NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: DESAIN TERLARANG

Suara mesin jahit bertenaga tinggi menderu di dalam butik tua di San Lorenzo, memecah keheningan malam yang biasanya hanya diisi oleh suara kucing jalanan.

Alesha duduk dengan punggung tegak, matanya fokus pada jarum yang bergerak cepat menembus tumpukan kain.

Cahaya lampu kerja yang tajam menyinari wajahnya, memperlihatkan gurat kelelahan yang bercampur dengan obsesi.

Ia tidak lagi mengecat dinding. Kini, ruangan itu telah bertransformasi menjadi studio kreatif yang intens.

Di sekelilingnya, manekin-manekin kayu berdiri mematung, dibalut oleh kain-kain yang terlihat "salah" namun memikat.

Alesha sedang melakukan eksperimen gila, ia mengambil jaket bomber berbahan nilon khas anak muda San Lorenzo dan menyatukannya dengan kerah tinggi dari sutra krep Italia yang paling mahal.

Ia memadukan bordir tangan yang rumit dengan aksen rantai logam yang kasar.

Ini adalah desain terlarang. Di Roma, mode adalah soal warisan, keanggunan yang terkendali, dan aturan-aturan kuno yang tidak boleh dilanggar.

Namun, bagi Alesha, mode adalah pemberontakan.

"Jika mereka ingin melihat boneka cantik, mereka salah alamat," gumam Alesha sambil memotong sisa benang dengan gigi, sebuah kebiasaan bar-bar yang tak bisa hilang meski ia kini menjadi istri seorang milyuner.

Keesokan harinya, Matteo datang tanpa undangan. Suara kursi rodanya berhenti tepat di samping meja potong Alesha.

Ia meletakkan sebuah undangan berwarna emas di atas meja, menutupi sketsa yang sedang dikerjakan Alesha.

"Dua minggu lagi adalah Malam Amal Galleria Borghese," ucap Matteo tanpa basa-basi.

"Ini adalah acara sosial paling penting di Roma. Semua pemegang saham Al-Ricci dan rival bisnisku akan ada di sana."

Alesha tidak mendongak.

Ia terus mengukur lingkar pinggang manekin di depannya.

"Lalu? Kau butuh aku duduk manis di sampingmu sambil memakai permata berat dan tersenyum seperti orang bodoh?"

"Aku butuh kau tampil sebagai istriku. Dan aku menuntutmu untuk mendesain gaun formalmu sendiri," Matteo menatap tumpukan kain di sekelilingnya dengan dahi berkerut.

"Tapi bukan sampah eksperimental seperti ini. Aku butuh sesuatu yang agung, kaku, dan menunjukkan posisi keluarga Al-Ricci."

Alesha berhenti bergerak.

Ia perlahan menoleh, menatap Matteo dengan senyum miring yang berbahaya.

"Kau ingin aku mendesain sesuatu yang 'agung'? Baiklah, Tuan Al-Ricci. Aku akan memberimu desain yang tidak akan pernah dilupakan oleh teman-teman sosialitamu."

Sepanjang minggu itu, Alesha bekerja dalam kemarahan yang kreatif. Ia mengingat bagaimana teman-teman Kiara menghinanya sebagai "produk diskon".

Ia mengingat bagaimana kaum elit Roma memandang rendah distrik San Lorenzo. Ia mulai menggambar.

Hasilnya bukan gaun pengantin atau gaun pesta biasa. Alesha mendesain sebuah gaun malam berbahan beludru hitam pekat yang memiliki potongan dada sangat tajam, namun di bagian bawahnya, ia menambahkan aksen kain perca yang diambil dari limbah tekstil pabrik, yang dijalin sedemikian rupa hingga terlihat seperti bulu burung phoenix yang sedang terbakar.

Di bagian punggungnya, terdapat bordiran benang perak yang membentuk pola kerangka sebuah sindiran halus bahwa di balik kemewahan mereka, yang tersisa hanyalah kekosongan.

Itu adalah desain yang mengejek kemunafikan. Sebuah penghinaan yang dijahit dengan sangat indah.

Malam sebelum acara, Matteo memanggil Alesha ke ruang kerjanya di Villa.

Sketsa gaun itu terbentang di atas meja. Alesha berdiri dengan tangan di pinggang, siap meledak jika Matteo menyuruhnya mengganti desain itu menjadi sesuatu yang lebih "sopan".

Matteo menatap sketsa itu cukup lama. Ia memperhatikan detail bordir kerangka di bagian punggung dan kain perca di bagian bawah yang terlihat berantakan namun artistik.

"Ini adalah sebuah penghinaan," ucap Matteo lirih.

"Memang," sahut Alesha cepat.

"Itu adalah gambaran tentang kalian semua. Cantik di depan, busuk dan hampa di dalam. Kau bilang kau ingin aku menunjukkan posisiku? Inilah posisiku. Aku adalah duri di dalam daging dunia sosialmu."

Alesha menunggu ledakan amarah Matteo. Ia menunggu pria itu merobek kertas tersebut. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Matteo perlahan membuka laci rahasia di meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu jati tua yang dilapisi beludru biru tua.

Saat kotak itu dibuka, cahaya lampu ruangan langsung terpantul oleh kilauan berlian dan zamrud yang luar biasa besar.

Itu adalah koleksi perhiasan kuno keluarga Al-Ricci, warisan turun-temurun yang belum pernah keluar dari brankas selama puluhan tahun.

Matteo mengambil sebuah kalung choker perak dengan liontin batu darah (bloodstone) yang dikelilingi berlian hitam.

"Jika kau ingin menghancurkan mereka, Alesha, jangan lakukan dengan cara yang murah," ucap Matteo, suaranya kini terdengar tenang namun penuh otoritas.

Ia menatap Alesha, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan konspirasi di matanya.

"Lakukan dengan elegan. Buat mereka tidak bisa membedakan apakah kau sedang memuji mereka atau sedang menusuk mereka dari depan."

Alesha terpaku. Ia menatap kalung itu, lalu menatap Matteo.

"Kau... kau setuju dengan desain ini?"

"Desainmu mengatakan bahwa kaum elit Roma adalah kerangka yang berbalut sampah mewah," Matteo memberikan kalung itu ke tangan Alesha.

"Dan aku setuju. Tambahkan perhiasan ini di bagian leher. Berlian hitam ini akan menyempurnakan kesan gelap yang kau inginkan.

Aku ingin mereka merasa kerdil saat melihatmu memakai warisan keluargaku sambil mengenakan gaun yang kau sebut 'sampah' itu."

Alesha menerima kalung itu.

Beratnya logam mulia itu terasa nyata di telapak tangannya. Ia tidak menyangka Matteo akan menjadi sekutunya dalam hal ini.

Pria yang ia pikir adalah bagian dari kemunafikan itu, ternyata memiliki kebencian yang sama dalamnya terhadap dunia yang ia pimpin.

"Kenapa kau membantuku?" tanya Alesha suara kecil.

Matteo memutar kursi rodanya, membelakangi Alesha untuk menatap jendela yang menampilkan kegelapan malam Roma.

"Karena aku juga lelah dengan kepura-puraan ini, Alesha. Dan karena aku ingin melihat wajah Lorenzo saat dia menyadari bahwa wanita yang dia remehkan adalah satu-satunya orang yang memiliki nyali untuk menertawakan seluruh kota ini di depan wajah mereka."

Matteo berhenti sejenak.

"Satu hal lagi. Jahitkan jas untukku dengan bahan yang sama dengan gaunmu. Kita akan datang ke sana sebagai satu paket bencana yang paling indah."

Alesha tersenyum, kali ini bukan senyum bar-bar yang penuh kemarahan, melainkan senyum seorang seniman yang baru saja menemukan pendukung setianya.

"Tentu, Suamiku," sahut Alesha.

"Aku akan memastikan kau terlihat seperti raja dari segala kegelapan."

Malam itu, di dalam studio kecil di Villa, Alesha tidak hanya menjahit kain. Ia sedang menjahit sebuah peralatan perang.

Dan di sampingnya, Matteo Al-Ricci bukan lagi sekadar penjaga penjara emasnya, melainkan panglima perang yang siap melihat dunia mereka terbakar bersama-sama.

Kontrak kerja itu kini terasa bukan lagi sebuah beban, melainkan jembatan menuju sesuatu yang lebih besar. Alesha menyadari bahwa di balik kedinginan Matteo, ada api yang sama panasnya dengan api yang membakar dirinya.

Dan ketika dua api itu bersatu, Roma tidak akan pernah sama lagi.

"Satu jahitan lagi," bisik Alesha sambil memasukkan benang perak ke jarumnya.

"Dan dunia akan berlutut."

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!