"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah hampir satu jam akhirnya pepes ikan itu pun matang, Dian pun menata pepes ikan tersebut di dalam kotak penyimpanan agar tidak ada lalat masuk rumah.
Gadis cantik itu pun kembali ke dalam kamar setelah memisahkan pepes ikan untuk di rumah dan juga untuk dibagikan pada para tetangga dan ibu mertuanya nanti.
Dian langsung mandi dan kembali berpakaian, seperti yang diminta Alex tadi, saat Dian sedang makan, bahwa Dian dilarang menggunakan daster untuk pergi ke luar rumah.
Saat ini Dian menggunakan celana jeans pendek dan juga t-shirt berwarna putih, warna favoritnya dengan rambut pendek nya yang terselip jepit rambut di bagian samping kiri tepat samping kuping nya.
Rambut Dian yang beberapa hari lalu dipotong pendek seperti para polwan cantik itu pun semakin mempercantik paras Dian yang kini berjalan menuju meja makan dimana pepes ikan tersebut sudah siap untuk diantar.
"Honey, kamu mau pergi sendirian?" ujar Alex yang kini sudah tampak rapi meskipun hanya berpakaian santai.
"Hm... Jangan menunggu saya, jika ingin istirahat maka istirahat lah mungkin saya sedikit lama pulangnya karena harus mengantar ini untuk para tetangga dan juga ibu." ujar Dian.
"Aline sebentar lagi tiba,"ujar Alex yang kini menghampiri Dian.
"Ah baiklah kalau begitu saya ke rumah ibu saja, setelah itu langsung kembali. Biar Afifah yang antar semuanya"ujar Dian yang kini pergi membawa dua kotak besar pepes ikan buatan nya.
Alex terus menatap kearah Dian yang kini pergi meninggalkan dirinya sendirian di teras rumah.
Saat itu tidak sampai lima menit mobil milik Alex pun tiba di depan rumah Dian, tidak lama setelah itu mobil yang memuat barang seserahan pun juga tiba.
Alex langsung menyambut kedatangan putri kecilnya yang kini tampak tersenyum bahagia karena bertemu sang daddy meskipun dia belum sepenuhnya bisa bicara.
Seseorang menggendong bayi perempuan berusia tujuh belas bulan itu. Dia tampak begitu anggun dan berkelas.
"Alex, aku kira rumah nya"ucapan wanita cantik itu terhenti saat melihat tatapan mata tajam yang diberikan oleh Alex yang kini menggendong putrinya itu.
"Aline, sebentar lagi mommy kembali ke rumah, apa kamu suka disini?"ujar Alex yang kini memeluk dan mencium pipi putri semata wayangnya yang merupakan hasil pernikahan pertamanya dengan anggun yang kini telah tiada.
Aline begitu mirip dengan Alex karena Aline adalah benih pertama yang Alex tanam di rahim istrinya dulu.
"Tuan bagaimana dengan barang seserahan nya"ujar asisten pribadi Alex.
"Bawa masuk semuanya kedalam rumah ini, dan letakkan itu do ruang keluarga"ucap Alex yang kini membawa masuk putrinya kedalam rumah.
"Tuan," lirih Dian yang kini tersengal-sengal karena berlari dari rumah almarhum Afandi, Saat melihat kedua mobil tersebut.
"Tenang honey, tarik nafas,,, buang"ujar Alex yang kini merangkul bahu Dian sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk menggendong putrinya itu.
"Mommy,"lirih gadis kecil itu sambil menatap lekat wajah Dian dan merentangkan tangannya minta digendong.
Dian pun terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas perkataan Aline dengan senyuman manis nya.
" Hi... Aline selamat datang di rumah ini"ucap Dian.
"Gideon, bagaimana bisa Aline tinggal di tempat seperti ini, disini bahkan tidak ada AC?"ujar wanita cantik yang kini duduk di sofa ruang keluarga itu tanpa dipersilahkan.
Dian menoleh kearah wanita cantik itu, kemudian kearah Alex. Pria itu menggelengkan kepalanya agar Dian tidak memasukkan perkataan Miranda kedalam hati. Sepupunya itu terkadang sangat keterlaluan.
"Maaf nona, disini memang tidak seperti di rumah anda, tapi ini rumah saya apapun keadaannya kalian semua harus terima karena kalian semua adalah tamu bukan penghuni baru"ujar Dian yang kini menatap tajam kearah Miranda.
"Maafkan dia honey, dia memang terkadang keterlaluan , tapi dia baik kok"ujar Alex.
"Nona bahan makanan nya simpan dimana?"ujar asisten pribadi Alex yang kini menjinjing banyak kantong belanjaan ditangan nya.
"Simpan di dapur saja tuan"ucap Dian.
"Mommy,"ucap gadis kecil yang kini merentangkan kedua tangannya kearah Dian.
"Honey dia minta digendong,"ucap Alex pelan.
"Hm... Kemarilah nona kecil"ujar Dian yang kini mengambil alih putri Alex dari gendongan Alex.
"Aline apa aku tidak salah dengar, kenapa kamu panggil dia mommy, mommy mu sudah,
"Cukup Miranda! Jangan keterlaluan, Aline tau bahwa saat ini mommy nya adalah Diandra"ujar Alex yang kini membuat wanita cantik itu terdiam sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Semua sudah selesai tuan,"ujar asisten Alex.
"Istirahatlah, jika kalian lapar kalian bisa makan lebih dulu,"ujar Alex yang kini langsung dibalas anggukan kepala oleh keduanya.
"Mari ikut saya tuan dan nona"ucap Diandra yang kini membawa serta Aline menuju ruang makan.
" Aku kemarin pergi mancing bersama istriku, dan itu adalah hasil pancingan kami berdua"ujar Alex yang kini membuat Dian melirik tajam kearah Alex yang balas tersenyum manis pada Dian.
"Kak Dian, kakak dimana?"ujar seseorang yang tidak lain adalah Afifah.
"Disini dek, ada apa?"ujar Dian yang kini menghampiri Afifah yang sedang celingukan.
"Bisa bantu Afifah hidupkan motor bang Fandi, fifah ingin belajar mengendarainya ibu bilang ingin jalan-jalan dengan motor itu"ujar Afifah yang kini melirik kearah yang lainnya yang sudah duduk di kursi depan meja makan.
"Gimana ya dek, saat ini mbak ada tamu?"ujar Dian.
"Wah ini anak siapa mbak dia cantik sekali?"ujar Afifah yang kini mencolek dagu dan pipi Aline dengan gemasnya.
"Jangan sentuh sebelum cuci tangan dan pastikan tangan mu bersih dulu"ujar Miranda yang kini membuat gadis cantik itu terdiam sambil menundukkan pandangannya.
"Miranda jaga sikap mu,"lirih Alex.
"Aku tidak salah bicara memang itu peraturan yang berlaku dimanapun"ucap Miranda tidak mau kalah.
"Afifah dia Aline putri tuan Alex maaf ya kakak tidak beritahu tentang kedatangan mereka. Begini saja nanti kakak kerumah mu, tapi kalau ngajar motor sore ini kakak belum bisa karena terlalu banyak urusan, bagaimana apa ibu suka pepes ikan nya? "ujar Dian yang kini begitu lemah lembut.
"Baik kak, ibu sangat suka dengan pepes ikan nya kak, tapi ibu malah nangis sesenggukan karena teringat kak Fandi"balas Afifah.
"Ya sudah nanti kakak kesana"ujar Dian yang kini mengusap lembut bahu gadis cantik itu.
"Kalau begitu aku pamit dulu kak, "lirih Afifah yang kini berbalik pergi setelah Dian mengangguk kearahnya.
"Tuan, bisa tolong ambilkan nasinya"ujar Dian pada Alex saat melihat mereka masih menunggu untuk makan.
" Tentu honey, kamu dan Aline duduklah"ujar Alex yang kini berjalan menghampiri rice cooker dan mengambil benda tersebut sekaligus menyuguhkan nya di atas meja makan.
"Disini tidak ada pelayan, kalau kalian mau makan ambil sendiri"ujar Alex yang kini membuat keduanya mengangguk sambil menelan ludah.
Bos besar mereka mengambilkan mereka nasi itu sudah merupakan sebuah anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan, karena selama ini Alex tidak pernah melakukan pekerjaan rumah.
...*******...
Hari hampir larut, Dian yang baru saja selesai menidurkan Aline didalam kamar Alex pun langsung bergegas pamit ke rumah ibu mertuanya meskipun Alex terlihat tidak rela, tapi dia juga tidak bisa mencegah calon tunangannya itu.
Alex sendiri kini masih berbincang dengan kedua orang yang sejak tadi memperhatikan kedekatan Dian dengan Aline yang akhirnya terlelap tidur setelah Dian memandikan bayi perempuan itu.
"Aline kenal dengan Diandra kak, sejak kapan?"ujar Miranda yang kini mengungkapkan rasa penasaran nya itu.
"Satu tahun lalu mereka bertemu karena aku yang membawa Dian ke rumah ku, saat Aline sakit dan tidak bisa berhenti menangis selama seharian penuh. Tapi saat Dian tiba dia langsung diam dan minta digendong oleh Diandra."ujar Alex yang kini melirik kearah jalan raya dimana Diandra tengah mengendarai motor ninja milik Afandi yang sudah lama tersimpan setelah pemiliknya pergi ke luar negeri.
"Dia Diandra?"ujar Miranda yang juga melirik kearah jalan raya.
"Ya, calon istri ku adalah seorang wonder woman. Dia bahkan bisa memikul padi seberat lima puluh kilo sebanyak mungkin dan juga bisa mengendarai truk pengangkut padi milik grandpa dengan ekspedisi luar kota"ujar Alex yang kini terlihat sangat khawatir karena Dian terlihat ngebut di jalanan dan entah akan pergi kemana bersama Afifah.
Sampai saat ibu Dini yang tidak lain ibunya Afandi datang berkunjung ke rumah Dian untuk bertemu dengan Alex karena ingin berbicara dengan pria tampan yang kini terlihat sangat fokus pada laptopnya itu ditemani oleh kedua asisten pribadinya itu.
"Asalamualaikum, maaf mengganggu tuan dan nona"ujar bu Dian yang kini masuk dan menghampiri ketiganya.
" Ibu disini, silahkan duduk Bu,"ujar Alex yang kini menyudahi pekerjaan nya meskipun mereka masih meeting penting.
"Maaf tuan Alex, boleh saya bicara empat mata dengan anda?"ujar wanita yang kini menatap kearah yang lainnya.
"Tentu bu, saya juga ingin bicara dengan ibu untuk banyak hal"ujar Alex yang kini membawa wanita paruh baya itu masuk ke ruang keluarga.
Bu dini pun duduk berhadapan dengan Alex, sebelum dia lanjut bicara air matanya kembali menetes saat melihat foto yang ada di dinding, dimana foto putranya dan menantunya juga teman-temannya yang sedang menikmati sunset di atas mobil truk tersebut terlihat tersenyum manis.
"Maaf tuan, sebenarnya saya tidak bermaksud untuk ikut campur untuk hubungan anda dengan menantu saya, tapi saya tidak ingin menantu saya yang baik hati itu terkena masalah karena kedekatan nya dengan anda. Ini kampung halamannya dan seperti yang anda tau bahwa di kampung ini terdapat peraturan yang mungkin sudah anda pahami juga.
"Saya hanya ingin bertanya apa hubungan anda dengan menantu saya setelah anda kembali pada keluarga anda dan mengingat semuanya? Karena tidak mungkin jika hanya hubungan kekeluargaan, kalian sudah sama-sama dewasa dan saya tau anda juga jatuh cinta sama menantu saya."ujar ibu Dini yang kini kembali melirik kearah lain.
"Ibu benar, saya memang mencintai menantu ibu, bahkan sebelum dia menikah dengan putra ibu. kami sudah hampir bertunangan dan menikah, tapi semua batal karena Diandra harus memilih putra ibu.
"Tapi saat ini dia sudah pergi dan saya ingin melanjutkan perjuangan saya untuk memilikinya seutuhnya. satu hal lagi yang akan saya lakukan setelah itu. Saya akan menanggung biaya hidup ibu dan Afifah sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap istri saya nanti.
"Dan ibu tidak usah khawatir ibu masih akan menjadi ibu Diandra dan kalian akan tetap bisa bertemu di setiap waktu saat kami berkunjung atau saat kami menetap disini.
"Kita akan menjadi keluarga, dan rencananya malam ini saya ingin mengadakan acara lamaran disini, itulah kenapa saya meminta asisten pribadi dan sepupu juga putri saya kemari.
"Saya tau Diandra tidak bicara tentang ini pada ibu, karena Diandra tidak sanggup melihat ibu terluka. Saya tidak ingin ada kebencian diantara ibu dan Diandra, karena Diandra juga berhak bahagia"ujar Alex yang kini membuat ibu Dini mengangguk pelan dengan tetes air matanya.
"Tujuan saya datang kesini pun untuk meminta anda segera memberikan status yang jelas terhadap Diandra, saya tidak ingin melihat dia terus hidup dalam kesendirian, saya tau selain dia menyayangi Fandi, dia juga mencintai anda.
"Tapi dia adalah gadis yang sangat baik hati dan tidak pernah tega melihat orang lain sengsara. Saya tidak akan pernah marah atau membencinya jika dia memang bahagia dengan anda, dan terimakasih untuk niat baik anda yang ingin menanggung biaya hidup kami.
"Anda tidak perlu melakukan itu, saya mungkin tetap ibu mertuanya Diandra, tapi dia tidak punya kewajiban untuk menghidupi kami yang telah ditinggal pergi oleh suaminya.
"Segera resmikan hubungan kalian berdua karena saya tidak ingin menantu saya dipandang rendah oleh orang lain, dan mungkin putra saya juga inginkan istrinya melanjutkan hidupnya dan bahagia, saya merestui kalian berdua"ucap ibu Dini.
Pembicaraan mereka berakhir saat suara motor ninja itu terparkir di halaman depan rumah Diandra.
"Ibu disini? Ibu tau kakak sangat hebat,ah aku ingin seperti kakak, dia tadi bahkan mampu mengalahkan kak Tio saat mereka balapan di jalan raya"ujar gadis cantik yang kini terlihat begitu bahagia, tapi kata-katanya terhenti saat melihat Miranda disana.
"Fifah sudah kakak bilang jangan cerewet, nanti kakak gak mau ajak kamu jalan lagi"ujar Diandra yang kini meletakkan jus dalam kemasan cup yang cukup banyak diatas meja sambil meletakkan kunci motor tersebut.
" Ibu, ibu kenapa?"ujar Dian yang kini melihat sisa air mata di pipi mertuanya.
"Tidak apa-apa, ibu tadinya ingin melihat apa pepes ikan masih ada, punya ibu diminta tetangga"alasan ibu Dini yang kini tersenyum pada Diandra.
"Masih banyak bu, tapi mungkin sudah dingin di kulkas. Oh iya dek bantuin kakak masak ya, malam ini kita makan malam bersama dengan warga"ujar Dian.
"Kenapa tidak bilang sama ibu kalau malam ini ada lamaran nak?"ujar bu Dini yang kini meraih tangan Dian.
"Ibu,