Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Gombalan Larut Malam
Pukul setengah satu malam. Suasana rumah sudah benar-benar hening, dan Kael pasti sudah mendengkur di kamarnya setelah puas menggodanya.
Namun di dalam kamarnya, Sael masih terjaga. Persis seperti tebakan Kael, ia sedang berbaring telentang sambil memeluk gulingnya erat-erat. Senyum konyol tidak bisa lepas dari wajahnya setiap kali bayangan pelukan Aeros di ruangan belakang kafe tadi berputar kembali di kepalanya.
𝘉𝘻𝘻𝘻𝘵 𝘉𝘻𝘻𝘻𝘵 𝘉𝘻𝘻𝘻𝘵
Ponsel di atas nakas tiba-tiba bergetar panjang, Sael tersentak, begitu melihat layarnya, nama 'AEROS' tertera di sana, lengkap dengan ikon kamera yang berkedip.
𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘝𝘪𝘥𝘦𝘰
Jantung Sael langsung berdegup kencang. Ia panik, buru-buru duduk dan merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan, lalu berdeham kecil sebelum menggeser tombol hijau ke atas.
Layar ponselnya langsung menampilkan wajah Aeros. Pria itu tampaknya sudah berada di kamarnya sendiri, mengenakan kaus oblong hitam santai. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh menutupi sebagian keningnya.
𝘚𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯, batin Sael.
"Hai," sapa Aeros lembut, suaranya yang berat terdengar sedikit serak, "Belum tidur?"
Sael menyembunyikan sebagian wajahnya di balik guling yang ia dekap erat, hanya menyisakan sepasang matanya yang mengerjap kaku. "Uh... belum, Kak. Masih... masih 𝘴𝘤𝘳𝘰𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 berkas buat sidang besok."
Aeros yang melihat tingkah menggemaskan itu tidak bisa menahan kekehannya. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Sael lekat-lekat lewat layar. "Masa? Berkasnya di langit-langit kamar ya? Soalnya dari tadi mata kamu nggak fokus."
"Kak Aeros!!! Stop ya, jangan mulai!" rengek Sael dengan wajah yang seketika merona merah. "Lagian Kakak sendiri kenapa belum tidur? Malah 𝘷𝘪𝘥𝘦𝘰 𝘤𝘢𝘭𝘭 jam segini."
Aeros tersenyum tipis, tatapannya melembut. "Aku baru selesai beres-beres kafe, terus langsung pulang. Tapi pas udah di tempat tidur, pikiranku masih ketinggalan di ruangan belakang kafe. Jujur, aku masih nggak menyangka kalau statusku sekarang udah berubah."
Sael menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum konyolnya agar tidak terlihat di kamera. "Berubah jadi apa emangnya?"
"Jadi pria paling beruntung karena penantian tujuh tahunnya selesai malam ini," jawab Aeros santai, namun matanya sama sekali tidak beralih dari layar, tatapannya fokus ke Sael. "Gimana? Kalimatnya udah cukup bikin kamu salah tingkah belum di sana? Sengaja aku telepon, biar bisa lihat langsung muka merah kamu."
"Kak Aeros, beneran deh! Baru juga berapa jam jadian udah pinter banget gombalnya. Mana Kak Aeros yang kayak kulkas dua pintu kata Kael?" protes Sael, sengaja mengalihkan kamera ponselnya ke arah bantal agar wajahnya tidak terekam jelas.
Aeros tertawa lepas, suara tawa renyah yang terdengar begitu dekat di telinga Sael. "Kulkasnya udah dicabut colokannya sama kamu tadi pas bilang 'iya', Sael. Jadi sekarang udah meleleh total. Ayo dong, kameranya madep sini lagi, aku kangen."
Mendengar kata 'kangen' yang diucapkan begitu natural oleh Aeros, Sael perlahan mengembalikan kameranya ke posisi semula. Ia menatap wajah Aeros yang kini tersenyum hangat.
"Makasih ya buat malam ini, Sael," ucap Aeros lirih. "Tadi pas kamu pulang, aku sempat diam lama di kafe. Cuma buat mastiin kalau ini bukan mimpi. Aku beneran bahagia banget."
"Aku juga, Kak," balas Sael lembut, matanya menatap dalam ke manik mata Aeros di layar. "Makasih udah nungguin aku ya. Maaf kalau bikin Kakak nunggu lama."
"Nggak apa-apa. Jangankan nunggu tujuh tahun, seumur hidup juga bakal aku jabanin kalau ujungnya sama kamu," sahut Aeros dengan senyuman yang sukses membuat perut Sael seperti digelitik ribuan kupu-kupu. "Yaudah, sekarang tidur gih. Besok katanya ada sidang kan? Jangan sampai besok di ruang sidang kamu malah ngantuk terus salah sebut nama klien jadi namaku."
"Ih, nggak mungkinlah!!" sahut Sael sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Aeros gemas setengah mati di seberang sana.
"Iya, iya, pacarku yang profesional," goda Aeros lagi, sengaja menekankan kata 'pacarku'. "Yaudah, tidur ya. 𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵, Sael."
"𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵, Kak Aeros," ucap Sael pelan.
"Mimpiin aku ya. Besok pagi aku jemput jam tujuh, sekalian aku bawain sarapan kesukaanmu."
Setelah Sael mengangguk dengan senyuman manis, panggilan video itu akhirnya terputus. Sael langsung melempar ponselnya ke atas kasur dan menenggelamkan wajahnya di bantal, menjerit kesenangan.
*****
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, sebuah mobil SUV hitam yang sangat familier sudah terparkir di depan pagar rumah Sael.
Di dalam rumah, suasana meja makan cukup ramai. Sael yang sudah rapi mengenakan setelan 𝘣𝘭𝘢𝘻𝘦𝘳 kerjanya sedang buru-buru meneguk susu hangat, sementara Kael masih asyik mengunyah roti dengan mata setengah mengantuk. Kedua orang tua mereka, Papa dan Mama, juga ada di sana, menikmati teh pagi mereka dengan santai.
𝘛𝘪𝘯 𝘛𝘪𝘯
Suara klakson mobil Aeros terdengar. Sael langsung menengok ke arah jam dinding, lalu buru-buru menyambar tas kerjanya.
"Ma, Pa, Sael berangkat dulu ya! Udah dijemput Kak Aeros," pamit Sael sambil mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
"Oh, Aeros toh? Suruh mampir dulu dong, Sael. Masa langsung berangkat," ujar Mama dengan senyum penuh arti. Rupanya, gosip panas tentang kejadian tadi malam sudah sampai ke telinga Mama.
"Nggak sempat, Ma, takut macet jalan ke pengadilan," sahut Sael, wajahnya mendadak agak merona. Ia melirik Kael yang kini menatapnya dengan seringai usil, pura-pura sibuk mengunyah roti padahal telinganya sudah tegak menyimak.
Sael bergegas keluar rumah dan membuka pintu pagar. Aeros sudah berdiri di samping mobilnya. Pria itu terlihat sangat tampan pagi ini dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku, membawa sebuah kotak bekal hangat di tangan kirinya.
"Pagi, Sael," sapa Aeros, suaranya yang berat dan segar langsung membuat debar jantung Sael berpacu.
"Pagi, Kak Aeros. Maaf ya agak telat," ucap Sael sambil tersenyum manis.
"Nggak apa-apa. Ini sarapan kamu, roti panggang isi 𝘴𝘮𝘰𝘬𝘦𝘥 𝘣𝘦𝘦𝘧 kesukaanmu, masih hangat," kata Aeros sambil menyerahkan kotak bekal itu.
Sael menerimanya dengan binar bahagia. "Wah, makasih banyak, Kak—"
Namun, sebelum Sael sempat menyelesaikan kalimatnya, Aeros tiba-tiba memajukan tubuhnya. Tanpa aba-aba, dengan gerakan yang begitu natural dan lembut, Aeros mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Sael. Kecupan itu berlangsung selama beberapa detik, sebelum Aeros menjauhkan wajahnya sambil tersenyum manis.
Sael langsung terpaku di tempat. Matanya membelalak, dan seluruh wajahnya seketika memerah padam. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau copot.
"K-Kak Aeros...?" cicit Sael gugup setengah mati.
Aeros menaikkan sebelah alisnya, heran melihat reaksi Sael yang berlebihan. "Kenapa? Kan sekarang udah resmi?"
"B-Bukan itu..." Sael menelan ludah dengan susah payah, lalu dengan gerakan kaku, ia menunjuk ke arah teras rumahnya yang terletak beberapa meter di belakang mereka.
Aeros reflek mengikuti arah telunjuk Sael, dan sedetik kemudian, giliran tubuh Aeros yang mendadak kaku.
Di teras rumah, seluruh keluarga Sael ternyata sudah berdiri berjajar rapi seperti sedang menonton pertunjukan drama musikal.
Papa berdiri paling depan sambil bersedekap, memasang wajah berwibawa namun ada binar geli di matanya.
Mama di samping Papa sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan gemas yang hampir lolos. Dan yang paling parah adalah Kael—pria itu berdiri di barisan paling belakang sambil memegang dua jempol tinggi-tinggi ke udara, wajahnya menampilkan cengiran paling menyebalkan sedunia.
Suasana mendadak hening dan canggung luar biasa. Aeros dengan gerakan kaku, ia langsung menegakkan tubuhnya, berbalik menghadap orang tua Sael, lalu membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
"P-Pagi, Om... Tante...!" seru Aeros dengan suara yang sedikit meninggi karena panik.
Suara tawa Papa akhirnya pecah, diikuti oleh Mama yang melambaikan tangannya gemas. "Pagi, Aeros! Bawa Sael-nya hati-hati ya, jangan sampai lecet!" goda Mama sengaja.
Sementara Kael dari jauh membuat gerakan mulut tanpa suara yang bisa dibaca jelas oleh Aeros dan Sael: 'Pajak jadian aku naik jadi empat kali seminggu, Kak!'
Sael yang sudah tidak kuat menahan rasa malunya langsung menarik lengan baju Aeros dengan kuat, memaksanya membuka pintu mobil. "Kak, ayo masuk! Buruan jalan sebelum aku tambah malu di sini!" rengek Sael panik.
Aeros dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Sael, lalu buru-buru memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Begitu mobil SUV itu melaju meninggalkan area rumah, keduanya kompak mengembuskan napas panjang, lalu perlahan tertawa canggung.