NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 34: JARAK YANG DIJAGA

Subuh telah menyingsing, cahaya matahari baru mulai menyebar lembut menyentuh genteng-genteng rumah warga kampung. Udara pagi masih terasa sangat segar, beraroma dedaunan hijau dan embun yang baru saja turun, menyapu bersih rasa dingin malam dan menyegarkan setiap paru-paru yang menghirupnya.

Langit keluar dari rumahnya dengan langkah pelan namun pasti. Tangan kanannya menyentuh pagar bambu yang sudah sedikit lapuk dimakan usia. Ia menatap ke arah timur, di mana cakrawala perlahan berubah warna dari jingga muda yang memancarkan kehangatan, perlahan bergeser menjadi kebiruan yang cerah dan menenangkan.

"Pagi yang baik untuk memulai langkah baru," bisiknya pelan di antara heningnya suasana desa.

Ia pun mulai melangkah menuju jalan tanah yang sedikit licin karena masih basah terkena embun semalam. Jarak dari rumahnya ke rumah Intan tidaklah jauh, hanya beberapa meter saja. Dari sini sudah bisa terlihat jelas rumah sederhana itu, di mana tirai kain putih tipis di depan pintu masih sedikit terbuka, seolah menyambut kedatangannya.

Saat mendekati pagar bambu berwarna hijau tua milik Intan, Langit menghentikan langkahnya sejenak. Matanya menyapu ke arah kamar kecil di samping rumah yang biasanya dijadikan tempat bermain oleh Adi dan Adel. Namun pagi ini belum terdengar suara kegembiraan kedua bocah itu.

"Hari ini kita akan mulai mengungkap apa yang tersembunyi," gumamnya dalam hati, lalu mengetuk pintu pagar dengan nada yang lembut namun terdengar jelas dan pasti. Suara ketukan itu memecah kesunyian pagi yang masih belum terganggu oleh hiruk pikuk aktivitas warga.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka perlahan. Intan muncul mengenakan baju rumah berwarna biru muda yang santai. Rambut hitam panjangnya masih terlihat sedikit berantakan dan acak-acakan, tanda bahwa ia baru saja bangun dari tidurnya. Namun meski begitu, wajah cantiknya tetap bersinar memancarkan pesona alami.

Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut bercampur senang hangat ketika melihat Langit berdiri tegap di luar pagar.

"Langit? Kok kamu datang pagi-pagi begini ya?" ucap Intan dengan suara yang masih terdengar lembut dan sedikit berat khas orang baru bangun tidur. Ia segera berjalan cepat membuka pagar untuk mengundangnya masuk. "Sudah sarapan belum? Ayo masuk dulu. Aku baru saja mau memasak bubur hangat nih."

Langit pun melangkah masuk ke halaman rumah itu. Matanya menyapu sekeliling, mencari keberadaan dua bocah kesayangannya yang biasanya sudah berlarian riang, namun pagi ini belum terlihat batang hidung mereka.

"Belum Teh, tapi tidak usah repot-repot masak buat aku ya," jawab Langit santai. "Aku datang kesini hanya untuk menyampaikan pesan dari Nenek Wati dan juga menyampaikan keinginan aku sendiri."

"Pesan apa itu Ngit, kok aku jadi berdebar-debar gini jantungnya," sahut Intan sambil menatap Langit dengan tatapan yang sangat serius, membuat suasana seket menjadi hening dan penuh tanda tanya.

"Santai atuh Teh," Langit sedikit mengerutkan keningnya sambil tersenyum miring. "Kok kesannya jadi aku yang salah atau bikin tidak enak hati ya melihat tatapan Teh Intan begitu?"

Uh... bocah satu ini malah membalikkan keadaan! Hati Intan mendongkol kesal, namun justru hal itu membuat Langit tertawa renyah dengan nada yang sangat menenangkan.

"Iya iya, bercanda kok. Nah dengar baik-baik ya. Pertama, soal sidang perceraian Teh Intan esok hari. Nenek Wati yang akan menemanimu pergi ke pengadilan. Kedua... keinginan aku, aku ingin memasukkan Adel dan Adi ke Taman Kanak-kanak atau TK. Bukankah usia mereka sebentar lagi menginjak enam tahun? Itu sudah sangat pas dan waktunya tepat sekali untuk mereka mulai bersekolah."

Langit buru-buru memindahkan topik pembicaraan ke tujuan utamanya datang ke sana. Ia tak ingin pagi yang ceria ini rusak atau menjadi salah paham karena godaan-godaan mesra tadi. Walaupun di lubuk hatinya yang terdalam ia sangat menginginkan hubungan dengan Intan menjadi lebih dekat dan intim, namun ia sadar betul saat ini wanita itu masih berstatus sebagai istri orang lain.

Mendengar perkataan Langit barusan, wajah Intan yang tadinya masih menunjukkan raut kesal dan ingin menggoda, tiba-tiba berubah menjadi tenang dan sangat dalam. Mata nya yang tadinya sedikit menyipit karena kesal, perlahan mulai memerah dan mulai mengumpulkan butiran air mata di sudut kelopak matanya.

Ia mengangkat tangan perlahan untuk menutupi bibirnya yang sedikit bergetar menahan haru. Ekspresi wajahnya berubah total – dari kesal menjadi penuh rasa terharu yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Beberapa detik kemudian, air mata itu mulai mengalir perlahan membasahi pipi mulusnya yang cerah.

"Ng... Ngit..." ucap Intan dengan suara yang terengah-engah menahan isak tangis.

Tanpa sadar ia mendekat dan langsung memeluk lengan Langit erat-erat, menyandarkan wajahnya di bahu kekar pemuda itu.

"Aku... aku memang khawatir sekali memikirkan sidang esok hari. Aku takut harus menghadapi itu sendirian, takut apa yang akan terjadi nanti... tapi kamu ternyata sudah memikirkan itu semua jauh-jauh hari dan bahkan menyuruh Nenek untuk menemaniku."

Perlahan ia melepaskan pelukannya sedikit, mengusap air matanya dengan punggung tangan, namun senyum hangat dan tulus sudah mengembang lebar di wajahnya.

"Dan tentang Adel dan Adi... aku memang sudah sangat ingin memasukkan mereka ke sekolah, tapi apa daya uang yang aku punya belum cukup sama sekali untuk membayarnya. Padahal mereka sering sekali mengomel dan bilang ingin sekolah seperti teman-teman yang lain yang sudah masuk TK."

Intan kembali menatap Langit dengan mata yang masih berkaca-kaca namun penuh rasa syukur dan cinta yang meluap-luap.

"Kamu selalu memperhatikan kita dengan saksama ya, meskipun di depan orang lain kamu selalu terlihat cuek, dingin, dan sibuk dengan urusanmu sendiri. Aku benar-benar sangat terharu, Ngit. Terima kasih banyak sudah peduli sama kami..."

Mendengar ucapan tulus itu dan merasakan kehangatan pelukan wanita yang disukainya, Langit justru sedikit mengernyitkan dahi. Perlahan dengan gerakan halus ia menjauhkan sedikit tubuhnya dari pelukan Intan. Wajahnya yang tadinya terlihat riang dan suka bercanda, kini kembali berubah menjadi datar, tenang, dan menunjukkan ekspresi dingin seperti biasanya.

Ia mengangkat bahunya dengan santai seolah hal itu bukanlah sesuatu yang besar, lalu menggeser posisi duduknya agar jarak mereka tidak terlalu dekat.

"Jangan salah paham dulu Teh Intan," ucap Langit dengan nada bicara yang datar dan tidak menunjukkan emosi apa-apa. "Saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai seorang manusia untuk menjaga kamu dan keluarga yang memang harus dilindungi. Itu saja, tidak ada maksud lain."

Ia memalingkan wajah melihat ke arah belakang rumah, seolah-olah sedang mencari sesuatu atau sekadar menghindari tatapan Intan yang memandangnya dengan penuh makna.

"Untuk biaya sekolah Adel dan Adi, saya sudah menyisihkan dan menyiapkan uangnya. Nanti akan saya serahkan langsung ke Nenek Wati saja, supaya lebih jelas dan tidak ada salah paham di antara kita. Saya tidak ingin sampai ada omongan buruk dari warga kampung yang merusak nama baik kita berdua."

'Maafkan aku ya Teh, aku reflek mendorong sedikit tubuhmu agar tidak terlalu memelukku erat begitu. Bukan karena aku tidak suka, tapi justru karena aku takut. Takut kalau dilihat orang lain dan aku dicap sebagai perusak rumah tangga, atau pelakor seperti yang mereka tuduhkan.'

Batin Langit berbicara panjang lebar, mengurai semua alasan di balik sikap dinginnya tadi.

'Kau tahu kan betapa rumitnya masalah yang lalu? Ketika suamimu berani membayar mahal orang seperti Pardi untuk memantaumu setiap saat, hanya untuk mencari kesalahan. Hingga akhirnya terjadi insiden yang tidak mengenakkan di saung tepi sungai itu. Statusmu saat ini masih sah milik orang lain Teh... dan aku tidak bisa leluasa bergerak seenaknya untuk masuk ke dalam ranah pribadimu.'

'Tapi kamu tenang saja Teh. Walaupun aku terkesan dingin, cuek, atau kadang berpura-pura polos seperti anak kecil... percayalah aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Aku sangat menyayangimu, menyayangi Adel dan Adi lebih dari apapun. Aku hanya ingin kamu cepat selesai urusanmu dengan suamimu, agar janji rahasia manis yang pernah kamu ucapkan dulu bisa segera kita tepati bersama.'

Itulah alasan Langit berbicara dengan cara yang rasional dan menjaga jarak. Semua itu ia lakukan demi tujuan yang jauh lebih besar dan indah di masa depan.

Mendengar penjelasan Langit, Intan pun terdiam dan menjadi termenung sesaat. Pikirannya melayang jauh ke dalam ingatan masa lalunya.

'Apakah Langit harus tahu tentang masa laluku yang begitu kelam? Bahwa aku pun pernah TERJERAT dalam situasi yang begitu rumit dan menyakitkan hingga rasanya sulit sekali untuk melepaskan diri?'

Namun perlahan ia menggelengkan kepala. 'Tapi setelah aku perhatikan gerak-gerik Langit selama ini. Bagaimana dia bisa menyelesaikan masalah besar yang menimpa dirinya, masalahku, bahkan sampai berani mengusik ketenangan Nenek Wati dan orang-orang kuat lainnya... Langit mempunyai kekuatan luar biasa yang bisa menyelesaikan segalanya dengan sangat mudah dan cepat.'

Mata Intan menatap sosok pemuda di depannya dengan pandangan baru yang penuh selidik.

'Apakah aku harus percaya sepenuhnya pada bocah yang dulu bahkan sempat aku incar, yang dulu aku ingin jerat dan jadikan budak kesayanganku? Namun kini... lihatlah dia. Dia telah tumbuh menjadi sosok yang begitu hebat, bijaksana, dan mampu melindungiku lebih baik dari siapapun.'

 

CATATAN PEMBACA:

✅ SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

✅ SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI!

✅ JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

BERSAMBUNG

1
Guru
jangan sakiti intan ya ngit
Guru
hahahaha langit takut hantu😄😄😄😄
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
😭😭😭😭😭 kejam
Guru
💪💪💪💪💪💪💪
Guru
cerdas thor,
Guru
lanjut gaspol
Guru
Rasain lo jabir
Guru
keren rencana langit ini
Guru
edasss pitnah yang kejam
Guru
😭😭😭😭
Guru
ikutan baper gaha😄
Guru
lanjutkan sampai tamat thor
Guru
mantap thor
Guru
hahaha ampun Thor
Rafi Saputra
luar biasa
Tuyul
keinginannya itu mah
Tuyul
🤣🤣🤣🤣🤣
Tuyul
lanjut lagi Thor
Tuyul
😭😭😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!