NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35 Tersingkapnya Tabir

Happy reading

Rama perlahan melepas tautan tangannya, lalu berbisik meminta izin untuk keluar sebentar guna menghubungi Abi dan Umminya.

Hawa mengejapkan mata dan mengangguk samar, sebuah isyarat lembut bahwa ia memberikan izin.

Tak berselang lama, Chayra melangkah mendekat. Ia memeriksa tanda-tanda vital Hawa dengan teliti, lalu menjelaskan bahwa trauma dan luka luar yang dialami pasca-kecelakaan tidaklah seberat yang dikhawatirkan sebelumnya.

"Alhamdulillah, kondisi Hawa stabil. Benturan di kepala sudah tertangani dengan baik," ujar Chayra menenangkan. Ia juga memberikan keyakinan bahwa Hawa akan segera pulih total setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari ke depan di rumah sakit.

Janu dan Gistara bernapas lega, rasa syukur yang teramat dalam membuncah kala mendengar penjelasan Chayra.

Sebagai wujud syukur yang tak terhingga, Janu seketika meluruhkan tubuhnya ke lantai untuk bersujud--melangitkan terima kasih yang paling tulus kepada Ilahi.

Chayra tersenyum menatap pemandangan haru itu. Ia melabuhkan usapan lembut di bahu Gistara yang masih sedikit bergetar. "Alhamdulillah, saya ikut senang dan bersyukur, Tante," ucapnya pelan. "Hawa sangat beruntung. Selain memiliki orang tua yang begitu mengasihinya, ia juga memiliki calon suami yang sangat mencintainya."

Chayra mengalihkan atensinya pada Rama yang tampak sedang berbicara serius melalui ponselnya di luar sana, lalu kembali menatap Gistara dengan lengkung senyum merekah. "Pemuda itu... tadi tampak sangat hancur mengkhawatirkan Hawa. Seolah, ia ingin menyerahkan seluruh dunianya demi gadis yang dicinta. Tante patut bersyukur memiliki calon menantu setulus dia."

Gistara mengangkat pandangannya ke arah Rama yang berdiri di balik sekat kaca. Batinnya menyuarakan permohonan maaf yang teramat dalam atas keangkuhan yang sempat membuatnya buta.

Ia tersadar bahwa cinta sejati tidaklah dibangun di atas kasta, melainkan di atas fondasi ketulusan dan keikhlasan hati yang murni.

Di saat para perawat bersiap memindahkan Hawa ke ruang perawatan, Rama kembali masuk dengan binar mata yang menyiratkan kebahagiaan mendalam serta senyum penuh makna.

"Insyaallah, satu jam lagi kedua orang tua saya akan tiba di rumah sakit," ucapnya sembari melirik sekilas ke arah Hawa--tatapan rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Rekahan senyum seketika terbit menghiasi wajah Hawa yang masih pucat, seiring lafaz hamdalah yang terucap lirih dari bibirnya. Ia tahu, saat orang tua Rama menginjakkan kaki di sana, tabir prasangka yang selama ini menyelimuti hati bundanya akan runtuh sepenuhnya.

Rama dengan setia mendampingi hingga Hawa tiba di ruang rawat inap VVIP. Ia seolah tak rela beranjak, meski hanya untuk sekian detik.

Bagi Rama, Hawa adalah detak jantungnya; ia harus memastikan belahan jiwanya itu benar-benar dalam kondisi aman.

Menyaksikan perhatian tulus yang disuguhkan Rama, hati Gistara kian menghangat. Ia berharap keputusan yang diambilnya hari ini adalah yang terbaik. Bukan sekadar menawarkan cinta, ia ingin Rama mampu menghujani Hawa dengan kebahagiaan yang nyata.

Gistara juga ingin Rama menjadi sosok yang mampu membungkam lisan para pembenci--mereka yang selama ini tega melabeli Hawa sebagai pembawa sial hanya karena tanda lahir di bahu kirinya.

Ia berharap, kehidupan rumah tangga mereka kelak akan dilimpahi rida Ilahi, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Satu jam berlalu. Ruangan yang semula sunyi, kini terusik oleh ketukan pintu dan ucapan salam yang lembut dari arah luar.

Jantung Gistara berdegup kencang. Ia mengenali warna suara itu--suara yang sangat akrab di telinganya.

Mencoba menenangkan diri, ia meraup udara sedalam mungkin sebelum menyahut salam, menyusul Janu dan Rama yang sudah lebih dulu menjawab.

"Wa'alaikumsalam," ucap Gistara pelan sembari perlahan membuka pintu.

"Almira? Mas Arya?" Gistara terkesiap, tubuhnya mematung begitu melihat dua sosok yang berdiri di ambang pintu. Perasaannya mendadak tak keruan.

Seingatnya, ia sama sekali belum mengabari kedua sahabatnya itu tentang musibah yang menimpa Hawa.

Pandangan Gistara beralih cepat, menatap Almira yang langsung menghambur memeluknya, lalu beralih pada Rama yang berdiri dengan senyum santun di samping ranjang Hawa. Sebuah tanya besar mulai berkecamuk di kepalanya.

Begitu pelukan terurai, Gistara menatap dalam wajah Almira dengan raut bingung. "Al, dari mana kamu tahu kami berada di ruangan ini? Seingatku, aku belum sempat mengabari siapa pun," tanyanya penuh rasa heran.

Almira tersenyum simpul. Ia membalas tatapan sahabatnya, lalu beralih menatap pemuda yang masih setia berdiri di sisi ranjang Hawa. "Putraku yang memberi tahu."

Dahi Gistara mengernyit, mencoba mencerna maksud kalimat itu. "Maksud kamu... Dzaki?"

Almira mengejapkan mata, mengiyakan. "Iya. Lebih tepatnya Dzaki Ramadan Bagaskara. Pemuda yang berdiri di sana," jawabnya sembari mengedikkan dagu ke arah Rama.

Gistara mengikuti arah pandang Almira. Seketika, dunianya seolah berputar. Degup jantungnya kian tak keruan, bahkan tubuhnya mendadak bergetar hebat hingga hampir limbung. Beruntung, Janu dengan cekatan merengkuh pundaknya, menjadikan tubuh tegapnya sebagai penopang agar Gistara tidak jatuh tersungkur.

"Jadi... Rama adalah..." suara Gistara tercekat di tenggorokan.

Almira mengangguk mantap, kembali menyematkan senyum tulus. "Benar, Gistara. Rama adalah Dzaki. Dia putra kami, teman masa kecil Hawa yang teramat sering kamu tanyakan."

Gistara tak lagi kuasa menahan bendungan air matanya.

Dengan tubuh yang masih terasa lunglai, ia menyeret langkah kakinya, seolah ingin segera sampai di hadapan Rama.

Tiba di depan pemuda itu, Gistara nyaris menjatuhkan diri--ia berniat bersimpuh dan memohon maaf di kaki Rama. Namun, dengan sigap Rama menahannya. Ia merengkuh bahu Gistara yang bergetar hebat.

"Maafkan Tante... Tante salah. Tante terlalu angkuh dan dibutakan oleh pola pikir yang kolot," tangis Gistara pecah. Rasa sesak kian mendekap erat, berbaur dengan rasa malu yang teramat sangat karena telah merendahkan sosok yang justru sangat ia idamkan menjadi menantu.

"Tante tidak sepenuhnya salah," tutur Rama lembut namun berwibawa. "Sikap Tante adalah wujud cinta seorang ibu yang ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya. Saya sangat mengerti itu."

Almira melangkah mendekat, jemarinya yang lembut meraih bahu Gistara sebelum akhirnya membawa tubuh sahabatnya itu ke dalam pelukan hangat.

"Apa yang dikatakan Rama benar, Gis. Jadi, jangan terlalu menghakimi diri sendiri hingga membiarkan rasa sesal dan rasa bersalah itu menghancurkanmu," tutur Almira lembut sembari mengusap punggung Gistara untuk menawarkan rasa tenang.

"Setiap insan pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting, kamu sudah menyadarinya dan sungguh-sungguh menyesal. Ambillah hikmahnya dan jadikan ini jalan untuk memperbaiki diri," pungkasnya meneduhkan.

"Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah..." bisik Hawa lirih. Suara yang nyaris menyerupai desiran angin itu nyatanya tetap tertangkap oleh indra pendengaran Rama.

Keduanya saling melempar tatap; sebuah pertemuan mata yang kini dihiasi rekahan senyum penuh makna.

Sorot mata mereka menyiratkan rasa syukur yang tak terhingga sekaligus bahagia yang teramat sangat.

Di dalam ruangan itu, bukan hanya raga Hawa yang sedang pulih, melainkan juga harapan-harapan mereka yang sempat patah kini kembali bertaut utuh.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak. Biar nggak tegang Mulu 😄🙏🏻
total 1 replies
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!