Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26
Kalimat itu diucapkan tenang. Namun terasa seperti tekanan yang perlahan menghimpit. Tatapan Kakek Dewa pun langsung tertuju kepada Harlan dan Alisa.
Mendengar ucapan sang Kakek, Harlan menegakkan duduknya. Namun tidak langsung menjawab.
Sementara Alisa, hanya bisa duduk diam dengan wajah yang mulia menegang.
“Kalian pasti tahu, kenapa saya meminta kalian datang malam ini? Undangan ini, bukan semata-mata undangan biasa. Ada kabar baik yang ingin kami dengar dari kalian berdua.” lanjutnya dengan nada yang lebih serius.
Hening. Tidak ada jawaban baik itu dari Harlan ataupun dari Alisa. Kakek Dewa tersenyum tipis. Ia mengetukkan tongkatnya pelan ke lantai.
“Harlan. Kamu tahu, kan. Di keluarga ini, pernikahan bukan hanya tentang status. Tapi juga tentang kelanjutannya.”
Kakek Dewa semakin menatap semakin tajam. Kalimat dan tatapan itu membuat jantung Alisa berdegup lebih cepat.
“Kakek tidak bisa menunggu terlalu lama. Jadi… katakan pada Kakek. Sudah sejauh mana pernikahan kalian berjalan?” tanyanya dengan suara yang terdengar lebih tegas dari sebelumnya.
Hening.
Pertanyaan itu terasa seperti palu yang menghantam. Alisa menelan ludah. Sementara Harlan masih terdiam.
Namun kali ini, bukan diam karena ragu. Melainkan… ia sedang memilih kata yang tepat untuk ia sampaikan kepada orang yang paling dihormati dan disegani di keluarga itu.
Perlahan, Harlan kembali menggenggam erat tangan Alisa di bawah meja. Memberi kekuatan untuk sang istri. Lalu, ia pun mengangkat wajahnya. Menatap langsung ke arah sang Kakek.
“Pernikahan kami berjalan dengan baik, Kek.” jawabannya tenang.
“Bukan itu yang Kakek tanyakan.”
Suasana semakin tegang. Beberapa anggota keluarga mulai saling pandang. Menunggu. Membuat Harlan menarik nafas panjang dan dalam.
“Kami masih butuh waktu, Kek.”
Jawaban itu akhirnya keluar juga dari mulut Harlan. Membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
“Waktu? Untuk apa?”
“Kami….”
“Pa… kita bahas ini nanti, ya. Sekarang, kita selesaikan dulu makan malamnya.”
Harlan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat sang Nenek memotong. Memberi kesempatan untuk semua orang menyelesaikan makan terlebih dahulu.
Kakek Dewa hanya bisa menghela nafas, lalu pasrah dan menuruti permintaan sang istri. Pria baya itu tidak menjawab, namun tetap mengangguk pelan.
“Lanjutkan makan kalian. Kita bahas ini setelah makan malam selesai.” lanjut sang Nenek dan di angguki oleh seluruh keluarga.
Suasana makan malam yang semula hangat, perlahan berubah menjadi kaku. Tidak ada lagi percakapan ringan, hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu pelan dengan piring.
Harlan beberapa kali melirik ke arah kakeknya, seolah ingin segera menyelesaikan apa yang tertunda. Namun ia menahan diri, menghormati keputusan sang Nenek.
Alisa pun merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang menggantung di antara mereka semua.
Tak lama setelah makan malam berakhir, para pelayan mulai membersihkan meja. Satu per satu anggota keluarga beranjak dari kursi mereka masing-masing.
“Harlan,” panggil Kakek Dewa dengan suara berat namun tenang. Membuat Harlan menoleh cepat.
“Ya, Kek.”
“Ikut Kakek ke ruang kerja.”
Harlan mengangguk tanpa banyak bicara. Ia sempat melirik ke arah Alisa, seolah ingin memastikan istrinya baik-baik saja.
Alisa membalas dengan anggukan kecil, mencoba menenangkan Harlan yang tampak khawatir. Tidak banyak kata, Harlan pun akhirnya beranjak. Mengikuti sang Kakek yang sudah lebih dulu masuk ke ruang kerjanya.
“Alisa, bisa ikut Mama sebentar, Nak?”
Suara lembut itu berhasil mengalihkan perhatian Alisa. Ia menoleh, lalu mengangguk kecil.
“Iya, Ma. Bisa.” jawabnya sopan.
***
Di ruang kerja.
Pintu tertutup rapat begitu Harlan masuk. Suasana di dalam ruangan itu terasa jauh lebih tenang dari suasana dari ruangan lainnya.
Kakek Dewa berdiri di dekat meja besar, membelakangi Harlan. Tangannya bertumpu di permukaan meja, seolah menahan sesuatu.
Beberapa detik berlalu dalam diam… sampai akhirnya, Kakek Dewa membuka suaranya, memecah keheningan.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Harlan? Kalian… tidak membohongi kami, kan?” tanyanya.
Harlan menghela nafas panjang. Paham apa yang dimaksud oleh sang Kakek. Meski tidak dijelaskan secara gamblang.
“Tentu saja tidak, Kek. Lagipula, untuk apa aku membohongi kalian. Apalagi Kakek, itu tidak mungkin aku lakukan. Kami… menikah secara mendadak tanpa saling mengenal terlebih dahulu. Jadi… kami sama-sama masih butuh waktu untuk… itu.” jelas Harlan merendahkan nada suaranya di akhir ucapannya.
Kakek Dewa memejamkan mata sesaat, lalu berbalik perlahan. Menatap intens ke arah sang cucu pertamanya itu.
“Jangan bilang… kalau kamu tidak tertarik dengannya?” tanyanya, menatap semakin tajam ke arah Harlan.
Harlan terdiam, menunduk sejenak, lalu kembali menatap kakeknya dengan tegas.
“Tentu saja aku tertarik, Kek. Aku masih normal. Jadi… mana mungkin aku tidak tertarik dengan Alisa. Selain cantik, dia juga wanita yang sangat baik dan perhatian,”
“Lalu… apa masalahnya?”
Harlan terdiam. Jujur, sebenarnya, Harlan ingin sekali lebih dekat lagi dengan Alisa. Namun, ia tidak ingin jika kedekatan itu terjalin secara terpaksa.
Ia ingin, semua berjalan secara alami. Mereka dekat karena memang mereka menginginkan satu sama lain. Bukan karena tuntutan apalagi tekanan.
“Aku… ingin melakukan itu di saat kami benar-benar siap dan bisa saling menerima satu sama lain. Tidak dengan terpaksa, apalagi dengan tekanan.” jawabnya tegas.
***
Sementara itu. Di kamar Mama Hesti.
Ruangan itu terasa hangat dan rapi. Berbeda dengan ruang kerja yang kaku, kamar ini justru memberi rasa nyaman untuk Alisa yang sepanjang makan malam berlangsung, ia merasa gugup dan takut.
Alisa duduk di tepi ranjang, sedikit canggung. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
Mama Harlan duduk di sampingnya, memperhatikan dengan tatapan lembut.
“Kamu tidak perlu tegang seperti itu. Mama tidak akan memakanmu.” ucapnya pelan, dengan sedikit candaan untuk mencairkan suasana.
Alisa tersenyum kaku. Mencoba terlihat tenang meskipun merasa sangat gugup.
“Maaf, Ma,”
“Tunggu sebentar.” ucapnya.
Kemudian, Mama Hesti pun bangkit, berjalan menuju ke arah salah satu lemari yang ada di kamar itu. Ia mengambil sebuah tote bag berukuran sedang yang tersimpan di sana.
Lalu, menyerahkan tote bag itu kepada Alisa. Alisa sedikit terkejut saat Mama Hesti memberikan tote bag itu kepadanya.
“Ini…?”
“Kado pernikahan untukmu.”
Alisa terdiam, pandangannya langsung beralih ke tote bag yang kini ada di tangannya.
“Kado pernikahan?” ulang Alisa, meyakinkan sekali lagi ucapan mertuanya.
“Iya. Maaf karena baru memberikan nya sekarang,”
“Kenapa repot-repot, Ma. Semua yang keluarga ini berikan, sudah lebih dari cukup.” jawab Alisa, terlihat sungkan menerima hadiah dari mertuanya itu.
Mama Hesti menatapnya dalam-dalam, seolah bisa membaca sesuatu yang tak terucap.
“Terima dan bawa pulang. Pakai itu disaat kamu membutuhkannya,” lanjutnya.
“Baiklah. Terima kasih untuk hadiahnya, Ma.”