Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Kelvin menatap tiga butir pil di tangannya dengan helaan napas berat yang pasrah. Ia benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi keras kepalanya sang istri.
"Lalu sekarang katakan padaku, bagaimana caranya agar kau mau meminum obat-obat ini, Denada?" tanya Kelvin, mencoba melunakkan suaranya sembari menatap Nada yang masih memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut sebal.
"Tidak ada cara. Aku tetap tidak mau," sahut Nada ketus dan mutlak. "Biarkan saja lukaku sembuh sendiri. Aku punya antibodi yang kuat."
Kelvin mendengus sinis mendengar jawaban tidak masuk akal dari seorang dokter itu. Kehabisan akal, Kelvin meletakkan wadah obat tersebut di atas nakas, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintarnya. Jemari kokohnya dengan cepat mengetikkan beberapa kata kunci di mesin pencari: 'Cara membujuk orang dewasa yang tidak mau minum obat pil.'
Beberapa artikel medis muncul, namun tidak ada yang berguna untuk kasus Nada. Kelvin kemudian beralih membuka sebuah aplikasi video pendek. Ia menggulirkan layarnya beberapa kali sampai sebuah video tutorial dari sepasang suami istri luar negeri melintas di berandanya.
Kelvin terpaku. Matanya melebar menatap layar ponsel, sementara tubuhnya mendadak kaku. Video itu menunjukkan sang suami yang meminum obatnya sendiri, lalu memindahkannya ke mulut sang istri lewat sebuah ciuman dalam.
‘Apa... apa aku harus melakukan cara gila seperti ini?’ batin Kelvin bertanya pada dirinya sendiri.
Ego dan gengsi tingginya langsung berteriak menolak. Namun, saat melirik Nada yang tampak ringkih dengan perban di kepalanya, Kelvin tahu tidak ada jalan lain. Ia tidak bisa membiarkan kondisi istrinya memburuk hanya karena masalah sepele ini.
Sambil mengembuskan napas pasrah yang berat demi membuang harga dirinya ke lantai, Kelvin mematikan ponselnya. Ia mengambil satu butir pil antibiotik yang paling besar, lalu tanpa ragu memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya sendiri.
Nada yang melihat hal itu seketika menoleh dengan raut wajah yang dipenuhi rasa kaget dan heran yang luar biasa. "Lho? Mas Kelvin kenapa malah minum obatku? Mas kan tidak sa—"
Kalimat Nada terputus seutuhnya. Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, Kelvin sudah mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, mencengkeram lembut tengkuk Nada dengan tangan kanannya, dan langsung membungkam bibir ranum istrinya dengan sapuan bibirnya yang hangat.
Mmpff!
Mata Nada terbelalak sempurna karena terkejut. Detik berikutnya, ia merasakan ujung lidah Kelvin bergerak ahli, mendorong pil besar yang semula berada di mulut pria itu untuk berpindah masuk ke dalam rongga mulut Nada. Nada sempat ingin menolak, namun Kelvin dengan cerdik menekan tengkuknya sedikit lebih dalam, mempertemukan belahan bibir mereka hingga mengunci pergerakan Nada.
Kelvin melumat lembut bibir manis Nada selama beberapa detik, memastikan pil tersebut sudah benar-benar aman berada di pangkal lidah istrinya dan tidak akan dimuntahkan lagi. Sensasi manis adiktif dari bibir Nada yang bercampur dengan sedikit rasa pahit dari luar obat membuat jantung Kelvin kembali berdentum liar.
Setelah memastikan misinya berhasil, Kelvin perlahan menjauhkan wajahnya, memutuskan tautan bibir mereka dengan menyisakan napas yang sedikit memburu.
"Telan, Denada. Sekarang," perintah Kelvin dengan suara baritonnya yang serak berantakan. Dengan cekatan, ia langsung menyodorkan sedotan dari gelas air putih hangat ke depan bibir Nada yang masih melongo kaget.
Masih dalam kondisi syok dan terhipnotis oleh tindakan nekat suaminya, Nada secara refleks mengulum sedotan tersebut dan meneguk airnya dalam-dalam.
Glek.
Pil antibiotik yang paling ia takuti itu akhirnya meluncur mulus masuk ke dalam kerongkongannya tanpa rasa pahit yang sempat menyentuh lidahnya.
Setelah air di gelas berkurang setengah, Nada menurunkan gelas tersebut. Ia menatap Kelvin dengan binar mata yang awalnya terkejut, namun sedetik kemudian berubah menjadi kilatan penuh bumbu godaan yang teramat seksi. Nada mengusap bibirnya yang basah dengan ujung ibu jarinya, lalu menatap Kelvin dengan pandangan mata yang sayu dan manja.
"Wah... ternyata minum obat dengan cara seperti itu sama sekali tidak terasa pahit, Mas," bisik Nada dengan nada suara yang merayu, senyuman nakal terukir di sudut bibirnya. Ia memajukan wajahnya sedikit, menatap lurus pada bibir tegap Kelvin yang masih kemerahan. "Tapi... di wadah itu kan masih ada dua butir pil lagi yang belum terminum. Aku mau minum obat lagi, Mas... tapi dengan syarat, kamu harus mencium dan melumat bibirku lagi seperti tadi. Bagaimana?"
Kelvin seketika membuang mukanya yang kini sudah memerah padam hingga ke leher karena malu bercampur salah tingkah. Ia meletakkan gelas dengan sentakan kaku. "Jangan melunjak, Denada! Dua pil sisanya ini berukuran kecil, jadi telan sendiri dengan air atau aku akan memanggil perawat untuk memasang selang makan di hidungmu!" gerutu Kelvin ketus, mencoba menutupi detak jantungnya yang sudah berantakan akibat godaan maut sang istri.