NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Malam di Puncak terasa semakin dingin, kabut turun perlahan menyelimuti halaman luas villa, tapi bagi Alexa yang berdiri diam di ruang tengah itu, yang terasa bukan dingin, melainkan sesak yang menekan dadanya sejak percakapan terakhir tadi.

Ia belum benar-benar bergerak dari tempatnya, seolah tubuhnya masih tertinggal di momen saat Genta menatapnya dengan cara yang terlalu dalam, terlalu mengenali, padahal seharusnya tidak. Kata “familiar” yang diucapkan pria itu terus berputar di kepalanya, mengetuk sesuatu yang ia sendiri tidak berani buka.

Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri, tapi tangannya justru terasa dingin dan sedikit gemetar.

“Kenapa rasanya seperti hampir ketahuan…” gumamnya lirih, menatap telapak tangannya sendiri seolah mencari jawaban di sana.

Tubuh ini milik Alexa, dunia ini milik Alexa, tapi perasaan di dalamnya… semuanya milik Naura, dan semakin lama ia berada di sini, semakin terasa tidak sinkron antara apa yang ia jalani dan siapa dirinya sebenarnya.

Langkah kaki terdengar dari belakang, tenang, terukur, membuat Alexa langsung menegakkan tubuhnya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang, karena aura itu sudah cukup untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Kamu belum tidur?” suara Genta terdengar datar tapi tidak dingin, justru ada nada penasaran yang tipis di baliknya.

Alexa berbalik perlahan, menatap pria itu dengan ekspresi yang sudah ia kendalikan sebaik mungkin.

“Belum bisa,” jawabnya jujur, suaranya pelan tapi stabil. “Kepala aku terlalu penuh.”

Genta mengangguk kecil, lalu berdiri tidak terlalu dekat, menjaga jarak yang sopan, tapi cukup untuk membuat percakapan terasa pribadi.

“Kamu terlihat seperti orang yang sedang berusaha mengingat sesuatu yang penting, tapi tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya santai, seolah hanya mengamati, bukan menekan.

Alexa tersenyum tipis, tapi sorot matanya tetap waspada. “Kalau aku bilang aku benar-benar tidak ingat apa-apa, kamu percaya?”

“Sebagian,” jawab Genta tanpa ragu, tatapannya tidak lepas dari wajah Alexa. “Tapi tidak sepenuhnya.”

Alexa mengernyit pelan, sedikit defensif. “Kenapa?”

“Karena ingatan bisa hilang, tapi cara seseorang berpikir, cara dia bereaksi, bahkan cara dia merasa… itu tidak mudah berubah begitu saja,” jelas Genta dengan nada ringan, tapi kalimatnya jelas penuh makna.

Ucapan itu membuat Alexa terdiam sejenak. Ada bagian dalam dirinya yang terasa seperti tersentuh, seperti hampir terbuka.

Ia menelan ludah pelan sebelum bertanya, “Dan menurut kamu… aku seperti apa sekarang?”

Genta tidak langsung menjawab. Ia menatap Alexa beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu berkata dengan nada pelan tapi jelas, “Seperti orang yang pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, lalu tiba-tiba menemukannya kembali… tapi dalam bentuk yang berbeda.”

Jantung Alexa langsung berdetak lebih cepat. Ia memalingkan wajah sedikit, mencoba menenangkan diri.

“Kamu terlalu banyak berasumsi,” balasnya cepat, mencoba mengembalikan jarak.

“Mungkin,” Genta tersenyum tipis. “Atau mungkin aku hanya cukup peka untuk melihat perubahan.”

Hening sejenak, tapi bukan hening yang kosong. Justru penuh tekanan yang tidak terlihat. Alexa tidak tahan terlalu lama berada di situasi itu. Semakin lama ia berdiri di depan Genta, semakin terasa seperti sedang berjalan di atas garis tipis yang bisa putus kapan saja.

“Aku capek,” katanya akhirnya, memutus percakapan. “Aku mau istirahat.”

Genta tidak menghalangi, tapi sebelum Alexa sempat melangkah, suaranya kembali terdengar, lebih pelan, tapi lebih tepat sasaran. “Pemuda itu… Genesis.”

Langkah Alexa langsung berhenti.

“Kamu sangat melindunginya,” lanjut Genta, masih dengan nada yang sama. “Lebih dari yang biasanya dilakukan seseorang.”

Alexa tidak menoleh. Bahunya sedikit menegang. “Itu bukan urusan kamu,” jawabnya singkat.

“Benar,” Genta mengangguk pelan. “Tapi cepat atau lambat… itu akan jadi urusanku.”

Kali ini Alexa tidak menjawab sama sekali. Ia langsung melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi, karena ia tahu jika ia menoleh, ekspresinya mungkin akan mengkhianatinya.

Begitu sampai di kamar, Alexa langsung menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Napasnya terasa berat, seolah baru saja berlari jauh, padahal ia hanya berjalan beberapa langkah. Ia mengangkat tangannya menutup wajahnya, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang.

“Ini nggak bisa terus kayak gini…” bisiknya pelan. “Dia mulai lihat… dia mulai ngerasa…”

Ia berjalan pelan menuju tempat tidur, lalu duduk di ujungnya, menatap kosong ke arah jendela. Di luar sana hanya ada kabut dan gelap, tapi di kepalanya, yang muncul justru wajah Genesis, cara dia menatapnya tadi, cara dia bilang akan kembali, cara dia menggenggam tangannya seolah tidak akan pernah melepaskan.

“Gen…” suaranya hampir tidak terdengar. “Jangan nekat… aku nggak mau kamu kenapa-kenapa…”

Tapi di saat yang sama, ada bagian dari hatinya yang justru menggantungkan harapan pada hal yang sama. Ia ingin Genesis datang lagi, menembus semua batas yang mengurungnya, dan membawanya pergi dari tempat ini.

Dan keinginan itu justru membuatnya semakin takut, karena ia tahu jika itu terjadi, semuanya tidak akan lagi bisa dikendalikan.

Sementara itu, di sisi lain kota, Genesis sudah kembali menginjakkan kaki di jalanan yang ramai. Lampu-lampu kota menyala terang, suara kendaraan saling bersahutan, kontras dengan dinginnya Puncak yang baru saja ia tinggalkan.

Ia berhenti sejenak di pinggir jalan, menatap arus lalu lintas yang tidak pernah berhenti, lalu menghela napas panjang.

“Gue nggak bisa pakai cara yang sama lagi,” gumamnya pelan, matanya menyipit sedikit. “Kalau gue datang cuma bawa emosi, gue bakal kalah.”

Pikirannya bergerak cepat, mengingat setiap detail yang ia lihat di villa tadi. Penjagaan, orang-orang di dalamnya, cara mereka bertindak, semuanya menunjukkan satu hal yang jelas—dunia itu bukan dunia yang bisa ditembus dengan nekat semata.

“Dia punya sistem,” lanjutnya dalam hati. “Berarti gue harus cari celah.”

Langkahnya kembali bergerak, tapi kali ini lebih terarah. Ia tidak lagi berjalan tanpa tujuan, karena di kepalanya mulai terbentuk sesuatu yang lebih dari sekadar keinginan.

Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah papan besar di pinggir jalan. Lampu sorot menerangi tulisan di atasnya, membuat nama itu terlihat jelas bahkan dari kejauhan.

MAHARDIKA GROUP.

Genesis menatapnya lama. Sorot matanya berubah, tidak lagi sekadar marah atau cemburu, tapi mulai dipenuhi sesuatu yang lebih dingin, lebih terukur.

“Jadi ini dunia lo…” bisiknya pelan. “Oke.”

Tangannya mengepal perlahan di dalam saku jaket.

“Kalau gue mau ambil dia dari lo… gue nggak bisa cuma jadi gue yang sekarang.”

Ia berbalik arah, langkahnya semakin mantap. Malam itu, sesuatu di dalam dirinya benar-benar berubah. Ia tidak lagi hanya ingin merebut kembali Alexa, tapi juga siap masuk ke permainan yang jauh lebih besar.

.

Di sisi lain, Genta berdiri di balkon kamarnya, memandangi kabut yang menutup pemandangan malam. Gelas di tangannya sudah lama tidak ia sentuh lagi, karena pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh satu hal.

Alexa.

Cara gadis itu berbicara, cara ia marah, cara ia membela pemuda tadi, semuanya terasa terlalu nyata untuk disebut kebetulan.

“Itu bukan dia…” gumamnya pelan. “Atau… bukan dia yang dulu.”

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menarik ingatan lama yang perlahan muncul ke permukaan. Seorang wanita dari masa lalu, dengan tatapan yang sama, keberanian yang sama, dan cara mencintai yang sama.

Matanya terbuka perlahan.

“Naura…”

Nama itu terucap begitu saja, tanpa ia rencanakan.

Ia terdiam, lalu menggeleng pelan, seolah mencoba menepis pikirannya sendiri.

“Mustahil,” bisiknya.

Tapi semakin ia menyangkal, semakin kuat perasaan itu muncul. Ada sesuatu yang tidak beres, dan ia tidak akan diam saja.

.

Malam terus berjalan, tapi tidak lagi tenang. Tiga orang berada di jalur yang berbeda, dengan tujuan yang mulai saling bertabrakan. Genesis bergerak dengan tekad baru, Alexa terjebak di antara dua dunia yang tidak bisa ia satukan, dan Genta mulai menyadari bahwa wanita yang akan ia nikahi mungkin menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat.

Dan ketika semua garis itu akhirnya bertemu… tidak akan ada lagi yang bisa kembali seperti semula.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!