetron di tinggal tiduran, bikin boros wifi saja,” tuduhnya kemudian.
“Nadya sedang mengerjakan skripsinya, Mah, bukan nonton sinetron. Tiba-tiba Adam ngelindur makanya dia ikut naik ke kasur." Dusta Rizal lagi. "Mamah kesini mau apa? Kangen sama Adam ‘kan, itu anaknya jadi bangun gara-gara Mamah asal teriak,” lanjutnya Rizal, sudut matanya melirik ke arah Nadya yang menekuk muka. “Kesinikan Adam biar Abang bawa keluar, kamu selesaikan kerjaanmu.”
“Main sama Papa di luar, yok Mamimu biar fokus ngerjain tugas dulu.” Wajah Rizal berubah ceria seraya mengulurkan tangan ke arah sang putra.
Rizal sedikit mencondongkan badannya di depan Nadya, sudut bibirnya terangkat sedikit sambil bergumam pelan nyaris seperti bisikan. “Padahal tinggal sedikit lagi gantian saya yang di puk-puk, malah pengganggu datang.”
Nadya mendelik seketika, bibirnya terkatup rapat, namun terselip senyum tipis di dalamnya.
“Caaaa … Anak pinter Papa terbanggg,” seru Rizal sambil mengangkat tinggi-tinggi Adam, lalu berjalan keluar kamar.
Di ruang tengah, Bu Sartini dan Dewi sudah menunggu dengan tatapan menyelidik, mata keduanya berpindah-pindah ke seluruh penjuru rumah seolah mencari sesuatu, sebelum tertuju pada paperback yang dibawa Yessy.
“Bawa apa kamu,Yes?” tanya Dewi, beranjak dari tempatnya duduk.
“Baju barulah.” Yessy sengaja memanas-manasi. “Di belikan Yu Nadya lima setel di toko besar bukan tiga limaan,” lanjutnya semakin membuat Dewi mengerutkan muka.
Seketika, tatapan Dewi berpindah ke arah Rizal, bibirnya menyeringai sinis. “Orang lain diperhatikan, adik sendiri dilupakan.”
Yessy mencebik sambil berjalan lebih mendekat.
“Yang beliin Yuk Nadya, ya, bukan Bang Rizal. Tapi … pake ATM-nya Bang Rizal, wekekekkekekek,” kelakar Yessy, ia lalu mencium pipi gembul Adam yang ada di gendongan Rizal. “Iyes mau pulang dulu, simpen baju baru, nanti sore kita main lagi.”
Adam sontak merengek pelan, kaki mungilnya menendang udara, tangannya melambai seolah ingin berpindah ke gendongan Yessy, ia pun semakin menggoda dengan mengacungkan tangan ke arah Adam lalu menariknya, berulang, membuat Adam semakin merengek bercampur kegirangan.
“Udah ah, Iyes pulang. Bu … Ayuk … Yessy pulang dulu, nanti sore balik lagi sambil bawa pucuk daun pepaya pesenan Yuk Nadya,” teriaknya, disambut sahutan samar dari dalam kamar Nadya, juga deheman pelan Bu Harmi dari ruang jahitnya. “Pulang dulu, Bang,” pamitnya pada Rizal yang ada di depannya.
“Hem, ati-ati pulangnya, Yes. Nggak usah belok-belok, awas kamu kalo sampe keluyuran ke mana-mana,” sahut Rizal.
Mendengar itu, wajah Dewi melengos, bibirnya berkedut sinis, pun Bu Sartini. Wanita berambut keriting itu berujar tajam sambil mengambil Adam dari gendongan Rizal.
“Jangan terlalu baik sama pembantu, nanti lama-lama bisa ngelunjak dia.”
“Mah, jangan pernah bilang pembantu ke siapapun yang ada di rumah ini, mereka bukan pembantu, mereka bagian dari keluarga kami,” sahut Rizal, ucapannya terdengar ringan, namun penuh penekanan.
Bu Sartini tak menjawab, hanya memalingkan muka, lalu memilih mengajak bermain sang cucu di sofa. Bayangan wajah Rizal yang merah padam malam itu masih melekat di pikirannya, membuat dia tak berani menjawab macam-macam.
Hampir satu jam Adam bermain dengan Bu Sar dan Dewi, bocah gembul yang sudah pintar berceloteh itu tertawa riang tiap kali Dewi atau Bu Sartini memasang wajah lucu mereka.
Di sela-sela canda tawa itu, Nadya keluar dari kamar, berjalan pelan menghampiri Rizal yang duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.
“Bang, besok kayanya saya harus ke kampus deh,” ujar Nadya seraya menarik kursi di sebelah Rizal.
“Udah Acc proposalnya?” tanya Rizal.
“Belum, tapi dosen pembimbing minta saya menghadap langsung.” Nadya mendengus pelan. “Sebel betul. Ngapa pula saya kebagian dosen Botak itu, ribetnya ngalah-ngalahin emak-emak komplek.”
Rizal terkekeh pelan, ponsel di tangan ia letakkan di atas meja. “Mau berangkat jam berapa?”
“Pagi, Abang bisa anter? Kalo misal Abang sibuk, saya minta jemput Rizka sore ini,” jawab Nadya.
Alis tebal Rizal mengerut, bibinya sedikit mengerucut. “Abang anter aja. Terus Adam, gimana?”
“Adam biar di rumah Mamah aja sementara, Zal. Kan—”
“Adam saya bawa.” Nadya menyergah dengan tegas. “Saya tiga hari pula di kota, bisa sembelit lagi anak saya kalo sama kalian.”
Ia kemudian beranjak, mengambil air dispenser yang terletak di sebelah kulkas.
“Saya ajak Yessy, Bang. Nanti waktu saya ke kampus dia sama Adam biar di cafe sama Rizka, deket pula sama kampus,” lanjutnya, lalu meneguk air yang baru dituangnya.
Bu Sartini yang merasa diabaikan, beranjak dari tempatnya, menghampiri Nadya di dapur.
“Apa-apa kok Yessy, Adam itu punya tante, harusnya tantenya yang ngasuh.” Sorot matanya mengikuti pergerakan Nadya. “Kamu ajaklah Dewi, sekalian cari kerja di kota. Mana tau di pabrik bapakmu ada lowongan, bisalah kamu bantu Dewi buat masuk,” ujar Bu Sar.
“Saya nyamannya sama Yessy,” sahut Nadya datar. Tangannya sibuk menyiapkan bahan masakan untuk makan siang mereka. “Lagipula, bukannya waktu itu Bu Sar bilang Dewi di kesehatan, CALON PERAWAT.” Nadya menirukan cara bicara Bu Sar tempo hari.
Dewi turut menyusul ke dapur sambil menggendong Adam. Bibir gadis yang baru lulus SMA itu mengerucut. “Kaya mana mau kuliah, Mamah nggak ada duit, Bang Rizal nggak mau bantu,” sahutnya dengan wajah sewot.
Bu Harmi yang berniat ingin ke kamar mandi, menyeletuk pelan. “Masak kurang yang dibantu Rizal selama ini, sudah syukur, lo kamu bisa lulus SMA.”
“Tapi, ‘kan janjinya Bang Rizal waktu ada Ayuk Sukma mau sekolahin aku sampe kuliah.” Dewi masih tak terima.
Rizal yang berada di meja makan, menghela napas dalam, lalu turut menimpali. “Ya kalo kamu sekolahnya beneran, Abang nggak pikir-pikir mau bantu, lawong kamu SMA aja kerjaannya bolos, ujian kemarin nilai kamu juga paling rendah ‘kan?”
Ia kemudian menghampiri Nadya yang sibuk dengan wortel dan beberapa lembar kol untuk bahan sop-sopan.
“Nad, Abang ke areal bentar, ya? Kamu masih lama kan masaknya?” tanyanya.
Nadya tak menjawab, hanya melirik tajam sambil menghentakkan pisaunya sedikit kencang—pertanda menolak ditinggalkan.
Rizal mundur satu langkah, bahunya bergidik ngeri. “Eh … nggak jadi deng, Abang cek laporan di hp aja,” ujarnya, lalu buru-buru duduk lagi di meja makan.
Bu Sartini yang masih penasaran dengan kehidupan Nadya di kota, kembali membuka obrolan. Alis lancipnya naik sebelah, satu tangannya membuka sisa kerupuk yang dibeli Yessy pagi tadi.
“Terus nanti kamu sama Adam tinggal di mana kalo minep sampe tiga hari?” tanyanya sambil mengunyah kerupuk di mulutnya.
“Hotel,” sahut Nadya singkat.
“Anahhhh, mau habis berapa duit kamu nginep di hotel, Nadya. Laju begaya betul!” serunya dengan mata mendelik.
Nadya tersenyum miring, tangannya sibuk membalik ikan kembung yang di gorengnya.
“Nadya itu ‘kan rumahnya di kota, kenapa bingung tempat tinggal, ya, jelas pulang ke rumahnya.” Bu Harmi menyahut seraya melihat masakan Nadya.
“Jadi kamu pulang ke rumah Pak Ilyas yang besar itu?” Bu Sartini semakin penasaran.
“Saya sudah dari SMA nggak tinggal di rumah itu.” Nadya memelankan suaranya. “Ngapa pula tinggal di rumah kaya neraka.”
“Terus? Ngekos atau numpang tempat temenmu yang punya caffe itu?” cerca Bu Sartini.
Nadya memutar bola matanya malas. Bahunya sedikit merosot. “Saya punya rumah sendiri di perumahan cempaka, caffee itu juga bukan punya Rizka, tapi punya saya. Puas.”
Wajah Bu Sartini dan Dewi pias seketika, matanya terpaku sesaat, bibir melongo.
“Sudah jangan banyak tanya, nggak beres-beres nanti masakan saya, terus … Dewi, Adam ‘kan udah tidur itu, ngapa pula kamu tenteng-tenteng, geletakin sana di ayunan, habis itu bantu saya cuci piring,” perintah Nadya membuat Bu Sar dan Dewi semakin melongo.
Sementara itu di pelataran rumah, Hasna tersenyum penuh arti. “Jadi si sewot itu mau pulang ke asalnya tiga hari?” bibirnya naik setengah. “Kesempatan aku berduaan sama Bang Rizal ini.”
Ia kemudian terkikik pelan sebelum berdehem menetralkan suaranya lalu mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
Bersambung.
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻