Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena Jebakan batman
Suasana ruang tamu terasa begitu hangat dan akrab. Zea sedang asyik mengobrol dengan Nyonya Wijaya, tertawa-tawa kecil, dan merasa sangat nyaman layaknya di rumah sendiri.
Sementara itu, Bara memilih untuk tidak ikut campur pembicaraan mereka. Sejak tadi dia sudah pamit dan langsung berjalan cepat naik ke lantai atas, menuju kamar pribadinya di rumah lama itu. Seolah-olah ada hal penting atau sesuatu yang sudah dia siapkan khusus di sana.
Nyonya Wijaya menoleh sekilas ke arah tangga, lalu tersenyum manis penuh makna ke arah Zea.
"Nah sayang... ngobrolnya enak banget kan? Tapi kayaknya Bara udah selesai juga tuh di atas. Mama minta tolong ya, kamu naik ke lantai atas susul dia ke kamarnya," ujar Nyonya Wijaya lembut.
Zea langsung menghentikan tawanya. Wajahnya berubah kaget dan panik seketika.
"Hah?! N... Naik ke kamar sendirian sama dia?! Di atas?!" tanya Zea terbata-bata.
Alarm bahaya langsung berbunyi keras di kepala Zea!
“Ya ampun... Itu kan kamar tidur! Pintu bisa dikunci! Suasana sepi! Dan di situ cuma ada aku sama Bara! Cowok yang posesif dan jailnya minta ampun!” batinnya berteriak panik.
Zea gemetar hebat sambil memegang tangannya sendiri, wajahnya memerah padam.
"Lebih baik saya tunggu di sini saja, tidak enak rasanya menyusul ke kamar..." bisik Zea ketakutan.
Dia bisa membayangkan betapa nekatnya Bara kalau berduaan di kamar privat seperti itu. Pasti langsung meluk, nyium, atau manja kelewatan tanpa batas!
Nyonya Wijaya tertawa renyah melihat tingkah calon menantunya yang imut dan polos itu. Dia tahu persis apa yang Zea takutkan, dan itu malah membuatnya semakin senang.
Nyonya Wijaya mencubit pelan pipi Zea dengan gemas.
"Kamu nggak perlu takut, susul saja Bara di lantai atas. Kamu akan menemukan sesuatu yang spesial di sana," bisik Nyonya Wijaya penuh teka-teki.
Ia mendorong bahu Zea pelan menyemangati.
"Ayo sana naik... Jangan lama-lama di bawah sini. Biarin kalian berdua punya waktu sendiri. Tenang aja..." kata Nyonya Wijaya menenangkan.
Zea makin panik tapi terpaksa berdiri. Dengan langkah gemetar dan hati yang berdegup kencang bak genderang perang, dia akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar Bara yang sedikit terbuka.
"Tok... tok..."
Belum sempat Zea masuk atau bicara apa-apa...
CESS!
Tiba-tiba tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya! Tubuh Zea ditarik paksa masuk ke dalam ruangan, dan dalam sekejap mata dia sudah terperangkap di dalam pelukan hangat yang sangat erat!
Bara memeluknya dari depan, menempelkan tubuh mereka tanpa ada celah sedikitpun. Wajahnya bersandar nyaman di leher Zea, lalu dia menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam dengan napas yang terdengar sangat puas.
"Akhirnya datang juga... Kamu lama banget sih sayang... Aku nungguin kamu dari tadi udah nggak sabar banget!" bisik Bara parau dan serak.
Bara melepaskan pelukannya sedikit, tapi tidak menjauh. Dia menatap wajah Zea lekat-lekat. Matanya tampak gelap, tajam, dan menyala-nyala. Tatapan itu bukan tatapan seorang Bos yang tegas, tapi tatapan seorang pria yang sedang sangat menginginkan wanitanya. Tatapan yang seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat saat itu juga.
Zea gemetar hebat, wajahnya merah padam, dia menunduk tak berani menatap balik karena terlalu malu dan takut.
"Jangan liat aku kayak gitu dong......" gumam Zea lemas.
Bara tidak membiarkannya selesai bicara. Dia menangkup kedua pipi Zea dengan kedua tangannya yang besar, memaksa wanita itu menatap matanya.
"Lihat aku Zea... Lihat mata aku," seru Bara dengan suara berat dan menggoda.
Ia mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan. Tatapannya makin tajam dan intens.
"Bagaimana jika kita melakukan hal yang bermanfaat di sini?" bisik Bara jahil, tangannya perlahan mulai menjalar ke mana-mana.
DEG!
Zea rasanya mau pingsan di tempat! Jantungnya serasa mau meledak!
“Ya ampun... dia mulai jahil lagi nih!” teriak batinnya.
Tanpa menunggu jawaban, Bara langsung mencium kening Zea lama sekali, lalu turun ke pipi, dan berhenti tepat di bibir wanita itu dengan tatapan menantang yang membakar semangat.
"Karena kita berdua di sini... dan pintu udah aku kunci... Kamu nggak bisa lari kemana-mana lagi sayang. Sekarang waktunya kamu balas kerinduan ini.." seru Bara dengan nada yang terdengar sangat meminta.
Merasakan tatapan Bara yang begitu lapar dan wajahnya makin mendekat, Zea sadar kalau calon suaminya ini mulai nggak bisa diajak kompromi. Kalau dibiarin, pasti bakal terjadi hal-hal yang melampaui batas!
Dengan sigap dan sedikit kesal, Zea langsung mengangkat tangannya...
CITT!
Dia mencubit kuat telinga Bara dan memutarnya sedikit!
"Aduh aduh aduh SAKIT SAYANG! AMPUN AMPUN!" teriak Bara kaget sambil memegang telinganya.
Zea mendelik kesal tapi pipinya merah padam bak tomat matang.
"SADAR DIRI KAMU ITU! JANGAN KEBABLASAN GITU DONG! KITA KAN BELUM SAH NIKAH!!" seru Zea menegur tegas.
Zea menarik napas panjang berusaha menenangkan diri.
"Memang sih kita udah tunangan, tapi itu bukan berarti boleh seenaknya melakukan hal yang lebih intim gitu loh! Itu dosa! Dan itu tandanya kita nggak menghormati satu sama lain sebelum waktunya! Ingat posisi!" lanjut Zea mengingatkan dengan serius.
Meskipun telinganya sakit, Bara malah tertawa kecil melihat wajah Zea yang merah padam dan galak banget. Dia malah makin sayang dan makin gemes melihat ketulusan wanita itu.
Tapi tiba-tiba wajah Bara berubah jadi sangat serius dan memohon. Dia pegang kedua tangan Zea erat-erat, menatap mata wanita itu dengan tatapan memohon yang sangat manis.
"Iya iya aku tau... Maafin aku ya sayang. Aku cuma kegemesan sama kamu," seru Bara dengan nada merajuk.
Tapi kemudian dia melontarkan ide gilanya dengan mata berbinar.
"TAPI KAN KITA UDAH DAPAT RESTU ORANG TUA! MAMA JUGA UDAH SUKA SAMA KAMU! TERUS BUAT APA NUNGGU LAGI?!" lanjut Bara bersemangat.
Zea melongo tak percaya.
"Maksud kamu?" tanya Zea bingung.
Bara menarik Zea ke pelukan lagi, kali ini pelukan biasa yang manis, lalu berbisik penuh keyakinan membara.
"YA UDAH KITA NIKAH SEKARANG AJA! MALAM INI JUGA! GAK MAU NUNGGU BESOK, GAK MAU NUNGGU MINGGU DEPAN! AKU PENGEN KITA CEPET-CEPET SAH BIAR AKU BISA PELUK, CIUM, DAN SAYANG KAMU SEPUASNYA! AKU UDAH GAK SABAR PENGEN BILANG 'ISTRIKU'!" teriak Bara tidak terkontrol karena terlalu bahagia.
DEG!
Zea langsung lemas dan terpana.
"Aduhh jangan teriak! nanti Mama kamu mikir yang engga-enggak lagi?!" panik Zea mencoba menenangkan.
Bara mengangguk sangat cepat sambil mencium punggung tangan Zea berkali-kali layaknya orang yang sudah tidak sabar.
"Tapi aku benar-benar mau nikah sayang?!" seru Bara dengan wajah sangat serius.
Mendengar permintaan Bara yang tulus itu, Zea menggeleng-geleng kepala sambil tertawa kecil campur haru. Dia memegang kedua tangan pria itu lembut, menatapnya dengan tatapan bijak namun penuh cinta.
"Tuan Bara... Aku juga pengen banget cepet sah sama kamu. Tapi tolong ngertiin aku ya. Aku belum siap kalau acaranya harus gede-gedean, ramai, atau meriah banget. Aku pengen yang tenang, sederhana, dan nggak bikin pusing," seru Zea lembut.
"Tidak masalah," potong Bara cepat.
"Ya udah! Kita laksanakan besok saja! Cepat kan itu? Kita bikin acaranya intimate wedding doang. Kecil, sederhana, dan privat banget. Cukup keluarga inti kita saja yang hadir dan yang tahu. Nggak usah undang orang banyak, nggak usah pesta besar," jelas Zea menjelaskan rencananya.
Setelah sepakat untuk menikah besok dengan acara kecil-kecilan, Bara tidak membuang waktu. Dia segera memberitahu keluarga besarnya. Bara juga menghubungi kedua orang tua Zea, meminta izin resmi bahwa dia akan mempersunting putri mereka besok pagi.
Walaupun kaget, orang tua Zea justru senang dan langsung setuju karena mereka juga sudah sangat merestui hubungan ini.
Melihat Bara yang begitu cepat dan tegas mengurus segalanya, jantung Zea berdegup kencang campur aduk antara senang dan panik luar biasa.
“Ya ampun... beneran jadi besok ya? Rasanya kayak mimpi! Tapi... tapi aku masih belum siap mental nih! Awas aja kalau aku gugup atau salah tingkah nanti!” batinnya panik.
Tanpa sadar kaki Zea mulai melangkah mundur ke arah pintu. Ada naluri ingin lari dulu atau pulang ke rumah sendiri buat nenangin diri sejenak.
Belum sempat Zea berbalik, Bara langsung melangkah cepat menangkap pergelangan tangan wanita itu. Dia menarik tubuh Zea kembali ke pelukannya, lalu menatapnya dengan senyum jahat dan sangat percaya diri.
"Mau ke mana kamu sayang? Acara belum selesai lho," seru Bara.
"Pu... Pulang dong! Kan besok nikah, aku harus siap-siap di rumah sendiri kan?" tanya Zea sambil melotot.
Bara menggeleng tegas, lalu dia berjalan memutar mengunci pintu kamar dari dalam dengan suara KLIK! yang terdengar jelas dan menegangkan.
Bara berbisik di telinga Zea dengan nada menggoda dan sangat posesif.
"NGAK BOLEH PULANG! KAMU TIDAK BOLEH KEMANA-MANA!" seru Bara tegas.
"HAH?! MAKSUDNYA?!" ucap Zea kaget setengah mati!
Bara mencubit gemas hidung Zea.
"Kamu pikir aku bodoh?! Kalau aku biarin kamu pulang malam ini, siapa jamin kamu nggak kabur atau tiba-tiba ragu atau malah ilang besok paginya?! Kamu kan penakut dan pemalu banget!" ungkap Bara jujur.
Tanpa basa-basi lagi, Bara menggendong Zea ala pengantin baru, lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur empuk. Posisi Bara kini berada di atas Zea dengan tatapan seperti singa yang berhasil menangkap mangsanya.
"Mulai sekarang sampai acara selesai besok, kamu jadi tawananku! Kamu tidur di sini, di rumah ini, di bawah pengawasan aku! Nggak boleh lari, nggak boleh kabur, dan nggak boleh mikir aneh-aneh! Kamu aman sama aku, dan besok pagi kita langsung jadi suami istri! Paham?!" seru Bara tegas tapi manis.
DEG!
Zea rasanya mau pingsan! Wajahnya merah padam total!
Suasana di kamar jadi hening dan mencekam buat Zea. Pintu udah dikunci, dia terperangkap di kasur empuk dengan Bara yang lagi menatapnya kayak singa kelaparan!
Zea gemetar sambil menarik selimut sampai ke dagu.
"Beneran harus di sini? Nggak boleh pulang? Aku janji nggak kabur kok..." kata Zea memohon.
Bara langsung naik ke atas kasur juga, lalu berbaring miring menghadap Zea dengan senyum jail. Dia menarik tubuh Zea biar bersandar nyaman ke dadanya yang bidang.
"NGAK BOLEH! Resiko terlalu besar kalau kamu pulang. Lebih aman kamu di sini, di bawah pengawasan aku. Jadi tawananku yang manis," seru Bara tetap pada pendiriannya.
Tapi melihat wajah Zea yang pucat dan benar-benar takut, Bara langsung melembutkan suaranya. Dia memegang tangan Zea dan mencium punggung tangannya berkali-kali.
"Tenang sayang... Aku janji kok. Malem ini aku bakal jaga diri dan jaga kamu baik-baik. Aku nggak bakal ngapa-ngapain yang melampaui batas, Percaya sama aku," bisik Bara menenangkan.
Meskipun sudah berjanji sopan, Bara tetap nggak mau lepas. Dia menarik Zea ke pelukannya, jadikan Zea sebagai guling hidupnya. Kepala Zea nyaman di dada bidang Bara, tangan kekar itu melingkar erat di pinggang ramping wanita itu.
Bara menghirup aroma rambut Zea dalam-dalam.
"Akh... nyamannya punya kamu di pelukan gini. Rasanya tenang banget," desis Bara puas.
Zea masih kaku dan jantungnya deg-degan banget.
"Peluknya jangan kenceng-kenceng banget dong... nggak bisa nafas nih.." ujar Zea mengeluh pelan.
Bara terkekeh kecil, suaranya renyah dan bahagia.
"Enggak mau lepas. Takut kamu ilang atau kabur besok pagi. Udah ya tidur... istirahat yang cukup biar besok kamu jadi pengantin paling cantik dan segar," ajak Bara lembut.
Meskipun awalnya canggung dan malu, lama-kelamaan Zea merasa sangat aman dan hangat di pelukan itu. Mata mereka pun perlahan mulai terasa berat dan tertidur dalam kebersamaan yang manis itu.
Malam semakin larut. Di bawah selimut hangat, Zea sudah terlelap sangat pulas. Wajahnya tenang dan damai, nafasnya teratur, dan dia terlihat sangat tidak bersalah.
Bara masih terjaga. Matanya terbuka, menatap wajah calon istrinya itu dengan penuh cinta dan rasa syukur yang tak terhingga.
“Pada akhirnya aku akan benar-benar memiliki kamu seutuhnya, Zea.” batinnya lirih.
Bara tahu betul dirinya sendiri. Dia sangat mencintai dan sangat menginginkan Zea. Kalau dipaksakan tidur berdekatan semalaman dalam keadaan seperti ini, itu adalah ujian terberat yang sangat sulit untuk dilewati. Naluri prianya mungkin bisa mengambil alih kapan saja.
Dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Zea, Bara melepaskan pelukannya perlahan. Dia menutupi tubuh Zea dengan selimut sampai leher agar wanita itu tidak kedinginan.
Lalu dengan langkah ringan, Bara berjalan menuju sofa besar yang ada di sudut kamar.
Dia berbaring di sana, meskipun sofa itu tidak senyaman kasur, tapi hatinya merasa sangat tenang dan damai. Dia rela mengorbankan kenyamanannya sendiri demi menjaga kehormatan dan kenyamanan wanita yang sangat dia cintai.