NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Retakan Di Dalam Rumah

Ruangan kembali hening setelah Vivian pergi. Angin masuk perlahan dari jendela besar. Membawa aroma hutan yang khas.

Namun—tidak mampu menghilangkan ketegangan yang tersisa.

“Dia berubah sedikit,” gumam Licia pelan.

Ferisu meliriknya, “Vivian?”

Licia mengangguk, “Ia masih sama… tapi juga tidak sepenuhnya sama.”

Reliza mendengus kecil dari sofa, “Dia terlalu lembut untuk tempat seperti ini.”

Anor menyilangkan tangan, “Orang seperti itu biasanya yang paling banyak menyimpan sesuatu.”

Ferisu tidak menanggapi. Namun—ia mengingat tatapan Vivian tadi. Ada sesuatu di sana. Bukan permusuhan. Tapi juga bukan kepercayaan.

Tak lama—ketukan kembali terdengar.

Tok. Tok.

“Putri Licia,” suara penjaga terdengar dari luar, “Raja Lorien meminta kehadiran Anda.”

Licia menarik napas pelan, “Aku akan segera ke sana.”

Ia menoleh ke Ferisu, “Aku akan kembali nanti.”

Ferisu mengangguk, “Hati-hati.”

Reliza hanya melirik, “Kalau mereka menyakitimu, bilang saja.”

Licia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Lalu—keluar dari ruangan.

Pintu tertutup. Suasana berubah. Lebih sunyi.

Ferisu berdiri di dekat jendela. Melihat ke luar.

Reliza bangkit dari sofa. Berjalan mendekat, “Kau tidak khawatir?”

Ferisu tidak langsung menjawab, “Aku percaya padanya.”

Reliza menyipitkan mata, “Bukan itu maksudku.” Ia menatap ke arah aula, “Keluarganya...”

Anor yang sejak tadi diam—akhirnya berbicara, “Tempat ini… tidak stabil.”

Ferisu menoleh, “Tidak stabil?”

Anor mengangguk sedikit, “Bukan secara fisik.”

“Secara hubungan.”

“Faksi yang berbeda.”

“Tatapan yang berbeda.”

“Tujuan yang berbeda.”

Ia berhenti sejenak.

“Tempat seperti ini mudah pecah dari dalam.”

“Dan kalau pecah…” Reliza tersenyum tipis, “Aku akan menikmati kekacauannya.”

Ferisu menghela napas kecil, “Jangan berkata seperti itu.”

Sementara itu—Licia berjalan sendiri di lorong istana. Langkahnya pelan. Namun pasti. Ia berhenti di depan pintu besar. Pintu yang sama—tempat ia dulu sering masuk sebagai seorang putri.

Namun sekarang—rasanya berbeda.

Pintu terbuka.

Di dalam—hanya satu orang.

Lorien.

Ia berdiri di dekat jendela. Menatap ke arah Pohon Dunia.

“Kau datang.”

Licia melangkah masuk.

“Ya.”

Pintu tertutup.

Beberapa detik—tidak ada yang berbicara. Lorien akhirnya menoleh. Menatap Licia.

“Kau terlihat baik.”

Licia tersenyum kecil.

“Begitu juga dengan Ayah.”

Lorien berjalan mendekat. Langkahnya tenang. “Aku mendengar banyak hal tentangmu.”

“Dan tentang… pria itu.”

Licia tidak menghindar.

“Ya...”

Lorien menatapnya dalam, “Kau tahu ini tidak akan mudah.”

Licia mengangguk, “Iya.”

“Bahkan sebelum aku datang ke sini… aku sudah tahu.”

Lorien menghela napas pelan, “Ibumu…” Ia berhenti sejenak, “tidak akan menerimanya dengan mudah.”

“Alinas juga.”

“Aku tidak berharap mereka langsung menerima,” Licia menatap ayahnya.

“Tapi aku tidak akan mundur.”

Hening.

Lorien tersenyum tipis, “Kau benar-benar anakku.”

Namun—senyum itu tidak sepenuhnya ringan.

“Masalahnya bukan hanya keluarga,” lanjutnya.

“Ada tekanan dari luar.”

“Para bangsawan.”

“Faksi konservatif.”

“Dan sesuatu yang lebih besar.”

Licia sedikit mengernyit, “Lebih besar?”

Lorien menatap ke arah Pohon Dunia, “Hutan ini mulai berubah.”

Di luar—angin bertiup lebih kencang. Daun-daun bergetar. Dan di kejauhan—Pohon Dunia memancarkan cahaya… yang sedikit—tidak stabil.

Cahaya dari Pohon Dunia menyelinap masuk melalui jendela besar. Biasanya lembut. Menenangkan. Namun kali ini—sedikit berdenyut. Seolah… bernapas tidak teratur.

Licia menatap ke arah cahaya itu. Alisnya sedikit berkerut, “Itu tidak normal.”

Lorien tidak langsung menjawab. Ia tetap memandang ke arah luar, “Kau juga merasakannya.” Bukan pertanyaan. Tapi pernyataan.

“Sejak kapan?” tanya Licia.

“Beberapa minggu terakhir,” jawab Lorien pelan.

“Awalnya hanya fluktuasi kecil.”

“Namun sekarang…” Ia berhenti, “semakin jelas.”

Licia memejamkan mata sejenak. Merasakan aliran mana di sekitarnya. Dan benar saja—ada sesuatu yang berbeda.

Aliran mana tidak stabil.

Ritmenya terganggu.

Seolah ada “gangguan” di dalamnya.

“Seperti ada sesuatu yang mengganggu dari dalam.”

Lorien mengangguk, “Itulah yang kami khawatirkan.”

“Apa ada yang menyerang?” tanya Licia.

“Belum bisa dipastikan.”

“Namun…” Lorien menoleh, “ada kemungkinan ini bukan dari luar.”

Licia membuka mata, “Dari dalam?”

“Itu berarti—”

“Ya,” potong Lorien, “sesuatu di dalam Elvengarden sendiri.”

Hening.

Licia langsung memikirkan satu hal.

“Faksi konservatif?”

Lorien tidak langsung menjawab.

“Itu salah satu kemungkinan.”

“Tapi aku belum punya bukti.”

“Namun satu hal yang pasti—” lanjutnya.

“Situasi ini membuat mereka semakin keras.”

“Mereka menganggap ini sebagai tanda.”

Licia menatapnya tajam, “Tanda apa?”

Lorien menatap lurus, “Bahwa elf tidak boleh berhubungan dengan dunia luar.”

Ruangan terasa lebih dingin.

Licia menggenggam tangannya, “Jadi mereka akan menggunakan ini sebagai alasan.”

“Ya.”

Dan tanpa perlu dijelaskan—keduanya tahu.

Kedatangan Ferisu akan memperparah situasi.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya,” ucap Licia tegas.

Lorien menatapnya. Dalam, “Kau memilihnya.”

Licia tidak ragu, “Iya.”

Beberapa detik—Lorien tidak berkata apa-apa.

Lalu—ia tersenyum tipis.

“Baik.”

Namun—tatapannya berubah serius.

“Kalau begitu, bersiaplah.”

“Karena mulai hari ini—”

“Kau bukan hanya putriku.”

“Tapi juga—simbol dari perubahan yang mereka tolak.”

Sementara itu—di kamar tamu.

Ferisu masih berdiri di dekat jendela.

Reliza duduk di kursi. Menatap ke luar, “Aku tidak suka tempat ini.”

Ferisu tersenyum tipis, “Karena mereka tidak menyukaimu?”

Reliza langsung menjawab, “Bukan.”

Ia menoleh, “Karena mereka menatapmu dengan tatapan sinis.”

Anor berdiri di dekat pintu. Hanya diam mendengarkan.

Tiba-tiba—Reliza berdiri, “Ada sesuatu.”

Ferisu langsung menoleh, “Apa?”

Reliza menatap ke arah luar. Ke arah Pohon Dunia.

“Itu bukan gangguan biasa.”

Matanya menyipit. Aura gelapnya sedikit muncul, “Itu mirip.”

Ferisu mengernyit, “Mirip apa?”

Reliza tidak langsung menjawab, “Sesuatu yang pernah kita hadapi.”

Ferisu terdiam.

Pikirannya langsung menuju satu hal.

Retakan dimensi.

Reliza menatap lurus ke arah Pohon Dunia.

“Kalau aku benar…” suaranya pelan. Namun serius, “Maka sesuatu sedang lahir di dalam sana.”

Angin di luar semakin kencang. Daun-daun bergesekan, menciptakan suara yang tidak menenangkan.

Di kejauhan—Pohon Dunia masih bersinar. Namun kini jelas—cahayanya tidak stabil.

Ferisu berdiri diam. Menatap ke arah pohon itu dari jendela. Pikirannya berputar cepat.

“Reliza... Apa kau yakin?”

Reliza menyilangkan tangan. Tatapannya tidak lepas dari luar, “Belum... Tapi instingku jarang salah.”

“Itu… terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini,” lanjutnya. “Seperti yang di hutan waktu itu.”

Ferisu terdiam.

Aries...

Kalau itu benar—maka situasinya jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.

“Kalau memang begitu…” Anor mengencangkan sarung belatinya, “kita tidak bisa diam saja.”

Namun—sebelum mereka melangkah—

Tok.

Tok.

Ketukan pintu.

Semua langsung waspada.

“Masuk,” ucap Ferisu tenang.

Pintu terbuka. Beberapa elf masuk. Berpakaian lebih formal. Aura mereka—berbeda dari penjaga sebelumnya. Lebih tinggi. Lebih… menekan.

“Raja Ferisu,” salah satu dari mereka berbicara. Nada sopan. Namun jelas—tidak ramah.

“Kami datang atas nama dewan bangsawan.”

Ferisu menatap mereka. Tenang.

“Ada keperluan apa?”

“Kami ingin mengundang Anda, untuk menghadiri pertemuan.”

Reliza mendecih kecil, “Cara mengundang yang sangat tidak ramah.”

Ferisu tidak mengalihkan pandangan, “Pertemuan tentang apa?”

Elf itu menjawab tanpa ragu, “Tentang keberadaan Anda di Elvengarden.”

Anor langsung menyipitkan mata.

Reliza tersenyum tipis, “Akhirnya mulai juga.”

“Baik,” jawab Ferisu singkat.

Jawaban itu—membuat para elf sedikit terkejut.

Namun—sebelum mereka sempat bicara lagi—Ferisu melanjutkan.

“Tapi sebelum itu—” Ia menatap lurus, “aku juga ingin bertanya sesuatu.”

Para elf terdiam.

“Apa yang terjadi pada Pohon Dunia?”

Hening.

Untuk pertama kalinya—ekspresi mereka berubah.

“Itu bukan urusan Anda,” jawab salah satu dari mereka dingin.

Reliza langsung tertawa kecil.

Ferisu tidak mundur, “Kalau itu mempengaruhi seluruh kerajaan… maka itu juga menjadi urusanku.”

Aura di ruangan berubah.

Elf-elf itu saling pandang.

“Anda terlalu jauh melangkah.”

Ferisu tetap tenang.

“Kalau kalian ingin aku diam… maka pastikan tidak ada masalah.”

Beberapa detik—tidak ada yang berbicara.

Lalu—pemimpin mereka berbalik.

“Pertemuan akan diadakan malam ini.”

“Kami harap Anda hadir.”

Nada itu—lebih seperti perintah daripada undangan.

Pintu tertutup.

Hening kembali.

Anor langsung berbicara, “Jelas jebakan.”

Reliza menyeringai, “Bagus.”

Ferisu menghela napas pelan, “Tidak.” Ia menatap ke arah luar, “Ini bukan jebakan.”

“Mereka benar-benar khawatir.”

“Tapi... dengan cara yang salah.”

Di kejauhan—Pohon Dunia kembali berdenyut. Kali ini—lebih kuat. Dan di suatu tempat—di dalam akar yang dalam—sesuatu bergerak.

Perlahan.

Bangun.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!