NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Liora

Mobil yang dikendarai Liora akhirnya berhenti tepat di depan gedung megah Perusahaan Lergan, sebuah bangunan yang biasanya memancarkan aura kejayaan namun kini terasa diselimuti ketegangan yang menyesakkan.

Setelah berhari-hari terkubur dalam kesibukan shift rumah sakit yang tak berujung, rindu yang tertahan membawanya kemari, mengalahkan rasa lelah yang masih menggelayuti pundaknya. Kabar miring mengenai ambang kehancuran perusahaan ini terus berdengung di telinganya, memicu kecemasan yang tak bisa ia redam.

Liora melangkah masuk dengan mantap, melewati meja resepsionis yang menyambutnya dengan anggukan penuh pengertian tanpa banyak tanya. Sambil mengeratkan pegangannya pada rantang berisi makanan hangat—sebuah upaya sederhana untuk merawat Julian di tengah badai—ia menyusuri koridor menuju ruang kerja pria itu.

Di sepanjang langkahnya, Liora menangkap atmosfer yang berbeda--- tak ada tawa ringan di pantry atau obrolan santai di lorong, hanya ada wajah-wajah kaku para karyawan yang terpaku pada layar komputer dengan tatapan serius dan penuh beban, seolah mereka semua sedang menahan napas menunggu keputusan takdir yang menggantung di ujung tanduk.

Liora membuka pintu ruangan Julian ketika asisten pribadinya mengizinkan masuk---- dia tau tentang hubungan Liora dan Julian yang masih terjalin meskipun status Julian sudah resmi menjadi suami orang lain. Namun asisten Julian tetap menghormati Liora.

Begitu pintu di buka, pemandangan di depan nya membuat hatinya sakit. Julian terlihat sangat kacau, kantung hitam di matanya menandakan waktu istirahat nya yang berkurang. Dasi tergeletak di lantai, beberapa kancing kemeja terlepas, rambut acak - acakan. Benar - benar jauh berbeda dengan penampilan Julian yang biasanya berwibawa.

Julia yang merasakan kehadiran seseorang langsung menoleh. Dia di buat terkejut melihat kedatangan Liora--- dia mengecek ponsel nya, tidak ada panggilan masuk, tidak ada notifikasi pesan. Liora datang tanpa menghubungi nya.

" Liora... kamu disini?"

Liora melangkah masuk dengan senyum tipis. " Aku cuma mau cek keadaan kamu.. dan sekarang aku menyesal, " Liora menunduk, menyembunyikan kesedihan nya.

Julian berjalan menghampiri Liora. " Kenapa menyesal?" tanya nya sambil mengangkat dagu Liora.

Mata Liora berkaca - kaca." Melihat kamu hancur kaya gini.. hati aku sakit, "

Julian tersentuh, dia memeluk Liora. " Nggak papa, sekarang kamu ada disini.. itu udah cukup."

Liora melepaskan pelukan Julian. " Aku datang kesini bawa makanan kesukaan kamu.. kita makan dulu ya, kamu pasti lupa makan, kan?" Julian mengangguk, mereka duduk di sofa.

Liora membuka tutup rantang, uap hangat masakan tercium di ruangan. "Aku buatkan ayam jahe kesukaanmu. Kamu pucat sekali, Julian. Sudah jam segini dan aku berani taruhan kamu bahkan belum menyentuh air putih sejak pagi."

Julian tersenyum tipis, meski matanya tampak lelah. "Kamu selalu tahu cara menebak buruknya jadwal makanku. Terima kasih, Liora. Kamu sendiri baru pulang dari rumah sakit?"

Liora mengangguk pelan sambil menyendokkan nasi ke piring Julian. "Shift ku selesai jam 5 tadi. Aku sempat tidur sebentar, lalu langsung masak ini. Aku tidak bisa tenang setelah mendengar desas-desus tentang Lergan. Apa... situasinya seburuk yang dibicarakan orang di luar?"

Julian menghela napas panjang, bahunya merosot. "Investor menarik diri satu per satu. Rasanya seperti mencoba menambal kapal bocor dengan tangan kosong. Aku hanya tidak ingin perusahaan hancur begitu saja."

Liora menyodorkan piring, menatap Julian lekat. "Kamu tidak sendirian. Jangan telan semuanya sendiri. Makanlah, setidaknya beri energimu kesempatan untuk berpikir jernih."

Julian menerima piring itu, mulai makan perlahan. "Kadang aku berpikir, bagaimana kamu bisa sepeduli ini padaku padahal kamu sendiri sibuk dengan kegiatan kamu,"

"Karena kamu juga berharga, Julian. Setidaknya bagiku."

Julian terdiam. Dia menatap Liora yang sedang mengambil makanan, namun bayangan lain muncul di benaknya. Dia teringat pagi tadi saat dia berpamitan pada Claire. Claire bahkan tidak menoleh dari ponselnya, hanya menjawab dengan gumaman dingin yang tak bermakna. Kontras antara perhatian hangat Liora dan sikap acuh tak acuh istrinya membuat dadanya sesak.

Jika dulu Julian tidak peduli--- namun melihat sikap Claire yang berubah 180 derajat membuat hatinya nyeri. Dia meyakinkan dirinya bahwa cintanya memang hanya untuk Liora. Tapi setiap kali melihat Claire ada perasaan tersembunyi yang coba dia tepis.

"Julian? Kenapa berhenti? Masakannya tidak enak?"

Julian tersadar dari lamunannya, berdeham canggung. "Ah, tidak. Enak sekali. Hanya saja... aku sedang berpikir, betapa beruntungnya aku yang memilikimu, Liora. Seseorang yang tetap ada saat duniaku rasanya mau runtuh."

Liora tersenyum kecut, ada nada getir yang tersembunyi. "Sayangnya, tidak semua orang merasa kehadiran itu penting. Tapi sudahlah, fokus saja pada makananmu. Aku akan di sini sampai kamu selesai."

Julian kembali menyuap nasi, namun pikirannya tetap tertuju pada Claire. " Kenapa bukan Claire yang ada di sini? Kenapa harus orang lain yang peduli pada kehancuranku? Tunggu dulu... kenapa aku jadi berharap wanita itu, " Julian menggelengkan kepalanya. " Sadarlah, Julian.. yang kau cintai itu Liora.. bukan Claire..."

 "Terima kasih, Liora... seharusnya Claire yang ada disini, " kalimat terakhir terdengar lirih namun Liora masih bisa mendengarnya. Genggaman nya pada jemari mengeras, dia melirik Julian yang tidak se antusias biasanya. Liora memejamkan mata, mengusir rasa kesal yang tiba - tiba datang.

Liora menunduk, berusaha bersikap biasa. "Sebenarnya aku mau banget bantu kamu, Julian. Tapi perusahaan Papa juga sedang ada masalah besar. Seseorang membobol sistem keamanannya dan membekukan keuangan perusahaan. Aku nggak mungkin minta tolong Papa dalam keadaan begitu."

Julian terkejut." Tunggu? Perusahaan Louis di serang?"

"Iya," Liora mengangguk lesu. "Bahkan Papa sampai mencari hacker hebat untuk mengembalikan perusahaan seperti semula, tapi hasilnya nol. Orang itu seperti bayangan, tidak meninggalkan jejak sama sekali. Aku merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa meminjamkan dana untuk Lergan."

Julian meletakkan sendoknya, lalu menyentuh tangan Liora dengan lembut. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu punya niat untuk datang ke sini saja sudah membuat bebanku terasa lebih ringan."

Liora terlihat tersenyum--- tapi ada pergolakan batin di hatinya. " Julian... masih mencintaiku, kan?"

Sementara itu, di sudut ruang tengah yang hangat, Claire menyesap tehnya perlahan sembari memandangi sepotong kue bolu buatannya yang terlihat sangat lezat-- sebuah pencapaian manis di tengah malam yang tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan tubuhnya rileks sejenak tanpa beban pikiran yang biasanya mengejar. Namun, ketenangan itu tak benar-benar sunyi, karena di atas karpet bulu yang empuk, Mikael dan Michel sedang terlibat perdebatan sengit.

"KAU SUDAH MAKAN 5 POTONG, SISAKAN UNTUK BESOK!" teriak Mikael dengan wajah memerah, mencoba menjauhkan piring dari jangkauan adiknya.

"NDAK MAU.. BECOK YA BECOK, CEKALANG HALUS DI NIKMATI, KENAPA JADI KAU YANG LEPOT, TINGGAL MINTA MOMMY BUATKAN YANG BALU!" bentak Michel tak mau kalah, tangan mungilnya berusaha menggapai kue bolu di tangan Kakak nya.

Mikael mendengus, melipat tangan di dada. "Kau ini rakus sekali, lihat perutmu, kau jalan saja perutmu ikut bergoyang."

"HEH, JANGAN CELANG PELUT NA MICEL! BELAPA KALI MICEL BILANG, INI NAMA NA PELUT GEMOY!" balas Michel sambil menepuk-nepuk perut buncitnya dengan bangga.

" Berapa kali ku bilang, gemoy itu artinya gemuk," balas Mikael datar, persis seperti orang dewasa yang sedang memberi kuliah.

Claire memijat pangkal hidungnya, antara ingin tertawa dan pusing. Baru saja ia hendak melerai, ponsel di meja bergetar hebat. Claire melirik layarnya, dan seketika ia tersedak pelan. Nama "Tuan Cadangan" berkedip-kedip di sana.

" Halo?" sapa Claire setelah menjauhkan diri dari kebisingan anak-anaknya."

" Nona penyelamat... sepertinya aku akan mati hari ini."

Jantung Claire serasa merosot ke lambung, matanya melotot. Baginya, Ares bukan sekadar orang asing--- pria itu adalah kunci portal untuk kembali ke dunia nyata. Ia tidak boleh mati. Tidak boleh ada satu goresan pun pada aset berharganya itu.

" APA YANG TERJADI, HEE?!" teriak Claire histeris, membuat debat perut gemoy di lantai seketika hening.

Claire berlari kencang menuju kamar, mengambil tas dan menyambar kunci mobil sambil menahan napas. Pikirannya kacau--- membayangkan Ares terkapar di lantai karena terluka dan penyakit kronisnya kambuh. Sebelum pergi, Claire mengunci pintu kamarnya.

"Mommy! Tunggu! Kenapa Mommy wajahnya seperti mau makan orang?" teriak Mikael yang berusaha mengejar dengan langkah kecilnya yang gesit.

"Mommy! Pelut gemoy Mihel belum ciap ditinggal!" sahut Michel terengah-engah, masih memegang sisa kue di tangannya.

Claire berhenti sejenak di ambang pintu, berbalik dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan. "Mikael, Michel, masuk ke dalam! Mommy harus pergi sebentar, ada urusan." setelah itu, Claire langsung kembali berlari.

Mikael dan Michel saling pandang, jelas menunjukkan raut wajah yang berbeda. Saat itu juga, keduanya kembali berlari mengejar Claire. "MOMMYYY! MICEL IKUUUT!!"

BERSAMBUNG

1
Enah Siti
jdi anak kembar itu bnar anakya ares👍👍👍👍💪💪💪💪
Anne
hmmm penisirin bingitss
Anne
kulkas kalo cair emang suka gtuuu.. damage bukan kaleng kaleng🤣
Anne Soraya
lanjut
Anne
tikungan yg kaya gini yg saya sukaaa...
Sulati Cus
tikung aja🤣
Murni Dewita
tetap double up y thor
ROGUES POINEX: Sehari Dua Kali UP ☺☺☺
total 1 replies
khzaa
kaka semangatttt
khzaa
kaka semangatttt
Anne Soraya
lanjut
Murni Dewita
next
Anne Soraya
lanjut
Anne
seruuuu... ehhh abisss... rasany kaya apa tauu🤭
Sulati Cus
semakin menarik
rajin up
Sulati Cus
lah lg seru2nya mlh di potong😔
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!