Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 bakat
Yoga duduk di depan setir berdampingan dengan sang ayah,
sementara Ester duduk di bangku belakang bersama bu Maryam.
Tak ada yang memintanya, tapi Ester sendiri yang menempatkan dirinya di kursi penumpang.
" silahkan di depan nona " pak Bagus tadi mempersilahkannya untuk duduk di depan ketika mereka baru akan masuk mobil tadi,
Tapi Ester menolak,
" silahkan ayah saja, aku di belakang " jawab Ester tadi,
Dan jujur pilihan Ester itu membuat tuan Anthony dan nyonya Hagia yang masih berdiri di teras sana untuk melepas kepergian sang besan menjadi terharu.
Tak ada yang mengajarkan kepada Ester, tapi sepertinya.....
Terlihat biasa memang, tapi tidak bagi pasangan paruh baya orang tua Ester itu.
Satu hal baik yang terjadi pada Ester setelah ia menikah,
sopan santun.
Mobil yang di kendarai Yoga terus melaju menyusuri jalan raya menuju stasiun kota lama. Sepanjang perjalanan suasan menjadi hening.
Rasa canggung seolah melingkupi semua orang saat ini.
Dari tempatnya, Yoga berkali kali melirik Ester yang sejak tadi juga hanya terdiam sambil menatap ke arah luar jendela mobil, dari kaca spion di hadapannya.
" kapan kapan mau ya ikut Yoga pulang ke rumah ayah dan ibu di kampung ?! " bu Maryam terdengar membuka obrolan dengan berkata lembut.
Ester menanggapi ucapan sang ibu mertua, ia menoleh dan menatap wanita baya itu kemudian tersenyum kecil dan mengangguk singkat.
Di depan, pak Bagus juga memperhatikan.
Ia adalah salah satu saksi kelakuan super menyebalkan anak majikannya itu.
Ia juga tak pernah menduga sama sekali jika putri majikannya yang menyebalkan itu justru sekarang menjadi menantunya.
Tapi sekarang gadis menyebalkan itu sepertinya telah berubah, sejak kemaren ia tak melihat kelakuan menyebalkan gadis itu selain melangkah kasar dengan wajah keruh tanpa menyapa siapa siapa naik ke kamarnya.
Suasana kembali terasa hening,
Tak ada lagi suara, bu Maryam kembali diam begitu juga Ester.
Sungguh Ester merasa tak tahu harus bagaimana, ia merasa tertekan sekali saat ini.
Ia takut salah bersikap,
Entah kenapa ia merasa seperti itu, padahal ketika sang papa mengingatkannya akan sikapnya nanti kepada kedua orang tua Yoga,
Ia sempat akan berontak.
Tapi...
Setelah ketemu mereka, kenapa ia justru segan.
Yoga terus melajukan kendaraannya dengan sesekali mencuri curi pandang kepada Ester di belakang sana.
Hingga tak lama, mobilnya sampai di stasiun kota lama.
Dari dalam mobil, merek bisa melihat Zahra dan kedua orang tuanya telah berada di bangku tunggu.
Kemaren sore,
Zahra dan kedua orang tuanya berpamitan lebih dulu karena ingin mampir kerumah nenek dan kakek Zahra dari pihak sang ibu.
Dan esoknya mereka memang sudah janjian bertemu di stasiun untuk kembali ke Lumajang bersama.
Di kampung rumah mereka memang dekat walau beda rt
Kedua orang tua Yoga baru saja keluar dari mobil ketika Zahra yang telah melihat kedatangan mereka datang menghambur.
" pakdhe...budhe..." sapa Zahra sambil mencium punggung tangan kedua pasangan baya itu, netranya tak lepas melirik ke arah Yoga yang nampak membantu Ester dengan telatennya turun dari mobil.
Lirikan Zahra sungguh menunjukkan ketidak sukaan kepada Ester,
Ia kira gadis itu tak akan mau ikut mengingat stasiun yang mereka datangi ini hanya stasiun biasa.
Bahkan terkesan sedikit kotor, ia berharap Yoga akan datang sendiri mengantar kedua orang tuanya.
Ia ingin berdua saja dengan kakak sepupunya itu,
tapi harapannya seketika siran berganti kecewa ketika ia juga melihat Ester.
" sudah lama datangnya Ra ?! " jawab bu Maryam
" barusan kok budhe " jawab Zahra dengan netra yang terus mencuri curi pandang ke pada Yoga.
" oh..ayo kita ke tempat ayah ibumu "
" engge budhe " jawab Zahra sopan.
kemudian mengkuti langkah kedua orang tua Yoga itu setelah sebelumnya ia menoleh menatap Yoga dan tersenyum menyapanya.
" bang " sapa Zahra dan Yoga tersenyum tipis, di sisinya Ester tak melihat sedikitpun kepada Zahra.
Di dalam hati ia berbisik,
( bakat juga dia kayaknya....)
Sampai di kursi tunggu, kedua orang tua Zahra sempat menyapa Ester sebelum akhirnya mereka kembali duduk.
" kamu nggak ikut pulang sekalian Ra ?! " tanya pak Bagus
" mboten pakdhe, minggu depan mungkin pakdhe.." jawab Zahra
" hemm....kamu sudah terlalu lama ninggalin murid murid kamu lo Ra "
" iya pakdhe, tapi nggak papa....di TPQ kan ada mas Bisri " jawab Zahra.
Zahra adalah salah satu guru ngaji di sebuah TPQ yang berada tak jauh dari rumah kedua orang tua Yoga.
Karena alasan menjenguk kakek dan neneknya, Zahra datang ke kota ini sejak beberapa bulan yang lalu.
Awalnya ia berencana satu bulan saja di rumah sang kakek,
Tapi karena ada Yoga juga di kota ini ia jadi enggan pulang.
Ia pikir karena berada di tempat yang sama dengan kakak sepupunya itu juga berada jauh dari orang tua,
Ia akan bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengannya,
Tapi ternyata zonk, waktu Yoga sudah habis untuk majikannya.
Zahra terus melirik ke arah Yoga yang duduk tenang di sisi sang istri yang nampak asyik dengan ponselnya.
" bang...nanti bisakan antar aku pulang ke kampung ?! " tiba tiba Zahra bicara kepada Yoga.
" ya..." jawab Yoga agak gelagapan, ia menoleh sebentar kepada Ester di sisinya, tapi gadis itu seolah tak mendengar apapun.
Ester tetap sibuk dengan ponselnya.
" minggu depan aku balik kampung, abang antar aku ya ?! " ucap Zahra dengan nada sedikit merengek dan sukses membuat kedua orang tua Yoga saling pandang sebelum mereka melirik kepada Ester di sana.
" nggak tahu Ra,
kalau nggak sibuk nanti abang usahain " jawab Yoga kemudian dengan serba salah.
" idih sok sibuk sekarang, emang abang sibuk apaan sih ?! " protes Zahra tak terima
" Ra..." panggil bu Risma sang ibu, Zahra akhirnya diam dengan raut wajah kesal, di liriknya Ester yang tetap nampak tenang di sisi Yoga dengan ponselnya seolah tak mendengar apapun.
Zahra mengumpat di dalam hati.
Tak lama kereta yang akan mereka tumpangi datang,
Bu Maryam segera melangkah mendekat Ester.
" nona..."
" ya..." jawab Ester sedikit kaget,
ia langsung berdiri begitu melihat sang ibu mertua berdiri di hadapannya.
" ibu pamit dulu ya...janji kapan kapan ikut Yoga pulang ya " ucap bu Maryam penuh permohonan.
" i..i..iya...bu " jawab Ester gugup.
" boleh ibu meluk kamu ?! "
" iya...bu "
Bu Maryam pun memeluk Ester sambil mengusap punggungnya pelan.
" maaf ya....
kalau mungkin Yoga membuat kamu kecewa " bisik bu Maryam pelan di telinga Ester, Ester terdiam.
" bu ayo..." ajak pak Bagus.
Bu Maryam melepas pelukannya kemudian mengusap lembut punggung tangan menantunya itu.
" jaga diri baik baik ya....kamu sangat cantik, ibu suka lihat kamu " ucap bu Maryam lagi dan sekali lagi Ester tersenyum.
Tanpa ia sadari, ada yang terselip di dalam telapak tangannya.
" maaf,
ibu dan ayah tak bisa memberi apa apa....semoga kamu selalu sehat "
ucap bu Maryam lagi,
Tak lama ia dan sang suami masuk ke dalam kereta menyusul kedua orang tua Zahra yang telah masuk lebih dulu.
menang banyak tuh pak suami🤣🤣🤣