NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Bawa Anak Orang

Pintu ruangan itu akhirnya tertutup pelan di belakangnya. Rhea berhenti beberapa saat disana sambil masih memegang gagang pintu sebelum perlahan melepaskannya.

Kepalanya terasa penuh. Bahkan terlalu banyak hal yang baru saja terjadi dalam waktu yang begitu singkat.

Jogja ?

Besok ?

Rhea mengusap wajahnya pelan lalu mengembuskan napas panjang.

Baru beberapa menit lalu tiba-tiba pria itu menuduhnya menghindar. Setelah itu tiba-tiba memutuskan membawanya ke seminar. Sekarang bahkan sudah berencana meminta izin langsung kepada ibunya.

Semua keputusan itu terdengar begitu sepihak tanpa persetujuannya lebih dulu. Dan yang paling membuatnya kesal, Arga mengatakannya dengan nada seolah semuanya sudah diputuskan sejak awal.

"Heh, astaga..."

Rhea menggeleng pelan.

Memikirkan Arga terlalu lama hanya akan membuat kepalanya semakin pusing.

Ia segera melangkah menyusuri koridor fakultas. Sepasang sepatunya beradu pelan dengan lantai yang mulai sepi menjelang siang. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya sempat menyapa, namun Rhea hanya membalas dengan senyum kecil sebelum kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Tidak butuh waktu lama hingga gedung fakultas mulai tertinggal di belakangnya. Dari kejauhan, area CIS sudah kembali terlihat. Suara panitia yang saling memanggil satu sama lain terdengar samar terbawa angin. Beberapa orang tampak sibuk memindahkan perlengkapan, sementara yang lain masih mondar-mandir.

Rhea menuruni anak tangga terakhir lalu berjalan menuju sekretariat panitia yang berada di sisi lapangan.

Begitu tiba di depan tenda panitia, langkahnya sedikit melambat.

Entah bagaimana caranya ia harus menjelaskan kepada Dito bahwa kemungkinan besar dirinya akan meninggalkan seluruh persiapan ini selama beberapa hari ke depan.

Dan entah kenapa, menjelaskan hal itu pada Dito terasa jauh lebih sulit daripada menghadapi Arga beberapa menit yang lalu.

...****************...

Begitu tiba di sekretariat, Rhea langsung menemukan Dito yang sedang berdiri di dekat meja utama panitia. Di hadapannya terdapat beberapa lembar berkas yang sejak tadi ia periksa satu per satu sambil sesekali memberikan arahan kepada panitia lainnya.

Rhea memperlambat langkahnya sebelum akhirnya berhenti di depan pria itu.

"Mas Dito..."

Suara Rhea membuat Dito yang semula fokus pada berkas di tangannya langsung mengangkat kepala. Tatapannya berpindah ke wajah gadis itu yang terlihat sedikit ragu-ragu.

"Hmm, kenapa?" tanyanya sambil meletakkan berkas tersebut di atas meja.

Rhea menarik napas kecil.

"Mas, aku mau ngomong sesuatu.."

Dito langsung memusatkan seluruh perhatiannya pada Rhea. Dari nada suaranya saja, ia sudah bisa menebak kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan gadis itu.

"Soal apa, Rhe?" tanyanya tenang.

Rhea tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

"Mmm... Pak Arga ngajak aku ke Jogja untuk seminar, Mas. Berangkat besok. Gimana ya?"

Untuk sesaat Dito terlihat sedikit terkejut. Alisnya terangkat tipis sebelum ia menoleh sekilas ke arah lapangan seolah sedang mencerna informasi yang baru saja diterimanya.

"Besok?" ulangnya pelan. "Kenapa mendadak sekali."

"Iya, besok.." Rhea mengangguk kecil. "Aku juga nggak tahu, Mas. Dan Pak Arga sudah izin langsung ke Pak Surya. Terus aku disuruh izin ke kamu."

"Oh..."

Dito menganggukkan kepalanya pelan sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Beberapa detik ia terdiam memikirkan sesuatu sebelum akhirnya kembali menatap Rhea.

"Begitu ya?" ucapnya pelan. "Waktunya memang mepet sekali sama acara sebenarnya."

Kalimat itu justru membuat Rhea semakin merasa bersalah. Bagaimanapun juga, seluruh panitia sedang berada di masa paling sibuk menjelang acara.

"Tapi ya sudah," lanjut Dito setelah mengembuskan napas pendek. "Nggak apa-apa. Tugas kamu nanti biar di handle sama Sonia."

Rhea langsung mengerutkan kening.

"Mas..." ucapnya pelan. "Tapi nggak enak banget rasanya ninggalin kalian begini."

Dito terkekeh kecil mendengar nada bersalah yang begitu jelas terdengar dari suara Rhea.

"Aman, Rhe.Nanti aku yang sampaikan ke yang lain."

"Maaf ya, Mas..." Rhea menundukkan pandangannya sesaat. "Kalau bukan tugas terakhir jadi asdos, aku nggak akan ikut."

"Ssst..."

Dito langsung memotong ucapannya sambil mengangkat satu tangan seolah meminta Rhea berhenti meminta maaf.

"Ngapain minta maaf?" tanyanya ringan.

Tatapannya tetap tenang saat menatap gadis itu.

"Nggak apa-apa, Rhe."

Rhea terdiam beberapa saat.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat perasaannya sedikit lebih tenang.

Dito lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kembali berbicara.

"Kalau kamu berangkat besok, mending pulang sekarang saja buat persiapan."

Rhea masih tampak ragu.

"Bener nggak apa-apa, Mas?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.

Dito langsung mengangguk tanpa berpikir lama.

"Iya."

Kemudian ia menambahkan dengan nada yang sedikit lebih serius.

"Kamu hati-hati. Dan jangan lupa kabarin kalau ada apa-apa"

Rhea tersenyum kecil.

"Iya. Pasti, Mas."

Dito membalas dengan anggukan kecil sebelum kembali mengambil berkas yang tadi sempat ia tinggalkan. Sementara itu, Rhea berdiri beberapa detik di tempatnya sambil memandang pria tersebut.

Meski masih merasa tidak enak karena harus meninggalkan persiapan acara di saat penting seperti ini, setidaknya kini ia tidak lagi membawa rasa bersalah sebesar beberapa menit yang lalu.

...****************...

Setelah berpamitan dengan beberapa panitia yang masih berada di sekretariat, Rhea akhirnya meninggalkan area CIS dan berjalan menuju parkiran kampus.

Siang itu matahari masih menggantung cukup tinggi di atas kepala. Meski tidak sepanas beberapa jam sebelumnya, hawa hangat tetap terasa menyelimuti seluruh area kampus.

Rhea berjalan menuju area parkir sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Begitu sampai di dekat mobilnya, ia langsung menghubungi Arga.

Tidak butuh waktu lama hingga panggilan itu tersambung.

"Pak Arga..." panggil Rhea sambil membuka pintu mobilnya.

"Hmm..." jawab Arga singkat dari seberang sana.

"Saya sudah izin ke ketua panitia saya. Sekarang saya mau pulang, mau izin ke mamah saya."

"Kalau begitu tunggu, saya juga akan ke rumah kamu."

Rhea yang semula hendak masuk ke dalam mobil langsung menghentikan gerakannya. Alisnya berkerut bingung.

"Hah? Mau apa ke rumah saya, Pak?"

"Tentu saja izin kepada mamah kamu," jawab Arga tenang seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

"Eh, nggak usah, Pak. Nanti Pak Arga bisa telepon saja."

"Apa kamu ingin saya terlihat seperti orang yang tidak bertanggung jawab?" tanya Arga dengan nada datar.

"B-Bukan begitu, tapi-..."

"Saya membawa anak orang ke luar kota selama beberapa hari. Saya harus meminta izin secara langsung."

Rhea langsung menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

"Pak, sebenarnya nggak perlu sampai begitu..."

"Tunggu di parkiran. Saya akan ikuti kamu dari belakang nanti," potong Arga tanpa memberi kesempatan Rhea untuk membantah lebih jauh.

Rhea memejamkan mata sesaat lalu menyandarkan dahinya ke mobil.

"Ck..." desisnya pelan sebelum akhirnya menyerah. "Ya sudah."

"Bagus."

Panggilan itu berakhir begitu saja.

Rhea menurunkan ponselnya lalu menggeleng pelan. Entah kenapa, semakin hari pria itu semakin suka seenaknya sendiri.

1
Nia Nara
Lanjut thor
Nia Nara
Si dosen panas itu 🤣
Nia Nara
Pak dosen kayaknya uda ada rasa nih.. Gak pernah deh dulu waktu jadi asdos aku diajak makan pak dosen 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!