Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Angin sore berembus pelan di tepi danau pribadi yang terletak di bagian belakang mansion mewah itu. Andrew duduk dengan santai di kursi lipatnya, memegang joran pancing dengan gerakan yang sangat mahir. Di sampingnya, Kevin melakukan hal yang sama, meski ia jauh lebih sering memeriksa umpannya karena merasa canggung berada sedekat ini dengan sang legenda bisnis.
"Kau tahu, Kevin," Andrew memulai pembicaraan tanpa mengalihkan pandangan dari pelampung pancingnya yang bergoyang di permukaan air. "Memancing itu seperti menjalankan perusahaan. Kau butuh kesabaran, umpan yang tepat, dan kemampuan untuk menarik tali saat ikan sedang lengah. Jika kau terlalu terburu-buru, talinya putus. Jika terlalu lambat, ikan itu lari."
Kevin mengangguk pelan, mencoba menyerap filosofi mertuanya. "Saya rasa saya masih di tahap belajar memasang umpan, Yah."
Andrew tertawa kecil, suara beratnya berbaur dengan gemericik air. "Setidaknya kau punya keberanian untuk memegang jorannya. Dulu, banyak pria yang mencoba mendekati Ashley hanya untuk mengincar posisinya di Giotech. Mereka pengecut, hanya bicara soal profit dan akuisisi di depan meja makan."
Andrew terdiam sejenak, lalu matanya menyipit seolah sedang memutar kembali memori lama. "Hanya ada satu orang yang dulu hampir saja membuatku memberikan restu sepenuhnya. Dia mirip dengan Ashley—keras kepala, cerdas, dan dingin."
Jantung Kevin berdesir. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Apakah... maksud Ayah adalah pria yang dari China itu?"
Andrew menoleh, sedikit terkejut namun kemudian tersenyum miring. "Ah, jadi kau sudah dengar soal He Cheng? Berita internet memang tidak bisa dijinakkan, ya?"
Kevin hanya tersenyum kaku, tangannya mencengkeram joran sedikit lebih kuat.
"Dia pria yang hebat, secara bisnis," lanjut Andrew sambil menarik sedikit tali pancingnya. "Enam tahun lalu, saat Ashley kuliah di sana, mereka adalah pasangan paling mematikan di dunia bisnis muda. He Cheng bahkan pernah datang ke kantorku hanya untuk menunjukkan kontrak kerja sama yang nilainya fantastis, seolah itu adalah mahar untuk Ashley. Dia gila kerja, persis seperti Ashley."
"Lalu... kenapa mereka tidak berakhir bersama?" tanya Kevin, suaranya sedikit lebih rendah.
Andrew menghela napas panjang, tatapannya menjadi sedikit kosong. "Karena mereka terlalu mirip. Dua matahari tidak bisa berada di satu langit yang sama, Kevin. Mereka akan saling membakar. Ashley butuh air, bukan api yang lain. Dan saat aku melihatmu pertama kali... aku tahu kau adalah air yang bisa meredam panasnya Ashley."
Kevin tertegun. Ia tidak menyangka Andrew akan memberikan penilaian se-emosional itu. Rasa insecure yang tadinya membara karena nama He Cheng, perlahan mereda mendengar penjelasan Andrew.
Malam harinya, Andrew pulang setelah memberikan satu set alat pancing mahal kepada Kevin sebagai hadiah. Di dalam mansion, Ashley sudah menanti di meja makan dengan segelas susu kehamilan di depannya—pemandangan yang membuat Kevin ingin tertawa.
"Bagaimana memancingnya?" tanya Ashley ketus, matanya menatap tajam susu putih yang seolah menjadi musuh bebuyutannya itu.
"Sangat menyenangkan. Ayah banyak bercerita," jawab Kevin sambil duduk di sampingnya. Ia mengambil gelas susu itu dan menyodorkannya ke arah Ashley. "Ayo, habiskan. Aku sudah berjanji pada Ayah untuk menjagamu dan cucunya dengan baik."
Ashley mendengus, namun ia meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas dengan sekali teguk, seolah sedang meminum obat paling pahit di dunia. "Ayah membicarakan He Cheng padamu, kan?"
Kevin tertegun. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku tahu. Dia selalu menggunakan He Cheng sebagai standar perbandingan untuk pria mana pun. Tapi Kevin..." Ashley meletakkan gelasnya, matanya menatap Kevin dengan serius. "Dia masa lalu yang membosankan. Jangan biarkan ucapan Ayah membuatmu merasa kecil. Kau punya sesuatu yang tidak pernah dimiliki He Cheng: kemampuan untuk membuatku merasa seperti manusia, bukan sekadar mesin penghasil uang."
Kevin terdiam, hatinya terasa penuh. Ia menarik Ashley ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan lembut. Di luar sana, dunia mungkin masih sibuk dengan spekulasi He Cheng, tapi di dalam mansion ini, Kevin sadar bahwa ia telah memenangkan pertempuran yang paling penting.