NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Site visit akhirnya selesai. Para pekerja kembali ke pekerjaan mereka, suara mesin bor dan dentang besi kembali memenuhi area proyek. Elena berjalan keluar dari gerbang dengan map tebal di tangannya dan helm proyek yang sudah ia lepas dan selipkan di bawah lengan. Kepalanya dipenuhi dua hal sekaligus, masalah material di sisi barat bangunan, dan tatapan Clara tadi yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.

Leon berjalan di sampingnya. Tidak banyak bicara. Tapi Elena tahu lelaki itu memperhatikan semuanya sejak tadi cara ia memeriksa kolom yang bermasalah, cara Pak Arman menjawab dengan wajah yang tidak nyaman.

Mereka hampir sampai di area parkir ketika Elena tiba-tiba berhenti. Leon ikut berhenti.

Elena menatap jalan di luar gerbang proyek. Mobil itu masih ada di sana.

Mobil Adrian terparkir di seberang jalan dengan mesin yang masih menyala, kaca depan memantulkan cahaya pagi, siluet seorang pria di balik kemudi yang tidak bergerak sejak di usir dari proyek, seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu dan sedang menunggu kesempatan yang tepat untuk melakukannya.

Elena menatapnya beberapa detik. Leon mengikuti arah pandangannya dan langsung mengerti tanpa perlu penjelasan.

"Masuk ke mobilku, Elena" katanya pelan.

Elena menoleh. "Itu tidak perlu."

"Elena." Nada suaranya tidak keras tapi sangat jelas. "Masuk ke mobilku, aku antar kamu pulang."

Elena menatap mobilnya sendiri, sopirnya sudah berdiri menunggu di samping pintu. Lalu menatap mobil Adrian yang masih di seberang.

Ia menghela napas sebelum menjawab.

"Baik."

Mobil Leon keluar dari area proyek beberapa menit kemudian.

Elena duduk di kursi penumpang dengan map di pangkuannya, menatap lurus ke depan. Di dalam mobil hanya ada suara mesin dan lalu lintas pagi, bukan hening yang canggung, hanya dua orang yang tidak merasa perlu bicara kalau tidak ada yang perlu dikatakan.

Dua menit berlalu. Tiga menit. Lalu Elena melihat sesuatu di kaca spion sisi penumpang.

Sebuah mobil yang terlalu dekat, mendekat, menjauh sedikit, mendekat lagi, dengan gerakan yang tidak stabil seperti dikendarai seseorang yang sedang menahan sesuatu yang hampir tidak bisa ia tahan.

"Leon," kata Elena pelan.

"Aku tahu." Leon sudah melihatnya lebih dulu dari kaca spion pengemudi. Matanya tidak bergerak dari jalan di depan tapi ada sesuatu di cara ia memegang setir yang berubah, jari-jarinya lebih siap dari tadi.

Mobil di belakang mereka tiba-tiba berpindah jalur. Menyalip dari kiri dengan kecepatan yang membuat dua mobil lain membunyikan klakson keras hampir bersamaan. Dalam hitungan detik mobil itu sudah berada di depan mereka dan memotong jalur mereka secara paksa, miring, hampir menabrak bemper depan mobil Leon.

Leon menginjak rem secara mendadak. Mobil berhenti. Elena menahan dashboard dengan satu tangan reflek.

Di depan mereka mobil Adrian berhenti miring memblokir jalan. Pintu pengemudi terbuka dan Adrian keluar.

Ia berjalan ke arah mobil Leon dengan langkah yang cepat dan tidak stabil, bahunya terlihat tegang, rahang keras, tangan yang sudah mengepal bahkan sebelum ia sampai. Matanya merah jelas memendam amarah.

"Leon, jangan turun," kata Elena cepat. Nada suaranya berubah karena cemas terjadi sesuatu.

Leon sudah membuka pintu mobilnya.

"Leon!"

Tapi ia sudah keluar. Ia berdiri di samping mobilnya dengan sangat tenang.

Adrian sampai di depannya dalam tiga langkah. Tanpa satu kata pun tangannya terayun.

Tinju itu menghantam sisi rahang Leon dengan keras, suara pukulannya terdengar jelas di tengah deru lalu lintas.

Leon terhuyung satu langkah ke belakang.

"Leon!" Elena membuka pintu mobilnya.

Leon mengangkat satu tangan ke arah Elena tanpa menoleh, isyarat yang sangat jelas. Diam di sana.

Di depannya Adrian sudah mengangkat tangannya lagi, matanya menyala dengan kecemburuan yang sudah dipendam terlalu lama, suaranya keluar seperti sesuatu yang sudah menunggu meledak sejak pagi.

"Kamu pikir kamu siapa, hah?! Mendekati istri orang, ikut-ikutan ke sana ke mari, dan sekarang satu mobil bersamanya."

Tinju kedua itu tidak pernah sampai. Leon menangkap pergelangan tangan Adrian di udara, satu gerakan, cepat dan tepat seperti orang yang memang tahu cara melakukan ini, memutar pergelangan tangannya membuat Adrian terpaksa berhenti atau menanggung rasa sakit yang jauh lebih buruk.

Adrian menggeram. "Lepaskan!"

"Kalau aku lepaskan," Leon berkata dengan nada yang sangat datar, "kamu akan berhenti?"

Adrian menatapnya dengan napas yang berat dan dada yang naik turun tidak teratur. Di belakang mereka beberapa mobil sudah membunyikan klakson, jalan terblokir, orang-orang mulai turun dari kendaraan mereka dengan ekspresi penasaran dan tidak sabar bergantian.

"Ini bukan urusanmu," geram Adrian di antara gigi yang hampir rapat.

"Kamu memblokir jalan dan meninju orang di tempat umum," jawab Leon dengan nada yang sama, rendah, datar, seperti sedang menjelaskan cuaca. "Sekarang sudah jadi urusan semua orang di sini."

Adrian menatapnya. Sesuatu di matanya bergerak, amarah yang masih mendidih tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih menyedihkan dari amarah, sesuatu yang terlihat seperti lelaki yang baru menyadari bahwa ia sudah datang terlalu jauh dan tidak tahu bagaimana cara kembali.

Leon melepaskan pergelangan tangannya.

Adrian menarik tangannya. Mengambil napas panjang. Lalu ia menoleh ke arah Elena yang berdiri di samping pintu mobil Leon, menatap dengan semua yang tidak bisa ia ucapkan, semua yang bahkan jika ia ucapkan sudah terlambat, sudah tidak akan mengubah apapun.

Lalu ia berbalik. Masuk ke mobilnya dan membanting pintu mobil dengan keras.

Mesin mobilnya meraung.

Dan mobil itu melaju pergi terlalu cepat, terlalu agresif, seperti pengemudinya membawa sesuatu yang terlalu berat dan tidak tahu cara menurunkannya.

Leon berdiri di tengah jalan itu sebentar.

Tangannya terangkat ke sisi rahangnya, satu-satunya tanda bahwa pukulan tadi memang terasa.

Elena berjalan mendekat.

Jalan sudah kembali terbuka. Mobil-mobil yang tadi membunyikan klakson mulai bergerak lagi satu per satu, pengemudi yang tadi turun kembali masuk ke kendaraan masing-masing. Lima menit dari sekarang orang-orang yang melewati jalan ini tidak akan tahu bahwa ada yang terjadi di sini.

Elena berdiri di depan Leon.

Ia melihat sisi rahang Leon dari jarak dekat, sudah memerah, akan menjadi lebam besok, tanda yang tidak bisa disembunyikan dari sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.

Leon menurunkan tangannya. "Aku baik."

"Kamu benar baik-baik saja." Elena mengulang dua kata itu dengan nada yang berbeda dari pertanyaan, lebih seperti seseorang yang tidak sepenuhnya percaya dengan jawabannya. "Baru saja ditinju."

"Aku pernah kena yang lebih keras dari itu." Leon berkata dengan ekspresi yang tidak berubah.

Elena menatapnya. "Itu tidak membuat ini lebih baik."

"Tidak." Leon setuju. "Tapi tidak juga membuatnya lebih buruk."

Hening sebentar.

"Aku minta maaf," kata Elena akhirnya. "Kamu tidak seharusnya terlibat dalam semua ini."

"Elena."

"Ini urusan keluargaku dan kamu...."

"Elena." Leon memotong dengan nada yang pelan tapi menutup semua kalimat berikutnya yang mungkin akan keluar. Ia menatapnya langsung. "Bukan salahmu."

"Tapi..."

"Bukan salahmu." Ia mengulang untuk terakhir kalinya.

Elena menatapnya.

Lelaki yang rahangnya memerah karena situasi yang tidak ada hubungannya dengan urusannya, yang pagi ini turun ke lapangan berdebu tanpa diminta, yang berdiri di tengah jalan yang terblokir dengan cara yang sangat tenang sementara ada orang yang meninjunya.

Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka pun masuk dan melanjutkan perjalanan.

1
Lee Mbaa Young
pelakor memang bgitu lbih galak, mau bangkrut masih sombong ngancam. gk pernh tau rasanya hidup miskin dan kehilangan anak sih si Clara.
Lee Mbaa Young
Yup tinggal nunggu karma kalian saja, karma tak Semanis kurma tentunya
Ma Em
Benci banget sama si Adrian , harusnya Alena jgn buka identitas nya dulu bahwa Alena putrinya tuan Wirawan agar Adrian langsung mau tanda tangan untuk perceraian Alena dgn Adrian , sekarang Adrian sdh tau status Alena putri dari tuan Wirawan ya otomatis Adrian tdk akan mau melepaskan Alena karena Alena anak orang kaya .
sunaryati jarum
Adrian hanya ingin dompleng nama besar Hana,di depan Clara katanya hanya ada dia.
arniya
bakal ada persaingan.....,
sunaryati jarum
Belum jadi janda sudah dapat perhatian dari dua pria pebisnis handal
sunaryati jarum
Jangan memanasi hati yang baru mulai hangat
sunaryati jarum
Kehancuran Clara dimulai
sunaryati jarum
Pasti Clara yg bilang
Ovha Selvia
Jgn sampai elena kalah sama clara dan adrian.. Clara padahal org ketiga alias pelakor, tapi seperti istri sah aja yg merasa tersaingi dgn kembalinya elena. Dia yg merebut adrian, tapi knp dia juga yg benci & dendam ke elena. Kemungkinan yg sabotase itu clara deh, tapi lets see 🤔🤔
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!