Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Lelang Pertemuan
Keheningan sesaat yang tiba-tiba terjadi, disusul dengan bisik-bisik samar yang terdengar membuat gerakan Samuel yang baru akan menyesap menyesap minuman terhenti di udara.
Netranya kini menatap ke satu arah, di mana Lea berdiri bersama empat pria di dekatnya yang tidak bisa ia lihat dengan jelas wajah mereka karena terhalang tamu lain. Dua pria berjas, satu pria hanya memakai kemeja yang berdiri tepat di samping Lea, dan satu orang terakhir adalah orang yang sudah ia kenal. Satu hal yang mengganggu pikiran Samuel adalah jas yang tersampir di bahu Lea. Dalam sekali lihat saja ia tahu, jas itu adalah jas milik pria di samping wanita itu.
Genggaman pada gelas minumannya mengerat, rahang Samuel mengeras, netranya menatap Lea nyalang yang datang bersama tiga pria sekaligus. Rasa tidak rela perlahan menyusup ke dalam hatinya.
"Sam ...ada apa?" Sania bertanya sembari mengarahkan pandangan ke arah yang sama, dan segera membulatkan kedua matanya setelah melihat siapa yang baru saja datang.
Samuel tidak menjawab, hanya menatap Lea dari tempatnya berdiri dalam diam.
"Apakah dia datang untuk menemuimu?" tanya Sania. "Lea tahu kamu datang ke acara ini?"
Pertanyaan itu praktis membuat Samuel meoleh ke arah Sania, sedetik kemudian kembali ke arah Lea. Kalimat manis yang membunuh akal sehat Samuel dalam waktu singkat.
"Benar," batin Samuel, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai menyebalkan. Pikiranya mulai dikuasai oleh spekulasi bahwa Lea datang untuk menemuinya, meminta maaf padanya atas sikap Lea terakhir kali yang membuat dirinya kesal. Ia juga yakin, kehadiran Lea acara itu hanya untuk merengek padanya.
"Ayo ke sana. Aku perlu menyapa Tuan Luwis," ajak Samuel sembari mengulurkan lengannya.
Sania mengangguk, memberikan senyum manis saat tangannya melingkar di lengan Samuel, lalu mulai melangkah beriringan bersama Samuel. Ia ingat, Samuel pernah bercerita tentang siapa Luwis. Seoarang mafia yang selama ini menjadikan Samuel sebagai mata-mata di Kalva Company. Alasan Samuel ingin berada di posisi tertinggi di Kalva Company pun hanya agar ia bisa leluasa memberikan apa yang dibutuhkan Luwis. Dan ketika Samuel dipecat dari Kalva Company, Luwis masih memberi Samuel kesempatan
Namun, tiga meter sebelum keduanya mencapai tempat Lea berdiri, senyum di bibir Samuel retak saat suara Luwis menggema dan menyebutkan nama yang membuat nyalinya menguap entah kemana.
"Senang melihatmu baik-baik saja, Angkasa."
Angkasa. Hanya ada satu nama Angkasa yang ia tahu. Dan itu adalah Angkasa Kalvandra Costa- sang bos mafia.
Satu kalimat itu menghantam kepala Samuel, memberikan peringatan keras agar ia mundur. Namun, akal sehatnya seolah sudah pergi meninggalkan otaknya. Ia justru mendekat bahkan setelah mendengar Angkasa sudah mengklaim jika Lea adalah calon istri Angkasa.
"Lea."
Panggilan itu meluncur begitu cepat tanpa Samuel minta. Wajahnya sepucat mayat saat pandangannya bertemu Marco yang menatapnya datar, namun gesturnya sangat menghormati pria yang berada di samping Lea. Kemudian beralih ke Lea yang memberikan tatapan sama. Tidak ada rengekan seperti yang ia pikirkan beberapa saat lalu.
"Sepertinya ...acara lelang kali ini akan menarik," gumam Luwis pelan, namun cukup untuk didengar Angkasa.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Luwis berbalik pergi begitu saja. Meninggalkan Samuel yang berdiri kaku dengan harapan bisa mendapatkan perlindungan yang tidak ia dapatkan.
"Jadi ...kau menyapaku hanya untuk pamer?"
Akhirnya Lea yang sejak bertemu Luwis hanya diam, kini kembali membuka suara. Netranya mengunci wajah Samuel, turun ke tangan Samuel yang digandeng Sania, kemudian kembali ke wajah Samuel. Tertawa singkat.
"A-aku ..."
Bibir Samuel terbuka, tetapi tidak ada kata yang bisa ia keluarkan saat tatapan Angkasa menghunusnya. Netra Semuel turun ke tangan Angkasa yang masih melingkari pinggang Lea, merasa kalah telak.
"Sam ..." bisik Sania mengeratkan cengkraman tangannya di lengan Samuel, tidak tahan dengan tekanan yang Angkasa berikan. "Kita pergi saja."
"Apa kau masih ada urusan dengannya?" tanya Angkasa tanpa menurunkan tangannya dari pinggang Lea.
"Tidak ada." jawab Lea seraya melingkarkan tangannya di lengan Angkasa. "Ayo pergi," lanjutnya.
Lea melenggang melewati Samuel tanpa drama. Bukan karena ia ingin menghindari Samuel, melainkan karena pikirannya saat ini sudah dipenuhi oleh Luwis.
"Wajah itu tidak asing ...siapa? Di mana aku bertemu dengannya?" batin Lea. "Apakah di kehidupan sebelumnya aku pernah berurusan dengannya?"
Lea kembali menjadi pendiam, namun otaknya berpikir keras, berusaha untuk mengingat siapa Luwis. Pertemuannya malam ini dengan Luwis dan Samuel dalam satu waktu menghadirkan rasa tidak nyaman di hatinya.
Bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa bersalah mendalam yang entah datang dari mana.
Acara lelang di mulai.
Para tamu duduk di kursi masing-masing dengan papan angka di tangan mereka. Lea dan Angkasa duduk di barisan paling depan, sementara Gio dan Marco berada di belakang mereka. Seorang wanita yang menjadi pembawa acara berdiri di depan, memberikan salam pembuka, dan menyebutkan barang apa yang yang akan dilelangkan malam ini, lalu meresmikan pembukaan acara lelang.
"Baiklah, untuk barang pertama ...sebuah lukisan ...dibuka dengan harga 700 juta ..."
Semua orang mulai mengangkat papan angka di tangan mereka, mengajukan penawaran dengan harga yang semakin tinggi dan berakhir di tawaran tertinggi.
Lea tidak begitu mendengarkan, pikiran dan hatinya masih memikirkan satu hal yang sama sejak beberapa menit lalu: Luwis.
"Di mana? Di mana aku melihatnya? Dan apa alasannya?"
Pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepala Lea. Bahkan, ketika Angkasa mengangkat papan dan menawar satu set perhiasan berlian, Lea tidak menyadarinya. Hingga barang lelang terakhir diumumkan, kesadarannya ditarik paksa bersamaan dengan kepingan ingatan yang menyeruak kembali.
"Dan ini ...lot terbaik malam ini," suara pembawa acara merendah, sengaja mengundang rasa penasaran. "Sebongkah batu giok mentah. Di dalamnya bisa jadi harta karun berkualitas kaisar ...atau cuma batu giok biasa yang tak berharga." ia tersenyum tipis. "Semua bergantung pada seberapa tebal nyali dan seberapa dekat Dewi Fortuna di sisi Anda."
Gumam persetujuan menggema di Grand Ballroom. Batu giok mentah diletakkan di atas bantal beludru hitam, di bawah sorot lampu. Dari luar tampak kusam, retak, tak menjanjikan.
"Harga pembuka, 2 miliar."
. . .
. . ..
To be continued...
Maaf yaa sahabat pembaca... sistem noveltoon sedang bermasalah. Lolos reviewnya lama😭😭
nda tau siang atau malam. bawaan na takut. 🙈