NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari libur yang gagal

"Na! Di sini!" Salsa melambaikan tangan ketika melihat sahabatnya masuk ke dalam cafe.

Langkah mantap dari sepasang kaki menghampiri perempuan bermakeup tebal.

"Kau sudah lama, Sa?" Hana duduk tepat di depan Salsa. Sahabatnya itu mengenakan dress ketat seperti biasa.

"Baru saja."

"Ada apa? Kenapa kau mengajak bertemu pagi-pagi?" Jelas raut wajah Hana yang masih mengantuk. Ini hari liburnya, sungguh Salsa membuat tidurnya berkurang.

"Aku suntuk di rumah." Seulas senyuman singkat tampil di bibir berwarna merah.

Hana mendesah pelan, sahabatnya hanya terkikik geli.

"Maaf, mungkin aku mengganggu istirahatmu. Bagaimana jika kubayar?"

Hana mengerjapkan matanya. Sungguh, Salsa tak bisa ditebak.

"Aku tak masalah jika itu kau, Sa."

"Aku serius, Na."

"2juta."

Hana diam.

"4juta.

"Aku takkan menolak."

Mereka sigap bersalaman.

"DEAL!" seru keduanya, lalu disusul tawa riang.

"Dari mana kau pagi-pagi sudah berkeliaran?" Luca melihat Hana yang baru masuk ke apartemen.

Pria itu baru bangun pukul sepuluh pagi, karena dia baru saja tertidur pukul lima pagi setelah menyelesaikan suatu pekerjaan.

"Tuan..." Hana terdiam ketika mendapat tatapan tajam dari majikannya.

Penampilan pria matang di depannya ini membuat Hana panas dingin. Bagaimana tidak, Luca mengenakan kimono tidur dengan bagian dada yang terekspos, rambutnya yang berantakan membuat pria itu tampak sexy.

"Jawab aku."

"Anu.. Itu.. Saya bertemu sahabat saya, tuan."

Gadis itu berusaha keras untuk menelan ludahnya.

"Ah.. Sahabatmu yang psk itu?"

"Salsa, tuan. Namanya Salsa."

"Sama saja."

Luca berlalu ke dapur dengan langkah santai. Hana menghela napasnya.

"Tiap hari disuguhi surga dunia, membuatku seperti ingin mati muda."

Hana kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Hari ini ia dibebas tugaskan oleh Luca, pria itu sedang dalam keadaan mood yang baik.

Hana tak membiarkan kesempatan yang langka itu berlalu begitu saja.

Tok! Tok! Tok!

Baru sebentar memejamkan mata, kini mendengar ketukan pintu kamarnya membuat ia terpaksa bangun.

"Ada apa, tuan?"

"Apa kau tidur?" Luca sudah berganti pakaian, tampaknya baru mandi dengan penampilan yang segar.

"Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

"Aku ingin makan siang di apartemen."

"Oh, baiklah. Menu apa?"

"Apa saja."

Hana mengangguk, pria itu berlalu ke lantai dua.

"Astaga, sepertinya hari ini aku gagal tidur seharian." Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

Sudah setengah jam Hana membolak-balikkan buku resep di depannya. Ia mendadak bingung ingin memasak menu apa.

Suara bel apartemen membuat lamunannya buyar, ia bergegas menuju pintu utama, namun Luca sudah lebih dulu membukanya.

"Oh, masuk. Kita bicara di atas."

Hana berhenti di sisi sofa ketika Ruby dan Luca berlalu di depannya.

"Hana."

"Ya, tuan?"

"Buatkan camilan, bawa ke atas."

"Baik, tuan."

suara langkah kaki menaiki tangga membuat Hana bergegas ke dapur untuk membuat camilan sesuai dengan permintaan Luca.

Hampir satu jam dirinya membuat cookies coklat yang beraroma wangi. Tanpa menutup toplesnya, ia segera mengantarkannya ke lantai dua.

Hana terlebih dulu mengetuk pintu sebelum masuk.

"Masuk."

Ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerja Luca. Tampak pria itu dan asistennya sedang berkutat di depan tumpukan beberapa dokumen.

Hana menaruh camilan dan dua kopi di atas meja yang kosong.

"Hana."

"Ya, tuan?"

"Jangan ke mana-mana. Sepertinya aku akan membutuhkanmu."

"Baik. Saya permisi, tuan."

Hana berlalu keluar, ia akan menyelesaikan masakannya dan pergi mandi.

Sesuai perkataan Luca, pria itu meminta Hana membawa dokumen kepada seseorang yang sudah menunggu di suatu tempat.

Dengan bermodal ciri-ciri dan nomor telepon, Hana berhasil bertemu dengan orang yang dimaksud oleh Luca.

"Apa ini saja?"

"Ya. Mr. X menyerahkan ini saja."

Tampak pria bertubuh penuh tato itu membolak-balik dokumen tersebut sebelum mengangguk.

Mereka berpisah ketika Hana mengirim pesan misi selesai pada Luca.

Pria itu memerintahkan beberapa orang untuk menjaga Hana dari jauh.

Entah, ada alasan apa dibalik ini semua. Hana hanya menjalankan tugasnya.

Luca duduk anggun di sofa menunggu kedatangan Hana. Sedang Ruby sudah pergi dari apartemennya.

"Kau baik-baik saja?"

Hana bingung dengan ekspresi Luca yang datar.

"Ya. Saya baik-baik saja, tuan."

"Bagus. Ayo kita makan."

Hana mengangguk dan berlalu ke dapur untuk menyajikan makan siang yang sudah ia masak beberapa menit lalu.

Dengan telaten gadis itu menyajikan berbagai menu ke atas meja. Luca sudah duduk menunggu semua siap.

"Tolong ambilkan aku."

Hana sigap meletakkan lauk-pauk yang ditunjuk oleh Luca ke dalam piring.

"Ini tuan. Selamat makan."

"Terima kasih."

Hana akui, pria ini tak pernah gengsi untuk berterima kasih atas bantuannya.

"Kenapa kau diam?"

"Eh, tidak, tuan." Hana segera mengambil lauk-pauk lalu makan dengan nikmat.

Ia selalu bersyukur bisa memasak. Jadi dirinya bebas dari amukan Luca dalam hal makanan.

"Kau sudah cocok untuk menjadi istri."

Luca berbicara ketika dirinya sudah selesai makan. Gadis di depannya masih mengunyah pelan seperti menahan sesuatu.

Hanya anggukan di dapatnya.

"Kenapa wajahmu merah?"

Hana tak menjawab, ia berlari ke dalam kamarnya dan menuju kamar mandi dan.. Muntah.

Pijatan lembut di leher membuat Hana terkejut.

"Teruslah muntah. Tak apa, aku di sini."

Gadis itu mengeluarkan semua isi perutnya berkat pijatan lembut di leher. Pria itu tak merasa jijik sama sekali.

Hana segera mem flush toiletnya, lalu mencuci wajah.

"Maaf."

"Apa kau merasa pusing?"

Hana menggeleng.

"Kau sedang sakit?"

Ia menggeleng lagi.

"Ayo, berbaring. Aku akan ambilkan air minum."

"Saya bisa sendiri, tuan." Hana menepis tangan Luca secara halus.

Namun, pria itu seperti tak merasa.

Hana duduk menyender di tempat tidurnya dengan lemas.

Luca mengambil air minum untuk Hana

"Kau sudah lebih baik?"

Hana menandaskan isi gelas yang dibawa Luca. Ia mengangguk pelan.

"Sebentar lagi dokter akan datang kemari."

Gadis itu terkejut menatap Luca.

"Saya baik-baik saja, tuan."

"aku yang tidak."

"Apa maksudnya?"

Tak lama bel pintu terdengar, pria itu segera keluar dan kembali tak lama setelahnya bersama pria tua berjas putih.

"Halo, selamat siang Nona Hana, saya dokter Jasper akan memeriksa keadaan anda."

Gadis itu mengangguk kikuk.

"Nona Hana hanya kelelahan. Anda harus perbanyak istirahat dan pikiran mohon untuk tenang. Saya resepkan beberapa obat untuk membuat anda nyaman."

Dokter Jasper memberikan resep obat kepada Hana dan pamit keluar menemui Luca.

"Apa yang terjadi padanya?"

"Dia hanya kelelahan, akan membaik ketika istirahat dan minum obat."

"Tidak ada penyakit membahayakan, kan?"

Dokter Jasper tersenyum tenang menatap pria muda di depannya yang tampak khawatir.

"Tenang tuan Luca. Dia baik-baik saja. Saya permisi."

"Baik, Dok. Terima kasih."

Dokter itu mengangguk saat sudah berada di luar pintu.

Luca segera menutup pintu dan menuju ke kamar Hana.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya, tuan. Maaf, saya sedang lemas. Nanti saya akan bereskan dapur."

"Tak apa, kau istirahatlah." Luca mengambil secarik kertas resep obat yang ada di atas meja, ia memfoto lalu mengirimkannya pada Ruby.

"Terima kasih, tuan."

"Istirahatlah, nanti aku akan kemari membawa obatmu." Luca pergi keluar kamar agar Hana tak canggung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!