Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggoda
Mona menatap Evan dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"Mas nggak percaya sama aku?"
Evan menjawab dingin tanpa ragu.
"Bukan nggak percaya. Tapi faktanya saya memang nggak pernah tidur sama kamu."
Mona menggigit bibirnya, wajahnya mulai pucat.
"Aku bisa jelasin—"
"Nggak perlu," potong Evan cepat. "Apa pun alasan kamu, jangan pernah bawa nama saya buat nutupin kesalahan."
Mona langsung menahan lengan Evan.
"Mas, please… aku takut."
Evan menurunkan tatapannya ke tangan Mona di lengannya, lalu melepaskannya pelan namun tegas.
"Kamu seharusnya takut sama orang yang menghamili kamu, bukan sama saya."
Mona menatapnya penuh panik.
"Aku nggak bisa bilang siapa ayahnya…"
Evan menyipitkan mata.
"Kenapa? Karena laki-lakinya nggak mau tanggung jawab?"
Mona terdiam.
Evan menghela napas kasar.
"Denger ya, Mon. Saya udah cukup baik mau menjadi suami kamu. Tapi kalau kamu mulai nyeret-nyeret saya lagi… saya juga bisa buka semuanya di depan Papa kamu."
Wajah Mona langsung berubah tegang.
"Mas jangan…"
Evan menatap tajam.
"Saya serius."
Di saat suasana makin menegang Raisa keluar dari arah toilet sambil berjalan santai. Namun langkahnya langsung melambat begitu melihat Mona berdiri di depan Evan.
Keningnya mengernyit bingung.
"Mona?"
Mona langsung menoleh cepat, panik sesaat.
Raisa melirik wajah mereka bergantian.
"Kalian lagi ngapain di sini?"
Evan menjawab lebih dulu dengan tenang.
"Nggak ngapa-ngapain."
Namun Raisa menangkap ekspresi Mona yang terlihat kacau.
"Kamu habis nangis?" tanyanya heran.
Mona buru-buru menghapus sudut matanya.
"Nggak."
Raisa makin bingung.
"Tadi bukannya kamu bilang mau ke dokter?"
Mona mengangguk cepat.
"Iya… aku cuma kebetulan ketemu Mas Evan."
Suasana terasa canggung beberapa detik.
Evan langsung menggenggam tangan Raisa lebih erat dan mulai mengajaknya pergi.
"Ayo."
Raisa masih terlihat bingung dengan situasi yang terjadi, tapi tetap mengikuti langkah Evan.
Namun baru beberapa langkah suara Mona kembali terdengar dari belakang.
"Kalian kenapa gandengan tangan?"
Raisa langsung menoleh refleks, sementara Evan berhenti dengan ekspresi dingin.
"Apa urusan kamu?" jawabnya datar.
Mona menatap tangan mereka dengan mata memerah.
"Lucu ya…" tawanya pahit. "Dulu waktu aku pegang tangan mas aja, mas selalu nyingkir."
Evan mulai kehilangan kesabaran.
"Mon—"
Tapi Mona memotong lebih dulu sambil menunjuk Raisa.
"Sekarang malah gandengan sama adik ipar sendiri."
Raisa langsung menegang mendengar ucapan itu.
"Mona, cukup," ucap Raisa pelan.
Namun Mona justru semakin emosi.
"Asal kamu tahu, Mas…" katanya pada Evan. "Dia itu udah punya pacar baru. Dia menghianati Aditya."
Tatapan beberapa orang mulai tertuju ke arah mereka.
Raisa langsung pucat.
"Mona, jangan ngomong sembarangan."
"Sembarang dari mana?" balas Mona tajam.
Mona menatap Raisa dengan emosi yang mulai tidak terkontrol.
"Sembarang dari mana?" balasnya tajam. "Kamu baru dua minggu jadi janda, tapi udah punya pacar baru. Sekarang malah godain kakak ipar sendiri. Dasar janda gatel."
Wajah Raisa langsung pucat mendengar hinaan itu.
Namun sebelum Raisa sempat bicara Evan melangkah maju sedikit, berdiri di depan Raisa dengan tatapan dingin menusuk.
"Raisa tidak menggoda saya."
Nada suaranya rendah, tapi penuh tekanan.
Mona tertawa pahit.
"Mas masih belain dia?"
Evan menatap lurus ke arah Mona.
"Saya yang mendekati Raisa."
Kalimat itu membuat Raisa langsung menoleh kaget.
"Mas…"
Namun Evan tetap melanjutkan tanpa ragu.
"Dari awal bukan Raisa yang cari perhatian saya."
Tatapan Mona mulai bergetar.
"Jadi sekarang mas bangga rebut istri adik sendiri?"
Evan langsung menjawab dingin,
"Jangan bawa-bawa Aditya dia sudah meninggal."
Mona terdiam sesaat.
Sementara Raisa mulai tidak nyaman karena beberapa orang semakin memperhatikan mereka.
"Mona, udah cukup," ucap Raisa lirih.
Tapi Mona malah semakin emosional.
"Aku heran sama kamu, Sa!" katanya dengan mata berkaca-kaca. "Baru ditinggal mati suami langsung nempel sama laki-laki lain sana sini,giliran dibilang gatel gak mau dasar munafik!"
Raisa menggigit bibirnya kuat-kuat menahan sakit hati.
Namun Evan kembali membela tanpa memberi celah.
"Setidaknya Raisa nggak pernah bohongin siapa-siapa."
Mona langsung membalas cepat,
"Dan mas? Mas pikir hubungan kalian bakal diterima orang? Dia itu mantan adik ipar mas!"
Evan menatap tajam.
"Itu urusan saya."
Mona menggeleng tidak percaya.
"Papa mas nggak akan setuju."
Evan tersenyum tipis sinis.
"Itu juga urusan saya."
Raisa mulai menarik pelan lengan Evan.
"Mas… udah, ayo pergi aja."
Ia merasa semakin banyak orang memperhatikan mereka.
Namun Mona kembali berkata dengan suara bergetar,
"Aku bener-bener gak terima kalah sama gadis kampungan itu.."
Evan terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab jujur,
"Dari awal memang nggak pernah ada kamu di hati saya, Mon."
Kalimat itu benar-benar menghancurkan pertahanan Mona.
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣